Learn to Love You

Learn to Love You
Kekhawatiran Fayra Pada Ace


__ADS_3

Andrew hanya bisa duduk dikursi tunggu, untuk menunggu mertuanya yang sedang menemui istrinya. Rasanya Andrew ingin sekali masuk kedalam agar bisa menemani Alena, dan juga meminta maaf atas semua sikap prilaku buruknya.


Namun, apa daya. Andrew paham ini akan berat untuknya kembali merebut hati istri beserta kedua mertuanya. Mereka semua terlihat begitu kecewa padanya, atas kejadian yang menimpa anak dan istrinya.


...*...


...*...


3 hari berlalu, Fayra dan semua sahabatnya baru saja mendengar kabar buruk yang terjadi pada keluarga kecil Alena. Mereka tidak menyangka bahwa Alena akan bernasib setragis itu.


Mereka hanya bisa berharap jika Alena dan Andrew bisa diberikan kekuatan dalam menghadapi semua ujian bahtera rumah tangganya. Apa lagi, Alena pasti dia akan merasa sangat bersedih ketika mengetahui bahwa anaknya sudah tiada.


Fayra dan para sahabatnya bersepakat untuk mengunjungi Alena dirumah sakit, tepat disore hari setelah semuanya sudah menyelesaikan tugasnya.


Saat ini Fayra sedang bersiap-siap sambil menunggu Arsyi menjemputnya, setelah menjemput Nata dan juga Sheila. Kali ini semua wanita pergi menggunakan mobil Arsyi, sedangkan para pria menggunakan kendaraannya masing-masing.


Didalam mobil Arsyi, semua wanita sudah mengumpul. Dimana ternyata para pria telah sampai lebih dulu di halaman rumah sakit.


"Ini Eric ngasih tahu, katanya mereka sudah sampai dirumah sakit dan nunggu kita di pintu masuk." ucap Arsyi, menatap semua sahabatnya secara bergantian.


"Ya sudah, jika mereka mau masuk duluan biarkan saja nanti kita nyusul." sahut Fayra sambil menatap ponselnya.


"Mereka maunya bareng sama kita, kalau mau pun mereka sudah dari tadi masuk kedalam." jawab Nata, menatap kaca kecil melihat riasan wajahnya.


Fayra terlihat begitu gelisah saat menatap ponselnya, karena seharian ini Fayra tidak mendapatkan kabar tentang suaminya.


Rasa cemas penuh kekhawatiran mulai melanda perasaan Fayra, jantungnya memompa cukup cepat membuat Fayra menjadi tidak tenang. Beberapa kali Fayra duduk dalam keadaan gelisah, sehingga membuat sahabatnya menaruh curiga padanya.


"Raa, lu enggak apa-apa kan? Kok, gua liatin kayanya lu gelisah banget. Apa ada masalah?" tanya Sheila, bingung.


"Hem, e-enggak kok. A-aku enggak apa-apa hehe ...." jawab Fayra berusaha menutupi kekhawatiran tentang Ace, suaminya.

__ADS_1


"Gua kenal lu bukan hari ini, Raa. Jadi ketika lu ada masalah, wajah lu itu enggak bisa menutupi semuanya." jawab Sheila, kesal.


"Lagi pula kalau lu enggak ada apa-apa, kenapa suaranya terbata-bata begitu?" ucap Nata, heran.


"Bener tuh, kita kan bersahabat udah lama, Raa. Masa iya masih mau rahasia-rahasiaan kaya gini sih, apa lu udah enggak nganggep kita lagi?" tanya Arsyi membuat Fayra terkejut dan juga bingung mau menjawab apa.


"Pasti lu lagi berantem sama Ace ya?" tanya Nata, spontan.


"Benar itu, Raa?" sahut Sheila dan Arsyi bersamaan.


"Eee ...."


"Jujur aja sih, Raa. Ngapain sih harus bohong sama kita, udah kaya sama siapa aja!"


Fayra menundukkan kepalanya sekilas, lalu kembali mengangkatnya dan berkata. "Ini cuman masalah kabr aja sih, soalnya seharian ini Ace enggak ada kabar. Aku udah coba hubungin dari mulai telepon, chat, video call pokoknya semuanya deh, tapi ya enggak ada balasan sampai detik ini."


"Ponselnya aktif 'kan?" tanya Arsyi, penasaran.


"Tenang, Raa. Tenang! Gua yakin Ace baik-baik aja, kemungkinan dia lagi sibuk sama kuliahnya kan. Apa lagi lu tahu jarak dari sini kesana itu jauh banget, pasti ada perbedaan jam yang cukup jauh. Jadi lu enggak usah cemas begini." nasihat Arsyi, sambil memegang tangan Fayra yang ada disampingnya.


"Gua tahu lu khawatir sama Ace, tapi lu harus bisa ngendaliin semua pikiran jelek tentang suami lu. Ingat, doa yang buruk akan cepat terkabul dari pada doa baik yang harus melewati semua proses!" sambung Sheila.


"Gua yakin Ace itu akan baik-baik aja, Raa. Dia kan sangat mencintai lu, enggak mungkin kalau dia punya wanita lain." celetuk Nata, polos.


"Nata!" bentak Arsyi dan Sheila bersamaan.


"Yakk, apaan sih! Kenapa kalian malah ngebentakku? Ada yang salahkah sama ucapanku!" sahut Nata, kesal.


"Jelas salahlah, lu tuh kalau ngomong coba deh diayak dulu! Disini kita enggak membahas masalah cewek ya, tapi kenapa lu malah nambah-nambahin kekhawatiran Fayra!" bentak Arsyi, matanya membola besar menatap Nata.


"Bisa enggak sih, Nat. Lu tuh coba tenangi Fayra, jangan malah nambahin beban pikirannya. Dia itu khawatir suaminya kenapa-kanapa bukan karena ada apa-apa, paham!" tegas Sheila.

__ADS_1


Nata yang mulai menyadari ucapannya berhasil membuat Fayra terlihat semakin cemas langsung meminta maaf, karena dia tidak sengaja untuk berkata seperti itu.


Maksud tujuan Nata mengucapkan itu, karena Nata hanya mau meyakinkan Fayra kalau Ace itu hanya miliknya dan akan selalu jadi miliknya.


Namun, perkataan Nata malah menjadi bumerang didalam hati dan juga pikiran Fayra. Meskipun dia berusaha tetap tenang, tetapi didalam hatinya Meera rasanya ingin sekali terbang ke Amerika. Dia mau memastikan semuanya, kalau Ace benar-benar menuntut ilmu bukan bermain dibelakangnya.


"Raa, ma-maafin gua ya. Gu-gua enggak ada maksud berbicara seperti itu sama lu, gua cuman---"


"Gapapa, Nat. Terima kasih kamu udah yakin kalau Ace tidak akan mengkhianatiku, aku harap semoga semuanya baik-baik aja, jika sampai besok tidak ada kabar. Daddy pasti akan segera menyuruh seseorang untuk mengecek keadaan Ace."


Fayra berusaha tersenyum didepan sahabatnya, meskipun matanya sudah berkaca-kaca. Fayra tetap mencoba untuk terlihat baik-baik saja, agar semua sahabatnya tidak akan ikut merasakan kecemasan sepertinya.


"Udah jangan didengerin ucapan tuh bocah, gua yakin hubungan lu sama Ace akan baik-baik aja. Percaya sama gua!" ujar Arsya terus memegang tangan Fayra, memberikan kekuatan untuknya.


Fayra hanya bisa tersenyum dan tersenyum, walau hatinya menangis mengkhawatirkan kabar tentang suaminya yang tidak ada kabar sama sekali.


...*...


...*...


Sesampainya di rumah sakit, mereka berempat turun dari mobil secara perlahan. Kemudian berjalan mendekati pintu utama, dimana semua pria sudah menunggu kedatangan mereka 20 menit yang lalu.


"Tumben lama?" tanya Eric.


"Lu kata jalanan Nenek moyang lu, namanya jalan milik bersama ya pasti macetlah. Apa lagi ini jam-jam orang pulang kerja," sahut Arsyi kesal mendengar pertanyaan konyol dari pria yang dia cintai.


"Udah, udah! Jangan pada ribut, ayo masuk!" ucap Louis, langsung merangkul tunangannya.


Semua pun ikut berjalan mengikuti Louis, dimana hanya dia yang bisa menebar kemesraan, sementara yang lain hanya bisa berjalan bagaikan seorang bodyguard.


Begitulah nasib pria ketika memiliki wanita yang sangat galak, sehingga sedikit saja mereka menyenggol singa betina yang sedang tertidur maka raungannya akan membuat mereka menjadi ma*ti kutu.

__ADS_1


__ADS_2