Learn to Love You

Learn to Love You
Lolos Dari Perangkap Ace


__ADS_3

Ace berusaha keras terlihat baik-baik saja ketika sebagian temannya ada yang menyapa, termasuk dengan sahabatnya sendiri. Louis, Nata, Eric, Arsy, Nicho, Sheila. Mereka berbincang serta berusaha untuk menguatkan Ace atas kejadian yang menimpanya.


Semua yang ada di sana menganggap Kharel sama seperti pria lainnya. Tanpa mereka tahu bahwa nyawa Kharel saat ini berada di dalam bahaya.


Mereka sama sekali tidak sedikitpun merasa curiga, atas gerak-gerik Ace yang sangat cerdik.


Semua orang terlihat begitu bahagia, happy dan juga tidak sabar untuk menunggu momen janji suci yang akan Kharel dan Fayra ucapkan bersama.


...*...


...*...


Acara pun segera di mulai, dimana seorang MC membuka acara sesuai dengan susunan yang ada di layar monitor kecil tepat di hadapannya.


"Sebelum kita masuk ke acara inti, kita akan panggilkan kedua mempelai terlebih dahulu. Di mulai dari mempelai pria untuk segera memasuki istananya."


"Mari semuanya kita sambut dengan meriah, ini dia mempelai pria. Tuan Kharel!"


Semua orang bersorak bahagia menantikan Kharel, mereka sangat penasaran bagaimana penampilan Kharel.


Apakah dia bisa lebih tampan dari sebelumnya, ketika belum menggunakan kursi roda? Ataukah fisiknya yang kurang sempurna, membuat dia terlihat biasa saja?


Entahlah, tanpa berlama-lama lagi kita saksikan saja, penampilan Kharel yang telah berhasil memikat para wanita di hadapannya.



Kharel keluar dari tempat persembunyiannya dengan wajah yang sangat manis dan juga tampan. Dia keluar tanpa bantuan siapapun, sesuai dengan acara yang berlaku.


Susah payah Kharel keluar dengan kursi rodanya, sambil menekan tombol yang ada di kursi roda tersebut. Dia tidak lagi mengandalkan kekuatan tangan seseorang untuk menjalani kursi rodanya seperti biasanya.


Kursi roda yang dia gunakan ini telah di desain khusus untuk Kharel.saat berada di acara pernikahannya, agar mempermudahkan Kharel untuk bisa bergerak sendiri lebih luas lagi.


Kursi roda Kharel perlahan berjalan teoat diatas karpet merah, layaknya seorang Pangeran yang akan segera menempati singgahsana yang ada di istana.


"Sebentar lagi, Kharel. Sebentar lagi. Ayo, cepatlah!"

__ADS_1


"Saat lu berada tepat ditengah-tengah pesta, maka di situ pula hidup lu akan berakhir selamanya. Haha!"


Suara hati Ace bergema di dalam pikirannya, tak lupa mata Ace pun tidak pernah lepas dari mengawasi gerak-gerik Kharel.


Semua Ace lakukan supaya dia tidak sampai ketinggalan sedikit momen atas kejadian besar yang sebentar lagi akan menjadi kenyataan.


"Ayo, Kharel. Dikit lagi, dikit lagi!"


"Bagaimana kalau gua hitung mundur. 10, 9, 8, 7, 6, 5, 4, 3, 2 ...."


"Sat---"


Mata Ace membola ketika melihat Kharel berhasil lolos dari perangkapnya.


"Hahhh? Ko-kok bi-bisa dia lolos?"


"A-ada apa ini? Kenapa lampu itu tidak jatuh? Perasaan gua udah menyeting semua peristiwa itu, tapi ...."


"Aarrghh, sia*lan! Kenapa rencana gua selalu gagal terus sih, aarrghhh ta*ek!"


"Sepertinya ada yang enggak beres dengan lampu itu! Apa jangan-jangan ada yang mengetahui tentang problem di lampu itu, sampai akhirnya mereka kembali memperbaikinya?"


Hati Ace begitu kesal ketika matanya melihat Kharel masih tersenyum dalam keadaan baik-baik saja. Dia berhasil melewati perangkap begitu mulus, tanpa sedikitpun tergores.


Kini hanya tinggal tersisa Fayra yang belum melewati tempat rawan tersebut. Perasaan Ace semakin kacau, terlihat dia begitu gugup, gelisah dan juga khawatir.


Saat Ace mau berbalik untuk mengecek lampu tersebut, tiba-tiba saja dia di kejutkan oleh kedatangan seseorang yang sudah berdiri tepat di belakangnya.


"Astaga, ka-kalian?" ucap Ace, terkejut.


"Nj*irr, udah kaya lihat se*tan aja lu!" sahut, Nicho.


"Muka lu kenapa? Jangan bilang lu cemburu lihat mereka mau nikah?" tanya, Eric.


"Yaelah, Bro. Lepasin aja udah, itu tandanya kalian belum berjodoh. Ya, gua tahu sih emang gak mudah. Cuman gua yakin, suatu saat lu bisa mendapatkan wanita yang lebih baik. Santai, Bro. Wanita masih banyak, lu enggak akan kehabisan." sambung, Nicho.

__ADS_1


Eric mengangguk antusias, kali ini dia benar-benar setuju dengan ucapan Nicho. Beberapa kali Nicho menepuk pundak Ace mencoba memberikan pengertian untuknya.


"Lu harus bisa relain semuanya, belajar terima keadaan kalau kalian memang tidak berjodoh. Hitung-hitung dengan cara ini, lu bisa menebus semua dosa-dosa lu yang udah menyakiti Fayra," cicit Louis.


Ace kelihatan begitu gugup ketika berada di hadapan mereka bertiga. Rasanya Ace ingin sekali menonjok bibir mereka satu persatu, akan tetapi semua di tahan olehnya akibat ada sesuatu yang lebih penting dari ini.


"Hehe, te-tenang aja. Gua udah relain semuanya, kalian enggak usah khawatir. Hati gua cuman sedikit tercubit aja, karena sebentar lagi gua akan melihat Fayra menjadi milik pria lain." jawab Ace, mengukir senyuman terpaksa.


"Gua paham, apa yang lu rasain. Cuman, kenapa wajah lu terlihat cemas dan gugup seperti itu? Apa ada masalah?" tanya Louis, heran.


"E-enggak kok, a-aman. Te-teenang aja. Ya-ya udah gua mau ke toilet bentar ya. Nanti gua balik--"


Ace menghentikan ucapannya ketika dia mendengar suara MC, yang kembali mempersilakan Fayra untuk keluar dari persembunyiannya.


Suara teriakan kagum, teriakan iri dan juga sorakan bahagia mulai menyelimuti gedung tersebut.


Louis, Nicho dan Eric berpamitan sambil menepuk bahu Ace. Kemudian mereka pergi meninggalkan Ace mendekati pasangannya masing-masing.


Dimana Ace langsung secepat kilat berbalik menghadap ke arah pintu, disana Ace melihat Fayra keluar dengan gaun yang sangat indah.


Paras cantiknya berhasil menghipnotis semua pria, hingga tidak ada satu pun pria yang mengedip ketika menatap kecantikan Fayra. Termasuk Kharel, dia melongo tak percaya bahwa Fayra bisa jauh lebih cantik menggunakan gaun itu dari pada saat sitting baju.


Tak hanya para pria yang kagum akan kecantikan Fayra, bahkan para wanita pun menangis haru melihat Fayra keluar dari persembunyiannya dengan penampilan yang begitu elegan dan juga cantik. Layaknya bidadari yang turun dari sebuah khayangan.



"Su-sumpah, i-itu benarkah Fayra?"


"Ke-kenapa dia bisa secantik itu? Apakah Fayra yang dulu dan sekarang berbeda? Lantas, kenapa ketika menikah dengan gua, dia tidak secantik sekarang?"


"Asli, kalau kaya gini bentuknya gua enggak akan pernah rela seumur hidup kalau Kharel menikahi Fayra. Gua akan terus ngelakuin apapun sampai acara mereka batal!"


Ace bergumam di dalam hati kecilnya, saat sorotan matanya penuh akan kebencian ketika melihat Kharel bisa mendapatkan Fayra dengan versi yang berbeda. Tidak seperti pada waktu itu Ace menikahinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


...Mampir ya guys ke karya temen author ❤️...



__ADS_2