
Kharel Cyrano Philibert, seorang pria tampan yang saat ini berusia 27 tahun. Dia merupakan anak tunggal dari Rektor, pemilik Kampus.
Kharel juga memiliki Perusahaan tersendiri, dan dia memang bercita-cita sebagai dosen. Sehingga dia menjalani 2 bidang sekaligus, antara dosen dan juga CEO termuda. Akan tetapi berkat Daddynya yang sedang sibuk, dia diutus untuk menjadi Rektor untuk memantai semua kegiatan Kampus dengan benar.
...*...
...*...
Hampir setengah jam Kharel mengajar di kelas Fayra, akan tetapi dia sangat penasaran dengan wajah seorang wanita yang selalu menunduk. Seakan-akan dia selalu menghindar dari tatapan dirinya. Bahkan ketika Kharel berjalan mendekatinya sambil menjelaskan materi, Fayra terus menghindar.
Sampai seketika, Kharel sudah jengah dengan sikap Fayra. Dia langsung mengatakan sesuatu yang membuat Fayra membolakan matanya tepat di dalam buku yang sesekali menutupi wajahnya.
"Apakah kalian mengenal siapa nama wanita yang duduk di deretan kursi tengah dengan memakai baju hijau lumut?" tanya Kharel dengan mata terus menatap kearah Fayra.
"Aduh, gimana ini. Dia mulai curiga lagi, huhh. Udah deh tamat riwayatmu Fayra. Terima nasib aja, jika nanti dosen itu selalu membuatmu sengsara." gumam batin Fayra yang sudah tidak bisa menghindari Kharel.
"Oh itu, dia namanya Fayra, Pak. Ada apa? Bapak naksir dengan dia? Kok kita bisa sama sih, tapi kayanya Bapak terlalu tua deh untuk dia. Jadi mending saya aja yang berjuang. Bapak jadi dosen aja baik-baik ya."
"Bhaha, parah sih lu. Dosan sendiri digituin, kena hukum mam*pus!"
Salah satu mahasiswa berhasil membuat yang lainnya tertawa saat melihat ekspresi Kharel yang sedikit terkejut, memerah dan tetap berusaha cool dihadapan mereka.
"Ekhem, ekhem!" Kharel berdehem dengan suara khas serak basahnya, hingga menambah kesan kedinginanya.
Semua pun terdiam saling menunduk, dimana mahasiswa itu yang dengan percaya diri mengatakan semuanya pada Kharel langsung mendapatkan hukuman.
Kharel memberikan dia tugas cukup ringan, yaitu menyalin semua mata pelajarannya ke papan tulis, agar semua mahasiswa/i bisa mencatatnya.
Kemudian dia pun akan tetap menyalinnya dua kali ke dalam buku tulisnya. Ringan bukan? Yaps, ringan tetapi menyiksa jari yang akanbterasa keram.
"Untukmu, Fayra. Setelah jam pelajaran saya berakhir, temui saya di ruangan Rektor!" ucap Kharel dengan penuh kewibawaannya menatap ke arah Fayra, sesekali melirik ke arah mahasiswa yang sedang menulis di papan tulis.
"Hem, ta-tapi, Pak. Setelah pelajaran selesai saya ada jam tambahan. Jadi maaf say--"
"Jika kamu tidak mau menemui saya di ruangan Rektor, jangan ikut pelajaran saya selama 1 bulan lamanya!"
Ucapan Kharel saat ini membuat jantung Fayra hampir saja copot, dia tidak menyangka jika Kharel merupakan dosen Killer yang sangat kejam baginya. Masa hanya karena Fayra tidak mau menemuinya maka di langsung di skorsing selama 1 bulan.
__ADS_1
"Huh, mam*pus kau Fayra. Ma*ti aja kau! Niat ke sini mau belajar supaya bisa meraih cita-cita, ini malah kepending hanya karena dosen gi*la itu. Huhh, nasib!" sahut Fayra di dalam hatinya.
"Ba-baiklah, nanti saya akan ke ruangan Rektor." ucap Fayra dengan nada pasrah, takut dan juga lesu.
Sementara yang lain kembali meneruskan menyalin semua catatan yang sedang di kerjakan oleh mahasiswa tersebut.
"Su-suara itu? Kenapa suaranya tidak asing untukku? Apa aku mengenalnya? Sumpah, baru kali ini aku dibuat penasaran sama seorang wanita. Biasanya wanita yang penasaran denganku, tetapi ini malah terbalik!" gumam batin Kharel sembari menatap Fayra secara insten.
Pelajaran berlangsung selama kurang lebih 2 jam, sehingga kini saatnya jam istirahat pun berbunyi. Kharel langsung menyudahi pelajaran lalu pergi meninggalkan kelas tanpa basa-basi.
Namun, tak lupa mata Kharel bermain serta dia memberikan kode agar Fayra tidak lupa untuk menemuinya di ruang Rektor.
Seperginya Kharel, Fayra segera menjatuhkan bukunya dan bernapas sangat lega. Rasanya Fayra seperti baru bebas dari sebuah penjara yang begitu menyiksa.
"Raa, lu ada masalah apa sama Pak Kharel?" tanya salah satu mahasiswi yang duduknya tepat tak jauh dari Fayra.
"Entahlah, aku juga enggak tahu. Aku aja enggak kenal sama dia, dianya aja yang cari masalah." jawab Fayra, berusaha menutupi semuanya.
"Coba aja gua jadi lu, gua langsung cabut nyusul Pak Kharel. Bahkan tanpa di suruh pun gua mau nemenin dia biar enggak kesepian." sahut mahasiswi tersebut.
Langkah kesal Fayra pijakkan menelusuri semua tempat, sampai akhirnya berada di depan ruang Rektor. Akan tetapi saat Fayra mau mengetuk pintu, tiba-tiba matanya melihat mahasiswi membawa beberapa masker. Dia langsung memintanya untuk menutupi setengah wajahnya.
"Hahh, kan kalau begini dia enggak akan tahu siapa aku hihi ...." gumam kecil Fayra, kemudian perlahan tangannya mengetuk ruangan Rektor.
Tok, tok, tok ...
"Permisi, Pak. Ini saya mahasiswi yang Bapak panggil." ucap Fayra dari balik masker mulutnya.
"Masuk!" titah Kharel yang berada seorang diri di dalam ruangan.
Ceklek!
Perlahan Fayra melangkahkan kakinya dengan perasaan sedikit takut, jika Kharel akan mengetahui siapa dirinya.
Fayra berjalan mendekati Kharel yang duduk di sofa panjang, melihat keadaan Fayra membuat Kharel menyipitkan matanya. "Ada apa denganmu? Kenapa wajahmu di tutup seperti itu. Bukannya tadi biasa aja?"
Wajah bingung kian mulai terlihat jelas diwajah Kharel, sedangkan Fayra sedikit bingung harus menjawab apa supaya tidak sampai ketahuan.
__ADS_1
"Eee, i-itu. Eee, a-anu, Pak. Ta-tadi tiba-tiba saja saya mengalami flu, jadi saya harus menggunakan masker agar tidak tertular oleh siapa pun. Hacimm," Fayra berpura-pura untuk bersin didepan Kharel hingga membuatnya sedikit penasaran.
"Duduk!" titah Kharel, sambil terus menatap gerak-gerik Fayra yang sedikit mencurigakan.
Fayra pun duduk dalam keadaan sedikit menegangkan, satu sisi tatapan Kharel benar-benar membuat Fayra ingin sekali mencolok kedua matanya. Cuman, di sisi lain Fayra juga takut jika penyamarannya terbongkar.
"Sebenarnya dia ini siapa sih, kenapa wajahnya bikin aku penasaran. Jangan-jangan dia menutupi wajahnya karena ada sesuatu?"
"Hem, baiklah. Kita lihat saja, sampai kapan dia bisa bersembunyi dariku!"
Kharel berbicara didalam hati kecilnya sambil melipat kedua kakinya dan melirik tajam, lalu tersenyum miring.
Fayra melirik sekilas kearah Kharel, hingga tubuhnya mulai bergetar dan keringat dingin setelah melihat aura Kharel yang sangat menegangkan.
"Ada apa, Bapak memanggil saya ke sini? Apakah ada sesuatu yang harus saya kerjakan?" ucap Fayra memberanikan diri, meskipun tubuhnya terasa kaku.
"Tidak, saya cuman mau nanya. Semenjak saya masuk ke kelas sepertinya kamu sedang menghindari saya. Ada apa? Apa kamu ada masalah dengan saya?"
"Eh, tu-tunggu dulu. Sekilas wajahmu saya kaya kenal. Dan juga dari postur tubuhmu sepertinya kamu bukan orang sini! Apa kamu mahasiswi pindahan?"
Kharel mulai melontarkan rasa penasarannya kepada Fayra, tetapi Fayra tidak menggubrisnya. Dia menutupi semua jati dirinya hingga semakin membuat Kharel menjadi penasaran.
"Ya, Pak. Saya pindahan dari Indonesia, tapi maaf. Bisakah Bapak langsung to the point keintinya saja. Ada apa memanggil saya?" tanya Fayra yang mulai jengah dengan sikap Kharel.
"Menarik!" gumam kecil Kharel menatap lekat kearah Fayra.
"Hahh, a-apa yang Bapak bilang barusan? Saya tidak dengar." sahut Fayra, bingung dan juga penuh penasaran.
"Akhh, e-enggak. Ya sudah sana kembali kekelas, saya mau rehat!" tegas Kharel, lalu bangkit dari sofa dan berjalan menuju kamar yang berada di ruangan itu.
Sementara Fayra yang melihat sikap dan perilaku Kharel, membuat dirinya ingin berkata kasar dan menjambak rambutnya.
"Astaga, itu orang ngeselin banget ya! Sama seperti namanya Karet! Dahlah mending balik, enggak guna juga lama-lama disini."
Fayra bergegas pergi meninggalkan ruangan Rektor dalam keadaan wajah murung, dan juga kesal. Berbeda dengan Kharel yang ada di dalam kamar sambil memantau CCTV di ponselnya.
Baru ini Kharel bisa tertawa hanya demi melihat sikap wanita yang berhasil membuatnya tertarik dan juga penasaran.
__ADS_1