
Kemudian mereka berjalan menaiki tangga menuju kamarnya, sesekali mereka mengobrol akibat rasa bingung dan juga penasaran.
Apa lagi mereka sama sekali tidak melihat adanya rasa sakit di wajah menantunya, sampai akhirnya Daddy Gerry tersenyum bangga dan juga salut. Dibalik menantunya yang polos, terdapat jiwa yang kuat.
Berbeda halnya Fayra dan Ace, mereka kembali meneruskam sarapannya. Setelah selesai mereka bersiap-siap untuk mengambil tasnya.
Mereka berpamitan kepada kedua orang tuanya. Lalu berjalan keluar pintu utama menuju moge kesayangan Ace yang ada di garansi.
"Ayo, Honey naik." ucap Ace, menatap Fayra dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Namun, ketika Fayra mau menaiki motor. Tiba-tiba Ace langsung menghentikannya, dan menatapnya dengan tatapan begitu intens.
"Stop, Honey! Sekarang, coba kamu berputar!" tital Ace, membuat Fayra bingung.
"Hahh? Nga-ngapain a-aku harus berputar Bunny? Memangnya ada yang salah dengan---"
"Aku bilang berputar, ya berputar. Paham tidak!"
Ace sedikit membentak Fayra, sampai akhirnya Fayra mengikuti permintaannya. Dia langsung berputar hampir 2 kali, hingga Ace menyuruhnya untuk berhenti.
"Ganti!" titah Ace, lagi-lagi berhasil membuat Fayra bingung.
"Ganti? Apanya yang diganti Bunny, ngomong yang jelas kenapa sih! Dari tadi muter-muter, tiba-tiba ganti. Dikata aku ini kemidi putar yang ada di pasar malam!" sahut Fayra, tidak terima.
"Aku tidak suka melihat rokmu yang terlalu pendek. Lihat rokmu itu sudah sangat kekecilan, dan tidak layak di pakai. Jadi, sekarang cepatlah ganti sama rok yang baru!" tegas Ace, wajahnya terlihat begitu datar.
"Tapi, Bunny---"
__ADS_1
"Fayra Lavina Rodriguez!" pekik Ace, suaranya terdengar begitu lantang.
"Ro-rodriguez? Itukan namamu, sedangkan namaku itu Fayra Lavina Richardzon." jawab Fayra, spontan.
"Itu ketika kamu belum menjadi istriku, tetapi setelah kamu menjadi istriku. Maka nama keluargamu berubah menjadi nama keluargaku."
"Yak! Kenapa jadi ngobrol sih, ayo cepat ganti atau aku yang akan menggantikannya!"
"Huaaa, yayaya. Aku ganti dulu, tungguin! Awas kalau ditinggal!"
Fayra berlari ngibrit memasuki rumah kembali menuju kamarnya, kemudian dia segera berganti roknya. Sampai-sampai membuat kedua orang tua Ace kembali merasa bingung.
Tak butuh waktu lama Fayra berdiri dihadapan Ace, cuman saat Fayra kembali menaiki moge, Ace melarangnya untuk kesekian kalinya.
"Astaga, Honey! Aku bilang ganti rokmu, kenapa masih pendek sih!" ucap Ace, begitu kesal.
"A-anemia?" gumam Ace, mengerutkan pelipisnya.
"Ituloh yang lupa ingatan." jawab Fayra.
"Amnesia!" ucap Ace.
"Nah, iya itu maksudnya. Dahlah ayo berangkat keburu telat! Aku ini wakil OSIS, jadi jangan buat martabakku hancur!" ucap Fayra begitu cepat, sampai perkataannya menjadi berbelit-belit.
"Martabat, pakai T bukan pakai K!" tegas, Ace.
Fayra terkekeh sambil menaiki moge kesayangan suaminya. Sedangkan Ace hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya, yang semakin hari semakin tidak bisa diprediksi betapa absurbnya dia.
__ADS_1
Kemudian, mereka pun pergi meninggalkan rumah dalam keadaan Fayra memeluk tubuh suaminya yang selalu berhasil membuatnya candu.
Fayra tidak menyangka bahwa dia bisa merasakan apa yang selama ini tidak bisa dia rasakan, awalnya Fayra ingin sekali menyerah dalam kisah cintanya.
Namun, takdir berkata lain. Takdirlah yang kembali menyatukan mereka berdua, sampai akhirnya Ace si pria gengsi yang tidak mau menyatakan cintanya. Telah tersapu oleh ombak besar, disaat dia sudah menyadar betapa berharganya Fayra untuknya.
Sesekali Ace mengelus tangan mungil istrinya yang saat ini melingkar di perutnya, entah mengapa Ace merasa begitu bahagia. Cuman, enggak tau kenapa juga Ace merasakan hatinya sedikit mengganjal.
"A-ada apa ini, kenapa hatiku rasanya tidak enak. Padahal hari ini seharusnya aku bahagia, bukan malah jadi gelisah begini." gumam batin Ace.
"Aku bahagia banget, Kak. Inilah yang aku tunggu-tunggu sejak lama, cuman kenapa semakin ke sini hatiku semakin tidak enak ya. Apakah sebentar lagi akan ada ujian lagi yang akan kita hadapi kedepannya?"
"Arggh ... Tidak, tidak, tidak! Aku tidak boleh berpikir jelek, pokoknya sampai kapan pun aku yakin. Ace dan Fayra akan tetap bersatu!"
Fayra bergumam didalam hati kecilnya, menangkis semua pikiran negatif yang ada di kepalanya.
Begitu juga Ace, dia kembali fokus menyetir mogenya sesekali menyelap-nyelip kendaraan yang ada didekatnya.
Tak butuh waktu lama akhirnya mereka sampai di sekolah tepat pada waktunya. Seperti biasa, Ace akan mengantarkan istrinya ke depan kelasnya dan memastikan bahwa keadaan Fayra akan selalu baik-baik saja.
Tapi, kali ini ada yang berbeda. Sebelum Fayra memasuki kelasnya, Ace menarik tangan lalu mencium kening istrinya.
Terikan heboh bergema di dekat kelas Fayra, bahkan ada beberapa siswi yang jatuh pingsan. Mereka benar-benar tidak percaya, betapa romantisnya Ace kepada pada kekasihnya.
Ditambah Fayra hanya bisa terdiam mematung ditempat, sambil melihat kepergian suaminya yang terlihat mulai menjauh dari pandangannya.
Tak lama seorang guru pun datang dari arah kejauhan menuju kelas Fayra, ketiga sahabat Fayra yang mengetahui guru tersebut langsung menarik tangan Fayra dan membawanya masuk ke dalam kelas.
__ADS_1