Learn to Love You

Learn to Love You
Impian Belum Terwujud


__ADS_3

"Impian? Impian apa?"


Alis Kharel mengangkat satu, wajahnya begitu bingung. Entah kenapa seakan-akan dia sedikit melupakan tentang impiannya, karena menurutnya semua sudah terwujud.


Mulai dari pekerjaan, dan juga kesuksesan. Akan tetapi ada 1 impian lagi masih belum terwujud akibat adanya keraguan yang cukup besar dihati Kharel.


"Impian kalau kita akan hidup bersama membuat kisah bahagia bersama anak, cucu, cicit dan semua keturunan kita!"


Kharel terdiam sejenak melepaskan tangannya dari wajah Fayra, lalu dia berbalik dan berjalan perlahan sedikit menjauh dari Fayra.


"Impian itu tidak akan pernah terwujud, karena kamu tidak mencintaiku. Jadi buat apa aku kembali untuk mewujudkannya? Kalau nanti setelah aku kembali, aku akan mendapatkan sebuah penolakan keras yang akan membuat hatiku kembali hancur!"


"Aku jamin, Kakak tidak akan merasakan itu semua karena aku sudah---"


Fayra menghentikan ucapannya membuat Kharel seketika berbalik dan terkejut ketika tidak menemukan keberadaan Fayra dimana pun.


Kharel mulai kebingungan, panik dan segera berlari kesana-kemari mencari Fayra sambil memanggil namanya berulang kali. Tak terasa air matanya menetes dengan sangat deras.


Rasa penyesalan menyelimuti hati Kharel, sehingga disaat dia sudah mulai lelah. Kemudian Kharel duduk tepat di bawah pohon yang begitu besar, meringkukkan tubuhnya dan menenggelamkan kepalanya sambil memeluk kakinya.


Suara isak tangis terdengar sangat pilu, Kharel merasa begitu bod*doh karena sudah menolak ajakan Fayra sampai akhirnya Fayra menghilang entah kemana.

__ADS_1


Selang beberapa menit, disaat Kharel masih meratapi penyesalannya. Tiba-tiba saja terdengar suara yang tidak asing didalam gendang telinga Kharel.


"Kak Kalel, atu cuman mau bilang kalau atu cebenelnya cayang cama Kak Kalel. Cinta banget malahan, tapi bagaimana atu bica mewujudkan mimpi itu kalau Kak Kalel cendili tidak mau mewujudkannya?"


Kharel mendengar itu langsung menoleh dan mencari sumber suara tersebut, yang mana dia sangat yakin itu adalah suara Fayra ketika dia masih kecil.


"Fayra? Itu kamu, 'kan? Kamu dimana? Kenapa aku hanya bisa mendengar suaramu yang masih kecil, tanpa bisa melihatmu? Ada apa ini, Raa? Kenapa kamu menghilang!"


"Apa benar kamu mencintaiku, Raa? Apa benar kamu sudah membuka hati untukku? Dan apa benar, kamu mau menjadi pendampingku?"


Kharel berbicara sambil berjalan menelusuri semua tempat mencari keberadaan Fayra, sayangnya tidak dia tidak menemukan apapun.


"Lihatlah, Kak. Apa Kakak masih ingat dengan impian yang Kakak ucapkan itu padaku? Impian itu sampai detik ini pun belum terwujud, apakah Kakak rela jika aku kembali berada ditangan yang salah?"


Kharel menggelengkan kepalanya saat melihat masa kecilnya yang begitu indah. Canda tawa mereka lewati bersama, tanpa adanya keraguan didalam diri Kharel ketika dia masih kecil.


Berbeda dengan Kharel yang sekarang, dia behitu ragu untuk melangkah karena takut akan penolakan yang nantinya kembali membuatnya hancur.


"Tidak! Aku tidak akan membiarkanmu berada ditangan yang salah, sudah cukup kamu merasakan semua penderitaan seorang diri. Dan sekarang tidak lagi!"


"Aku akan membahagiakanmu walaupun aku harus mengorbankan semua apa yang aku miliki, termasuk nyawaku sendiri!"

__ADS_1


"Jika benar seperti itu, kenapa tadi Kakak tidak mau ikut bersamaku untuk pulang? Kalau sudah begini, bagaimana Kakak bisa pulang, hem?"


Degh!


Perkataan Fayra lagi dan lagi membuat Kharel berpikir bagaimana dia harus kembali, cara apa yang harus dia gunakan dan kemana dia harus mencari sebuah pintu untuk pulang? Entahlah, Kharel benar-benar bingung.


Dia berteriak sekencang-kencangnya, dia bingung apa yang harus dia lakukan. Sementara bayangan itu sudah hilang entah kemana.


Kharel berusaha mencari semua temoat dan celah untuknya pulang, tetapi tidak ada satu pun pintu yang dia lihat. Semuanya seakan-akan seperti berada ditaman yang sangat luas dan hanya terlihat kabut-kabut putih yang mengelilinginya.


Disaat Kharel kebingungan untuk mencari jalan, di dunia nyata ternyata Fayra terkejut saat melihat tubuh Kharel mendadak kejang-kejang dengan keadaan yang sangat mengkhawatirkan.


"Kak, Kakak kenapa? Kakak gapapa, 'kan? Kakak harus kuat ya, pokoknya Kakak harus bertahan. Fayra enggak mau kehilangan Kakak, Fayra mohon Kak. Fayra mohon, hiks ...."


Fayra menangis terkejut sambil menekan tombol darurat beberapa kali. Apa lagi jam sudah menunjukkan pukul 1 malam. Dimana pasti akan ada beberapa dokter yang tertidur, membuat Fayra menunggu sedikit lebih lama.


Keadaan Kharel semakin tidak karuan, pelipisnya bercucuran keringan hingga tubuhnya semakin kejang-kejang membuat bangkar bergerak sangat berisik.


Fayra yang tidak tahu harus seperti apa hanya bisa melakukan apa yang dia bisa saat ini. Bahkan perasaan dan pikirannya sudah tidak bisa lagi berpikir dengan jernih.


Bayangan akan kehilangan semakin mendekat, membuat Fayra menangis sejadi-jadinya. Dia benar-benar takut akan kehilangan orang yang sangat dia cintai, karena baru kali ini Fayra merasakan cinta yang benar-benar mendalam untuk Kharel. Begitu juga Kharel yang memberikan sepenuh hidupnya untuk Fayra.

__ADS_1


__ADS_2