
Fayra tertawa saat melihat wajah suaminya kesal, ya memang selama ini Kharel begitu geli ketika dia dipanggil dengan sebutan Daddy.
Namun, ketika dia dipanggil Ayah. Maka wajahnya kembali sumringah layaknya anak kecil yang dikasih permen. Kemudian mereka pun pergi ke arah ruko es krim tersebut dengan wajah bahagianya.
Sebenarnya Kharel khawatir akan kondisi kesehatan Fayra. Cuman mau bagaimana lagi, jika semakin di larang maka Fayra akan semakin bersedih dan itu bisa kembali membuatnya drop. Apa lagi untuk berjalan aja Fayra tidak kuat, jadi dia harus menggunakan kursi roda supaya tidak semakin membuatnya kelelahan.
Sesampainya di sana, Fraya langsung memesan es krim dengan perasaan yang begitu bahagia. Sementara Kharel, dia hanya tersenyum saat istrinya begitu antusias untuk memesan es krim yang ada di daftar menu.
Setelah itu mereka pergi ke arah meja yang cukup panjang, sambil menunggu es krim yang Fayra pesan datang. Di sini Kharel tidak memesan apapun, dia hanya sekedar menemani istrinya yang sedang mengidam.
Namun, ada satu hal yang membuat Kharel terkejut. Ketika seorang pelayan membawakan nampan yang berisikan beberapa cup es krim, membuat dia begitu syok.
Sementara Fayra, dia malah terlihat begitu bahagia ketika menatap berbagai macam es krim ada di hadapannya.
Berbagai macam bentuk, warna dan juga toping sudah berada di depan Fayra. Dia hanya tinggal memakannya satu persatu untuk mencicipi semua rasa yang ada disini.
Ini hanya sebagian yang di keluarkan oleh pelayan tersebut, setelah es krim ini habis maka mereka akan mengeluarkannya kembali. Semua itu bertujuan supaya es krim tidak akan lumer.
Nyam, nyam, nyam ...
Fayra terlihat begitu menikmati semua es krim yang ada di hadapannya. Hampir semua rasa masuk dalam satu mulut dengan mencampurkannya, terlihat benar bahwa Fayra begitu lahab untuk memakannya.
"Ka-kapan kamu memesan es krim sebanyak ini? Bu-bukannya tadi kamu hanya menunjuk satu menu?" tanya Kharel.
"Ya memang aku menunjuk satu menu, tetapi itu menu spesial yaitu semua rasa es krim yang ada di toko ini hehe ...."
__ADS_1
Degh!
Kharel sangat syok saat istrinya mengatakan hal yang tidak pernah dia sangka, kirain Fayra hanya memesan 1 atau 2 menu es krim. Cuman ya benar dia hanya memesan 1, tetapi satu toko dia pesan tanpa adanya rasa beban.
Melihat cara makan istrinya, membuat Kharel pun hanya bisa menelan air liurnya dengan kasar tanpa bisa berkata apa-apa lagi.
Di atas meja terdapat 20 cup es krim kurang lebih, semua bisa ludes tak tersisa hanya dengan hitungan 25 menit.
"Sa-sayang, pe-perutmu aman? Dedeknya enggak kenapa-kenapa di dalam, 'kan?" tanya Kharel, wajahnya terlihat begitu cemas.
"Aman, Kak. Tenang aja, bahkan dia mau lagi hehe ...."
Fayra tertawa cekikikan membuat suaminya benar-benar terlihat syok, sampai akhirnya Fayra kembali memanggil pelayannya untuk membawakan sisanya.
"Sayang, udah cukup ya. Kamu lihat deh, kamu menghabiskan 20 cup es krim seorang diri. Terus sekarang, kamu masih mau nambah lagi?"
"Astaga, Fayra! Please deh, jangan nyiksa anakku seperti ini. Atau nanti anak kita bisa--"
"Bi-bisa apa, Kak? A-anak kita baik-baik aja kok, di-dia aman-aman aja. Malahan di-dia merasa senang karena bisa menikmati manis, dingin dan juga segarnya es krim."
"Bagaimana nanti, kalau kamu minta pesawat pribadi. Apakah dia akan marah juga? Pasti iya, karena 'kan harga es krim sama pesawat beda jauh. Huhh, kalau gini itu artinya Ayahmu tidak say--"
"Ahhya, i-itu es krimnya datang yeyy! Ayo dimakan yang banyak Sayang, kalau perlu satu toko aku beliin juga gapapa biar kamu dan Baby senang. Uluhh, uluhh tayangnya Ayah sehat-sehat ya jangan nakal!"
Kharel yang sudah melihat mata istrinya berkaca-kaca segera mengalah, semua ini demi mood Fayra agar tetap stabil dan tidak selalu merasa sedih.
Saran dari dokter harus Kharel jalani, agar Kharel bisa selalu menjaga mood istrinya supaya tidak sampai drop kembali.
"Tuhkan, masa Bunda di suruh makan es krim setoko sama Ayah sih? Nanti kalau Bunda kenapa-kenapa, terus kena diabetes gimana? Pasti nanti Baby juga ikut kena 'kan? Itu artinya Ayah jahat dong sama kita?"
Fayra berbicara sambil mengusap perutnya, dimana matanya sudah mulai berkaca-kaca lalu menatap Kharel.
__ADS_1
Tak lama pecahlah isak tangis Fayra membuat seisi toko menjadi terkejut. Cuman, yang lebih anehnya lagi, Fayra menangis sambil memakan es krimnya karena dia tidak tahan jika harus membiarkannya meleleh dengan sendirinya.
"Huaa, hiks ... Ayah jahat ya, masa kita mau di buat diabetes. Padahal 'kan tanpa pemanis pun kita sudah manis, yakan Sayang? Uhhh, hiks ...."
Aksi gemas istrinya membuat Kharel hanya bisa menepuk dahinya, dia terlihat begitu frustasi ketika menghadapi semua kesuliatan Bumil yang aneh ini.
Ketika di larang, Fayra tidak terima. Sementara dia membolehkannya, Fayra malah menganggap jika Kharel adalah Ayah yang jahat dan tidak merasa kasihan terhadapnya.
"Ternyata Ayahmu tidak sayang sama kita ya, Baby. Dia malah menyuruh Bunda makan es krim yang banyak, padahal itu 'kan tidak baik buat kesehatan."
"Apakah Ayahmu itu tidak berpikir sampai ke situ? Astaga, benar-benar ya. Ayahmu itu sangat menyebalkan, tahu sendiri Bunda baru keluar dari rumah sakit malah mau di buat sakit lagi. Enggak ada akhlak emang, dasar Ayah tidak pengertian. Hump!"
Lagi dan lagi, Kharel yang terkena imbasnya. Jelas-jelas dia sudah menahan Fayra agar tidak berlebihan memakan es krim, akan tetapi Fayra malah meraung-raung bagaikan singa betina yang sedang marah. Lantas sekarang ketika di bolehin, Fayra malah menuduhnya yang tidak-tidak.
"Huhh ... Tenang, Kharel. Tenang! Ini semua ujian untukmu, ingat apapun yang dilakukan Ibu hamil ataupun wanita PMS itu sama. Sedikit saja kamu salah dalam berbicara, maka kamu pula yang akan kena getahnya. Nasib-nasib, kalau begini caranya bisakah aku yang menggantikan dia saja untuk mengandung?"
Kharel berbicara di dalam hati kecilnya, sambil menatap Fayra yang sudah mulai menikmati es krimnya kembali. Senyuman kecil Kharel ukir ketika Fayra membalas tatapannya.
Namun, dia terkejut saat apa yang ada di dalam isi hatinya Fayra bisa langsung mengetahuinya. Wajah Kharel yang awalnya tersenyum, kini langsung berubah drastis.
"Kenapa menatapku seperti itu? Kamu iri lihat aku hamil? Apa kamu ingin menjadi sepertiku yang hamil? Ya sudah kita tukeran aja gimana. Aku juga enggak mau hamil, karena yang aku tahu ketika orang hamil itu pasti akan melahirkan bukan?"
"Nah, wanita yang melahirkan itu akan merasakan rasa sakit yang sangat luar biasa. Dimana daerah kewani*taannya akan robek begitu lebar untuk jalan keluarnya si Baby. Dan Kakak tahu?"
"Behh, rasanya seperti tulang belulang Kakak semuanya remuk menjadi satu. Ditambah lagi Kakak akan melihat cairan merah mengalir deras dari arah kema*luan. Kemudian dokter akan memberikan beberapa suntikan yang masuk ke dalam tubuh, dan--"
"Yaakkk ... Stop, stop, stop! Hentikan semua perkataanmu itu, aku sudah tidak mau mendengarnya lagi!"
Kharel menggelengkan kepalanya begitu cepat, kedua tangannya pun menutup kupingnya rapat-rapat. Sementara Fayra dia terkekeh tanpa suara saat melihat wajah suaminya begitu menggemaskan.
Sebenarnya Fayra sendiri yang mengatakannya merasa takut, tetapi dia sangat senang ketika menjahili suaminya sendiri.
__ADS_1
"Loh, kenapa? Bukannya Kakak tadi sempat kepikiran mau menjadi seorang wanita, belum jika tiap bulan harus menghadapi datang bulan yang sangat menyakitkan, di tambah---"
Kharel yang sudah tidak mau mendengar langsung saja menyumpel mulut istrinya menggunakan es krim yang ada di hadapannya, sampai dia berhenti berbicara mengenai perihal perempuan.