
Tangan Mamah Xavia mengusap wajah cantik menantunya itu yang sedikit mengeluarkan air mata. Fayra tidak menyangka bahwa dia kembali mendapatkan calon mertua yang baik, bahkan lebih dari sebelumnya.
Siapa yang tidak merasa beruntung dan bahagia coba, jika semua rasa sakit yang dia alami semakin ke sini semakin digantikan oleh Tuhan dengan berkali-kali lipat kebahagiaan. Walau semuanya bertahap, tidak instan.
Fayra kembali memeluk Mamah Xavia dalam keadaan berdiri. Beberapa kali ciuman kecil mendarat di kepala Fayra dari calon mertuanya itu.
Sampai keromantisan mereka terganggu akibat tingkah Kharel yang membuat Fayra membolakan matanya.
Segera mungkin Fayra melepaskan pelukan Mamah Xavia, begitu juga Mamah Xavia yang bingung akibat melihat tingkah anaknya yang terbilang sedikit menggemaskan.
"Hiks, Sa-sayang mau cucu lagi. Nyu, nyu, nyu ...."
Kharel memanyun-manyunkan bibirnya, lantaran dia seperti sedang bermimpi jika Fayra sudah melepaskan buah apelnya dari dalam mulutnya. Padahal apa yang dia rasakan memang benar, cuman seakan-akan Kharel sedang bermimpi.
Mata Fayra melotot, lalu dia segera membekam mulut Kharel agar tidak lagi berkata aneh-aneh serta bibirnya terlihat bagaikan ikan Koi ketika berada diatas air.
"Hem-empas, hemp!" pinta Kharel.
Mata Kharel terbuka saat dia terkejut atas tingkah Fayra. Cuman Fayra segera menatap tajam kearah Kharel dengan sedikit berbisik penuh menekanan.
"Jangan berbicara aneh-aneh lagi, disini ada Mamah. Ngerti! Kalau sampai Mamah tahu, maka aku tidak akan lagi memberikan susu padamu. Mau?" ancam Fayra.
Kharel menggelengkan kepalanya secara cepat, dia tidak mau sampai kehilangan mainan barunya. Jadi Kharel pun perlahan menganggukan kepalanya, pertanda bahwa dia tidak akan kembali keceplosan. Itu semua refleks ketika dia sedang ngelindur.
__ADS_1
"Sayang, kenapa bicaranya seperti orang bisik-bisik, begitu? Dan tadi apa yang kamu bilang Boy, susu?" ucap Mamah Xavia.
Fayra menoleh sambil menyengir kuda, dimana tangannya masih menempel di bibir Hans sedikit erat. "Hehe, gapapa kok, Mah. I-ini Kak Kharel lagi ngelindur, biasa dia katanya mau di buatkan susu, soalnya dari semalam dia minta susu gitu."
"Cuman ya gimana lagi, namanya udah malam 'kan. Jadi Fayra suruh tidur aja, pagi-pagi baru Fayra akan buatkan susu. Nah, mungkin karena semalam kepengen banget jadi kebawa mimpi deh, hehe ...."
Fayra berusaha mengalihkan perhatian Mamah Xavia yang mulai menaruh curiga, bahkan perkataan Fayra tanpa sadar malah semakin membuatnya bingung.
"Tadi aja bilangnya jangan sampai Mamah tahu, sekarang malah dia sendiri yang menjebak dirinya di dalam pertanyaan Mamah yang sebentar lagi akan membuatnya semakin bingung hihi ...." batin Kharel.
"Susu? Apa kamu melupakan sesuatu, jika Kharel dari kecil tidak pernah suka dengan susu mau coklat ataupun putih. Kalaupun dia mau minum, itu harus di bujuk atau di bohongi dulu baru dia mau meminumnya. Meski beberapa kali dia sampai muntah ketika sedang meminumnya." jawab Mamah Xavia.
Mendengar jawaban tak terduga dari calon mertuanya itu langsung membuat Fayra melepaskan tangannya dari mulut Kharel, dan segera menatap Kharel yang saat ini hanya bisa tersenyum sambil menaik-naikkan alihnya.
"Kenapa kamu tidak bilang, Kak! Dan kenapa juga aku lupa jika dia itu dari kecil memang tidak menyukai susu. Astaga! Kenapa malah aku yang terjebak sih, terus ini gimana? Apa yang harus aku katakan biar Mamah Xavia bisa percaya padaku!" batin Fayra.
"Wajahnya ketika panik terlihat lebih menggemaskan ya. Kasihan juga sih kalau dilihat-lihat dia sangat kebingungan mencari jawabannya. Apa aku bantu aja? Tapi, diakan menyebalkan. Cuman, gapapalah. Aku tidak bisa melihat dia seperti ini terus-terusan, rasanya hatiku tidak tega." gumam batin Kharel.
"Loh kenapa pada diam semuanya? Perasaan yang mati rasa itu kakimu, bukan mulutmu. Jadi kenapa kamu juga terdiam seperti Fayra?"
"Jangan bilang ada yang kalian sembunyikan dari Mamah? Wahh, kalau benar awas aja ya. Mamah akan---"
"Apaan sih, Mah. Baru juga Kharel bangun udah di tuduh aneh-aneh aja. Lagi pula mungkin karena udah lama tertidur sekalinya bangun terus Kharel mengigau gitu, toh kalau Kharel tiba-tiba menyukai susu memangnya enggak boleh? Boleh, 'kan?" imbuh Kharel.
__ADS_1
"Ya boleh dong, masa enggak. Itu malah bagus kalau kamu doyan susu, 'kan nanti sehari bisa minum 3 sampai 4 kali. Itu malah akan semakin membuatmu sehat." jawab Mamah Xavia.
Jawaban Kharel ternyata berhasil menyita perhatian Mamahnya yang sempat berpikir aneh padanya. Cuman Kharel hanya bisa tertawa didalam hatinya ketika menatap wajah Fayra yang semakin terkejut dengan ucapan mertuanya itu.
"Ti-tiga sampai empat kali dalam sehari? Ma-mam*pus kau Fayra! Sekali semalaman aja masih meninggalkan bekas, bahkan rasanya sangatlah perih. Ini mau berkali-kali dalam sehari? Alamat apelmu bisa-bisa kroak yang ada, huaa ... Appa, Amma. Tolong anakmu yang malang ini, hiks!" sahut batin Fayra.
"Nah, iya benar itu Mah. Kalau mau Kharel sehat, jadi harus setiap hari dong minum susunya. Ya, kan Sayang? Pasti kamu dengan senang hatikan akan memberikan susu itu padaku, hem?" goda Kharel.
"Harus dong, 'kan biar Kharelnya cepat sembuh. Mumpung Kharel udah mulai menyukai susu loh. Sayang juga kalau dianggurin 'kan, nanti bisa-bisa dia tidak suka lagi sama susu repot dong."
"Apa lagi susu itu sangat bagus buat kesehatan, jadi jangan pernah pelit untuk memberikannya selagi Kharel mau meminumnya. Ya, Sayang?" sambung Mamah Xavia.
2 orang yang ada di hadapan Fayra, berhasil membuat jantungnya hampir saja terhenti. Rasa syok, dan juga begitu terkejut mulai menyelimuti hati Fayra. Dia tidak menyangka jika ucapan susu bisa merembet kemana-mana didalam pikirannya.
Satu sisi Mamah Xavia membahas tentang susu yang dikomsumsi dengan berbagai cara. Sementara Kharel dan Fayra malah menanggapi susu itu sebagai sebuah permaianan kecil yang membuat Kharel bisa merasakan kelembutan tubuhnya.
Fayra sudah tidak kuat menahan malu dan juga salah tingkah, segera berpamitan untuk ke kamar mandi dengan alasan ingin menyegarkan tubuhnya yang mulai lengket.
Seperginya Fayra, Kharel terkekeh kecil membut Mamah Xavia yang melihatnya merasa bingung. Akan tetapi, dia pun sangat bahagia ketika melihat anaknya sudah kembali tertawa seperti ini.
Tanpa basa-basi lagi, Mamah Xavia memeluk Big Baby Boynya sekuat tenaga sambil mencium pipinya. Disitu Kharel berusaha untuk menghindari Mamahnya yang gemas padanya.
Beberapa kali Kharel memberontak dan juga menyingkirkan Mamah Xavia, tetapi selalu gagal. Akhirnya Kharel pun pasrah, dan membiarkan Mamahnya untuk menganggapnya bagaikan anaknya yang masih sangat kecil.
__ADS_1