Learn to Love You

Learn to Love You
Menjadi Wanita Feminim


__ADS_3

Perlahan, tangan Tita terarah untuk menarik pita tersebut. Kemudian membuka kotak yang berukuran sedang itu.


Degh!


Jantung Tita berdebar sangat cepat, bersamaan dengan kedua matanya yag membola besar. Sama halnya dengan pembantunya, mereka terlihat kompak terkejut dengan isi yang ada di dalam kotak tersebut.


Bahkan ada satu surat kecil menyempil di dalamnya, membuat tangan Tita bergetar hebat untuk segera mengambil serta membacanya.



Mata Tita terpancar penuh cinta, membuatnya benar-benar tidak menyangka. Padahal Tita tahu, jika dia sama Ozzie itu sama-sama tidak pernah berpacaran sebelumnya. Jadi kemungkinan besar, mereka tidak tahu bagaimana caranya beromantis kepada lawan jenisnya.


Namun, ini adalah hal yang sangat langka untuk Tita. Ozzie yang dia kenal sangat menyebalkan dan juga selalu ngeselin, kini berubah menjadi seorang pria dewasa yang sedang berusaha untuk membahagiakan wanitanya.


Tak terasa bulir-bulir air terjatuh di pipi Tita, membuat dia langsung berhambur memeluk pembantunya yang sudah dianggap seperti Ibu kedua untuknya.


"Huaa, Bibi. Tita senang banget, ada pria yang sangat romantis ini. Cuman Tita takut, jika pria itu hanya mempermainkan perasaan Tita. Jadi Tita harus gimana, Bi. Hiks ...." ucapnya.


"Tenang, Non. Jika pria itu hanya ingin sekedar mampir, maka sifatnya tidak akan semanis ini pada Nona." ucap pembantunya, perlahan mulai melepaskan pelukannya.


"Sekarang Bibi tanya, apakah pria itu seorang playboy? Apakah pria itu memiliki banyak teman wanita? Dan apakah pria itu memperlakukan semua wanita seperti dia memperlakukan, Nona?"


Pertanyaan dari pembantunya itu membuat Tita selalu menggelengkan kepalanya dengan cepat. Semua yang pembantunya tanyakan itu, bukanlah sifat Ozzie yang Tita kenal selama beberapa bulan terakhir ini.


"Tidak, Bi. Dia sama dengan Tita, tidak pernah dekat sama wanita, bahkan pacaran pun belum pernah." jawab Tita.


"Nah, itu Non sudah punya jawabannya bukan? Kesimpulannya di sini, tandanya pria itu benar-benar memperlakukan Non layaknya seorang Princes untuknya. Jadi, Non tidak usah berpikiran seperti itu. Sekarang Non pikirkan riasan apa yang akan cocok untuk Non padukan sama semua barang-barang yang ada di dalam kotak ini."


Nasihat pembantunya sangat berkesan untuk Tita, dia memeluknya sekali lagi lalu melepaskannya. Kemudian Tita mengucapkan terima kasih kepada pembantunya, karena dia telah membuat Tita percaya jika Ozzie bukanlah seperti pria yang dia tahu.


Sampai akhirnya pembantunya kembali ketempat, dan Tita menutup pintu kamarnya sambil tersenyum bahagia. Lalu, dia duduk di pinggir ranjangnya sambil melihat serta mengeluarkan atau mencoba setiap barang yang Ozzie berikan.




__ADS_1


Semua itu pemberian dari Ozzie, hanya saja Ozzie tidak memberikan sepatu karena dia tidak tahu berapa ukuran kaki Tita.


Namun, siapa sangka. Setelah Tita mengkolaborasi semuanya menjadi satu membuat Tita terlihat sangat cantik di depan cermin. Meski, belum sempurna karena dia belum menggunakan riasan, akan tetapi semua sangat cocok di tubuh Tita.


Apa lagi dia menggunakan sepatu heels yang sangat tepat untuk menambah kesan kecantikan kakinya.



Tita berputar-putar sambil tersenyum lebar atas semua pemberian Ozzie yang sangat indah di tubuhnya. Tak lupa setelah itu, Tita kembali membuka semuanya dan menyimpannya di tempat yang aman.


Lalu, Tita mengirinkan pesan kepada Ozzie untuk mengucapkan terima kasih, karena dia sangat mengerti apa yang saat ini Tita butuhkan.


Tita merasa begitu bahagia saat mendapatkan prilaku manis dari seorang pria, hingga tidak sadar Tita tertidur tepat di jam 1 siang.


...*...


...*...


Jam sudah menunjukkan pukul 6 lewat 30 menit, Ozzie sudah berada di perjalanan menggunakan pakaian yang sangat keren. Meski, di dalam hatinya dia sangat nervous ketika menjemput Tita.


Jika wanita akan berkencan oleh seorang pria, maka mereka akan selalu bermake up berlebihan hingga membuat kecantikan alaminya tertutup bedak 20 kilo.


Sesampainya di depan gerbang rumah Tita, seorang securiy langsung membukanya lantaran sudah hapal sama mobil Ozzie yang sering main ke sana.


Ozzie keluar dari mobilnya, lalu masuk ke dalam rumah di temani oleh pembantu Tita sambil mengarahkannya ke ruang keluarga untuk bertemu dengan kedua orang tua Tita.



Disana Ozzie mengobrol sambil meminta izin pada kedua orang tua Tita, karena mereka juga senang dengan Ozzie tanpa basa-basi lagi mereka mengizinkannya. Apa lagi menurut mereka Ozzie merupakan anak yang baik dan juga manis.


Cuman selang beberapa menit ketika Ozzie sedang meminum sirup yang dibuatkan oleh pembantu Tita, seketika dia menyemburnya ke arah depan yang untungnya tidak membuat pakaian yang sudah rapi menjadi terkena noda.


"Ehh, astaga. Nak Ozzie, kamu gapapa?" tanya Papahnya Tita.


"Aduh, untung enggak kena jasmu. Ada apa, kenaop wajahmu tegang seperti--"


Mamahnya Tita menoleh bersamaan dengan Papahnya Tita. Mereka bertiga melihat seorang gadis cantik bergaun merah, turun dari kamar berpenampilan yang sangat anggun dan juga cantik.

__ADS_1


"Wa-waw, i-itu anak kita, Pah? Sumpah, cantik banget!" ucap Mamahnya Tita, terkejut melihat anaknya sangat berbeda malam ini.


"Apakah si tomboy, sudah berubah menjadi feminim? Ini seperti bukan Tita anak kita, Mah. Baru kali ini Papah melihat seorang Princes hadir di rumah kita, padahal biasanya dia menggunakan dress pun tidak sebegininya. Ada apa ini, Mah? Apakah Papah sedang bermimpi?" ucap Papahnya Tita, antusias.


Mereka bertiga, terpanah akan kecantikan Tita yang sama sekali tidak pernah mereka lihat. Seumur hidup kedua orang tua Tita, baru kali ini melihat anaknya berdandan cantik, meski tidak tebal cuman dandanan tersebut mampu mengejutkan seisi rumah.


Semua ini tidak lepas dari bantuan pembantunya yang selalu membantu Tita dalam melakukan hal apapun, sehingga dia bisa mandiri menjadi wanita feminim.


"Hai, ma-maaf ya aku lama. Tadi aku cari ponsel dulu, soalnya tiba-tiba hilang hehe ...."


Degh!


Senyuman itu, mampu membuat Ozzie hampir saja pingsan jika dia tidak langsung tersadar.


"Ehh, i-iya tidak apa-apa, Princes." jawab Ozzie, gugup.


"I-itu, mulutmu belepotan sirup" tunjuk Tita, membuat Ozzie langsung mengambil beberapa tisu dan mengelap mulutnya sebersih mungkin.


Kemudian dia berdiri dan menatap Tita dengan tatapan kagum. "Udah siap, 'kan? Enggak ada yang tertinggal lagi?" ucap Ozzie, mendapatkan gelengan manja dari Tita. "Baiklah, ayo kita berangkat!"


"Om, Tante. Pinjam anaknya dulu ya, nanti aku balikin lagi tenang aja enggak aku culik. Kalau enggak pulang, tandanya aku khilaf ya."


Tuk!


"Awwshh, sa-sakit Om. Kenapa di pukul sih, kan aku mau berpamitan?"


Wajah Ozzie cemberut saat kepalanya mendapatkan pukulan dari Papahnya Tita, ketika dia sedikit menunduk berpamitan padanya.


"Jangan cuman khilaf doang, resminkan biar Om bisa segera menimang cucu. Paham!" tegas Papahnya Tita, membuat Ozzie dan juga Tita seketika langsung memerah dan salting.


"Haha, si Papah bisa aja. Mamah juga mau dong, jadi kalian nanti buatkan 2 sekaligus ya. Mamah satu, Papah satu,, okay?" goda Mamahnya Tita lagi-lagi membuat wajah mereka berdua semakin merah layaknya jambu biji yang mulai busuk.


Tanpa berlama-lama lagi, karena Ozzie takut dia bisa pingsan dibuat malu oleh kedua orang tua Tita. Kini, langsung saja Ozzie membawa Tita pergi dari sana.


Sementara kedua orang tua Tita, benar-benar happy melihat tingkah laku anak serta Ozzie yang sangat menggemaskan. Hingga membuat mereka tertawa lepas bersama.


Ozzie segera membukakan pintu mobilnya untuk Tita, lalu dia masuk ke pintu pengemudi di sebelah Tita dan segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang ke suatu tempat makan yang indah.

__ADS_1


__ADS_2