
Tanpa berlama-lama lagi, karena Ozzie takut dia bisa pingsan dibuat malu oleh kedua orang tua Tita. Kini, langsung saja Ozzie membawa Tita pergi dari sana.
Sementara kedua orang tua Tita, benar-benar happy melihat tingkah laku anak serta Ozzie yang sangat menggemaskan. Hingga membuat mereka tertawa lepas bersama.
Ozzie segera membukakan pintu mobilnya untuk Tita, lalu dia masuk ke pintu pengemudi di sebelah Tita dan segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang ke suatu tempat makan yang indah.
...*...
...*...
...Di Restoran RH...
Ozzie sudah mengorservasi tempat lebih dulu, tetapi dia tidak memilih tempat yang tertutup. Melainkan dia mau tempat yang sama dengan pengunjung lainnya supaya terkesan natural, dan tidak membuat Tita tidak nyaman.
Turun dari mobil, Ozzie membukakan pintu untuk Tita lalu dia keluar dengan wajah cantik dan senyuman manisnya.
Kali ini Tita benar-benar terlihat begitu anggun, karena dia sudah belajar 2 jam lebih, hanya sekedar berjalan layaknya Putri Indonesia.
Sesampainya di dalam Restoran, Tita terkejut ketika melihag suasana yang begitu manis. Ternyata luarnya Restoran yang Tita lihat sederhana, tetali isinya benar-benar sangatlah mewah.
Ozzie dan Tita berjalan sambil bergandengan melewati semua pengunjung yang ada di lantai 1 menuju lantai 2. Sampai tidak sadar jika ada seorang wanita yang sangat mengenali Ozzie.
"Loh, i-itu bukannya Ozzie? Ta-tapi sama siapa dia? Kenapa cewek itu menggandeng lengan Ozzie, apakah dia kekasihnya?"
"Wah, enggak bisa di biarin! Inget, Freya. Apapun yang lu inginkan itu akan selalu lu dapatkan, meski pada akhirnya lu di campakkan setidaknya Ozzie ini pria yang baik. Jadi, tidak mungkin dia seperti Ace ataupun Daddy!"
"Pokoknya gua harus ikutin dia, dan gua enggak mau sampai Ozzie lepas dari genggaman tangan gua. Titik!"
Seorang wanita yang tidak lain adalah Freya, dia bergumam di dalam hatinya kecilnya. Kemudian dengan cepat segera memberikan uang ke dalam bil, lalu meninggalkan meja makannya sendiri. Hanya demi mengejar kemana pun Ozzie dan Tita pergi.
__ADS_1
Freya sangat penasaran sama seorang wanita cantik yang sedang bersama Ozzie, karena Freya tidak sempat melihat wajahnya. Dia cuman sekedar melihat tubuh belakangnya saja.
Namun, siapa sangka dari postur tubuh itu Freya seperti mengenali wanita itu, tetapi siapa? Dia masih belum bisa mengingat karena dia belum melihat wajahnya, sebab tertutup oleh banyaknya orang yang berlalu lalang untuk mencari tempat atau keluar dari restoran.
Ozzie melepaskan pegangan tangan Tita, dan sedikit membenarkan letak kursi duduk supaya Tita bisa menempatinya dengan tenang. Setelah itu, barulah dia duduk di depan Tita dan menatapnya.
"Kamu cantik banget malam ini, sumpah!"
"Aku tidak berbohong untuk kali ini kamu beneran cantik. Malahan aku berpikir jika semua yang aku berikan itu tidak cocok dengan seleramu. Akan tetapi, ketika kamu memadukan semuanya benar-benar luar biasa, sangat sempurna."
"Sampi sini paham, 'kan kalau pilihanku itu tidak pernah meleset ataupun salah. Hem?"
Ozzie berbicara sambil senyuman lebar, serta edikit menggoda Tita yang membuat wajahnya mulai merona.
"Te-terima kasih, Ozzie. Kamu juga tampan menggunakan jas itu, terlihat lebih dewasa dan juga manis." ucap Tita, tersenyum kikuk.
"Woh, jelas dong. Aku 'kan memang sudah tampan dari lahir, kamunya saja yang baru mengakuinya," balas Ozzie penuh rasa percaya dirinya, sambil memainkan alis serta bergaya layaknya pria cool.
Tita yang awalnya tersenyum, tiba-tiba langsung kembali judes. Kemudian kedua bola matanya memutar malas, akibat menyesal telah memuji pria narsis seperti Ozzie.
"A-apa? Kamu bilang, apa? Aku tidak mendengar!" sahut Ozzie penasaran sama apa yang Tita ucapkan.
"Enggak, tadi ada gajah terbang!" ucapnya, sembarangan.
"Mana? Kok aku enggak liat, memangnya gajah bisa terbang? Perasaan bisa terbang itu hewan yang memiliki sayap. Sedangkan gajah itu memiliki belalai, bukan sayap. Lantas bagaiman dia bis--"
"Stop! Jangan di teruskan atau moodku yang sedang baik ini seketika bisa menjadi hancur mendadak karena itakmu yang lemot itu! Dasar pria aneh, lemot, nersis, nyebelin, ngeselin!" pekik Tita.
"Yee, kamu juga sama ya. Udah tomboi, ngese--"
Degh!
Tatapan mendelik yang Tita berikan pada Ozzie sebagai warning untuknya, agar tidak lagi-lagi meneruskan pembicaraannya atau semuanya yang udah di persiapkan akan gagal total.
__ADS_1
Sementara Freya yang masih penasaran dengan wajah wanita itu, semakin berjalan mendekati mereka. Hingga beberapa meja yang dekat dari meja mereka baru saja ada yang kosong.
Dari situ Freya segera duduk mencari tempat dimana dia bisa memantau semua pergerakan, serta mendengar percakapan mereka sekaligus melihat wajah wanita itu.
"Hehe, ma-maaflah. Janji enggak lagi-lagi, ya sudah kita pesan minum dan makanan aja ya. Biar bisa meredakan ketegangan di meja ini."
Ozzie mengalihkan rasa takut di dalam hatinya, saat wajah Tita mulai di tekuk bagaikan baju.
Tangan Ozzie terangkat ke atas untuk memanggil seorang pelayan. Kemudian mereka berdua segera memesan beberapa menu yang ada di daftar buku tersebut.
"Astaga, kenapa wajah wanita itu enggak noleh ke sini sih! Ayolah noleh, biar gua bisa liat secantik apa sih wajah tuh cewek. Sampai-sampai Ozzie bisa terpikat sama tuh orang dari pada gua, yang jelas-jelas selalu berusaha tampil cantik di depannya." gumam kesal Freya, didalam hatinya.
Setelah selesai memesan semuanya, mereka kembali terdiam. Ozzie selalu berusaha mengembalikan mood Tita, tetapi sayang tidak berhasil.
Sampai akhirnya sebuah minuman datang bersamaan dengan sepiring kecil cake yang sangat cantik dan menggiurkan.
Sepotong kue berhasil membuat Tita terkejut, karena dia dan Ozzie sama sekali tidak memesannya. Akan tetapi, seorang pelayan mengatakan bahwa ini adalah hadiah yang pihak Resto berikan spesial setiap pelanggan memesan menu tertentu.
Mau tidak mau Tita hanya mengucapkan terima kasih padanya, begitu juga Ozzie dia tersenyum melihat Tita.
"Udah di makan dulu, sambil nunggu makanan lainnya jadi. Hitung-hitung biar badmoodmu ilang, jadi makanlah yang manis sambil melihat yang lebih manis hehe ...."
Tita berusaha menahan tawanya meski rasanya dia ingin sekali tertawa atas sikap lucu Ozzie, yang bisa saja membuatnya berkesan.
"Ya udah aku makan, kamu mau?" tanya Tita.
"Tidak, makan saja habisin. Kalau mau pun aku bisa memesannya full, tanpa sepotong seperti itu." ucap Ozzie membuat Tita melirik sinis, lalu perlahan mulai memotong kue tersebut menggunakan garpu kecil dan melahapnya.
Suapan pertama Tita terlihat sangat menikmati cake tersebut, lalu suapan kedua pun dia merasa badmoodnya sudah jauh lebih stabil karena merasakan manis asam yang berasal dari rasa cakenya.
"Astaga, udah mau suapan ke tiga dia masih terlihat baik-baik saja? Sumpah, ini mbaknya minta di getok kali ya. Apa dia lupa dengan rencanaku? Yakk, awas saja tuh pelayan. Ketemu gua pites!" gumam batin Ozzie terlihat kesal, tetapi tetap tersenyum.
__ADS_1
Dan suapan ke tiga, Tita tersendak sesuatu yang membuatnya melototkan matanya dan langsung perlahan mengeluarkan benda kecil dari dalam mulutnya. Kemudian menunjukkannya di depan matanya.
Betapa terkejutnya Tita ketika melihat benda kecil itu, dia malh merasa bahwa pegawai Restoran sangat tidak profesional dengan pekerjaannya. Sehingga ada benda kecil yang masuk ke dalam cake tersebut.