Learn to Love You

Learn to Love You
Trauma Freya


__ADS_3

Tanpa berlama-lama Ozzie segera melangkahkan kedua kakinya kembali ke Gramedia, disana dia langsung mencari buku tersebut karena hari sudah semakin larut. Setelah selesai dia kembali pulang ke rumah dalam keadaan masih setengah memikirkan Freya.


Ozzie Lucian Theophilus, adalah seorang mahasiswa tampan dengan usia 20 tahun. Ozzie juga merupakan ketua organisasi di Kampusnya, yang berperan penting sebagai ketua pelaksana semua acara di Kampus.


...*...


...*...


Didalam mobil, tepatnya sepasang kekasih tak berstatus sedang terdiam dalam keadaan hati yang sama-sama merajuk.


Dimana Ace merasa kesal karena melihat kedekatan Freya sama pria lain, entah perasaan apa Ace juga tidak tahu. Yang jelas dia hanya tidak suka jika Freya dekat-dekat dengan pria lain selain dirinya.


Sementara Freya begitu kesal, lantaran Ace berhasil mempermalukan dia ditempat umum dengan cara yang cukup membuat Freya kesakitan.


Freya terdiam dengan kedua mata menatap kearah samping melihat pemandangan yang sangat kosong, sesekali tangan kiri Freya memegangi serta mengusap pergelangan tangan kanannya yang masih terasa sakit.


Ace tidak sengaja melirik kearah pergelangan tangan Freya, hatinya merasa tidak enak ketika tangannya sudah menyakiti Freya.


Perlahan Ace mencoba menangkis semua gejolak amarah yang tidak bisa dia pahami. Setelah tenang, Ace mulai membuka suaranya untuk pertama kali memecahkan keheningan didalam mobilnya.


"Raa, gu-gua minta ma-maaf. Ka-karena gua ta-tangan lu sampai me-merah begitu, a-apa kita ke-ke rumah sakit aja bi-biar luka lu---"


"Enggak perlu, gua udah terbiasa seperti ini. Lebih baik lu fokus nyetir aja, gua masih pengen hidup!"


Degh!


Jantung Ace seketika terhenti untuk persekian detik, dan kembali bekerja dengan tempo yang tidak beraturan.


Keterkejutan terpampang jelas di wajah Ace, baru kali ini dia mendengar Freya mengatakan kata-kata yang cukup kasar baginya.


Lu, gua? Itu adalah kata-kata yang tidak pernah Freya ucapkan selama mereka kenal kurang lebih 1 bulan ini.


Ace yang mendengar nada Freya sudah mulai berbeda, segera menepikan mobilnya ditempat yang paling aman.

__ADS_1


Ciiittt!


Laju mobil Ace terhenti disebuah pinggir jalan yang cukup sepi. Hari yang semakin larut, tidak membuat Ace menggubris itu semua. Dia malah mengesampingkan masalah bahaya demi menyelesaikan masalahnya.


Freya menatap Ace dengan tatapan yang sangat datar, bahkan melebihi kedataran Ace saat ini.


"Gua mau pulang? Jadi jalankan mobilnya atau gua cari angkutan umum lainnya!" ucap Freya begitu tegas, dengan mata yang mulai memerah.


"Gua akan nganterin lu pulang, asalkan masalah kita selesai hari ini juga!" sahut Ace, lebih tegas dari Freya.


Freya terdiam dengan sorotan mata yang sangat berbeda, kali ini Ace bisa merasakan kesedihan yang mendalam didalam hati Freya ketika bola matanya seperti memberikan sinyal padanya.


Ace sangat yakin, Freya tidak akan mungkin berubah 180 derajat jika tidak ada sesuatu hal yang berhasil melukai hatinya.


Ya, memang Ace paham jika sikapnya yang tadi benar-benar sangat keterlaluan kepada seorang wanita.


Hanya saja dia juga tidak mengerti kenapa dia bisa seperti ini, padahal Ace mendekati Freya cuman karena Freya mirip dengan istrinya sehingga itu semua bisa mengobati sedikit kerinduannya.


Namun, semakin Ace dekati Freya malah semakin membuat perasaan Ace tidak karuan. Dia paham dia memang sudah mulai menyukai sosok Freya yang terkesan unik baginya, tetapi Ace juga sedang berusaha untuk mengendalikan serta menahan hatinya sekuat tenaga agar tetap mencintai istrinya.


"Raa, lu gapapa? Lu baik-baik aja 'kan? Apa kita langsung kerumah sakit aja ya!" ucap Ace penuh kecemasan saat melihat ekspresi Freya sangat menegangkan.


"Udah puas lu nyakitin gua, hahh? Udah puas! Sebenarnya lu itu siapa gua, hahh? Pacar? Tunangan? Suami? Bokap? Nyokap? Siapa!" teriak Freya begitu menggema didalam mobil, hingga Ace pun terkejut bukan main.


"Raa, lu-lu ke-kenapa? A-apa gu-gua se-seburuk itu di-dimata lu?"


"Ya, gua tahu Raa. Gua udah kasar sama lu, gua paham! Justru itu gua mau nyelesain masalah ini sekarang juga, gua minta maaf Raa. Gua minta maaf!"


Wajah Ace terlihat begitu panik bercampur ketakutan saat melihat keamaran Freya yang sudah mulai membesar. Ace mencoba menggenggam tangan Freya hingga ditepisnya untuk beberapa kali.


Tetapi Ace tetap berusaha memegang tangan Freya, sampai akhirnya dia berhasil memegang tangannya dua sekaligus.


"Lepasin gua, Ace lepasin! Ja-jangan sa-sakitin gua Ace, ja-jangan hiks ... Gu-gua mo-mohon Ace jangan sakitin gua!"

__ADS_1


Freya mencoba memberontak hingga mobil pun ikut bergoyang mengikuti pergerakan tubuh Freya.


Ace yang melihat ekspresi ketakutan didalam diri Freya membuatnya reflek melepaskan kedua tangan Freya. Setelah itu reaksi Freya benar-benar berhasil membuat tanda tanya besar didalam pikiran Ace.


"A-ada ap-apa dengan dia? Ke-kenapa terlihat seperti memiliki trauma yang cukup besar pada kekerasan? A-apa gara-gara pe-perlakuan gua tadi?" gumam batin Ace.


"Hiks, a-ampun A-ayah a-ampun hiks. Fre-freya ja-janji Fre-freya tidak akan nakal lagi, Fre-freya akan nu-nuruti se-semua ke-kemauan Ayah, ta-tapi ja-jangan sakiti Freya Ayah. Freya mohon, hiks ...."


Freya meringkukkan tubuhnya dalam keadaan duduk memojok dengan kedua tangan menutupi wajahnya dan kedua kakinya terangkat naik diatas kursi mobil.


Mendengar teriakan pilu yang keluar dari bibir Freya, membuat Ace langsung mengerti. Ternyata perlakuan kasarnya tadi seperti mengundang semua kejadian trauma yang dia alami bersama orang tuanya.


Semua ingatan Freya dari umur 7 tahun terus berputar didalam kepalanya. Sudah hampir 2 tahun ini, Freya berusaha keras menangkis serta menghilangkan semua bayangan gelap itu, tetapi nihil. Semakin dia mencoba untuk menghilangkan, maka semakin terlihat jelas didalam ingatannya.


Kondisi Freya yang semakin memburuk ini membuat Ace merasa cemas, bahkan kondisi Freya mulai melemah saat napasnya terdengar seperti orang yang memiliki penyakit asma.


Tanpa berpikir panjang, Ace segera melajukan mobilnya secepat mungkin menerobos jalanan yang sangat sepi.


Sesekali Ace melirik kearah Freya yang tubuhnya semakin melemah dalam keadaan wajah begitu pucat dan napasnya kian terdengar melengking. Pertanda bahwa Freya hampir kehabisan napas akibat dadanya yang teras sangat sesak.


"Bertahanlah, Raa. Gua mohon bertahanlah, sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit! Gua enggak akan ngebiarin lu kenapa-kenapa, gua janji Raa. Gua janji!"


Ace berbicara dalam keadaan cemas menatap wajah Freya bagaikan menatap wajah istrinya sendiri.


Bayangan akan beberapa tahun lalu kembali mengingatkan Ace tentang istrinya, yang pernah mengalami koma akibat perbuatannya.


Disinilah Ace merasa sangat bersalah, dia melupakan semua nasihat istrinya kalau Fayra, selalu berpesan untuk tidak lagi menyakiti seorang wanita apapun alasannya.


Namun, yang lebih parahnya lagi Ace malah melupakan akan janjinya kepada Fayra. Jikalau dia sampai mengkhianati istrinya maka dia harus siap menerima semua konsekuensinya, tanpa adanya kesempatan. Sesuai dengan perjanjian mereka berdua ketika Ace belum berangkat ke Amerika.


Tak butuh waktu lama Ace sudah sampai disebuah rumah sakit yang sangat mewah. Dia langsung menghentikan mobilnya, keluar lalu berlari untuk menggendong Freya supaya bisa segera ditangai oleh dokter.


Para petugas yang berjaga di loby rumah sakit bergegas menolong Ace, dan menaruh tubuh lemah Freya diatas bangkar. Kemudian mereka mendorongnya dengan cepat kearah ruangan UGD.

__ADS_1


Disana Ace harus menunggu di luar ruangan tanpa diperbolehkan masuk untuk menemani Freya, sedangkan sang dokter akan berusaha keras supaya bisa membuat keadaan Freya kembali stabil.


__ADS_2