
Disaat Kharel sedang memainkan ponselnya menunggu seseorang, yang telah berhasil menggoyangkan hatinya. Tanpa permisi, pintu terbuka dengan lebar bersamaan dengan masuknya seseorang yang langsung dengan nada marah-marah.
Kharel refleks menoleh dan sedikit terkejut saat melihat wajah penuh kekesalan terukir jelas diwajah orang itu. Kharel terdiam mendengarkan serta menyimak setiap kata yang orang itu ucapkan untuknya.
Brakk!
Bunyi suara pintu ruangan yang bertabrakan dengan tembok, menandakan bahwa seseorang yang membukanya dalam keadaan penuh emosi.
Orang tersebut berjalan menggunakan langkah cepatnya, apa lagi sorotan mata dan wajah memerah penuh kekesalan membuat Kharel hanya bisa menyipitkan matanya. Dia bingung kenapa orang itu bisa semarah ini, layaknya seperti burung Elang yang telah menemukan mangsanya.
"Mau Bapak itu apa sih, hahh! Kenapa Bapak seneng banget ganggu hidup saya, waktu itu Bapak mau mencelakakan saya saat naik pesawat, kemarin Bapak mencelakan saya dengan cara mau menabrak saya. Terus sekarang apa lagi, Pak. Apa?"
"Jangan bilang Bapak mau mengerjai saya, dengan alasan tanggung jawab atas kejadian itu. Maka, dari situ Bapak akan mendapatkan kepuasan untuk menyuruh-nyuruh saya? Ngaku aja, Pak. Ngaku! Bapak itu senang kan nyiksa orang, bahkan Bapak tidak bisa sedikit saja membuat saya hidup tenang!"
"Sudah banyak, Pak. Penderita didalam hidup saya jadi saya mohon tolong jangan ganggu hidup saya. Disini Bapak yang salah mau menabrak saya, tapi dengan niat baik hati saya menolong Bapak dengan semua yang saya bisa. Seharusnya Bapak berterima kasih pada saya, bukan malah mengikat saya di sebuah kejadian yang memang murni bukan kesalahan saya!"
"Disetiap saya pergi kemana pun Bapak selalu muncul, bahkan saya kuliah saja, Bapak ada disana sebagai dosen. Seakan-akan Bapak tuh selalu mengikuti kemana pun saya pergi, atau jangan-jangan benar? Jika Bapak itu adalah fans berat saya yang selalu kepo tentang hidup saya?"
Kata demi kata orang itu lontarkan dengan penuh kekesalan sambil menatap kearah wajah Kharel cukup dekat. Sementara Kharel hanya menatap orang itu tanpa mengedipkan matanya.
Orang itu terus mencaci maki Kharel dengan harapan agar Kharel tidak lagi mengusik hidupnya. Entah itu perkataan yang tertuju untuknya ataukah seperti perwakilan hatinya, untuk seseorang yang pernah hadir didalam hidupnya dan cuman meninggalkan luka cukup mendalam. Siapa lagi jika bukan Fayra, wanita yang berhasil menjadi daya tarik untuk Kharel.
Setelah selesai mengoceh panjang kali lebar, Fayra langsung terduduk dan meminun air yang berada di gelas Kharel tanpa permisi.
Glek, glek, glek ...
Fayra meminumnya tanpa rasa bersalah sedikit pun, bahkan makanan yang ada diatas meja seharusnya untuk Kharel langsung diembat habis oleh Fayra.
Rasa hambar didalam makanan tersebut seperti tidak lagi menjadi patokan untuk Fayra, karena semua itu kalah dengan rasa emosi didalam dirinya.
__ADS_1
"Makanan macam apa ini, kenapa rasanya hambar? Hanya terasa rasa garam, tetapi sangatlah samar. Hampir seperti masakan orang asal-asalan, yang penting jadi tanpa mencicipi masakannya terlebih dahulu." gumam kecil Fayra sambil terus mengunyahnya.
Kharel yang melihat Fayra seperti ini benar-benar tidak menyangka, sepolos inikah Fayra ketika dia sedang marah? Bahkan rasa marah yang Fayra lontarkan bukannya membuat Kharel merasa sakit hati. Malah seperti menjadi pacuan untuknya agar bisa lebih mendekati Fayra, akibat rasa penasarannya.
"Banyak teka-teki yang harus aku tembus untuk mengetahui, siapa rubah kecil ini? Kenapa hanya dia yang selalu bisa membuatku penasaran atas hidupnya. Apakah dia jodoh yang Tuhan kirim untuk masa depanku?"
"Yakk! Apaan sih Kharel, mana mungkin Tuhan mengirimkan jodoh seperti rubah kecil yang jahil itu. Lagian juga semua rasa yang kamu rasain itu hanyalah bentuk ke kaguman terhadap dia. Kamu cuman penasaran sama dia, nanti jika kamu udah tahu semuanya rasa penasaranmu hilang juga akan berhenti untuk melanjutkan mencari tahu tentangnya."
Kharel berbicara didalam hatinya dengan perasaan yang tidak bisa dijelaskan. Kharel masih belum bisa merasakan jika apa yang dia rasakan, sebenarnya bukan perasaan kagum atas diri Fayra. Melainkan benih cinta yang mulai tumbuh untuknya.
"Gimana, sudah kenyang?" ucap Kharel saat Fayra sudah selesai makan.
"Dimana-mana namanya makan ya kenyanglah, ya kali laper. Aneh!" celetuk Fayra kesal.
"Baiklah, jika kamu sudah kenyang. Pintu sudah terbuka lebar, silakkan!" ujar Kharel, dingin.
Mendengar ucapan Kharel yang seakan-akan mengusirnya, membuat Fayra menatap jengah ke arahnya.
Tanpa disadari Fayra menggigit tangan Kharel dengan begitu kuat, hingga meninggalkan bekas yang cukup mengirikan. Sementara Kharel sama sekali tidak mengeluarkan suara apapun, dia hanya bisa berteriak didalam hatinya saat melihat seekor rubah kecil menggigit tangannya.
"Sudah puas marahnya?" ucap Kharel menatap Fayra yang sudah duduk dengan napas mulai memburu.
"Hahh, hahh, lagian Bapak menyabalkan banget sih. Tadi Bapak nyuruh aku kesini, sekarang malah mengusirku. Mau Bapak itu apa sih?" sahut Fayra.
"Bukannya tadi kamu sendiri yang bilang, kalau saya tidak boleh menganggu hidupmu. Jadi ya sudah kamu pulang saja, saya masih bisa mengurus diri saja sendiri." jawab Kharel, datar.
"Kapan aku ngomong gitu?" ucap Fayra, bingung. Kharel kembali mengulang semua ucapan Fayra yang masih teringat jelas dipikirannya.
Setelah mendengar pengulangan ucapan Fayra yang Kharel ulangi, membuat Fayra terdiam membisu. Mencerna semua perkataan dirinya sendiri, Fayra merasa kenapa dia bisa mengatakan semua itu kepada Kharel. Sementara Kharel saja tidak tahu apapun tentang dirinya.
__ADS_1
"Ma-maaf, a-aku tidak bermaksud seperti itu. Mungkin karena aku banyak masalah jadi terbawa suasana, sehingga aku melampiaskan semuanya sama Bapak. Sekali lagi maaf, Pak." ucap Fayra, sangat lirih.
"Tidak apa, saya paham kok. Saya sadar memang saya sudah menyusahkan kamu dan memaksamu untuk bertanggung jawab. Padahal saya sendiri yang salah, jadi jika kamu mau pulang silakan saya tidak akan melarangmu."
"Tapi, sebelum kamu pergi, satu pertanyaan dari saya. Apakah namamu Fayra? Fayra yang sama dengan salah satu mahasiswi saya?"
Degh!
Fayra terdiam ketika Kharel sudah mengetahui semuanya. Beberapa menit Fayra terdiam, lalu dia mulai menceritakan siapa dirinya karena dia sudah tidak mau lagi bersembunyi. Apa lagi semakin dia melakukan kebohongan malah semakin membuat hidupnya tidak tenang.
Dari sini Kharel sudah tidak lagi menjadi penasaran dengan sosok Fayra, dia malah tersenyum miring menatap wajah Fayra yang seperti merasa bersalah kepada Kharel.
Beberapa kali Fayra meminta maaf pada Kharel atas semua ucapan tidak enaknya, bahkan saat melihat tangan Kharel pun dia merasa semakin bersalah.
Melihat wajah Fayra yang terlihat gelisah, membuat Kharel tidak tega. "Sudah lupakan semuanya, anggap saja tadi bukan dirimu, tetapi bayangan hitam yang telah merasukimu. Mewakilkanmu untuk bisa mengungkapkan isi hatimu kepada seseorang yang sudah menyakitimu."
"Maaf, Pak. Apa tangan Bapak sakit? Atau saya harus panggilkan dokter?" ucap Fayra, sedikit cemas berusaha mengalihkan.
"Tidak perlu," jawab Kharel menatap bekas gigitan Fayra.
"Ini sebuah tanda cantik yang sangat langka untuk saya dapatkan. Cukup ada satu wanita yang bisa menyentuh saya, yaitu hanya kamu Fayra." sambung Kharel didalam hatinya, tanpa sadar mengelus luka itu sambil tersenyum.
Melihat Kharel bersikap seperti itu membuat Fayra menjadi bingung, baru pertama kali Fayra melihat senyuman manis terukir disudur bibir Kharel. Meskipun sangat samar, tetapi Fayra bisa melihatnya.
"Nj*ir se-senyuman itu, ke-kenapa manis banget!" gumam batin Fayra.
"Apaan sih Fayra, tidak, tidak, tidak!" ucap Fayra membuyarkan lamunan Kharel. Sehingga Kharel langsung berubah menjadi cuek kembali, dan senyuman itu langsung hilang begitu saja.
"Kenapa?" tanya Kharel.
__ADS_1
"Ehh, e-enggak hehe." jawab Fayra cengengesan, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sikap salah tingkah Fayra membuat Kharel hanya menyipitkan matanya sangat heran.
Kharel seperti menemukan suasana baru, dimana dia baru kali ini bisa berjumpa dengan seorang wanita yang menurutnya beda dari wanita yang selalu mengejarnya. Sampai tanpa disangka, Kharel berpikir bahwa suatu saat nanti dia bisa menaklukan hati Fayra.