Learn to Love You

Learn to Love You
Berduka


__ADS_3

Sementara sang dokter besarta rekan kerjanya yang lain, sedang berusaha untuk menyelamatkan kondisi Alena karena detak nadinya sudah semakin melemah.


Rasa cemas, panik dan khawatir berhasil membuat Andrew meneteskan air matanya. Bahkan tubuhnya pun sedikit gemetar, memikirkan kondisi anak dan juga istrinya yang ada didalam.


...*...


...*...


Hampir 1 jam lebih, Andrew menunggu kabar tentang istri beserta anaknya yang masih berjuang didalam sana hanya demi melanjutkan hidupnya.


"Ma-maafkan aku Alena, maaf! A-aku tidak bermaksud untuk menyakiti kalian. Aku cuman kesal mendengarmu selalu muntah-muntah setiap pagi, hingga jam tidurku terganggu. Kali ini aku sadar, seharusnya aku lebih memperhatikan kalian berdua bukan malah mementingkan egoku sendiri."


"Sekali lagi maafkan aku Alena, maaf! Aku mohon kalian berdua bertahanlah, Papah janji tidak akan menyakiti kalian lagi. Terutama kamu sayang, anak Papah sendiri."


Andrew duduk sambil menjambak rambutnya sendiri penuh frustasi, dimana wajah tegang dihiasi oleh air mata terus menghantui pikiran Andrew akan rasa kehilangan.


Sampai akhirnya pintu terbuka membuat Andrew segera berlari mendekati sang dokter, dan mencecarnya dengan semua pertanyaan tanpa jeda.


"Dok, bagaimana keadaan istri dan anak saya? Mereka baik-baik aja, kan? Mereka semua selamat kan, Dok?"


"Ayo jawab, Dok. Jawab! Kenapa Dokter diam seperti ini? Ada apa dengan mereka, Dok? Ada apa!"


Andrew berteriak tepat diwajah sang dokter dalam keadaan menangis, sementara sang suster berusaha untuk menenangi Andrew agar dia tidak sampai menyakiti sang dokter.


"Hiks, a-ada apa dengan mereka, Dok? Kenapa Dokter diam seperti ini? Please, Dok. Katakan sesuatu tentang keadaan mereka, aku yakin pasti mereka baik-baik aja kan?" ucap Andrew sedikit tenang, meski wajahnya terlihat sangat khawatir dengan kondisi anak dan istrinya.


"Sebelumnya saya minta maaf, Tuan. Jika saya harus menyampaikan kabar duka, kalau anak yang berada didalam kandungan istri Tuan sudah tidak bisa diselamatkan."


"Ketika Nyonya dibawa kerumah sakit, ternyata dia sudah mengalami pendarahan yang begitu hebat. Jadi, janin yang ada didalam kandungannya sudah tidak bisa bertahan kembali."


Duaar!

__ADS_1


Tubuh Andrew seketika terjatuh kelantai dalam keadaan posisi duduk, pandangan kosong menatap kearah depan.


"Ti-tidak, ti-tidak mu-mungkin a-anakku pergi me-meninggalkan aku. Di-dia pasti ma-masih be-bertahankan, Dok? Dokter pasti berbohong, dokter pasti lagi ngeprank saya kan? Haha ...."


"Maaf, Dok. Saya tidak akan percaya, karena saya tahu anak yang ada didalam kandungan istri saya itu anak yang kuat dan hebat. Jadi tidak mungkin dia pergi meninggalkan Mamahnya yang setiap detik selalu menjaganya!"


Andrew bangkit dan kembali menatap sang dokter, lalu berbicara dalam kondisi mata memerah dan juga wajah yang sangat frustasi.


"Maaf, Tuan. Apa yang saya katakan itu benar, jadi saya mohon Tuan tetap tenang menerima semua kenyataan ini. Karena saat ini istri Tuan jauh lebih membutuhkan suport agar dia bisa tetap bertahan hidup."


"Ya, saya tahu Tuan sedang dalam keadaan berduka lantaran kehilangan anak Tuan. Cuman keadaan istri Tuan saat ini sangat buruk, karena Nyonya Alena sedang mengalami koma."


Degh!


Kenyataan tentang anaknya yang sudah tiada saja, Andrew belum bisa menerimanya. Kini, dia kembali mendapatkan kabar tentang istrinya yang mengalami koma.


"A-apa! I-istri sa-saya ko-koma, Dok? Ko-kok bisa! Da-dasar dokter tidak berguna, mengurus 1 pasien saja tidak becus!"


"Beberapa menit lalu kau sudah mengambil anakku, dan sekarang kau juga mau mengambil istriku? Cih, dasar dokter tidak punya hati! Pokoknya saya enggak akan membiarkan hidup dokter tenang, jika sesuatu terjadi pada istri saya!"


Namun, tak lama kedua orang tua Alena datang dalam keadaan tergesa-gesa. Wajah mereka terlihat begitu panik setelah mendapat kabar dari Andrew tentang kondisi anak kesayangannya.


Sesampainya disana kedua orang tua Alena segera menanyakan kabar tentang kondisi anaknya kepada Andrew dan juga dokter secara bergantian.


Andrew cuman bisa terdiam meratapi nasib keluarga kecilnya yang sangat tragis, dimana hanya karena kesalahan kecil yang dia lakukan. Kini malah membawa petaka bagi semuanya.


Andrew tidak terbayang bagaimana keadaan Alena nanti, jika dia sudah terbangun dari tidurnya tidak bisa melihat anaknya untuk selamanya.


Kedua orang tua Alena tidak mendapati jawaban dari Andrew, langsung bergeser menanyakan kepada Sang dokter dalam keadaan gelisah


Sang dokter melirik sekilas kearah asisten susternya, kemudian kembali menatap kedua orang tua Alena dan menceritakan semua tentang kondisi anak serta cucunya secara bergantian.

__ADS_1


Bagaikan ditusuk ribuan pisau tajam, berhasil membuat Mamahnya Alena hampir saja terjatuh dilantai kalau suaminya tidak sigap untuk menangkapnya.


Dengan cepat Papahnya Alena menggiring istrinya untuk duduk dikursi tunggu depan UGD, tak lupa sang dokter pun segera mengecek kondisi Mamahnya Alena.


Dirasa sudah baik-baik saja, sang dokter segera pamit bersama asisten susternya karena dia masih ada urusan bersama pasien lainnya.


Sebelum sang dokter pergi memberikan sedikit nasihat jika kelurga yang bersangkutan boleh menjenguk Alena, dengan syarat.


Pertama, menggunakan pakaian medis yang sudah disiapkan didalam secara lengkap.


Kedua, waktu kunjungan hanya berlangsung kurang lebih 5 menit dan bisa bergantian dengan yang lain.


Terakhir, yang boleh masuk kedalam hanyalah 1 orang, tidak boleh lebih. Jikalau pun mau ada banyak yang ingin menjenguknya, maka harus melakukan estafet terlebih duhulu.


Dimana semua keluarganya harus menunggu giliran untuk masuk kedalam secara bergantian, karena 1 orang hanya membutuhkan waktu 5 menit tidak lebih.


Setelah sang dokter pergi, kedua orang tua Alena langsung memarahi Andrew hingga memaki-makinya karena dia sudah lalai dalam menjaga keluarga kecilnya sendiri.


Plak!


Tamparan keras mendarat di wajah Andrew dari Papahnya Alena, karena dia merasa begitu kecewa ketika mendapati kabar anak yang selama ini dia jaga dan berusaha membahagikan. Kini, malah bernasib tragis ditangan seorang pria yang berstatus sebagai suaminya.


Apa lagi, kehilangan cucu begitu membekas didalam hati kedua orang tua Alena sampai akhirnya Andrew bersujud dihadapan kedua orang tua Alena.


Papahnya Alena menandang keras Andrew sama persis seperti Andrew menendang istrinya, walaupun kedua orang tua Alena tidak mengetahui kejadian yang sebenarnya. Cuman seakan-akan karma Andrew mulai bangkit dari tidur panjangnya.


Tanpa menghiraukan kondisi Andrew, Mamahnya Alena langsung masuk kedalam ruangan seorang diri. Sementara Papahnya Alena, bergegas pergi ke resepsionis untuk membayar semua biaya anaknya.


Kemudian Papahnya Alena juga menyuruh orang suruhannya untuk menyiapkan semuanya, agar jenazah cucunya segera dikebumikan.


Ya walaupun janin Alena belum sepenuhnya terbentuk dengan sempurna, tetapi janin tersebut sudah terlihat bentuk tubuhnya yang masih seperti gumpalan da*rah beku.

__ADS_1


Andrew hanya bisa duduk dikursi tunggu, untuk menunggu mertuanya yang sedang menemui istrinya. Rasanya Andrew ingin sekali masuk kedalam agar bisa menemani Alena, dan juga meminta maaf atas semua sikap prilaku buruknya.


Namun, apa daya. Andrew paham ini akan berat untuknya kembali merebut hati istri beserta kedua mertuanya. Mereka semua terlihat begitu kecewa padanya, atas kejadian yang menimpa anak dan istrinya.


__ADS_2