Learn to Love You

Learn to Love You
Suami Yang Sangat Buruk!


__ADS_3

Disinilah Fayra mulai merencanakan bahwa mulai detik ini dia harus mengunci pintu sebelum tidur. Dan benar saja, semua tidak ada kejadian aneh yang menimpanya.


Mau tidak mau Fayra menaruh jebakan untuk tidak mengunci pintunya, agar terkuak semua misteri yang terjadi padanya beberapa hari ini ketika pintu tidak terkunci.


...Flashback Off...


Fayra mendengarkan serangkaian cerita yang saat ini sedang Ace jelaskan padanya. Bagaimana semua itu bisa terjadi, sehingga dari sini Fayra paham bahwa apa yang dia sangka ternyata salah.


Suaminya begitu antusias untuk menyentuh tubuhnya, ya memang sebenernya salah Fayra juga. Karena dia selalu lupa mengunci kamarnya disaat dia sudah tidak mengenakan Br*a. Ditambah pada saat dia tidur bersama Ace pun, Fayra baru menyadari akan semua itu.


"Jadi gitu ceritanya, Honey. Sekarang udah boleh kan, nen? Aku udah kangen banget, please Honey. Aku mau nen, aku mau nen, pokoknya harus nen titik hiks ...."


Mata Ace mulai berkaca-kaca menatap manik mata istrinya yang saat ini masih terdiam. Cuman itu tak bertahan lama, ketika Ace langsung tiduran di paham istrinya.


Ace mendongak air matanya terus menetes, dimana Fayra yang melihat itu pun merasa sedikit kasihan. Tetapi dia takut, jika mereka harus melakukan hubungan suami istri yang membuat Fayra belum siap.


"Honey, mau nen, nen, nen, nen, pokonya nen! Hiks ...." Ace merangek sambil memeluk perut Fayra, dan menenggelamkan kepalanya.


Rasa keraguan dan juga dilema, kian berhasil mengguncang mental anak yang masih dibawah umur. Akan tetapi, perlakuan suaminya kali ini membuat Fayra tidak enak untuk menolaknya.


Awalnya Fayra sangat marah terhadap sikap suaminya, seenaknya dia menyentuh bagian tubuh tanpa seizin dari pemilik aslinya.


"Se-sesekali boleh kali ya, kasihan juga Bunny. Ya, sih aku tahu. Niatku tadi ingin memarahinya, cuman saat mendengar rengekan begini rasanya aku tidak bisa jika harus membuatnya semakin bersedih."


"Jadi, biarlah dia happy hari ini. Lagi pula menyenangi suami bukannya itu udah kewajiban istri, bukan? Toh, ini juga hanya sesekali, kan hehe ...."


Fayra bergumam didalan hatinya sambil menatap suaminya yang saat ini terus mengraung-raung meminta haknya, walaupun baru setengahnya


"Ya-ya u-udah, Bunny bo-boleh ne-nen. Ta-tapi----" ucapan Fayra terhenti, ketika suaminya langsung menongolkan kepalanya sambil tersenyum.


"Tapi apa, Honey? Tapi aku harus memuaskanmu, begitukah? Jika benar, maka aku siap akan memuaskanmu 1 x 24 jam. Hehe ...." ucap Ace, antusias.


Wajahnya benar-benar terlihat begitu bahagia. Hanya karena dia telah diperbolehkan untuk menyusu, layaknya seorang bayi yang baru merasakan nikmatnya air susu Ibu.

__ADS_1


"Ishh, bukan itu! Maksudku Bunny boleh nen, tapi hanya hari ini aja. Selebihnya tidak boleh!" ucap Fayra, kesal.


"Se-sekali, Ho-honey? Kok gitu sih, pokoknya enggak mau! Bunny maunya nen sehari 3x, titik!" Ace, tidak terima dengan apa yang diucapkan oleh istrinya.


"Yak, dikata aku ini obat kali! Dasar suami tidak tahu diri, udah dikasih hati malah minta jantung! Kamu ini benar-benar suami yang sangat buruk, Kak! Arggh ...."


Fayra terlihat begitu marah, bahkan suaranya juga penuh penekanan. Sampai akhirnya tanpa disengaja suaranya Fayra berhasil membuat Ace tersenyum meneteskan air matanya.


"Ya, me-memang aku suami yang sangat buruk. Bahkan lebih buruk dari apa pun, jadi maaf jika aku selalu membuatmu marah karena ulahku yang konyol ini."


"Tapi satu hal yang harus kamu ketahui, apakah kamu ingat dengan 3 perjanjian yang sudah aku buat sebelum pernikahan terjadi?"


“Yang pertama, aku mau tidak adanya kontak fisik atau berhubungan badan selama kita tidak saling mencintai!


"Persyaratan kedua, aku mau pernikahan dilakukan secara pribadi yang hanya melibatkan anggota keluarga inti!"


"Dan yang terakhir, kamu boleh tinggal bersamaku di satu atap yang sama. Cuman aku mau kamar kita di bedakan, tak apa jika harus bersebelahan. Setidaknya kamarku itu adalah privasiku!"


"Apakah seburuk itu, kehadiranku untukmu? Atau kamu belum sepenuhnya percaya, jika aku sudah benar-benar mencintaimu? Tapi, ya sudahlah."


"Aku sadar, mungkin dari semua kesalahan yang aku perbuat masih belum bisa membuatmu menerimaku 100 persen."


"Maaf, jika aku selalu merepotkan, ataupun mengganggu jam istirahatmu. Aku permisi, mau kembali ke kamar."


Ace beranjak dari ranjang istrinya, dalam keadaan wajah yang tetap tersenyum. Tetapi bukan menunjukkan senyuman kebahagiaan, melainkan senyuman kesedihan.


"Bu-bunny? Ka-kamu marah? Ma---"


"Aku tidak marah kok, lagian apa yang kamu ucapkan memang benar. Ya sudah kamu istirahat, aku ke kamar." ucap Ace sedikit dingin.


"Ta-tapi Bunny ...."


Belum selesai Fayra mengatakan sesuatu, Ace segera pergi meninggalkan kamar istrinya. Fayra melihat adanya perubahan sikap suaminya membuat dia merasa sangat bersalah.

__ADS_1


Kemarahan yang ada di dalam dirinya, tidak sengaja telah menggoreskan luka kecil dihati suaminya. Ya, memang tidak berda*rah, tetapi rasa sakitnya berhasil merubah sikap manja Ace kembali menjadi dingin.


Fayra baru saja menyadari kesalahannya, langsung mengejar Ace. Sayangnya, kamar Ace dikunci. Beberapa kali Fayra menggodornya tetapi nihil. Ace tidak mau membukakan pintunya.


Mau tidak mau Fayra kembali ke kamarnya dalam keadaan yang sangat menyesal, baru kali ini dia melihat sudut mata Ace terlihat begitu kecewa akibat ulahnya.


"Argghh, dasar Fayra bod*doh! Kenapa sih ini mulut sampai segitu jahatnya sama suami sendiri, padahal jelas-jelas ini memang sudah kewajibanmu untuk memberikannya!"


"Tapi, arrghhh! Pokoknya aku harus kembali mengambil hati Bunny, apa pun caranya aku harus siap dengan semuanya. Jikalau pun Bunny menginginkan diriku, maka aku harus siap!"


"Cu-cuman kalau ha-hamil bagaimana? Apakah itu tidak akan membuatku dianggap remeh dengan yang lain? Sedangkan usiaku masih dibawah umur, bahkan belum lulus sekolah."


"Apa aku harus konsultasi sama Daddy dan Mommy ya, tentang semua ini? Sepertinya memang iya, aku harus bicara sama mereka semua, agar masalah ini tidak akan menjadi bumerang bagi hubungan kami!"


"Bunny, maafkan aku ya. Jika hari ini aku sudah membuatmu kecewa, tapi aku janji besok aku akan berbicara semuanya pada kalian supaya kita memiliki solusi dari semua masalah kesalah pahaman ini."


Fayra mengoceh sambil menatap lurus kearah depan, dimana dia memikirkan keadaan suaminya. Pasti saat ini Ace sedang uring-uringan didalam kamarnya, akibat ulah Fayra yang tidak bisa mengontrol emosinya.


Hanya karena Fayra takut hamil diusia yang masih muda, membuat dia selalu saja menolak apa yang diminta oleh suaminya.


Didalam kamar, Ace sedang menangis memeluk guling begitu erat. Dia mengoceh, merengek dan juga memarahi dirinya sendiri. Akibat kecerobohan membuat dia kehilangan mainan barunya.


"Arghh, dasar Ace bod*doh! Kenapa kamu sampai mengatakan seperti itu sih, seharusnya kamu terima aja dulu. Kan, bisa pelan-pelan kamu rayu istrimu barulah kamu akan mendapatkan apa yang kamu inginkan."


"Kalau udah begini gimana coba? Pasti Honey marah banget sama aku, bahkan dia sampai mengucapkan kata-kata seperti itu. Yang lebih parahnya kenapa aku malah mengingatkan tentang perjanjian itu, sih!"


"Seharusnya jika memang kita mau melakukannya itu bukan karena perjanjian, melainkan karena kita yang menginginkannya bukan keterpaksaan!"


"Maafkan aku Honey, aku tidak bermaksud membuatmu merasa bersalah. Tapi aku juga tidak bisa menutupi, jika perkataanmu kali ini benar-benar telah menyakiti hatiku, hiks ...."


Ace menangis sesegukan sambil memeluk guling, disatu sisi dia sangat bersalah sudah berkata seperti itu kepada istrinya.


Namun, disisi lain Ace juga merasakan sakit hati akibat ucapan istrinya yang seolah-olah tidak menginginkan kehadirannya.

__ADS_1


__ADS_2