Learn to Love You

Learn to Love You
Nangislah sepuasmu, Sayang!.


__ADS_3

Fayra seketika melepaskan pelukan Appanya yang terasa begitu nyaman didalam dekapannya. Perlahan dia menatap wajah kedua orang tuanya dengan perasaan tidak karuan. Rasanya mulutnya begitu kaku ketika dia mau mengatakan sesuatu kepada mereka.


Sampai akhirnya satu kalimat berhasil terlontar dari mulut Fayra yang berhasil membuat wajah bahagia mereka berubah menjadi begitu terkejut.


"Appa, Amma. Fayra mau berpisah dengan Kak Ace!"


Degh!


Seketika jantung kedua orang tua Fayra langsung berdetak sangat cepat, bagaikan seseorang yang sedang tertidur pulas, lalu terbangun akibat sedang bermimpi terjatuh dari ketinggian.


"Sa-sayang, a-apa yang kamu katakan barusan? Kamu ingin berpisah dari suamimu, kenapa?" tanya Amma Trysta penuh keterkejutan. Matanya mulai berkaca-kaca menyaksikan ucapan Fayra yang sangat melukai hatinya.


"Apa penyebab Fayra yang Appa kenal sangat mencintai suaminya hingga beberapa kali disakiti masih tetap bertahan, tetapi kali ini kenapa menyerah? Ada apa, Sayang? Katakan pada Appa, apa yang sudah terjadi selama di Amerika kemarin!" sambung Appa Daniel, wajahnya begitu datar.


Fayra terdiam sedikit menundukkan kepalanya sambil mainkan jarinya, disitu terlihat bahwa Fayra sangat takut ketika dia harus membuka aib suaminya sendiri yang selama ini hampir dia jaga ketat.


Melihat ketegangan diwajah Fayra membuat kedua orang tuanya saling melirik satu sama lain dengan kecemasan yang sama.


"Apa ini jawaban yang sebenarnya aku cari beberapa hari ini, yang membuat perasaanku selalu gelisah. Dan apakah sesuatu yang Gerry sembunyikan berkaitan dengan kabar buruk yang Fayra berikan hari ini?"


"Ada apa ini Tuhan, kenapa hidup anakku sebegitu mirisnya. Jelas-jelas dia adalah anak yang baik, ceria dan juga pantang menyerah. Lalu kesalahan apa yang membuatnya bisa menghadapi semua ujianmu yang sangat menyakitkan ini!"


"Maafkan Appa, Nak. Karena keegoisan kami yang menjodohkanmu diusia muda, banyak membuat hidupmu selalu mendapatkan penderita yang tiada hentinya. Appa tidak menyangka perjuanganmu hanya bisa sampai disini, Sayang. Apa mungkin sudah waktunya kamu menjalani hidup yang jauh lebih baik dari ini?"


Hati Appa Daniel begitu hancur ketika melihat anak semata wayangnya sedang berjuang untuk menguatkan diri agar tidak terlihat begitu hancur didepan kedua orang tuanya.

__ADS_1


Sementara Amma Trysta yang melihat anaknya hanya bisa menundukkan kepalanya, berhasil membuatnya langsung memeluk Fayra. Tanpa terasa kini pecahlah isak tangis Fayra di dalam pelukan Ammanya.


"Nangislah sepuasmu, Sayang. Amma paham jika semua itu sangat berat untuk kamu jalani, selama ini Amma dan Appa selalu berusaha membahagiakanmu apapun caranya, kami selalu lakukan tanpa memikirkan diri kami sendiri."


"Namun, kenapa seseorang yang sudah mengambilmu dari kami malah membuatmu sehancur ini. Salah apa kami Tuhan, kenapa Enggkau memberikan kami cobaan seperti ini. Anakku ini adalah anak yang baik, anak yang kuat dan juga anak yang sangat ceria. Tetapi berkat ujianmu berhasil membuat anakku begitu rapuh!"


"Apa ini yang dinamakan keadilan? Anakku sudah berjuang semampunya untuk mencintai dan menjadi istri yang baik untuk suaminya, tetapi kenapa suaminya setega ini memperlakukan anakku layaknya wanita yang tidak berharga didalam hidupnya."


"Sayang, apa semua ini kesalahan kita? Apa ini karma buat kita yang sudah bertindak tanpa memikirkan nasib anak kita kedepannya? Apa ini hasil dari keegoisan yang kita lakukan untuk anak kita?"


"Kenapa Sayang, kenapa! Kenapa anak kita yang merasakannya, kenapa bukan kita aja, kenapa! Hiks ...."


Amma Trysta menangis sambil berteriak dengan semua kehancuran anaknya, baru kali ini terlihat betapa marahnya Amma Trysta terhadap nasib anaknya.


Namun kali ini tidak lagi, hatinya sudah begitu hancur ketika mendengar isak tangis anaknya yang begitu pilu.


Fayra yang sudah mengumpulkan semua kekuatannya ternyata semua itu sia-sia, dia begitu lemah di hadapan orang tuanya. Sampai akhinya Appa Daniel memeluk mereka berdua berusaha untuk menenangkan mereka yang saat ini sedang di landa oleh kekecewaan yang sangat besar.


Tanpa mereka sadari air mata yang tidak pernah Appa Daniel teteskan selama ini, berhasil runtuh bersamaan dengan perasaannya yang hancur berkeping-keping. Sorotan tajam dan emosi didalam dirinya berusaha mungkin dia tahan.


Hampir beberapa saat Appa Daniel mencoba untuk membawa Fayra kekamar bersama dengan Amma Trysta. Apa lagi hari sudah mulai larut, mungkin saat ini Fayra lagi capek karena baru saja sampai ke rumah.


Di tambah perasaannya masih belum bisa tenang, kemungkinan besok pagi mereka akan kembali menanyakan apa yang sebenarnya terjadi dengan rumah tangga anaknya.


Untuk malam ini Amma Trysta tidur bersama dengan Fayra di kamar Fayra, sedangkan Appa Daniel tidur dikamarnya seorang diri.

__ADS_1


Sesampainya di kamar, isak tangis Appa Daniel langsung pecah ketika dia menutup pintu kamarnya dan bersandar di belakang pintu.


Tangisan yang berusaha dia tahan didepan anak serta istrinya sekarang sudah tak terbendung. Tubuh Appa Daniel merosot ke bawah dengan posisi duduk, kedua kaki dilipat di dada dan kedua tangannya menjambak frustasi rambutnya.


Ini lah sosok seorang Ayah yang sangat hancur ketika putri kesayangannya dalam keadaan tidak baik-baik saja. Appa Daniel berusaha terlihat tegar dihadapan mereka agar tidak menambahkan kesan kesedihan yang telah terjadi hari ini.


Wajah kecewa, marah dan penyesalan terlihat jelas di dalam diri Appa Daniel. Disela kemarahannya yang kian menggebu-gebu dia langsung menghubungi Daddy Gerry beberapa kali.


Setelah diangkat Appa Daniel meminta mereka untuk datang ke rumah tepat pukul 10 pagi menjelang siang, karena akan ada sesuatu yang harus mereka bicarakan.


Rasa tegang dan juga panik mulai melanda hati Daddy Gerry. Wajahnya sangat menegangkan ketika dia mendapatkan telepon dari sahabatnya yang terkesan sangat berbeda.


"Ada apa, Ger? Kenapa kamu terlihat begitu khawatir, apa ada masalah di kantor?" tanya Mommy Rosa, penuh kecemasan saat melihat suaminya yang saat ini terlihat sanga pendiam setelah menerima telepon dari seseorang.


Beberapa kali Mommy Rosa berusaha sabar memanggil nama suaminya, cuman suaminya malah asyik dengan bayangan akan ketakutan yang sudah dia duga.


"A-apa me-mereka sudah tahu semuanya? Jika benar, pasti saat ini Fayra sudah berada dirumahnya." gumam Daddy Gerry dengan semua pikiran yang sedari kemarin dia pikirkan.


"Astaga, Gerry! Aku dari tadi berbicara padamu ya, tapi kenapa kamu malah cuek dan berdiri seperti itu. Apa suaraku kurang keraskah?"


Mommy Rosa begitu kesal dengan sikap suaminya yang akhir-akhir ini seneng sekali membuatnya pusing. Akan tetapi, Mommy Rosa memang sudah mulai curiga dengan gerak-gerik suaminya.


Sampai panggilan pun sudah berhenti entah keberapa kalinya, Mommy Rosa memang telah menyadari bahwa ada keanehan didalam dirinya.


Namun, Mommy Rosa enggan untuk menanyakannya lantaran dia tidak terlalu memperdulikan apapun selagi tidak menyenggol tentang keluarganya. Apa lagi Daddy Gerry masih merahasiakan sesuatu kepada semuanya termasuk istrinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2