
Mommy Rosa begitu kesal dengan sikap suaminya yang akhir-akhir ini seneng sekali membuatnya pusing. Akan tetapi, Mommy Rosa memang sudah mulai curiga dengan gerak-gerik suaminya.
Sampai panggilan pun sudah berhenti entah keberapa kalinya, Mommy Rosa memang telah menyadari bahwa ada keanehan didalam dirinya.
Namun, Mommy Rosa enggan untuk menanyakannya lantaran dia tidak terlalu memperdulikan apapun selagi tidak menyenggol tentang keluarganya. Apa lagi Daddy Gerry masoh merahasiakan sesuatu kepada semuanya termasuk istrinya sendiri.
...*...
...*...
Pagi hari tepat jam 9, Daddy Gerry beserta Mommy Rosa sudah bersiap-siap untuk pergi ke rumah keluarga Fayra. Untuk apa, bagaimana dan ada apa, mereka pun tidak tahu sama sekali. Karena mereka bisa bertemu itu sudah cukup.
"Ger, kok perasaanku tidak enak ya. Aku ngerasa akan ada sesuatu yang akan terjadi. Cuman entah itu apa, aku tidak tahu." ucap Mommy Rosa didalam mobil dengan perasaan yang sedari tadi tidak karuan.
Sementara Daddy Gerry dari semalam dia tidak bisa tertidur dengan nyenyak, disaat ucapan Appa Daniel yang sangat tegas berhasil menjadi pertanyaan besar didalam hati Daddy Gerry.
"Apakah mereka sudah mengetahui semuanya, atau ini hanya dugaanku saja?" gumam batin Daddy Gerry sampai lagi dan lagi dia tidak pernah mendengar serta menggubris ucapan istrinya.
Mommy Rosa yang sangat kesal melihat sikap suaminya, langsung berteriak dan membuat Daddy Gerry mengerem secara pendadak.
"Stop, Ger. Stop!" pekiknya membuat laju mobil seketika berhenti, tanpa melukukan segara sesuatu yang mengakibatkan mereka kecelakaan.
Ciiittt ...
"Astaga, Ros! Kamu itu apa-apaan sih, hahh! Bagaimana jika tadi kita sampai kecelakaan, karena konsentrasi menyetirku terganggu setelah mendengar suaramu itu!"
Daddy Gerry menoleh kearah istrinya dengan wajah yang sangat kesal Beberapa kali dia memang sempat mendengar celotehan istrinya yang begitu lembut. Akan tetapi, dia tetap enggan mau menjawab karena pikirannya saat ini telah bercabang-cabang.
__ADS_1
"Kenapa, hah? Kenapa! Dari mulai kepergian Fayra ke Amerika kamu selalu saja melamun seperti ini. Sebenarnya apa yang kamu pikirkan sih Ger, apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku? Iya begitu?"
Suara Mommy Rosa sedikit meninggi membuat Daddy Gerry kembali terdiam, rasanya dia ingin sekali menceritakan semua isi hatinya saat ini.
Namun, itu kembali lagi. Daddy Gerry berusaha mengelak semuanya sebelum dia tahu jika apa yang saat ini ada di dalam pikirannya tidak sampai terjadi.
"A-aku tidak apa-apa, lagian melamun juga ka-karena aku lagi banyak pikiran soal Perusahaan saja." jawab Daddy Gerry, mengelaknya. Suara terbata-bata hingga wajahnya terlihat cemas, cuman dia selalu berusaha untuk menutupi semuanya.
"Jangan bohong, aku bisa melihat itu dimatamu, Ger! Jika tidak ada sesuatu, tidak mungkin kamu seperti ini. Jadi please, cerita sama aku apa yang sudah terjadi sama kamu dan Perusahaan. Siapa tahu aku bisa memberikan solusi untuk itu, walaupun tidak sepenuhnya." sahut Mommy Rosa sambil memegang tangan suaminya dengan wajah sedikit memohon.
Bagimana tidak, selama ini Mommy Rosa adalah sahabat sekaligus istri yang selalu ada disaat suaminya membutuhkannya.
Harusnya Mommy Rosa sudah paham dan tahu jika ada rasa ketakutan yang cukup mendalam dari tatapan mata suaminya. Hanya saja dia malah memilih untuk tetap menekan suaminya supaya mau memberitahukan padanya.
"Aku tidak apa-apa, Sayang. Maaf jika beberapa hari ini aku sudah banyak melamun, mungkin semua itu efek pekerjaanku yang sedikit menumpuk."
"Sudah tidak usah dibahas lagi, lebih baik kita fokus sama urusannya saat ini. Soalnya aku penasaran apa yang akan mereka bicarakan pada kita."
Selama perjalanan mereka terdiam menatap kearah jalan sesekali Mommy Rosa memainkan ponselnya, untuk sedikit menghilangkan rasa jenuhnya.
Tak selang kurang lebih 40 menit, mereka telah sampai di depan gerbang rumah kediaman keluarga Richardzon yang menjulang tinggi.
Mobil mereka perlahan memasuki perkarangan rumah, dengan bantuan kedua penjaga rumah yang sudah membukakan gerbang besar tersebut.
Mereka turun dari mobilnya lalu melangkahkan kakinya mendekati pintu utama, semakin membuat jantungnya berdebar cukup kuat. Rasanya Daddy Gerry ingin segera pergi dari sini, akibat debaran hati dan juga jantungnya cukup menyiksa.
Cuman apa boleh buat, Daddy Gerry berusaha untuk menahan sesuatu yang ada di dalam dirinya. Sampai seketika sang Bibi menyambut mereka lalu mengantarkannya ke ruang makan, disana semuanya sudah menunggu termasuk Fayra yang juga sudah diberitahu tepat di pagi hari.
__ADS_1
Awalnya Fayra belum siap untuk bertemu dengan mertuanya. Berkat Appa Daniel yang selalu memberikannya kekuatan supaya Fayra bisa menjadi wanita yang berani, tangguh, tegas dan juga mandiri. Sehingga dia mencoba memberanikan diri untuk bertemu sama mertuanya.
Dari dukungan kedua orang tua Fayra kini berhasil menjadi kekuatan bagi Fayra agar dia bisa menjelaskan semuanya di depan mertuanya. Bagaimana kelakuaan suaminya ketika di luar negeri.
"Permisi Tuan, Nyonya, Non. Ini tamu spesialnya sudah datang." ucap Bibi dengan sangat sopan sambil membungkukkan tubuhnya sedikit.
"Terima kasih, Bi. Silakan duduk!" ucap Appa Daniel yang menatap sang Bibi, lalu beralih kearah kedua besannya.
Sang Bibi pun pergi kembali ke tempatnya. Saat menyaksikan jika menantunya sudah kembali wajah Mommy Rosa terlihat sangat senang.
Rasa kepengen tahuannya kepada rencana Fayra, saat dia telah memberikan kejutan besar terhadap suaminya. Membuat Mommy Rosa langsung antusias menanyakan sesuatu kepada Fayra.
Sementara Fayra dia hanya bisa tersenyum menyaksikan wajah bahagia mertuanya. Meskipun rasanya menyakitkan, tetapi Fayra berusaha untuk menahan diri agar dia terlihat seperti wanita yang diinginkan kedua orang tuanya.
"Lebih baik kita sarapan dulu, pasti kalian juga belum sempat sarapan. Bukan? Jadi silakkan nikmati sarapannya, nanti kita bicarakan setelah semuanya selesai." ucap Appa Daniel dengan wajah datarnya tanpa mau menatap mereka terlalu lama.
Sebenarnya Appa Daniel dan juga Amma Trysta begitu sakit ketika melihat wajah besannya yang memang tidak memiliki kesalahan.
Cuman saat melihat mereka membuat kedua orang tua Fayra kembali mengingat kejadian semalam. Yang mengharuskan Fayra untuk berbicara mengenai keinginanya untuk bercerai dari suaminya.
Mommy Rosa melihat adanya perbedaan sikap dari besannya itu, berhasil membuatnya langsung menoleh kearah suaminya. Seperti sedang meminta penjelasan kepada suaminya ada apa dengan sikap mereka saat ini.
Tanpa menunggu lama lagi, Amma Trysta langsung menyediakan makanan diatas piring suami dan juga anaknya secara bergantian. Lalu, diikuti oleh Mommy Rosa.
Perlahan mereka mulai menikmati sarapan tersebut dalam keadaan yang sangat sunyi, tanpa sedikit pun obrolan yang keluar dari mulut mereka satu sama lain.
Suara dentingan alat makan yang saling berada terdengar begitu indah untuk menghiasi kesunyian yang biasanya tidak pernah terjadi.
__ADS_1
Wajah datar, cuek dan juga dingin terlihat diwajah Appa Daniel dan juga Amma Trysta. Berbeda dengan Fayra yang masih tersenyum menanggapi mertuanya. Meski hatinya sangat terluka atas sikap anaknya, kedua orang tua Ace merupakan mertua yang sangat baik untuknya dan juga begitu menyayangi dirinya.
Rasa tegang, gelisah hingga cemas selalu menyelimuti perasaan Daddy Gerry. Dia sesekali melirik kearah Appa Daniel yang hanya cuek dan sedikit memberikan tatapan penuh arti, hingga terkesan begitu menakutkan.