
Para petugas yang berjaga di loby rumah sakit bergegas menolong Ace, dan menaruh tubuh lemah Freya diatas bangkar. Kemudian mereka mendorongnya dengan cepat kearah ruangan UGD.
Disana Ace harus menunggu di luar ruangan tanpa diperbolehkan masuk untuk menemani Freya, sedangkan sang dokter akan berusaha keras supaya bisa membuat keadaan Freya kembali stabil.
...*...
...*...
...Di Indonesia...
Beberapa jam yang lalu, Fayra dan semua sahabatnya sudah kembali pulang kerumah. Mereka merasa sedikit kasihan ketika melihat kondisi Alena masih dalan keadaan koma, sementara Andrew selalu menjadi sasaran amarah kedua mertuanya sendiri.
Saat ini Fayra merasa sangat jenuh, akibat hampir seharian dia menunggu kabar tentang suaminya. Sudah seharian ini Ace tetap enggan memberikan kabar padanya walaupun hanya 1 kali saja.
Perasaan Fayra bolak-balik tidak karuan, sampai dia makan pun menjadi tidak tenang.
Rasanya Fayra ingin sekali mengatakan pada mertuanya untuk membawa dia ke Amerika supaya bisa bertemu dan memastikan bahwa suaminya baik-baik saja.
Namun, Fayra takut jika dia mengatakan hal itu malah akan membuat mertuanya mengkhawatirkan tentang anaknya yang hidup sendiri di negara orang.
"Apa yang dikatakan mereka benar, jika Ace sedang sibuk kuliah? Cuman kenapa perasaanku jadi tidak enak ya?" ucap Fayra, menatap ke langit-langit kamarnya dalam keadaan tidur terlentang.
Tak lama, Fayra mengambil ponselnya dan mengecek isi chat whatsappnya. Apakah ada balasan pesan dari suaminya, ataukah tidak ada sama sekali?
Benar saja, tidak ada satu pun pesan yang Ace kirim untuk istrinya. Sampai akhirnya Fayra yang merasa sudah tidak bisa kembali tenang langsung segera menelepon Ace beberapa kali.
Fayra bangkit dari tempat tidurnya lalu berjalan kesana-kemari dalam keadaan jari jempol dan telunjuk digigit kecil. Terlihat jelas jika Fayra benar-benar sangat panik memikirkan suaminya yang tidak ada kabar.
__ADS_1
"Ace, ayolah angkat teleponnya. Please, aku mohon angkat Ace. Angkat!"
"Padahal ponselnya sudah aktif, tapi kenapa dia enggak mau ngangkat panggilanku? Apa dia sedang sibuk? Tapi, masa iya seharian sibuk udah kaya tahanan masa penja*jahan aja."
"Astaga, kamu kenapa sih Bunny! Ada apa dengan kamu, kenapa seharian ini kamu susah banget sih dihubunginya. Apa kamu ada masalah?"
Fayra kembali menggerutu sepanjang dia bolak-balik bagaikan setrikaan, ketika tidak mendapati suaminya mengangkat ponselnya. Wajahnya terlihat begitu cemas hingga sedikit memucat, dan dahinya sedikit berkeringat dingin.
Rasanya kepala Meera ingin sekali meledak mengeluarkan semua isi kepalanya yang dari tadi terus menekannya. Cuman Fayra tetap tidak menyerah, dia terus menghubungi suaminya disaat ponselnya sudah aktif beberapa jam lalu.
Kini disaat Meera ingin menyerah dan membanting penselnya lantaran kesal, semua dia urungkan karena tiba-tiba saja suara pria yang dia rindukan terdengar begitu jelas.
[Hallo!] ucap Ace dingin.
[Kamu dari mana saja, kenapa seharian ini tidak ada kabar? Kenapa juga ponselmu bolak-balik aktif nyala mulu, sedangkan chatku juga tidak ada satu pun yang kamu baca dan juga balas!]
[Kamu ini kenapa sih? Apa kamu marah sama aku, atau aku ada salah apa? Coba ngomong Ace, ngomong! Aku tidak suka kamu diam seperti ini!]
Ketika sambungan telepon menyambung, Fayra mencecar Ace dengan semua pertanyaan dan juga unek-uneknya yang seharian ini dia pendam seorang diri.
Namun, hanya dengan satu kalimat yang terdengar sangat menyentuh hatinya membuat tubuh Fayra yang awalnya tidak bisa diam, sekarang malah terlihat seperti patung tak bernyawa.
"Berisik! Gua lagi pusing any*ing, lu kalau mau marah-marah mending enggak usah nelpon gua. Bikin orang tambah pusing aja!"
Tutt ... Tutt ... Tutt
Ace mematikan sambungan telepon istrinya secara sepihak, sebenarnya dia tidak sadar dengan ucapannya yang berhasil menyakiti istrinya untuk kesekian kalinya.
__ADS_1
Bahkan jangankan ucapan, notif nama istrinya pun Ace tidak melihatnya. Ace terlalu fokus mengambil ponsel dari saku celananya hanya untuk melihat jam, karena dia merasa sudah sangat lama menunggu didepan ruangan UGD.
Namun, saat Ace baru mau menatap jam tiba-tiba ada notif panggilan membuat Ace reflek mengangkatnya. Baru juga mengatakan (Hallo), tiba-tiba seseorang langsung memarahinya tanpa jeda sehingga membuat Ace semakin emosi.
Satu sisi dia pusing memikirkan keadaan Freya yang entah seperti apa didalam ruangan, satu sisi dia merasa pusing mendengar seseorang yang menelponnya hanya untuk memarahinya.
Setelah sambungan terputus, sang dokter keluar dari ruangan membuat Ace yang awalnya mau mengecek siapa yang sudah menelponnya menjadi ke pending.
Membuat Ace bergegas masukan kembali ponselnya ke dalam saku celananya, kemudian dia berlari mendekati sang dokter dengan wajah datar, tetapi kelihatan sangat panik.
"Apakah Tuan keluarga dari pasien atas nama Nona Freya?" tanya sang dokter menatap wajah Ace.
Seketika Ace malah terdiam dengan seribu bahasa, dia tidak tahu barus berkata apa selain mengatakan iya. Semua bukan semata-mata Ace berniat berbohong, tetapi dia tidak tahu dimana keluarga Freya atau pun nomor ponselnya.
Jika Ace berkata jujur, sudah dipastikan kalau Ace tidak akan bisa mendapatkan informasi tentang keadaan Freya didalam.
"I-iya, Dok. Bagaimana keadaan Freya, Dok? Apakah dia mengalami trauma?" ucap Ace, spontan membuat sang dokter mengerutkan dahinya.
Ace yang menyadari ucapannya membuat sang dokter menjadi bingung, langsung kembali mengubah kalimatnya.
"Ma-maksud saya, apakah trauma yang Freya alami kembali terulang?" ucap Ace, terbata-bata menurupi kegugupannya.
"Ya, Tuan. Sepertinya trauma yang Nona Freya alami kembali terulang, apakah Tuan tahu apa penyebabnya Nona Freya mengalami trauma? Dan ada kejadian apa dihari ini yang memicu traumanya kembali muncul?"
Pertanyaan sang dokter berhasil membuat Ace ma*ti kutu tanpa bisa menjawab apapun darinya. Ace benar-benar bingung harus menjawab apa, karena dia tidak tahu trauma besar apa yang Freya alami sehingga membuatnya seperti ini.
Sampai seketika Ace mengingat kembali ketika Freya berteriak minta ampun untuk tidak lagi disakiti oleh Ayahnya. Dari sini Ace paham, dan mulai menyimpulkan sedikit kisah Freya agar dia bisa menjawab pertanyaa sang dokter.
__ADS_1
Benar saja, sang dokter menjelaskan kepada Ace jika Freya memiliki trauma yang cukup berat akan kejadian dimasa lalunya. Sayangnya, sang dokter bum tahu alasan jelas yang akan memicu traumanya kembali.
Saat dokter masih berusaha menjelaskan kepada Ace, tiba-tiba terdengar suara samar dari arah dalam membuat asisten sang dokter langsung turun tangan untuk menyelesaikan masalah didalam.