
Kharel berdiri lalu berbicara sambil pergi meninggalkan kamar Fayra, dengan perasaan senang. Bagaimana tidak, hampir saja Kharel menunjukkan aset berharganya yang belum jadi itu pada seorang wanita menyebalkan seperti Fayra.
Jika Fayra melihatnya pun dia malah tambah bingung kenapa bentuknya seperti ini, dan bagaimana dia bisa menempel di tubuh Kharel. Entahlah, itulah yang dinamakan keajaiban.
Sosis yang harusnya dimakan dengan nasi, tetapi ini hanya bisa dinikmati tanpa mengunyahnya dan malah sosis itu yang akan menggigit seseorang yang telah berhasil mendekatinya.
...Flashback off...
Kharel melihat Fayra tersenyum dan terkekeh seorang diri membuatnya sedikit ngeri. "Ini anak satu kenapa lagi, dari tadi senyum-senyum sendiri. Jangan bilang dia kesambet hantu rumah sakit?"
"Hem, tapi tidak mungkin. Inikan siang hari, masa iya hantu keluar? Mereka juga kan butuh istirahatlah, karena malamnya harus begadang gangguin manusia. Huaa, kenapa aku malah mikir ke situ sih, dasar Kharel tampan! Ehh, ya memang sih aku akui aku tampan hihi ...."
Kharel pun terkekeh sekilas, lalu kembali kesemula dan mencoba menyadarkan Fayra yang masih asyik dengan dunia masa kecilnya.
Kharel melambaikan tangannya beberapa kali, sampai wajahnya terlihat sedikit kesal. "Raa, hei Raa. Ishh kamu itu kenapa sih melamun aja!" Fayra mendengar itu segera tersadar dengan segala kebingungannya.
"Huaa, sosisku mana? Aku mau sosisku, aku mau. Ehhh!" Kedua tangan Fayra langsung menutup rapat mulutnya yang berhasil membuat Kharel terkejut.
Dengan refleks Kharel memegang aset miliknya, entah mengapa dia jadi teringat akan masa lalunya bersama Fayra yang sangat menyebalkan.
"So-sosisku?" gumam kecil Kharel segera menatap asetnya untuk mengeceknya. "Huhh, a-aman untung masih ada!" Kharel merasa sangat lega ketika asetnya berhasil mengingatkan dengan 1 kejadian yang membuatnya trauma.
...Flashback Kharel...
__ADS_1
Waktu itu adalah hari Minggu, dimana Kharel libur sekolah dan Fayra sedang mencicil mengerjakan tugas sekolahnya untuk dikumpulkan keesokan harinya.
"Permisi, Princes Chubby Pangeranmu telah tiba. Apakah kamu tidak akan merindukanku?" ucap Kharel dengan bangga memasuki rumah Fayra dan segera berjalan menuju ruang keluarga.
"Aduhh, anak Amma pinter sekali. Nah, sekarang kan pekerjaan rumah sudah selesai. Jadi Fayra boleh main sepuasnya deh." ucap Amma Trysta dengan senang, ketika melihat anaknya selalu nurut dan juga mengerjakan tugasnya dengan baik.
"Huaa, makasih Amma. Makasih Amma udah mau sabal ngajalin Fayla belajal matimatian. Fayla sayang Amma selamanya," Fayra reflek memeluk Amma Trysta sangat kuat sambil tersenyum.
Sementara Amma Trysta membalas pelukannya mengusap punggungnya dan beberapa kali menciumi Fayra penuh rasa bangga. "Matematika, Sayang. Bukan matimatian, emangnya Fayra mau mati sekarang, hem?"
"Huaa, enggak mau! Fayla mau hidup yang lama bial bisa membahagiakan Amma sama Appa, teyus juga Fayla mau nikah dulu sama Kak Kalel balu deh ...." jawab Fayra menghentikan pembicaraannya sambil menatap wajah Ammanya.
"Baru apa? Meninggal gitu?" sahut Amma Trysta menatap anaknya.
"Ka-kapan dia mengatakan seperti itu?" tanya Amma Trysta dengan segala kepanikannya.
"Hem, waktu itu. Kan kita main Mamah Papah, teyus Kak Kalel itu bilang katanya nanti kalau Fayla udah besal Kak Kalel mau kasih Fayla dedek gemes yang asli gitu hihi, baikkan?"
"Nah, tapi Fayla ndak sabal nunggunya. Kapan ya Fayla besal, kok lama banget. Emangnya ndak bisa Amma kalau sekalang aja Kak Kalel buat dedek gemes itu ada di sini? Kenapa halus nunggu Fayla besal dulu, hemp. Menyebalkan!"
Fayra mendumel seorang diri dengan segala kekesalannya. Sementara Amma Trysta masih sangat syok mendengarnya bahwa Kharel sudah menyiapkan semuanya diusia dini.
Terkesan lucu bukan? Ya, itulah Kharel. Dari kecil dia sudah menanamkan impian untuk menikah dengan Fayra, sedangkan Fayra memiliki impian mempunyai suami seperti Appanya.
__ADS_1
Tanpa disengaja Kharel mendengar semua pembicaraan mereka, dalam keadaan mata melotot, wajah memerah malu dan jantungnya yang berdetak tidak karuan.
"Mam*pus kau Kharel, habislah riwayatmu. Itu ngapain sih Fayra cerita begitu ke Ammanya, kan udah aku bilang itu rahasia. Astaga, punya calon istri polos banget sih. Bisa-bisa aku di terkam singa abis ini. Huhh, nasib-nasib!" gumam Kharel didalam hatinya.
Fayra yang tidak sengaja melihat Kharel pun langsung berlari memeluknya bagaikan Koala yang menemplok di pohon. "Huaa, Kak Kalel aku kangen. Ishh, Kakak lama banget ke sininya sih!"
Kharel terkejut sambil berusaha mencoba untuk menjaga Fayra agar tidak terjatuh didalam pelukannya. "Maaf, kan kamu tahu sendiri aku lagi sibuk. Soalnya sebentar lagi kan mau ujian kelulusan jadi aku harus banyak belajar dan bisa main hanya disaat aku libur saja. Tapi, kamu enggak nakal kan selama enggak ada aku, hem? Kalau nakal nanti kita enggak jadi nikah, mau?"
"Huaaa, tidak, tidak, tidak! Fayla mau nikah sama Kak Kalel bial dapet dedek gemes yang Kak Kalel janjiin, pokoknya ayo kita nikah sekalang aja bial cepet dapet dedek gemesnya."
Degh!
Kharel dan Amma Trysta yang melihat itu rasanya ingin hilang dari hadapan mereka. Anak sekecil mereka sudah memiliki impian yang begitu jauh, tetapi bagi Amma Trysta tidak masalah jika suatu saat nanti mereka memang berjodoh.
Apa lagi mereka terlihat cocok, Fayra dengan segala kelucuannya dan Kharel yang memang tipe pria baik, cuek, tetapi dia memiliki jiwa kasih sayang yang besar.
Setelah beberapa menit Fayra melepaskan pelukannya dan mereka pun kembali bermain bersama, sementara Amma Trysta meninggalkan mereka berdua untuk menyiapkan makan siang.
Dimana saat ini Fayra dan Kharel sedang menonton film sambil menyemil, siapa sangka Fayra yang terkenal tidak bisa diem dan tidak bisa jauh dari Kharel. Seketika langsung saja dia duduk tepat diatas pangkuannya, dalam keadaan tak bersalah bahkan Fayra malah menyengir ala kuda saat wajah Kharel terlihat begitu terkejut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan lupa mampir ya guys, ini ada novel milik sesama author terbaik ❤️
__ADS_1