Learn to Love You

Learn to Love You
Kita Balik, Ya?


__ADS_3

30 menit berlalu, akhirnya keluarga Fayra pun berpamitan untuk pulang. Hanya saja Ace menahan Fayra, dia meminta Fayra untuk sedikit saja memberikan waktu berbicara empat mata.


Fayra menolak semua itu, kecuali jika Kharel ikut bersamanya maka Fayra akan bersedia mengobrol dengannya. Awalnya Ace tidak setuju, lama kelamaan Fayra yang susah untuk dibujuk akhirnya Ace pun mengiyakan semuanya.


Kharel tersenyum senang, karena Fayra seperti menganggap kehadirannya sangat berarti untuknya. Sementara kedua orang tuanya Fayra pun segera pulang ke rumah menggunakan taksi.


Setidaknya orang tua Fayra bisa tenang meninggalkan anaknya, kepada bodyguard tampan yang akan selalu menjaga dan melindunginya.


...*...


...*...


...Di rooftop Medical Central...



Ace mengajak Fayra untuk pergi ke rooftop rumah sakit, lantaran dia tidak mau jika perkataan atau ucapannya akan mengganggu ketenangan semua orang.


Sementara Kharel dia selalu memantau semua pergerakan Ace saat berbicara dengan Fayra. Ya, memang Kharel diperbolehkan untuk ikut menjaga keamanan Fayra.


Hanya saja Kharel tahu akan batasannya, dia cuman sekedar memantau dan menyimak apa yang mereka obrolkan sesekalian matanya tak lepas dari pandangan Fayra.


"Raa, gua mau ngomong sama lu. Apa bener udah enggak ada kesempatan buat gua kembali sama lu?" tanya Ace, wajahnya begitu serius.


"Enggak ada." jawab Fayra cepat, tanpa berfikir. Dia berjalan mendekati pagar rooftop sambil menikmati pemandangan yang indah.


Susana angin yang berhembus dengan kencang, membuat rambut Fayra yang indah dan mulus itu seketika berterbangan, menambah kesan kecantikan Fayra tersendiri.


"Tapi, Raa. Gua masih mencintai lu, Gua janji. Gua akan ninggalin dia demi bisa kembali sama lu. Gua enggak bisa kaya gini, Raa. Perasaan gua selalu berubah-ubah, seakan-akan gua udah enggak butuh lu. Cuman hati bilang gua butuh banget kehadiran lu disaat seperti ini."

__ADS_1


Ucapan Kharel mampu membuat Fayra hanya bisa tersenyum menyipitkan matanya menatap teriknya matahari. Kemudian dia menoleh ke arah Ace yang sedang menyender di pagar rooftop sambil menoleh ke arahnya.


"Kamu pernah ingat tidak, beberapa kali aku pernah mengatakan. Aku sangat-sangat mencintaimu, aku mohon jangan seperti ini. Jangan buat aku lelah untuk berjuang sendiri mengejar cintamu. Karena ketika aku sudah menyerah maka, disaat itulah perjuanganku berhenti bersamaan dengan debaran hatiku."


"Dimana biasanya setiap kali aku berada didekatmu dan menatap manik matamu, debaran itu terasa menggebu-gebu yang artinya aku masih sangat mencintaimu,"


"Namun, berbeda halnya saat ini. Mau kamu berada di dekatku, dihadapanku bahkan di pelukanku sekalipun debaran itu sudah tidak ada lagi. Dia sudah benar-benar mati, dan tidak akan pernah bisa kembali kepada orang yang sama."


Senyuman Fayra seperti mewakilkan semua rasa sakit di dalam hatinya yang mulai sembuh sepenuhnya seiring berjalannya waktu.


Kharel melihat sosok wanita kuat, tegar, mandiri dan juga tenang. Benar-benar merasa sangat kagum luar biasa.


Ternyata Princes Chubby yang dia anggap hanyalah gadis kecil, dengan segala kemanjaannya. Bisa berubah menjadi wanita yang jauh lebih dewasa dari umurnya sendiri.


Dulu Kharel pernah mengira jika Fayra sudah tumbuh menjadi wanita dewasa, maka sifatnya akan sama seperti wanita pada umumnya. Manja, sombong, matre, genit dan sebagainya.


"Gua enggak bisa kehilangan lu, Raa. Sumpah! Gua akui gua salah udah menduakan lu, tapi gua enggak bisa membohongi diri gua sendiri kalau gua masih sangat mencintai lu."


"Please, Raa. Mau ya kita kembali kaya dulu, gua janji gua akan merubah semua sifat gua. Dan gua akan tinggalin semuanya demi kebahagiaan kita. Kali ini gua janji, gua benar-benar akan berubah jadi suami yang baik buat lu."


"Kita balik ya, gua butuh lu, Raa. Gua enggak bisa sendiri ngadepin semua ini, rasanya gua ingin nyerah aja. Disaat-saat seperti ini seharusnya dia bisa ngertiin gua, bisa nenangin gua. Cuman ini, dia malah bisanya marah-marah hanya demi sebuah kabar, tanpa mendengar penjelasan gua. Kenapa gua enggak ngabarin dan kenapa gua enggak ada waktu buat dia."


"Dia beda sama lu, Raa. Sesibuk apapun gua, lu masih bisa ngerti walaupun lu sendiri kadang butuh gua. Lu enggak pernah marah, walaupun lu sendiri kesal dengan sikap gua. Maka dari itu, gua sadar apa yang gua miliki saat ini ternyata hanya pemanis buatan. Apa yang seharusnya gua pertahanin malah gua lepas begitu aja."


"Arrrghhh, pokoknya gua mau lu, Raa. Gua mau lu, gua enggak mau yang lain. Intinya gua malu selamanya lu jadi milik gua, please gua mau kita balik lagi. Gua sayang sama lu, gua cinta sama lu pokoknya gua enggak lagi-lagi kaya gini. Maafin gua, Raa. Maaf, hiks ...."


Perkataan yang diucapkan oleh Ace semuanya penuh dengan penyesalan yang teramat mendalam. Bahkan dia menangis hanya demi memohon dan memohon untuk kembali.


Sayangnya, Fayra tidak menggubris itu semuanya. Fayra malah asyik menatap ke arah pemandangan gedung-degung bangunan yang terlihat begitu kecil dimatanya. Lalu, Kharel? Ya, Kharel tetap berada tak jauh dari mereka untuk memantau semuanya.

__ADS_1


Hanya saja kali ini Kharel terlambat, Ace sudah memeluk Fayra dari arah belakang dalam keadaan Fayra berdiri menatap ke arah depan dan kedua tangan dilipat di dada. Sementara Ace memeluknya begitu erat, menaruh wajahnya di pundak dekat leher kanan Fayra.


Mendapati itu membuat Fayra terkejut bukan main, dia sempat beberapa kali melepaskan cuman nihil. Kharel yang sudah sangat emosi segera memisahkan mereka tanpa basa-basi lagi.


Setelah terpisah, tanpa diduga Ace malah memukul rahang Kharel begitu keras. Kharel tersungkur di bawah dalam keadaan terlentang sedikit duduk memegangi lukanya.


Tak henti dari itu, Ace yang sudah dipalang emosi ketika aksinya di ganggu oleh Kharel, seperti mendapatkan kesempatan untuk membalas semua yang Kharel berikan semalam padanya.


Bugh!


Bugh!


Suara pukulan terdengar beberapa kali, tetapi kali ini Kharel tak bisa menangkis semua itu. Posisi dia masih belum siap untuk menerima setiap pukulannya yang Ace berikan.


Fayra melihat itu, membuatnya berteriak kencang sampai dia mencoba untuk memisahkan Kharel dari Ace. Entah kekuatan dari mana, akhirnya Fayra bisa memisahkan mereka berdua.


Tanpa sadar Fayra melindungi Kharel dengan cara memeluknya, sampai Ace yang mau kembali memukulnya pun tidak jadi saat matanya melihat adegan itu. Di dalam keadaan wajah yang tidak karuan Kharel masih bisa tersenyum penuh kemenangan, saat matanya menatap Ace yang sudah berdiri menatap tajam kearahnya.


Bagimana tidak menang, Kharel merelakan tubuhnya babak belur hanya ingin mengetes kekhawatiran Fayra. Jika Fayra benar mencintainya, maka dia akan segenap kekuatan untuk menyelamatkannya. Dan sekarang terbukti, bukan? Kalau Fayra ternyata memang sudah mencintai Kharel. Begitu juga dirinya, hanya tinggal menunggu waktu.


Kharel bangkit bersama Fayra, kemudian Fayra membawa Kharel turun dari rooftop dengan cara membopongnya perlahan. Tak lupa saat meninggalkan Ace, Kharel menoleh sambil tersenyum penuh kemenangan.


Fayra bergegas membawa Kharel dan meminta pertolongan sama sang suster untuk mengobati luka Kharel. Kecemasan dan kepanikan terlihat jelas diwajah Fayra, membuat Kharel tersenyum. Dia merasa begitu senang, ternyata perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jangan lupa mampir ya guys, ini ada novel milik sesama author terbaik ❤️


__ADS_1


__ADS_2