
Dari sini Nicho sudah mulai paham, dibalik perubahan sifat Sheila yang selama ini dia ketahui. Ternyata ada penyebab yang mempengaruhi, Sheila untuk menutup rapat dirinya dari siapa pun.
Terlihat jelas semua sifat dingin yang Sheila tunjukkan, itu bukanlah sifatnya yang sesungguhnya. Melainkan dia hanya menutupi hatinya yang sangat rapuh tak tersisa.
Ketika tangan Nicho terangkat untuk menghapus air mata Sheila, tiba-tiba dia malah menepis tangan Nicho cukup keras dan hampir saja Nicho kehilangan keseimbangan tubuhnya.
"Cukup! Lu enggak perlu ikut campur urusan gua sama mereka. Lu sama sekali enggak akan pernah tahu apa yang gua rasain. Makannya lu bisa ngomong seenak jidat lu, sendiri!"
"Sekarang lu lihat mereka berdua, lihat! 2 wajah itu berhasil membuat kehidupan gua hancur, sehancur-hancurnya! Karena mereka, gua yang baru merasakan apa itu jatuh cinta harus menelan betapa pahitnya kepengkhianatan!"
"Pria yang umurnya jauh diatas gua, dengan penampilan yang sangat membuat iri pria lain ternyata tidak jauh lebih busuk dari sampah!"
"Kelihatannya aja rapi, tampan dan juga baik. Padahal hatinya jauh lebih menjijikan dari sampah basah yang ada belatungnya!"
"Berbeda sama wanita yang ada di sebelahnya, berpenampilan lugu dan juga anggun tetapi dia tidak jauh lebih licik dari seekor ular berkepala 2,"
"Dia yang udah gua anggap sebagai saudara kandung gua sendiri, berhasil menusuk gua dan merebut apa yang sebarusnya menjadi milik gua!"
"Sayangnya, cara dia untuk merebut orang yang paling gua cintai sangatlah menjijikkan. Dia rela menjelajahi tubuhnya hanya demi menjebak orang yang gua cintai, sampai akhirnya memilih mempertanggung jawabkan semua perbuatannya dan meninggalkan gua!"
"Ya, gua. Wanita sangat bod*doh yang rela memberikan seluruh hatinya, hanya demi mencintai sampah! Lalu dengan bangganya gua rela memelihara seekor ular jinak, yang pada kenyataannya bisa menggigit gua di saat gua lengah. Haha ...."
Sheila tertawa begitu puas, dalam keadaan air mata terus mengucur deras, bagaikan palang pintu air yang telah dibuka.
Suara tawa yang menggelegar, berhasil menarik perhatian sejumlah orang dan terdengar sangat menyeramkan.
Galih yang sudah tidak bisa menahan semua emosinya, perlahan melepaskan pelukan istrinya. Lalu dia melangkahkan kakinya mendekati Nicho dan Sheila.
__ADS_1
"Suduh cukup, lu menjelekan semua tentang istri gua! Lu itu enggak tahu cerita sebenarnya, Shel. Makannya lu bisa berbicara dengan versi yang lu lihat."
"Jika lu mau ngehina gua, silakkan! Lu hina gua sepuas hati lu, karena ini memang sepenuhnya salah gua, bukan salah Killa! Asal lu tahu, Killa hanya korban kebeja*tan gua yang berusaha berniat baik menolong gua, tetapi gua malah memaksanya untuk melakukan semua itu!"
Galih mulai menceritakan semua kejadian dari awal hingga akhir. Beberapa kali Sheila mencoba memberontak di dalam pelukan Nicho, lantaran tidak kuat mendengar kisah tersebut.
Akan tetapi, Sheila memang harus mendengar semua kisah yang sebenarnya. Dimana pada saat itu Galih baru saja keluar dari BAR bersama temannya untuk pulang ke rumah masing-masing.
Kemudian, tanpa di sengaja Killa yang entah habis dari mana melihat sosok Galih tergeletak di jalan dekat BAR. Dengan niat baik, Killa berlari mencoba mendekatinya.
Killa benar-benar terkejut melihat orang tersebut adalah Galih, kekasih sahabat kecilnya. Sampai pada akhirnya dia menolong Galih dan membawanya ke sebuah Apartemen yang Galih sebutkan.
Di sana Killa mencoba membaringkan tubuh Galih perlahan, berkat bantuan security yang memang kenal dengan Galih si pemilik Apartemen tersebut.
Security keluar dari kamar, hanya menyisakan Galih dan Killa berdua saja. Pada waktu itu, Killa berusaha membantu Galih karena dia terus memuntahkan semua isi perutnya sampai membuat bajunya kotor.
Galih langsung menerkam Killa dalam pengaruh minuman keras, Killa hanya bisa menangis merasakan tubuhnya di kunci oleh seorang pria yang saat ini berada di atasnya.
Killa memberontak sekuat tenaga, tetapi hasilnya nihil. Yang pada saat itu Killa rasakan bukanlah isak tangis kesakitan saat mahkotanya ribut paksa oleh Galih, melainkan rasa sakit akibat dia telah mengkhianati sahabat kecilnya.
Sepanjang permainan ranjang mereka yang terkesan sangat panas, Galih tiada hentinya terus menyelipkan nama Sheila. Karena pada saat itu yang ada di bayangan Galih hanyalah Sheila bukan Killa.
Kila merasa beribu-ribu menyesal akibat niat baik menolong Galih, malah berujung malam petaka bagi dirinya sendiri. Andaikan waktu bisa di putar kembali, Killa tidak akan pernah mau menolong Galih dalam keadaan apapun.
Keesokan harinya, Galih terbangun setelah mendengar isak tangis seorang wanita yang ada di sampingnya. Perlahan Galih membuka matanya melihat konsisi tubuh mereka hanya terbalut oleh selimut tebal berwarna putih.
Galih bingung, dan sangat terkejut sama apa yang sudah terjadi semalam. Galih mencoba kembali mengingat semuanya, dan di bantu oleh penjelasan dari Killa.
__ADS_1
Namun, belum selesai mereka berbicara tiba-tiba pintu Apartemen terbuka bersamaan masuknya Sheila dalam keadaan wajah yang sangat merindukan kekasihnya.
Cuman, semua itu kandas setelah Sheila melihat kekasihnya berada di satu ranjang bersama sahabat kecilnya. Sheila bisa masuk ke dalam Apartemen tersebut karena dia memang tahu kode kamar Galih.
Bisa dibayangkan, betapa sakitnya Sheila pada saat itu. Dia yang baru saja duduk di bangku SMA dan merasakan getaran cinta untuk pertama kalinya.
Kian musnah, bersamaan dengan rasa kecewa di dalam hatinya yang sudah hancur berkeping-keping. Bagaikan gelas kaca yang pecah yang tidak bisa kembali utuh.
Cinta pertama yang Sheila kira akan membawa kisah yang begitu manis untuknya, layaknya sepasang kekasih pada umumnya. Kini malah membawa luka yang amat mendalam, layaknya sebuah mimpi buruk tentang cinta.
Setelah mendengar semua kisah itu, Sheila hanya bisa meraung menangis di dalam dekapan Nicho sampai membuat Nicho tak terasa meneteskan air matanya.
Ini untuk pertama kalinya Nicho bisa menangis ketika dia merasakan betapa hancurnya wanita yang sangat dia cintai saat ini.
Seorang playboy yang selalu memberikan harapan palsu kepada wanita, sampai membuat sebagian wanita terpikat olehnya. Kemudian dengan sangat mudahnya, Nicho menghempaskan wanita-wanita itu begitu saja sampai tidak terasa dia sudah menggorengkan luka di hati mereka.
Kejadian yang menimpa Sheila seolah-olaj bagaikan tamparan keras bagi Nicho. Dimana dia bisa merasakan jika cinta dan wanita bukanlah ajang permainan yang selama ini dia mainkan begitu lihainya.
Cinta dan wanita merupakan bagian terpenting yang baru dia sadari. Karena cinta merupakan bentuk perasaan yang terwujud adanya suatu ketulusan di dalam hati. Sedangkan wanita, merupakan pasangan hidup yang terkesan lemah tetapi bisa menjadi penguat ketika cinta menyelimuti hatinya.
Sekuat tenaga Nicho berusaha meyakini Sheila agar dia mau mencoba melepaskan semua rasa sakit di dalam hatinya. Nicho hanya mau suapaya Sheila bisa kembali melangkahkan kakinya tanpa adanya beban yang dia pikul.
...*...
...*...
Beberapa menit berlalu Sheila yang sudah mulai tenang, langsung menatap wajah Killa dengan tatapan yang sangat menegangkan. Perlahan Sheila mencoba mendekati Killa, membuatnya sedikit memundurkan langkahnya.
__ADS_1
Namun, Galih yang melihat gerak-gerik Sheila bergegear berlari dan merangkul istri serta anaknya. Terlihat jelas betapa khawatirnya Galih ketika keluarga kecilnya akan menjadi sasaran kemaran seorang Sheila.