Learn to Love You

Learn to Love You
Aku Kangen Honey


__ADS_3

Tanpa basa-basi lagi, Ace, Fayra dan sahabagnya segera menyantap makan malamnya secara bersama-sama. Sesekali membahas rencana liburan mereka yang mau pergi kemana, selama berada di Villa untuk beberapa hari kedepan.


Selesai makan malam, Ace langsung memberitahukan kepada mereka jika kamar wanita berada di atas dan pria berada di bawah.


Villa yang terkesan mewah bak istana kerajaan, berhasil menyita perhatian mereka dengan nuansa keindahan kamarnya.


Visual kamar Fayra :



Visual kamar yang lain :



...*Kurang lebih seperti itu ya kamarnya untuk mereka*...


Mereka pun langsung pergi ke kamarnya masing-masing untuk menaruh barang-barangnya, lantaran Ace sudah memberikan kamar sendiri bagi mereka.


Apa lagi Villa milik kedua orang tuanya sangatlah luas, jadi mereka tidak perlu berbagi ranjang satu sama lain, layaknya di Villa yang di sewa.


Akan tetapi, Nata dan juga Arsyi mereka masih berada di kamar Fayra yang terkesan sangat spesial. Iri? Tentu tidak, karena mereka paham. Jika Fayra sudah menjadi orang yang sangat spesial di hati Ace.


Mereka bertiga bercanda bersama, sambil bercerita satu sama lain tentang hubungannya. Sama halnya para pria yang berkumpul di ruang keluarga untuk bermain PS.


Kok bisa di Villa ada PS? Ya, itulah kehebatan Nicho dan Eric, tanpa di minta dia sudah menyiapkan semuanya untuk mengisi waktu luangnya.


Tepat pukul 12 malam, para wanita sudah mulai mengantuk. Nata serta Arsyi segera berpamitan untuk kembali ke kamar, akibat matanya sudah tidak bisa diajak kompromi.


Berbeda dengan para pria yang masih setia sama cemilan dan juga gamesnya. Bahkan sesekali suara kekesalan mereka terdengar sampai ke atas kamar, membuat Arsyi turun ke bawah dan memekik keras.


Dari situ setiap kali mereka akan berteriak, Eric selalu menasihatinya agar mereka tidak mengeluarkan full power suaranya.


Jika sampai mereka kembali melakukannya, maka nasibnya akan sama seperti ayam yang berada di dalam sop.

__ADS_1


...*...


...*...


Jam terus berjalan, membuat Ace semakin di buat gelisah. Rasanya dia ingin secepatnya pergi ke kamar istrinya, lantaran rasa kangen kian menggebu hati kecilnya.


Ace yang tidak kuat lagi menahan rasa rindunya, segera menyudahi permainanya tepat jam setengah 2 pagi. Dia berpura-pura merasa ngantuk, agar semuanya pun mengikutinya.


Dan, benar saja. Mereka juga sudah mulai capek serta lelah, akhirnya mereka membereskan semuanya. Kemudian pergi ke kamar masing-masing.


Selang 5 menit, Ace keluar dari kamar secara mengendap-ngendap. Lalu dia menoleh ke penjuru ruangan untuk mengecek situasi, dikiranya sudah aman. Tanpa basa-basi Ace langsung berjalan ke arah kamar istrinya.


Tokk ... Tokk ... Tokk ...


"Honey, kamu udah tidur belum? Ini aku." ucap Ace mengetuk perlahan kamar istrinya.


Fayra yang kebetulan memang belum bisa tertidur, segera bergegas membukakan pintunya perlahan. Setelah pintu terbuka Ace nyelonong masuk dan memeluknya begitu erat.


"Isshh, jangan di lepas Honey. Aku kangen!" titah Ace yang masih memeluk Fayra begitu erat.


"Huhh, yayaya. Terserah kamu aja dah, aku mau tutup pintu dulu, nanti ketahuan sama yang lain."


Ace melepaskan pelukannya, kemudian dia kembali mengecek situasi di luar kamar. Setelah aman Fayra segera menutup pintunya. Baru aja mau membalikan tubuhnya, lagi-lagi Ace memeluknya layaknya anak kecil yang merindukan Ibunya.


"Aku kangen, Honey." rengek Ace, penuh kemanjaan.


"Huhh, sabar Fayra sabar. Ingat! Jika suamimu seperti ini, tandanya dia sedang menginginkan sesuatu." gumam batin Fayra.


"Honey kok diam aja, Honey enggak kangen sama aku?" Ace melepaskan pelukannya lalu menatap wajah istrinya, dan mata pun sudah berkaca-kaca.


"Enggak, lagian juga kangen kenapa. Orang setiap hari kita ketemu kok, kecuali Bunny udah di Amerika. Baru aku bisa bilang kangen." sahut Fayra, spontan sambil melangkahkan kakinya menuju ranjang.


Fayra perlahan menaiki ranjang, lalu duduk berselonjoran kembali memegang ponselnya sambil meneruskan menonton drakor terbaru.

__ADS_1


Ace masih berdiri menatap Fayra yang lagi duduk menatap layar ponselnya. "Ja-jadi Ho-honey enggak kangen sama aku? Terus ponsel itu lebih penting dari aku?"


Bibir Ace bergetar ketika matanya mulai berkaca-kaca, saat melihat Fayra menyuekinya. Ace merasa tidak lagi di pedulikan, karena Fayra malah memilih ponsel dari pada dirinya.


Fayra terdiam masih menatap layar ponselnya, lalu secepat mungkin menyadari kesalahannya saat mendengar suasa yang tidak asing di telinganya.


"Ho-honey ja-jahat, huaa ...." isak tangis bergema di kamar Fayra, membuat dia kelabakan menaruh ponselnya dan berlari memeluk suaminya.


*Ssstt, Bunny diam ya. Jangan nangis, nanti ketahuan sama yang lain. Ayo, ayo sini. Kita ke kasur ya, Bunny mau apa? Mau nen?"


Fayra berbicara, wajahnya terlihat begitu cemas. Sedangkan suaminya cuman bisa merengek sambil menganggukan kepalanya.


"Oke, oke. Tapi jangan nangis lagi ya, janji!" sambung Fayra. Diangguki oleh Ace.


Perlahan Fayra membawa Ace kedalam pelukannya sambil berjalan ke arah ranjang, kemudian Ace memeluk Fayra sambil tiduran.


Dimana Fayra segera membuka beberapa kancing bajunya, untuk mempermudah suaminya mencari permainannya.


Tanpa basa-basi Ace segera melahapnya begitu gemas, Fayra memekik keras akibat gigi Ace kian menancap di pucuk buat Cerrynha. Mendengar itu, Ace hanya bisa terkekeh kecil.


Selang beberapa menit di saat Fayra sedang mengelus rambut suaminya, sambil menatap layar ponsel.


Tiba-tiba Ace mengambil ponsel tersebut, dan menaruhnya. Bahkan bibirnya juga sudah menyatu dengan bibir istrinya.


Sentuhan hingga gigitan kecil berhasil membuat Fayra mulai terhanyut, di dalam hasrat yang tidak bisa dia jelaskan.


Kedua mata mereka menatap satu sama lain, dengan tatapan yang begitu sayu. Entah kenapa tangan Ace kian merambat kemana-mana memegang sesuatu yang berada di bawah sana.


Dia mulai mengusapnya perlahan dari luar, sampai tubuh Fayra sudah terasa menegang.


Tangan tersebut merambat keatas memasuki celana Fayra, dan kembali mengusapnya sesekali mempermainkan benda kenyang di dalamnya.


Fayra hanya bisa memejamkan matanya, ketika merasakan segelisiran aliran listrik mulai menyengat tubuhnya. Sedangkan Ace, dia benar-benar menikmati sentuhan bibir istrinya yang mulai memanas.

__ADS_1


__ADS_2