
Namun, siapa sangka. Ada seorang anak kecil yang memberikan setangkai bunga untuk mereka berdua. Entah itu anak siapa, bagaimana dia bisa sampai berjalan ke depan. Yang penting itu sebagai bukti, bahwa anak kecil pun bisa merasakan betapa bahagianya mereka.
Di akhir acaranya, Kharel dan Fayra segera meminta restu pada kedua orang tuanya. Agar dia bisa menyebrangi badai yang akan datang di kapal mereka nantinya.
Semoga kedepannya tidak ada lagi masalah, ujian dan juga kejahatan yang ingin merusak hubungan mereka ataupun kebahagiaan yang sudah tercipta diantara mereka.
...*...
...*...
Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, dimana acara masih belum selesai. Sementara Kharel dan Fayra, sudah turun dari atas plaminan langsung pergi ke Hotel yang tidak jauh dari tempat acara.
Hanya sekitar 10 menit saja, mereka sudah sampai di Hotel tersebut. Bahkan barang-barang mereka berdua sudah di pindahkan semuanya dari kamar masing-masing ke kamar pengantin.
...Lantai 30, tepat di kamar 2235...
Kharel membuka kamar tersebut secara perlahan bersama dengan Fayra, betapa terkejutnya mereka ketika matanya melihat kamar yang begitu romantis.
Kamar Hotel telah disulap sedemikian rupa agar menambah kesan keromantisan diantara mereka yang lebih mendalam.
"Kak, ke-kenapa kamar ini terlihat begitu ramai dengan taburan kelopak bunga? Berasa kaya kuburan baru, sumpah!" celoteh Fayra, saat kakinya mulai melangkah masuk bersama suaminya.
"Entahlah, aku juga bingung. Mana banyak lilin aromaterapi pula. Bagaimana jika kamar ini kebakaran? Apakah itu enggak akan membahaya 'kan kita?" sahut, Kharel.
"Tahu tuh, masa iya nanti ada pemberitaan ada pengantin baru tewas di kamar pengantin, ketika ingin melakukan malam pertamanya malah di ganggu oleh lilin yang tak sengaka terjatuh," cicit Fayra, sedikit kesal.
"Huhh, dahlah. Mending aku beresin lilin penghalang ini, supaya kamu bisa jalan. Aku tidak mau sampai gaun indahmu itu terbakar sia-sia, dan bisa-bisa akan melukai tubuh mulusmu itu. Jadi, kamu diam di situ dulu jangan maju!" titah Kharel.
__ADS_1
"Ishhh, lagian ngapain sih pakai acara kasih lilin-lilin sebanyak ini. Memangnya 1, 2, 3 lilin enggak cukup apa?" keluh Fayra, sambil menatap suaminya yang bolak-balik menyingkirkan serta mematikan lilin tersebut.
"Kamu kaya enggak tahu Mamahku dan Ammamu aja, pasti ini ulah mereka yang sudah ngebet punya cucu. Nyatanya, bukannya bikin kita seneng malah nyusahin!"
"Lihat aja gaunmu itu udah panjang banget, ngerepotin pula. Sampai-sampai aku dilihatin banyak orang cuman karena aku berjalan di belakangmu untuk memegangi gaunmu itu. Berasa kaya bodyguard bukan suami!"
Kharel tidak sengaja kelepasan mengucapkan unek-uneknya yang dari tadi dia tahan. Ya, bagaimana tidak kesal. Seharusnya pengantin itu berjalan berdampingan saling bergandengan.
Berbeda dengan pasangan ini, Fayra berjalan di depan tanpa beban. Sementara Kharel malah menjadi bodyguard, yang harus memegangi gaun istrinya sepanjang mereka berada di depan kamar hotel.
"Oh, jadi kamu enggak ikhlas nolongin aku? Baiklah, tak masalah. Aku juga tidak akan ikhlas memberikan semuanya malam ini. Heump!"
Fayra mengangkat gaunya setinggi-tingganya, lalu mendekati koper dan mengambil pakaian lalu pergi ke arah kamar mandi tanpa menghiraukan panggilan suaminya.
Mata Kharel membola saat melihat paha mulus istrinya, karena saat ini keadaan Kharel sedang berjongkok untuk menyingkirkan sisa lilin.
Namun, setelah dia tersadar atas ucapan istrinya, Kharel langsung memekik keras dan bangun berlari mengejar istrinya.
"Yakk, Sayang! Enggak bisa begitu dong, ini 'kan malam kita masa iya aku harus berpuasa!"
Tok,tok, tok!
Kharel menggedor pintu cukup kerasa membuat Fayra sangat acuh, dia malah lebih fokus untuk mempersiapkan air di bath tube.
Rasanya badan Fayra begitu lengket dan juga lelah, mungkin dengan sedikit saja dia berendam, pasti akan membantu tubuhnya supaya terlihat lebih segar lagi.
"Sayang, jangan marah dong. Bukannya yang aku katakan itu fakta? Yang aku tahu, seharusnya pengantin itu berjalan saling berdampingan berpegangan tangan? Sedangkan aku? Aku malah kaya jadi bodyguard kamu."
Kharel terus menggedor pintu, sambil membela diri bahwa dia tidak salah. Apa yang dikatakan memang kenyataan, akan tetapi Fayra tidak menggubrisnya. Dia memilih memejamkan matanya sambil menikmati tubuhnya yang sedang berendam.
"Aarghh, enak banget. Biarin aja dia mau gedor-gedor sampai pintu rusak atau mulutnya berbusa pun bodo amat. Aku tidak peduli, siapa suruh membantu istrinya segitu saja mengeluh!"
"Sedangkan aku aja udah berbulan-bulan membantu dia di kursi roda, tidak pernah mempermasalahkan itu semua. Huhh, dasar lelaki egois!"
__ADS_1
Fayra berbicara sambil bermain air layaknya seorang anak kecil yang sedang mandi. Sementara Kharel yang sudah lelah dan mendengar suara air langsung membanting tubuhnya di atas kasur yang baru saja dia bersihkan.
Ada ya orang baru menikah di kasih kesan yang romantis ini malah ribut, seakan-akan mereka sangat risih dengan semua penampilan kamar yang tidak terbiasa. Karena ketika Fayra menikah pun dia tidak mendapatkan perlakuan spesial seperti saat ini.
*
*
Sudah hampir 45 menit Fayra tak kunjung keluar dari kamar mandi, membuat Kharel sangat jenuh untuk menunggunya.
Kharel hanya bisa bolak-balik memainkan ponselnya, sambil membuka jas serta menaikan lengan kemejanya seatas sikut tetap saja Fayra belum keluar.
Akhirnya Kharel duduk di tepi ranjang dengan wajah melasnya sambil merengek bagaikan anak kecil.
"Sayang, maafkan aku. Aku salah, masa iya di hari yang bahagia ini kita marahan sih. Terus kapan kita buat De---"
Ceklek!
Pintu kamar mandi terbuka lebar bersamaan keluarnya Fayra menggunakan piyama tidurnya, dengan rambut yang dililit oleh handuk kecil dan aroma wangi sabun tercium dari hidung Kharel.
"Sa-sayang? Ka-kamu marah sama aku?" tanya Kharel, matanya berkaca-kaca saat melihat Fayra acuh tak acuh padanya.
Namun, ketika Fayra sedang berdiri di depan cermin, seketika Kharel langsung berlari berhamburan memeluk istrinya dari belakang. Tangan Kharel melingkar di perut istrinya, lalu menempelkan dagunya di pundak Fayra sebelah kanan.
"Sayang, ma-maafkan aku. Aku salah, aku janji enggak begitu lagi. Selama ini kamu sudah membantuku ketika aku masih sakit dan duduk di kursi roda tanpa mengeluh sedikitpun. Sementara aku?"
"Baru juga aku melakukan hal kecil itu, udah banyak mengeluh. Sekali lagi maaf, Sayang. Kamu boleh hukum aku, tapi jangan mendiamiku seperti ini. Aku enggak mau, aku enggak suka!"
"Pokoknya aku mau, kamu marahin aja aku dengan semua perkataan kasarmu itu, kalau perlu pukul aku sekeras-kerasnya. Aku tak masalah,"
"Asalkan jangan diam seperti ini, sakit rasanya melihat kamu tidak mau membuka suara. Berasa aku ini sudah tidak pent---"
Cup!
__ADS_1
Satu ciuman mendarat tepat di pipi kiri Kharel yang membuat Kharel menghentikan ucapannya, lalu matanya membola dan refleka langsung menoleh kearah Fayra.