
"Sstt, Sayang dengerin Tante ya. Fayra itu enggak salah, semua ini adalah takdir. Mungkin Tuhan memberikan cobaan ini untuk kalian supaya kalian bisa menyadari perasaan kalian satu sama lain, karena jika tidak seperti ini kalian pasti tidak akan sadar kalau kalian sudah saling mencintai. Ya kan?"
"Jadi, Tante mohon sama Fayra jangan berbicara seperti ini lagi. Jangan biarkan Kharel sedih saat tahu kalau orang yang dia cintai menyalahkan diri sendiri, akibat semua kejadian yang bukan dia lakukan."
"Lebih baik sekarang Fayra fokus dengan kesehatan Fayra, terus kita bisa sama-sama merawat Kharel sampai dia bangun lagi. Anggap saja saat ini Kharel lagi capek jadi dia ingin tidur untuk beberapa hari supaya rasa capeknya hilang."
"Dan mulai saat ini, Fayra jangan panggil Tante dengan sebutan Tante. Tapi, panggil kita dengan sebutan Papah dan Mamah. Bisa, hem?"
Mamah Xavia mencoba untuk terus menenangkan Fayra, karena dia juga merasakan bagaimana jika ada di posisi Fayra saat ini. Pasti hatinya begitu hancur ketika melihat keadaan Kharel seperti ini.
Fayra hanya bisa menangis sambil menganggukan kepalanya menatap kedua orang tua Kharel yang tersenyum kearahnya. Begitu juga kedua orang tua Fayra, mereka mengangguk setuju ketika anaknya sudah dianggap sebagai anak mereka sendiri.
Setelah itu, Mamah Xavia bangkit lalu mengambil alih dan mendorong kursi roda Fayra untuk mendekat ke arah bangkar Kharel. Dimana Fayra tersenyum menatap wajah tampan orang yang dia cintai, tangannya bergetar ketika ingin memegang pipinya.
"Hai, Kak. Ini aku udah bangun loh, masa Kakak mau tidur aja hem? Apa Kakak enggak bosan tidur mulu, pasti badan Kakak saat ini terasa kaku dan juga sakit kalau Kakak terdiam seperti ini."
"Aku aja yang tertidur 3 hari kakiku sampai susah untuk di gerakan, apa lagi Kakak yang entah kapan Kakak mau membuka mata lagi, huh!"
"Selama ini aku tidak pernah meminta apapun dari Kakak, kan? Bahkan Kakak sampai kesal ketika aku diberikan tawaran, tetapi aku tidak pernah mengatakan mau apa. Nah sekarang aku meminta sama Kakak, Kakak harus bangun demi aku. Aku mohon Kak!"
__ADS_1
"Nanti jika Kakak enggak mau bangun-bangun, bagaimana kalau aku dideketin sama mahasiswa lain seperti waktu itu? Terus mereka menggodaku, gimana Kak? Siapa yang mau membelaku, membantuku dan menjagaku? Siapa, Kak siapa! Hiks ...."
"Apa aku harus terdiam ketika mereka menggodaku? Apa aku harus menuruti permintaan mereka untuk jalan sama mereka? Dengan begitu pasti nanti Kakak akan marah sama aku, terus Kakak bangun. Apa aku harus seperti itu, Kak?"
"Apa harus aku terlihat murahan dulu biar Kakak bangun, iya? Kenapa, Kak. Kenapa Kakak seperti ini demi menyelamatkan aku, kenapa hiks ... Kakak lihat sekarang, Kakak cuman bisa tertidur tak berdaya seperti ini. Sedangkan aku?"
"Aku malah tidak apa-apa, aku sehat dan aku bisa bangun dengan cepat, ditambah lagi aku bisa menemui Kakak sebelum Kakak menemuiku. Apakah itu adil buat Kakak? Tidak, itu tidak adil, Kak.Tidak! Harusnya aku yang ada di posisi Kakak, bukan Kakak!"
"Kalau saja Kakak tidak memelukku pasti saat ini kita sama-sama tertidur, kita akan sama-sama pergi ke alam mimpi yang sangat indah. Asal Kakak tahu aja, aku bisa bangun sekarang ini, itu semua berkat Kakak. Kakak yang selalu memanggil namaku, sementara aku udah bangun, Kakak?"
"Kakak malah asyik tertidur tanpa mau membuka mata seperti saat ini hiks ... Ma-maaf Kak, maaf karena aku udah menjadi penyebab Kakak tidak bisa bangun, maaf hiks."
"Jika boleh aku jujur, sebenarnya pada saat itu aku mau mengatakan kalau aku ... Aku mencintai Kakak, ya aku sudah berhasil Kak. Berhasil mencintai Kakak seperti aku mencintai Appaku sendiri. Kakak itu sama seperti Appa, tipikal pria pendiam tetapi sekali bertindak bisa meluluhkan kerasnya batu sekalipun."
"Cepat atau lambat, aku pastikan Kakak akan terbangun dan orang yang pertama kali Kakak lihat saat membuka mata, ialah aku. Wanita yang Kakak cintai, yang sebentar lagi akan menjadi istri sekaligus Ibu dari anak-anak Kakak kelak."
Senyuman terus terukir didalam wajah Fayra yang sedikit pucat, tangannya terarah untuk mengusap lembut pipi seorang pria yang dia cintai. Sampai pada akhirnya kedua orang tua mereka yang tidak sanggup melihat mereka hanya bisa menangis didalam pelukan suaminya.
Sebenarnya Fayra ingin sekali menangis kejar seperti Mamah Xavia yang sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, karena hatinya begitu hancur saat anak semata wayangnya seperti ini.
__ADS_1
Di tambah disaat Kharel sudah mendapatkan balasan atas cintanya, kondisinya malah seperti berada di jembatan yang entah dia akan selamat atau akan terjun jatuh kealiran sungai yang sangat deras, sehingga dia tidak bisa lagi kembali.
Namun, Fayra teringat dengan ucapan terakhir Kharel sebelum mereka mengalami kecelakaan itu. Bahwa Kharel tidak menyukai, ataupun sangat membenci seirang wanita yang lemah, wanita yang bisanya hanya menangis setiap ada masalah.
Dari situ Fayra mulai sadar, jika dia tidak boleh menunjukkan kelemahannya di depan Kharel. Malahan itu akan semakin membuat Kharel merasa sedih dan sulit ingin kembali bersama mereka.
Meski air mata terus menetes, cuman Fayra tetap berusaha tersenyum apapun keadaannya dia akan tetap mengukir senyuman di depan Kharel. Berharap dengan begitu Kharel akan bahagia, senang dan bersemangat untuk kembali mencari jalan pulang.
...*...
...*...
Disisi lainnya Ace yang sudah diambang emosi dan juga rasa perasaran akibat dibohongi oleh kekasihnya. Harus berusaha menahan gejolak kemarahan itu agar terlihat aman terkendali.
Saat ini Ace baru saja kelar kelas, kemudian Freya mengajak Ace untuk makan siang bersamanya dalam keadaan mereka yang masih terlihat baik-baik saja.
Semua itu karena Ace belum mengungkit apa yang sudah dia ketahui dari teman masa kecilnya. Ace masih berpura-pura memainkan sandiwaranya, agar dia kembali membaca gerak-gerik Freya dan bisa menyelidiki siapa Paman yang serung Freya sebut dan siapa Freya sebenarnya.
Akan tetapi, ada satu kejadian kecil ketika mereka berjalan ke arah kantin. Perkataan Freya berhasil memancing emosi di dalam diri Ace.
__ADS_1
Dimana Fayra kembali menceritakan tentang hasil sidang hasil kemarin. Bagaimana kedua orang tuanya meminta maaf padanya atas kesalahan mereka dan masih banyak lagi.
Mendengar kebohongan demi kebohongan yang Freya ucapkan membuat Ace sudah tidak kuat lagi. Tangannya mengepal kuat serta rahangnya begitu tegas dan juga hatinya sangat geram, hingga tanpa disengaja Ace malah mengangkat tangannya tinggi-tinggi lalu memberikan cap 5 jari yang begitu cantik di pipi kanan milik Freya.