
Beberapa menit setelah Freya mulai tenang, Ozzie menawarkan diri untuk mengantarkannya pulang. Bukan karena Ozzie tertarik padanya, hanya saja Ozzie takut dalam keadaan kaya gini bisa membuat Freya nekat melakukan hal yang tidak-tidak.
Freya hanya mengikuti arahan dari Ozzie, dimana tepat saat mereka berdua ada di dalam mobil. Perlahan Freya menceritakan tentang masa lalunya yang membuat Ozzie terkejut bukan main.
Namun, semua kembali lagi. Setiap orang memiliki kendala masalah masing-masing, contohnya, keluarga, cinta ataupun teman.
Sesampainya di rumah Freya, Ozzie langsung berpamitan untuk segera pulang ke rumah karena hari sudah larut malam. Sementara Freya cuman bisa mengucapkan kata terima kasih, tak lupa dia minta kontak Ozzie lebih dulu untuk sekedar berbagi kisah hidupnya yang sangat berat untuk dia jalani seorang diri.
...*...
...*...
Di Indonesia, semua orang sibuk untuk mempersiapkan pernikahan Fayra dan Kharel yang akan di adakan 2 hari lagi.
Saat ini Kharel dan Freya sedang berada di rumah sakit untuk mengecek keadaan Kharel. Hari ini seharusnya Kharel sudah masuk jadwal cek upnya ketika di Paris, akan tetapi karena mereka berada di Indonesia jadi mau tidak mau, Kharel harus melakukan medical cek up disini.
Kurang lebih 2 jam, akhirnya Kharel keluar dari ruangan cek up bersama dengan Fayra. Mereka hanya pergi berdua, lantaran kedua orang tua mereka tengah sibuk mempersiapkan semuanya agar acara bisa berjalan sangat lancar.
"Habis dari sini, Kakak mau kemana, hem?" tanya Fayra sambil mendorong perlahan kursi roda Kharel.
"Terserah kamu aja, aku ikut. Apapun yang membuatmu bahagia aku akan selalu menemanimu, meskipun aku harus tetap berada di kursi roda ini untuk selamanya." jawab Kharel sedikit tersenyum menoleh kearah Fayra.
"Ishhh, Kakak ini ya kalau ngomong rasanya pengen banget aku cium sumpah!"
"Orang itu ya, kalau bicara yang baik-baik. Semoga saja saat kita menikah nanti, Kakak sudah bisa berjalan lagi. Ingat, Kak. Ucapan adalah doa, jadi berbicaralah yang baik agar doa Kakak yang terkabul itu yang baik, bukan yang buruk."
Mendengar setiap jawaban Fayra yang selalu menyejukkan hati Kharel, membuat Kharel hanya bisa mesam-mesem penuh kesenangan.
Hatinya terasa begitu berbunga-bunga setiap harinya, ketika mendapatkan perlakuan Fayra yang sedikit menyebalkan, tetapi banyak membuatnya merasa sebagai seorang Raja di hatinya.
Kharel menoleh ke arah belakang, sambil mengedipkan sebelah matanya, mencoba menggoda Fayra. "Hem, mau dong di cium sama calon istriku ini. Pasti rasanya enak, manis dan bikin nagih deh, hihi ...."
"Yakk, dasar menyebalkan! Bagian itu aja cepet banget koneknya, tadi suruh berobat ada aja dramanya. Belum juga di suntik udah mewek, dasar lemah!" sahut Fayra, sedikit kesal.
__ADS_1
"Yaakk, stop ya! Jangan buka-buka kartu, ini tempat umum bukan privasi. Paham!" titah Kharel, wajahnya penuh malu.
"Nyenyenyenye ...." Fara meledek Kharel, dengan bibir yang di buat sejelek mungkin. Cuman, bagi Kharel itu sangatlah lucu, sehingga sedikit menghiburnya.
Berbeda sama Fayra, dia masih merasa kesal ketika kejadian beberapa saat kembali teringat di dalam isi kepalanya.
Beberapa saat yang lalu, ketika Fayra mendorong kursi roda Kharel memasuki ruangan sang dokter. Tiba-tiba tubuh Kharel sedikit gemetar saat dia melihat dokter sedang membuang beberapa suntikan yang habis di gunakan.
"Permisi, Dok." sapa Fayra yang sudah mengarahkan kursi roda Kharel berhenti di depan meja sang dokter.
Dengan cepat dokter itu berbalik, lalu tersenyum sambil berjalan mendekati mereka. Kemudian duduk perlahan bersamaan dengan Fayra.
"Siang Tuan, Nyonya. Bagaimana, apa yang Tuan Kharel rasakan? Apakah ada perkembangan dari hari ke hari?" tanya sang dokter.
"Lumayan, perlahan saya bisa menggerakan jari jempol kaki saya. Meskipun itu jarang sekali, setidaknya saya sudah mencobanya dan terus berusaha demi kesembuhan." jelas Kharel.
"Syukurlah, itu bagus Tuan. Ya sudah, sekarang mari kita lakukan beberapa tes untuk mengecek semua perkembangan Tuan. Sekalian nanti akan saya berikan beberapa suntikan vitamin untuk menambah stamina Tuan."
Perlahan dokter tersebut segera berdiri dari kursi bersama asisten susternya untuk memulai persiapkan segalanya.
"Su-suntikan, Dok? Bu-buat apa? Bu-bukannya saya gapapa, ya? Ke-kenapa juga harus di be-berikan suntikan itu?" tanya Kharel, gugup.
Wajah Kharel terlihat sangat panik penuh kecemasan, dimana dia memang begitu takut dengan jarum suntik. Akan tetapi, jika dia tidak melihatnya itu tidak akan menjadi msalah.
Namun, kalau sampai dia melihatnya pasti wajahnya mulai memerah penuh ketakutan, bagaikan anak SD yang ingin kabur dari kegiatan imunisasi di Sekolahnya.
"Astaga, aku lupa! Kak Kharel 'kan takut sama suntikan, huaa ... Gimana ini? Aku harus bagaimana ya? Karena biasanya jika di Paris, selalu di lakukan pengecekan dalam keadaan mata Kak Kharel tertutup agar tidak melihat jarum suntik." gumam batin Fayra.
"Ti-tidak, a-aku tidak mau di suntik, aku mau pulang! Ayo, Sayang kita pulang aja. Percuma juga ini rumah sakit abal-abalan, udah tahu ke sini cuman mau cek up. Ini malah di suruh suntik, dasar dokter gaje!"
Kharel yang sudah mulai tidak karuan, langsung memutar balikan kursi rodanya sendiri tanpa bantuan Fayra. Cuman, tidak semudah itu. Fayra menahannya menggunakan berbagai cara untuk menghasut Kharel supaya tidak pergi dari ruangan.
"Ehh, Kakak mau kemana. Kakak belum di cek sama dokter loh, jadi pulangnya di tunda dulu ya!"
__ADS_1
"Di suntik itu enggak sakit kok, cuman kaya di gigit semut seperti biasanya Kakak rasakan saat di Paris."
Fayra perlahan mengubah posisinya, dan berada di depan Kharel dalam keadaan tersenyum sambil mengelus rahanh calon suaminya itu.
Mata Kharel mulai berkaca-kaca, dia merasa ketakutan akan jarum suntik. Karena ketika dahulu, dia memiliki trauma ketika kecil. Saat itu Kharel berusia kurang lebih 7 tahun, badannya sangat panas dan di haruskan untuk kerumah sakit.
Namun, saat dia di rawat dan mulai di impus tiba-tiba jarum yang berada di tangan mungil itu patah akibat Kharel tidak bisa diam.
Entah bagaimana caranya pokoknya jarum itu patah, hingga mengharuskan Kharel melakukan operasi pengambilan sisa jarum yang ada di dalam tubuhnya.
Dari situlah dia mulai memiliki trauma tersendiri, sampai detik ini. Maka dari itu, ketika dia ingin di suntik semua orang harus melakukan drama bagaikan anak kecil supaya Kharel tidak sampai melihatnya.
"Tenang aja, Sayang. Ini rasanya kaya di gigit semut kok, enggak sakit cuman cekit aja. Ingat loh, Kakak katanya mau bisa berjalan, jadi Kakak harus melewati semua pengobatan ini, okay?"
"Kakak tidak sendirian kok, aku akan selalu ada di samping Kakak menemani Kakak apapun yang terjadi. Please jangan nangis, okay? Kakak kan pria hebat, kuat, dan juga pantang menyerah. Jadi--"
"A-aku enggak mau di suntik, nanti bagaimana kalau suntikan itu masuk ke dalam tubuhku, terus patah, lalu jarumnya jalan sendiri dan menancap jantungku, kemudian membuatku mati bagaimana?"
"Huaa, tidak, tidak, tidak! Aku tidak mau mati sekarang, aku belum nikah, aku belum malam pertama dan aku juga belum punya anak. Pokoknya aku enggak mau di suntik titik, hiks ...."
Kharel merengek layaknya anak kecil yang masih mengingat betul kejadian beberapa tahun, mungkin karena rasa traumanya membuat Kharel tak bisa lepas dari apa yang dia rasakan pada waktu itu.
Fayra yang tidak tega, langsung merendahkan dirinya di hadapan Kharel dengan kedua lutut berada di lantai. Kemudian Fayra memeluknya, kini runtuhlah isak tangis Kharel semakin pecah.
Beberapa kali dia meraung tidak mau di suntik, cuman jangan panggil Fayra jika dia tidak bisa menarik perhatian Big Babynya dengan cara yang sangat ampuh.
Sang dokter pun menjelaskan pada Kharel kalau suntikan ini sangat penting untuknya, bukan demi kesembuhan terapinya. Melainkan untuk menjaga stamina Kharel, karena beberapa hari lagi mereka akan mengadakan acara mewah.
Pernikahan mereka akan di gelar di gedung yang bisa menampung puluhan ribu orang, sehingga acara tersebut akan memakan waktu sangat lama dari pagi sampai tengah malam.
Apa lagi kondisi Kharel yang hanya bisa duduk di kursi roda, akan membuat tubuhnya mudah sekali lelah, pegal dan semacamnya. Jadi, mau tidak mau dia harus mendapatkan suntikan vitamin ekstra dari pada Fayra.
Akhirnya satu bisikan Fayra berhasil membuat Kharel terdiam, dia melepaskan pelukan Fayra lalu menatap matanya dengan mata cantiknya yang masih berlinang air mata.
__ADS_1