
Mereka berangkat pukul 1 siang, meskipun macat tetapi mereka tidak masalah.
Bagi mereka, yang terpenting bisa mampir terlebih dahulu di tempat-tempat yang berkesan, lalu mereka bisa menikmati suasana dinginnya Puncak sebelum sampai ke Vila milik Daddy Gerry.
...*...
...*...
Jam sudah berjalan hingga pukul 7 malam, dimana mereka sedang menikmati dinginnya Puncak sambil memakan jagung bakar di tempat lesehan.
Terlihat betapa bahagianya ketiga pasangan tersebut. Hanya saja keribukan kecil sering terjadi, pada saat Arsyi dan Eric berhasil membuat yang lainnya menggelengkan kepalanya.
Bagaimana tidak, disaat yang lain sedang menikmati manisnya malam dengan sang kekasih. Tetapi pasangan Arsyi dan Eric malah terlihat layaknya seekor tikus dan juga kucing.
Namun dibalik pertengkaran kecil itu membuat Arsyi mulai tersentuh, perlakuan Eric memang menyebalkan. Cuman, dibalik semua itu Eric selalu siaga menjaga Arsyi layaknya istrinya sendiri.
Kemesraan 3 pasangan tersebut berhasil menyita perhatian banyak orang. Pasangan Louis dan Nata terlihat begitu manis dengan sikap Louis yang sangat menghargai wanitanya.
Kemudian pasangan Ace dan Fayra, sudah tidak bisa dijelaskan lagi. Betapa romantisnya mereka ketika, sedang memakan jagung bakar yang di penuhi oleh kejahilan yang Ace lakukan.
Sampai akhirnya tepat pukul 20.30, mereka kembali melanjutkan perjalannya menuju Vila milik Daddy Gerry yang jaraknya masih 500 meter lagi.
...*...
...*...
Villa Rosger, adalah Villa khusus milik keluarga Rodriguez yang dinamakan dari penggabungan nama sepasang suami istri, yaitu Rosa dan Gerry.
Villa tersebut letaknya di atas Puncak, dengan nuansa pemandangan yang sangat indah.
Udara dingin merupakan salah satu ciri khas daerah Puncak, seperti berasa mereka sedang hidup dan tinggal di kutub utara.
"Huhh, akhirnya kita sampai juga." gumam Arsyi, baru saja turun dari mobil Eric.
"Bu-bunny, i-ini serius Villa milik Mommy sama Daddy?" ucap Fayra, tanpa sadar.
Ace mendengar ucapan istrinya, langsung membola bersamaan dengan ketiga sahabatnya.
Mereka terlihay benar-benar syok saat tahu, jika Fayra memanggil kedua orang tua Ace dengan sebutan layaknya orang tuanya sendiri.
Ace berusaha memberikan kode kedipan mata, tetapi Fayra belum menyadari semua itu, akibat matanya terpana dengan desain Villa yang begitu megah dan juga mewah.
__ADS_1
Fayra masih belum menyadari ucapannya, membuat Ace melirik ke arah sahabatnya. Semua mata pun ikut menatap ke arah Ace dan Fayra, penuh tatapan mata yang sangat mencurigakan.
Ace berusaha menyadarkan Fayra dalam keadaan memeluknya sambil membisikkan, jika beberapa menit lalu dia telah membuat kesalahan.
Fayra terdiam mematung, lalu merilik ke arah sahabatnya yang masih terus menatapnya. Sampai seketika pernyataan Arsyi berhasil membuat Fayra kebingungan.
"Daddy, Mommy? Sejak kapan lu manggil kedua orang tua Kak Ace dengan sebutan itu? Apa jangan-jangan pas Kak Ace keceplosan bilang kalau lu istrinya, itu benar?" tanya Arsyi, wajahnya semakin penasaran.
"Eh, e-enggak. Bu-bukan begitu, ma-maksudnya. Hem ...."
Fayra menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sesekali matanya melirik ke arah suaminya seperti meminta bantuan darinya.
Ace yang paham sama kebingungan istrinya, bergegas menjawab pertanyaan dari Arsyi penuh keseriusan, agar mereka tidak kembali menaruh curiga padanya.
"Orang tua gua yang minta Fayra memanggilnya dengan sebutan Daddy, Mommy." ucap Ace sedikit gugup, tetapi berusaha setenang mungkin.
"Jadi, Fayra udah ketemu sama orang tua lu? Berarti mereka menyetujui hubungan kalian ke jenjang lebih serius?" sahut Nicho.
Ace cuman bisa mengangguk kecil, yang mana diikuti oleh Fayra sambil cengengesan. Terlihat betul jika Fayra merasa gugup, malu dan juga panik. Apa lagi dia menyimpan kebohongan dari sahabatnya.
"Berdoa aja, supaya kita semua bisa bersatu sama pasangan masing-masing. Dan gua harap, dari kita semua tidak ada yang saling menyakiti!" tegas Louis, menatap semuanya.
"Aamiin ...." ucap mereka serentak sambil tersenyum.
Satu persatu ruangan mereka kunjungi, sambil menatap kagum oleh desain simple berkesan sangat elegand dan juga mewah.
Namun, sayangnya. Warna hitam pekat dan juga bercampur gold membuat mereka sedikit bingung. Karena biasanya mereka mengunjungi Villa yang identik warna putih, bukan hitam seperti ini.
Ya, memang terkesan gelap dan menyeramkan. Cuman, jika kita sudah melewatinya maka kedua mata bisa langsung melek ketika menatap betapa indahnya isi di dalam Villanya.
"Honey, kenapa desainnya semua warna hitam dan gold? Memangnya kalau warna putih tidak bisa? Bukannya malah lebih terang." tanya Fayra, menatap semua sudut Villa.
"Ya benar tuh, gua juga ngerasanya gitu. Mana merinding lagi, fiks sih. Ini bukan Villa nj*ir, tapi udah kek kita lagi uji nyali di rumah hantu." sambung Nata, bergidik ngeri.
"Ya aku enggak tahu, mungkin Daddy sama Mommy mau buat Vila yang terkesan beda dari lainnya." jawab Ace, spontan.
"Tapi gua salut sama orang tua lu, walaupun penampakan dari luar terlihat menyeramkan. Cuman, isinya benar-benar indah." jawab Louis, kagum dengan desainnya.
Saat mereka mau melangkahkan kakinya menuju ruang tamu, tiba-tiba seseorang datang dari arah samping dengan penampilan sederhana.
__ADS_1
"Permisi, Den. Maaf kalau Mamang telat, tadi lagi ada urusan dulu." ucap seorang pria yang tidak lain adalah penjaga Villa.
"Hem, gapapa Mang. Apakah makan malam sudah siap?" tanya Ace, dingin.
"Sudah, Den. Istri saya sudah menyiapkan semuanya di ruang makan, mari saya antar." ucap pria tersebut secara sopan.
Ace pun mengangguk kecil, lalu mereka berjalan mengikuti pria itu menuju ruang makan.
Disana ternyata sudah ada satu wanita paruh baya, sedang menyiapkan alat-alat makan.
"Eh, Den Ace sudah sampai. Bibi kira masih lama, maaf ya Den. Tadi bibir tidak dengar kalau Den sudah datang, soalnya ini baru aja beres masak makan malamnya." ucap wanita itu sambil tersenyum.
"Gapapa, Bi. Terima kasih, ohya kenalkan ini sahabat saya semuanya." jawab Ace, memperkenalkan semua sahabatnya satu persatu.
Mereka pun sedikit membungkukkan badannya untuk menghormati orang yang sedih tua darinya, sambil memperkenalkan nama masing-masing.
"Astaga, ternyata foto sama aslinya beda jauh ya." gumam kagum, wanita tersebut menatap Fayra.
"Ma-maksudnya, Bi?" jawab Arsyi dan Nata bersama-sama.
"A-ada yang salah dengan penampilan saja, Bi?" tanya Fayra, saat sang Bibi menatapnya terus menerus tanpa berkedip.
Fayra mencoba menatap semua sahabatnya, kemudian menatap dirinya sendiri. Merasa adanya kebingungan di wajah mereka, penjaga Villa menyenggol tubuh istrinya dengan sengaja.
"Bu, kamu ini ngomong apa sih. Lihat mereka pada bingung denger ucapanmu itu." bisik penjaga Villa, pada istrinya.
"Astaga, ma-maaf Den, Non. Ma-maksud saya Non Fayra aslinya lebih cantik dari pada di foto, begitu." ucap sang Bibi tersenyum.
"Fo-foto? Foto apa, Bi?" tanya Fayra, bingung.
"Itu loh, Non. Nyonya sama Tuan pernah mengirimkan saya foto pernikahan ka---"
"Gua udah laper, ayo makan!"
Ace yang sudah bisa menebak kemana arah ucapan sang Bibi, langsung menghentikannya dan segera duduk di kursinya.
Fayra hanya bisa mengikuti suaminya tanpa bisa berkata apa-apa lagi. Rasa gelisah dan juga gugup kian menyelimuti hatinya.
Penjaga Villa kembali mengingatkan istrinya, jika majikannya telah berpesan agar status mereka jangan sampai di ketahui oleh siapa pun. Tanpa persetujuan pihak yang bersangkutan.
Sang Bibi yang sudah menyadari kesalahannya, segera menatap Ace dan Fayra secara bergantian.
Ace hanya bisa mengedipkan matanya, lalu menyuruh mereka berdua untuk segera pergi meninggalkan meja makan.
Tanpa basa-basi lagi, Ace, Fayra dan sahabagnya segera menyantap makan malamnya secara bersama-sama. Sesekali membahas rencana liburan mereka yang mau pergi kemana, selama berada di Villa untuk beberapa hari kedepan.
__ADS_1