
Namun, siapa sangka. Ternyata Fayra juga mengatakan hal yang sama tentang ketidak sengajaannya mengintip kedua orang tuanya sendiri yang sedang melakukan kemesraan diatas ranjang.
"Ini semua gara-gara kamu, makannya kalau mau main itu cek dulu pintunya, udah dikunci atau belum. Jangan asal main aja, udah kaya kucing kampung doyan kawin!" bisik Mommy Rosa, kesal.
"Aku lagi yang disalahin? Ada juga kamu! Kenapa disetiap jam 9 keatas pintu tidak di kunci. Bukannya kamu sudah tahu, setiap jam segitu aku selalu minta jatahku,"
"Tapi lihatlah sekarang, kecerobohanmu tanpa di sadari, malah membuka peluang untuk membuat live sama anak sendiri."
Daddy Gerry yang tidak terima, kembali menyalahkan istrinya sehingga mereka malah menjadi ribut dan saling menyalahkan satu sama lain.
"Astaga, kenapa kalian malah ribut sih! Terus ini bagaimana acara membuka segelnya, Ace juga masih belum paham cara menggunakan alat itu!" sahut Ace, penasaran.
"Bodo amat!" Mommy Rosa yang sudah kesal sama suaminya, langsung pergi begitu saja tanpa memberikan penjelasan.
"Ini semua gara-gara ulahmu! Coba kalau kamu tidak menceritakan semuanya, pasti jatahku akan tetap aman!" pekik Daddy Gerry, langsung mengejar istrinya.
"Sayang, tunggu! Aku minta maaf, ya aku tahu aku salah. Tapi, jangan potong jatahku!" teriak Daddy Gerry, sudah menaiki anak tangga menyusul istrinya yang saat ini sudah masuk ke dalam kamarnya.
Ace dan Fayra yang melihat aksi pasangan itu membuatnya bingung, padahal mereka tidak melakukan apa pun. Tetapi, malah berhasil membuat pasangan itu berantem.
"Bunny, memangnya apa yang salah dengan kita? Terus, tadi jatah? Jatah apa yang selalu Mommy kasih sama Daddy, kenapa saat jatah itu di potong. Daddy terlihat begitu gelisah?" ucap Fayra, sangat polos.
"Entahlah, aku juga bingung. Jatah apa yang Daddy inginkan dari Mommy." jawab Ace.
"Terus ini bagaimana, Bunny. Apa kita tunda saja buka segelnya?" ucap Fayra, membuat Ace menoleh sambil melototkan matanya.
"Yak, jangan! Enak saja main tunda-tunda. Pokoknya nanti malam kita harus buka segel, titik!" pekik Ace, antusias.
"Memangnya Bunny udah tahu cara menggunakan alat itu? Terus bagaimana cara membuka segelnya?" tanya Fayra.
"Tenang, Honey. Kita serahkan semuanya sama google. Kita juga bisa nonton film biru kok, jadi ayo kita ke kamarku." ucap Ace, tersenyum bahagia.
Ace berdiri dari kursinya lalu menjulurkan tangannya dan tanpa menunggu lama, Fayra langsung memegang tangan suaminya.
Kemudian mereka berjalan kearah kamar Ace, tak lupa membawa kantung plastik tersebut.
Didalam kamar, Ace langsung mengambil laptopnya dan menaruhnya di depan mereka berdua.
__ADS_1
Dimana Ace mengetikkan sesuatu yaitu, (Bagaimana cara menggunakan sutra yang baik dan benar).
Fayra dan Ace membaca beberapa petunjuk, bahkan mereka menyentel video yang ada di Youtobe sampai akhirnya video itu diputar, mereka malah asyik tertidur dalam keadaan laptop masih menyala.
...*...
...*...
Dijam makan malam, suasana hati Daddy Gerry dan Mommy Rosa sudah mulai membaik. Bagaimana tidak, orang Daddy Gerry terlalu pintar membuat istrinya menjadi luluh.
Saat ini mereka berempat sedang menikmati menu makan malam bersama dalam keadaan tenang.
"Daddy sama Mommy sudah baikan?" tanya Fayra, sambil makan.
"Hehe, ya dong. Mana mungkin kami berantem lama-lama, ya kan Sayang?" jawab Mommy Rosa tersenyum menatap suaminya.
"Hem ...." Daddy Gerry hanya berdehem sambil meneruskan makan malamnya.
"Berarti jatah Daddy aman dong, enggak di potong sama Mommy?"
Satu kalimat tersebut berhasil membuat Mommy Rosa langsung menjatuhkan sendok ditangannya. Begitu juga Daddy Gerry yang tersedak begitu saja.
Fayra segera memberikan air minum kepada Daddy Gerry, terlihat jelas diwajah Fayra dan Ace mereka sedikit bingung.
Kenapa kalimat jatah bisa membuat Mommy Rosa terdiam mematung sambil melototkan matanya, sedangkan Daddy Gerry malah tersedak. Padahal dia makan begitu hati-hati.
"Daddy gapapa, kan?" tanya Fayra yang sudah duduk di kursinya.
"A-apa ka-kalian tahu te-tentang jatah?" tanya Daddy Gerry, gugup.
"Tidak!" jawab Fayra dan Ace bersama-sama.
"Syukurlah!" sahut Mommy Rosa dan Daddy Gery, merasa begitu lega.
"Memangnya jatah apa yang selalu Mommy kasih buat Daddy? Siapa tahu kan Ace juga bisa memintanya sama Fayra." tanya Ace, tanpa rasa bersalah.
"Eee, i-itu. Eee, a-anu ...." Mommy Rosa begitu gelisah, dia tidak tahu harus menjawab apa lagi.
__ADS_1
"Ekhem, ba-bagaimana a-apa ka-kalian sudah tahu cara menggunakan pengaman itu buat nanti malam?" Daddy Gerry, mencoba mengalihkan pertanyaan Ace, agar tidak membuat istrinya menjadi gugup.
"Sudah dong, tadi siang kami sudah mencari tahu manfaat dan juga cara memakainya. Tinggal kami peragakan saja, ya kan Honey?" ucap Ace begitu percaya diri.
"Ya Bunny, tapi kita mau buka segel jam berapa ya? Terus Daddy sama Mommy juga nanti malam mau buka segel jam berapa? Apa kita bisa ikutan, siapa tahu kan kita bisa belajar dari yang sudah berpengalaman ya kan, Bunny?"
Perkataan Fayra lagi dan lagi selalu membuat jatung kedua mertuanya menjadi tidak sehat, rasanya mereka ingin pergi sejauh mungkin untuk menghindari pertanyaan anak dan menantunya.
Apa lagi anak serta menantunya terlihat begitu polos, tetapi mereka seolah-olah sudah sangat paham dengan apa yang akan mereka lakukan nanti malam.
"Astaga, ka-kami ha-habis i-ini ada urusan di luar rumah. Ja-jadi ka-kalian buka segel sendiri aja ya! Ayo Mom kita siap-siap takut nanti terlambat, tidak enak juga sama yang lain." ajak Daddy Gerry memegang tangan istrinya.
Kemudian mereka berdua pergi begitu saja meninggalkan meja makan menuju kamarnya. Sedangkan Fayra dan Ace cuman bisa menatap satu sama lain, dalam keadaan bingung dan kembali melanjutkan makan malamnya.
Tak lama disaat Fayra dan Ace sudah selesai makan malamnya, kedua orang tuanya datang langsung berpamitan pada mereka dengan wajah yang sedikit memerah.
"Mommy dan Daddy pergi dulu ya, dahh ... Semoga sukses buka segelnya!" Mommy Rosa tergesa-gesa pergi bersama suaminya.
Seperginya kedua orang tua Ace, mereka berdua langsung pergi ke dalam kamar Ace. Dimana Fayra memang sudah bersepakat akan tidur bersama Ace didalam kamar yang sama.
"Bunny, memangnya kamu sudah tahu cara menggunakan alat itu? Bahkan cara membuka segel pun apa kamu benar-benar tahu?" tanya Fayra yang sudah duduk di pinggir ranjang.
"Tenang, Honey. Percayakan sama suamimu ini." jawab Ace begitu percaya diri.
"Baiklah, tapi pelan-pelan ya. Soalnya yang aku tahu saat pasangan baru menikah, terus mereka mau melakukan hubungan suami istri itu rasanya sakit banget. Belum lagi bisa membuat wanita lumpuh berhari-hari." jelas Fayra, sedikit khawatir.
"Honey enggak usah takut, adik Bunny tidak akan menyakiti Honey kok. Apa lagi dia itu masih sangat kecil, jadi amanlah. Berbeda jika seorang pria memiliki adik yang besar pasti akan sakit." jawab Ace, mencoba menenangkan istrinya.
"aku tidak percaya jika adik Bunny kecil, coba aku mau lihat!" ucap Fayra, spontan adanya tanpa rasa malu sedikit pun.
"Woke, Honey lihat ya. Ini, kecilkan?"
"Jadi Honey enggak perlu takut. Dia masih fress dan jinak kok, pasti tidak akan membuat Honey kesakitan seperti apa yang ada dipikiran Honey."
Ace membuka celananya dan menunjukkan kejantanannya, dimana mata Fayra menatapnya dengan intens. Baru kali ini Fayra melihat burung pipit yang sangat lucu.
"Astaga, Bunny. Kenapa bentuknya lucu banget, mengkerut begitu, huaa ... Gemes deh rasanya ingin pegang, boleh?" ucap Fayra, menyengir kuda.
__ADS_1
"Pegang aja, Honey. Ini juga kan milikmu hihi ...." sahut Ace sangat geli ketika wajah istrinya begitu gemas melihat adik kecilnya.
Namun saking gemasnya, Fayra malah menggenggamnya begitu kuat hingga membuat suaminya meringis kesakitan. Dan segera menyingkirkan tangan Fayra, kemudian mengembalikan burung pipitnya ke dalam kandangnya.