
Namun, saat Fayra sudah berhasil melepaskannya semua rasa traumanya. Kini membuah hidupanya bisa semakin lebih baik dari sebelumnya. Tidak ada lagi rasa gemetar, ketakutan, gelisah dan juga kebencian yang ada didalam hati Fayra.
Yang ada hanya kebahagiaa, kelegaan dan juga senyuman. Karena semakin hari berlalu semakin membuat Fayra akan semakin dekat dengan tujuannya, yaitu bertemu dengan suaminya.
...*...
...*...
...Amerika...
Pagi hari, tepatnya di jam pelajaran ke-1 Ace sedang mengerjakan tugas yang diberikan oleh dosen. Sementara sang dosen harus meninggalkan kelas sebelum pelajaran selesai, lantaran dia ada keperluan mendadak.
Sebagian mahasiswa/i sudah ada yanh meninggalkan kelas untuk mencari kesenangannya tersendiri, ada juga yang masih setia di dalam kelasnya. Contohnya Ace dan Freya.
Mereka berdua masih tetap setia didalam kelasnya bersama dengan beberapa mahasiswa/i lainnya. Mereka bertahan cuman demi mengerjakan tugas, yang harus dikumpulkan hari ini juga di ruangan sang dosen.
Namun, disaat Freya sedang fokus mengerjakan soal yang sangat menguras pikirannya. Sehingga membuat Freya sedikit lelah. Apa lagi hari ini Freya melewatkan sarapannya, akibat dia sedikit kesiangan.
"Ssttt, huhh. Tenang, Freya. Tenang! Sedikit lagi bisa kok, habis itu kita baru ke kantin cari makan oke!"
Freya bergumam lirik sambil mencekram perutnya menggunakan tangan satunya, dan satunya lagi mencoba terus mengerjakan soal berikutnya.
Makin kesini wajah Freya semakin terlihat pucat, akibat dia menahan rasa lapar didalam perutnya. Belum lagi, Freya tahu jika dia itu memiliki riwayat penyakit lambung yang sudah cukup parah.
Jadi sekalinya dia telat makan, maka penyakit lambungnya akan langsung menyerangnya dengan senang hati tanpa diminta.
Merasa sudah tidak kuat lagi, Freya melepaskan pulpen tersebut dan memilih untuk memegangi perutnya dengan kedua tangannya karena rasanya begitu perih.
"Sstt, awwsshhh ...." keluh Freya.
__ADS_1
Ace mendengar suara yang sangat samar, langsung menoleh kearah sampingnya. Dimana Ace mengerutkan pelipisnya, melihat Freya terus memegangi perutnya.
"Ada apa dengan dia? Kenapa tingkahnya kek orang kesakitan gitu?" gumam batin Ace, bingung.
"Begitulah wanita, sok kuat tapi kenyataannya sangat lemah. Cih, memalukan!" sambung batin Ace, kesal.
Tanpa membantu serta menanyakan kepada Freya, Ace malah pergi begitu saja melewati Freya. Sedangkan Freya dia sedikit melirik kearah punggung Ace yang semakin menjauh.
Rasanya ingin sekali Freya meminta tolong kepada Ace untuk membelikan makanan serta obat untuknya, cuman rasa canggung di dalam hatinya menepis semua itu.
Freya tahu jika Ace tidak suka dengannya, jadi Freya berusaha keras untuk tidak mendekati Ace. Meski terkadang takdir yang mendekatinya, sama halnya seperti beberapa menit kedepan.
Dimana Freya sudah uring-uringan dengan rasa sakitnya, tiba-tiba seseorang membawakan kantung kecil yang berisikan minuman, makanan, serta obat yang Freya butuhkan.
Freya mendongak menatap seorang pria tampan dengan wajah datarnya, berhasil membuatnya terpanah.
ucapan pria tersebut berhasil mencolek hati Freya, lalu dia berjalan kearah kursinya tanpa menatap kearah Freya dan kembali mengerjakan tugasnya.
Freya memiringkan tubuhnya menatap kearah pria itu sambil berkata. "Ma-makasih Ace, maaf ji-jika aku sudah menyusahkanmu."
"Enggak usah banyak ba*cot! Mending lu makan sebelum ajal menjemput lu hari ini juga!" geram Ace, tanpa menoleh kearahnya.
Freya tersenyum kecil, meskipun ucapan Ace selalu mencubit hatinya. Tetapi Freya sudah bisa menebak, dibalik sikap Ace yang seperti itu terdapat hati yang baik. Hanya saja, hati tersebut diselimuti oleh keangkuhannya.
Kok bisa Ace memberikan perhatian lebih kepada Freya, layaknya seperti memiliki perasaan kepadanya.
Padahal bukan itu, Ace melakukan semua itu bukan semata-mata dia menaruh hati pada Freya. Melainkan dia seperti melihat sosok Fayra didalam dirinya.
Freya dan Fayra adalah 2 nama yang hampir mirip, bahkan sikapnya pun benar-benar sama. Walau 2 nama dan sifat yang sama, tetapi mereka adalah 2 orang yang berbeda dan tidak bisa disamakan begitu saja.
__ADS_1
Perlahan Freya mulai mengambil minuman, lalu minumannya terlebih dahulu. Kemudian memakan makanan yang sudah Ace belikan.
Setelah makanan tersebut keluar dari tas kecil, mata Freya membola besar ketika makanan tersebut merupakan makanan yang sangat Freya sukai.
Entah itu keberuntungan, kebetulan atau memang beberapa hari ini Ace mulai mencari tahu tentang dunia Freya.
Selesai mengisi perutnya, Freya lagi-lagi terus mengucapkan terima kasih kepada Ace. Meski rasa sakit dan perihnya belum sepenuhnya ilang, cuman sekarang sudah jauh lebih baik. Mungkin hanya tinggal menunggu proses obatnya bekerja saja.
"Ace, makasih ya sudah mau menolongku. Ohya, semua ini jadi berapa? Biar aku gantikan uangmu, takutnya uangmu habis karena aku. Jadi aku tidak enak kalau harus memiliki hutang pada orang lain." ucapan Freya berhasil membuat Ace, melirik kearahnya dengan tatapan tajam.
"Lu kira dengan gua beliin lu makanan kaya gitu, hidup gua bisa langsung jatuh miskin gitu? Cih, kalau perlu gua juga bisa beli sekolah ini. Jadi jangan sok royal jadi cewek, jajan masih minta orang tua aja belagu!" sahut Ace, dingin.
"Bu-bukan be-begitu maksudku Ace, ka-kamu salah paham loh. Aku berbicara seperti ini bukan berarti aku merendahkanmu, cuman aku enggak enak aja kamu udah baik sama aku tapi akunya enggak tahu diri." jawab Freya berusaha tenang, dan berbicara selembut mungkin.
"Terserah lu. Gua mau balik!" tegas Ace,
segera merapikan semua alat tulisnya.
Ace langsung bergegas melangkahkan kedua kakinya, pergi meninggalkan kelas dalam keadaan tas menyangkut di lengan kanannya.
Untungnya hari ini kelas mereka hanya ada 1 pelajaran, jadinsetelah selesai Ace segera pergi ke ruangan dosen hanya untuk menaruh tugas yang sudah dia kerjakan.
Berbeda dengan Freya, wajahnya terlihat begitu sedih ketika Ace tanpa sengaja mengungkit tentang kedua orang tuanya.
"Andaikan kamu tahu Ace, nasibku tidak sebagus nasibmu. Mungkin kamu tidak akan berkata seperti itu, aku bukan wanita yang mengandalkan semuanya kepada orang tua. Tapi, aku bisa sampai di negeri ini semua berkat usahaku sendiri." gumam batin Freya.
Bulir-bulir air mata perlahan terjatuh, bersamaan dengan itu Freya segera menangkisnya. Lalu menghapus air matanya secara kasar sambil terus mengukir senyuman.
Hanya beberapa menit, Freya sudah selesai mengerjakan tugasnya dan mebawanya ke ruang dosen untuk dikumpulkan. Disaat urusan sudah kelar, Freya pun pulang ke rumah dengan perasan yang sedikit kurang baik.
__ADS_1