
Namun, berbeda sama Tita. Dia melihat Freya seperti banyak teka-teki yang di sembunyikan. Apa lagi saat menyangkut keluarganya, Freya berusaha menutupi semuanya. Disitulah Tita merasa curiga dengan Freya, sebenarnya apa yang sedang dia sembunyikan dari pasangannya sendiri.
Tak lama makanan Tita pun datang, tanpa basa-basi lagi mereka semua makan dengan sesekali mengobrol. Hanya untuk membahas kabar Tita selama pindah ke Autralia dan kembali Amerika.
...*...
...*...
Pagi hari menjelang siang, Fayra baru saja bangun tidur. Dimana Kharel sudah terbangun lebih dulu dan duduk menyender diatas bangkar sambil menatap kearah jendela.
"Eerrghhh ...." suara renguhan Fayra membuat Kharel langsung menoleh kearahnya.
Fayra membuka matanya tepat disaat posisi dia tertidur menghadap Kharel, sehingga pertama kali Fayra lihat adalah sosok pria yang sama sekali tidak dia inginkan.
"Astaga, Pak Kharel? Kenapa Bapak ada di Apartemenku?" Fayra langsung terduduk dalam keadaan cemas, sampai dia melupakan apa yang sebenarnya terjadi.
Kharel yang tidak mengerti, hanya bisa menyipitkan matanya lalu dia mulai mencerna ucapan Fayra. Sampai akhirnya dia menjawab. "Cuci muka sana, biar semua ingatanmu kembali pulih!" titah Kharel dengan datar.
Mendengar jawaban Kharel, Fayra langsung terdiam kembali menatap seluruh ruangan dan mengingat semuanya. Kemudian dia menyengir ala kuda ketika dia telah menyadari bahwa ini adalah rumah sakit.
"Hehe, maaf, Pak. Ya sudah aku ke kamar mandi dulu, lalu pamit mau pulang. Soalnya jam sembilan aku ada kelas dengan Pak Kiko." jawab Fayra segera berdiri, berjalan perlahan menuju pintu kamar mandi.
Namun, saat Fayra baru memegang pintu kamar mandi dan ingin membukanya. Seketika pertanyaan Kharel berhasil membuat Fayra membolakan kedua matanya terkejut.
"Pak Kiko yang dosen Matematika itu? Berarti tandanya kamu kuliah disana?" tanya Kharel, bingung.
"Aduh, mam*pus kau Fayra! Kenapa malah keceplosan sih, gimana ini!" gumam batin Fayra, dengan segenap rasa ketenangan Fayra mulai berbalik dan dan menunjukkan wajah anehnya.
"Hahh? E-enggak. Bapak jangan sok tahu ya!" ucap Fayra, gugup.
"Jika dia bukan dosen Matematika, lantas dia siapa? Terus juga bukannya kamu orang Indonesia kan, tapi kenapa kamu ada disini? Apa kamu kuliah disini? Itu artinya kamu migrasi internasional? Jika benar, tandanya kamu adalah salah satu mahasiswi di Universirty ESMOD Internationale?" tanya Kharel panjang kali lebar, membut Fayra bertambah gugup.
__ADS_1
"Yak, ke-kenapa Bapak jadi kepo tentang hidup saya sih! Mau saya kuliah dimana, tinggal dimana, belajar apa atau makan apapun itu hak saya! Jadi bapak enggak usah nebak-nebak, karena percuma itu semua salah!" celetuk Fayra saat dia berusaha menutupi jati dirinya.
"Lah kan saya cuman nanya, kenapa kamu jadi marah? Seseorang yang ditanya, tetapi responya sepertimu ini. Berarti ada something yang kamu sedang sembunyikan. Atau jangan bilang, wanita yang ada di kelasku itu adalah kamu?"
Kharel menebak dengan tepat sasaran, sehingga wajah Fayra langsung memerah bagaikan udang saos Padang. Dimana apa yang Kharel ucapkan selalu saja benar, dan tidak pernah meleset.
Sampai akhirnya, Fayra harus terdiam dengan segala kebingungannya. Dia tidak tahu harus menjawab apa lagi, karena mulutnya seperti sudah terkunci.
Sebenarnya Fayra jarang sekali berbohong seperti ini, dia lakukan semua ini hanya untuk menutupi jati dirinya dari pria yang selalu membuatnya kesal.
Cuman, entah mengapa. Semakin Fayra berbohong malah semakin Kharel bisa menebak semua pergerakan dan juga kebohongan yang sedang dia sandiwarakan.
Keheningan yang muncul langsung buyar, saat sang suster masuk dengan membawakan makanan untuk pasien diatas trolly. "Permisi Tuan, Nyonya. Maaf terlambat, tadi ada sedikit kendala."
Seorang suster cantik masuk sambil tersenyum, membuat Fayra yang terdiam pun langsung terkalihnya. "Ahya. Gapapa, Sus. Santai saja, lagian juga sster telat pun tidak akan membuat orang itu ma*ti!"
Perkataan Fayra berhasil membuat Kharel membola lalu menatapnya dengan tajam dan berkata. "Apa maksdumu berbicara seperti itu? Apa kamu mendoakan saya mati, iya!"
"Jika iya memang kenapa? Masalah buat saya? Enggak kan, toh Bapak juga bukan siapa-siapa saya. Pacar bukan, tunangan bukan, saudara bukan, orang tua bukan, apa lagi suami juga bukan! Jadi kalau Bapak ma*ti ya sudah tinggal masukin peti, kubur selesai!" sahut Fayra kesal.
"Apa-apaan ini, hahh! Bisa-bisanya kamu berbicara seperti itu pada saya. Salah saya apa sama kamu, sampai kamu menyumpahi saya sebegitunya?" ucap Kharel, kesal penuh penasaran. Ini kali pertama seorang wanita bisa berbicara layaknya seorang musuh.
Sementara wanita lain diluar sana saja malah memuji ketampanannya, seolah-olah dia mengagumi ciptaan Tuhan yang sangat indah. Dengan harapan kalau mereka bisa memiliki Kharel seutuhnya.
Berbeda dengan wanita satu ini, Fayra seakan-akan malah membenci Kharel dengan segala pemikiran buruknya. Bagaikan kedua insan yang sedari lahir telah bermusuhan.
Mendengar percekcokan antara Fayra dan Kharel membuat yang suster yang ada ditengah mereka hanya bisa menggaruk kepalanya bingung. Sampai seketika dia menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Tuan, Nona. Apakah kalian pernah mendengar jika kebencian dan juga cinta itu beda tipis, setipis kertas."
Satu kalimat yang sang suster ucapkan, langsung membuat sejoli itu langsung bungkam. Lalu mereka menatap kearah sang suster dengan wajah yang tidak bisa dijelaskan.
__ADS_1
"Ma-maksudnya?" ucap keduanya secara bersamaan.
"Ya, Nenek saya pernah berkata. Jika benci dan cinta itu bedanya sangat tipis. Kemungkinan sekarang kalian saling membenci, tetapi esok kan kita tidak tahu. Bisa jadi kalian akan saling mencintai yakan? Apa lagi kebencian yang ada didalam diri kalian membuat kalian sering bertengkar, pada akhirnya kenyaman itu mulai muncul lalu berubah menjadi benih cinta. Hingga membuat kalian tidak bisa berpisah satu sama lain."
Seketika penjelasan sang suster membuat kedua tubuh mereka terdiam mematung, tanpa disadari mereka saling menatap satu sama lain dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan.
Manik mata saling bertemu, hingga setelah mereka tesadar secepat mungkin mereka langsung mengalihkan pandangannya, dengan perasaan yang tidak karuan.
"Dish, amit-amit tujuh turunan, tujuh tanjakan. Ogah banget cinta sama orang kaya dia, udah nyebelin, ngeselin bikin emosi pula!" ujar Fayra dengan perasaan jijik.
"Yakk, siapa juga yang mau jodoh sama kamu. Kaya enggak ada wanita lain aja!" sahut Kharel dengan wajah memerah.
"Yee, aku juga enggak mau kali jodoh sama Bapak! Dikata kaya enggak ada Pangeran lain aja. Mendingan sama Pangeran kodok, jelek tapi bisa berubah tampan. Dari pada tampan berubah menjadi menyebalkan!" pekik Fayra.
"Yayaya, terserah kamu saja! Susah memang ngomong sama wanita, ada aja jawabannya!" celetuk Kharel, cuek.
"Yayaya, terserah kamu saja! Susah memang ngomong sama pria, selalu jawabannya menyebalkan!" balas Fayra mengikuti ucapan Kharel.
"Yakk, ngapain kamu ngikutin saya?" jawab Kharel, tidak terima.
"Nyenyenye ...." ucap Fayra meledek.
"Awas tuh mulut jatuh." ucap Kharel.
"Bodo! Tinggal pungut, susah amat. Kan belum lima menit juga." jawab Fayra spontan.
"Dikata makanan kali." ucap Kharel, kesal.
"Fix sih ini mah, saya doakan semoga kalian berjodoh. Aamiin ...." ucap sang suster tersenyum melihat pertengkaran mereka.
Fayra yang sudah tidak bisa berkata lagi langsung pergi menuju kamar mandi dengan wajah memerah. Sedangkan Kharel dia pun langsung mengalihkan wajahnya untuk menutupi rasa malu didalam dirinya.
__ADS_1
Sang suster menggelengkan kepalanya sambil terkekeh kecil, kemudian dia pun menaruh makanan Kharel di mejanya. Lalu berpamitan dan pergi dalam keadaan tertawa, dimana saat pintu tertutup bersamaan dengan menghilangnya suster.
Tanpa disadari Kharel tersenyum begitu lebar, wajahnya memerah dan menghilang ketika mendengar pintu kamar mandi terbuka. Meskipun Kharel berusaha untuk tetap terlihat biasa saja, tetapi wajahnya tidak bisa dibohongi jika dia seperti merasakan adanya rasa senang bercampur malu.