
Saat Fayra mau melepaskan miliknya dari mulut Kharel, membuatnya semakin menyesap kuat.
Seakan-akan Kharel tidak mau melepaskannya, meskipun rasanya cukup sedikit perih. Fayra sudah tidak mau ambil pusing, dia malah memilih untuk tertidur akibat matanya sudah tidak bisa dikondisikan lagi dan posisinya masih dalam keadaan menyusuin Big Babynya.
Untung pintu kamar sudah dikunci, jadi jika mereka kesiangan pun tidak akan ada yang bisa melihat keadaan mereka yang seperti ini.
Hanya pintu utama yang tidak di kunci, semua ini berkat pesan kedua orang tua Kharel yang mewanti-wanti Fayra agar tidak sampai membiarkan orang tak dikenal masuk tanpa sepengetahuannya.
...*...
...*...
Jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi lewat, dimana Fayra bangun terlebih dahulu saat dia mendengar ketukan suara pintu kamar yang membuatnya refleks terkejut.
"Astaga, aku ketiduran! Pasti itu Mamah yang datang, karena jika dokter tidak mungkin. Dia selalu datang agak siangan, bukan sepagi ini."
"Ssttt, awssh ... Kenapa perih banget rasanya, mana dari semalam enggak lepas-lepas lagi. Betah banget sih kamu Kak, menyusu seperti ini. Mana tidurnya juga pules banget lagi, padahal milikku tidak ada susunya. Cuman kenapa dia betah banget ya?"
"Yakk, ngapain aku mikirin itu sih! Lebih baik cepat buka pintunya sebelum Mamah berpikir yang tidak-tidak tentangku. Tidak biasanya jam segini aku belum membuka pintu kan, toh paling tepat juga jam 7 aku baru buka pintu."
Fayra mengoceh pelan, sambil menatap ke arah pintu dan kembali menatap wajah Kharel yang terlihat begitu polos.
Tangan Fayra terangkat untuk mengusap wajah pria tampan yang ada di hadapannya, yang mana sebentar lagi dia bisa melihat wajah itu setiap bangun tidurnya.
Perlahan Fayra mulai menyingkirkan tangan Kharel dari buah apelnya sebelah kirinya. Sementara sebelah kanannya berusaha keras dia lepas dari mulut Kharel, walaupun terasa ngilu dan juga perih, tetapi dia terus mencoba untuk melepaskannya.
Hingga akhirnya buah apelnya susah payah telah terlepas dari mulut Kharel, membuat Fayra begitu lega bersamaan dengan keluarnya suara rin*tihan yang cukup panjang.
__ADS_1
"Sstthhh, arrghhh ... Huhh, rasanya benar-benar sangat perih. Padahal dia tidak menggigitnya, tetapi kenapa bisa berwana merah bahkan perih? Ckk, dahlah!"
"Sekarang bukan waktunya berpikir, lebih baik cepat rapikan bajumu dan buka pintunya. Sebelum Mamah mertuamu itu mendobraknya, tahu sendiri 'kan dia itu orangnya panikan. Jadi apa yang tidak mungkin bisa menjadi mungkin!"
Perlahan Fayra membenarkan posisi tidur Kharel, kemudian dia duduk sambil membelakanginya dan mengancingkan kemejanya serta membenarkan ikatan rambutnya.
Dirasa sudah rapi tanpa meninggalkan bekas, Fayra segera membuka pintu kamar meski dia sedikit merasa perih ketika buah apel sebelah kanannya sedikit iritasi akibat Kharel menghisapnya berjam-jam.
"Huhh, tenang Fayra. Tenang! Bersikaplah sewajarnya jangan membuat mertuamu curiga, okay! Sekarang buka pintunya." gumam Fayra kecil.
Tangannya perlahan membuka kunci pintu, bersamaan dengan itu Fayra keluar melihat Mamah Xavia sudah duduk di ruang tunggu sambil memainkan ponselnya.
"Eh, Sayang. Sudah bangun, tumben jam segini. Biasanya jam 6 saja udah bangun bahkan kadang pun kamu tidur tidak sepulas ini."
"Cuman Mamah bersyukur kalau kamu sudah bisa tidur pulas, Mamah jadi senang dengernya. Ohya, gimana kabar Kharel? Apa dia sudah ada perubahan?"
"A-ada apa, Sayang? Ke-kenapa matamu berkaca-kaca, jangan bilang semalam Kharel mengalami kejang lagi?" tanyanya.
Kepanikan di wajah Mamah Xavia, cuman mendapat gelengkan kepala dari Fayra. Saking penasarannya Mamah Xavia terus mencecar Fayra dengan semua pertanyaan yang ada didalam pikirannya.
Pelukan Fayra dan isak tangisnya membuat Mamah Xavia merasa sangat bingung bercampur gelisah. Tubuhnya seakan-akan membeku, menunggu jawaban dari calon menantunya ini.
"Raa, please jangan buat Mamah takut dan penasaran. Katakan apa yang terjadi sesungguhnya sama Kharel, Mamah enggak mau sampai kamu menyembunyikan apapun mengenai anak kesayangan Mamah itu. Kamu paham 'kan, apa yang Mamah ucapkan ini, hem?"
Pelukan itu terlepas, saat Mamah Xavia mulai meraup wajah menantunya. Kini, mata mereka saling menatap satu sama lain dengan tatapan yang sangat mendalam.
Akhirnya Fayra mulai menceritakan tentang kondisi Kharel semalam, dimana dia kejang-kejang, lalu tersadar dan akhirnya mengetahui bahwa kondisi kaki Kharel tidaklah baik-baik saja.
__ADS_1
Disitu tangis Mamah Xavia pecah, dia memeluk Fayra. Rasa bersyukur dia pajatkan karena anaknya sudah terbangun dari tidur panjangnya. Akan tetapi, ada juga yang membuatnya bersedih ketika mengetahui bahwa Kharel mengalami kelumpuhan.
Cuman itu tidak penting, karena Kharel sudah bisa membuka matanya saja seakan-akan seperti menghapus semua beban yang Mamah Xavia pikul beberapa hari berakhir ini.
Setelah merasa sedikit tenang, Mamah Xavia segera mengajak Fayra untuk melihat anaknya serta dia ingin sekali bisa memeluknya begitu erat, menumpahkan semua kerinduannya selama ini.
"Mamah mau lihat Kharel, Raa. Boleh? Please, Mamah mohon!" pintanya.
"Bolehlah, Mah. Masa Fayra melarang Mamah sih, hanya saja Kak Kharel masih tidur soalnya semalaman dia habis menangis. Mamah tahulah bagaimana perasaan Kak Kharel saat mengetahui takdirnya semiris itu." jawab Fayra.
"Tak apa, setidaknya setelah dia bangun Mamah bisa kembali melihatnya membuka mata. Habis itu Mamah akan memberi kabar baik ini pada Papah." sahutnya.
Fayra pun perlahan bangkit sambil memegang serta merangkul Mamah Xavia yang masih sedikit syok untuk berjalan mendekati Kharel.
Disitu tangis Mamah Xavia kembali runtuh sambil memeluk anak semata wayangnya. Curhatan hati seorang Ibu dia utarakan, betapa kangennya Mamah Xavia pada anak kesayangannya ini.
Hampir 5 menit Mamah Xavia memeluk Kharel. Dirasa sudah mulai sedikit tenang, dia segera menghapus air matanya saat melihat wajah anaknya yang polos pucat, sekarang sedikit lebih baik.
"Terima kasih, Sayang. Kamu sudah merawat Kharel, dan terima kasih juga karena kamu mau menerima Kharel apa adanya untuk menjadi suamimu."
"Kamu tidak usah khawatir, biar semua acara kami yang mengurusnya. Sekang kamu lebih baik fokus mengurus Kharel dan bantu dia untuk melewati semua penderitaan ini. Genggam tangannya, jangan sampai di lepas karena itu akan membuat Kharel semakin down. Pahamkan apa yang Mamah sampaikan ini, hem?"
Tangan Mamah Xavia mengusap wajah cantik menantunya itu yang sedikit mengeluarkan air mata. Fayra tidak menyangka bahwa dia kembali mendapatkan calon mertua yang baik, bahkan lebih dari sebelumnya.
Siapa yang tidak merasa beruntung dan bahagia coba, jika semua rasa sakit yang dia alami semakin ke sini semakin digantikan oleh Tuhan dengan berkali-kali lipat kebahagiaan. Walau semuanya bertahap, tidak instan.
Fayra kembali memeluk Mamah Xavia dalam keadaan berdiri. Beberapa kali ciuman kecil mendarat di kepala Fayra dari calon mertuanya itu.
__ADS_1
Sampai keromantisan mereka terganggu akibat tingkah Kharel yang membuat Fayra membolakan matanya. Segera mungkin Fayra melepaskan pelukan Mamah Xavia, begitu juga Mamah Xavia yang bingung akibat melihat tingkah anaknya yang terbilang sedikit menggemaskan.