
Sarapan pun telah selesai, walau tidak sepenuhnya habis. Mereka segera bersiap-siap bergegas pergi ke rumah sakit untuk menengoki keadaan Daddy Gerry dan juga Mommy Rosa. Dimana Kharel yang awalnya mau pulang, dia malah menjadi tidak tega disaat keadaan seperti ini malah meninggalkan mereka semua.
Sampai akhirnya Kharel pun menawarkan diri untuk mengantar mereka semua ke rumah sakit, dan mereka tidak keberatan.
Malah itu akan semakin bagus, jadi seolah-olah orang tua Fayra seperti membuka pintu untuk Kharel mengetahui tentang masa lalu Fayra tanpa mereka harus menceritakannya sendiri. Karena dari sini Kharel bisa menilai bagaimana masa lalu Fayra.
...*...
...*...
...Di Medical Central ...
Sesampainya di depan rumah sakit, mereka pun bergegas memasuki rumah sakit dalam keadaan tergesa-gesa. Sebegitu khawatirnya Appa Daniel terhadap keadaan mereka, membuat Kharel merasa kagum.
Ya, walaupun Kharel tahu sedikit bagaimana perlakuan Ace kepada Fayra. Tetapi, keluarga Fayra tidak membalas itu semua sudah pertanda bahwa mereka memang orang hebat. Orang yang bisa mengendalikan rasa sakit agar tidak menjadi sebuah dendam yang berkelanjutan.
Marah, kesal dan emosi memang boleh, tidak ada yang melarang. Hanya saja jangan jadikan ke-3 kata itu menjadi alasan untuk membenci seseorang. Karena hati yang kotor, akan merubah sifat yang baik menjadi tidak baik.
Di ruangan khusus, Daddy Gerry masih tertidur dalam keadaan sangat pulas. Begitu juga Mommy Rosa, dia selalu menatap ke arah samping melihat wajah suaminya. Sesekali memegang tangannya dengan air mata yang terus menetes.
Di dalam ruangan itu ada 2 bangkar yang saling sejajar, itu karena Ace meminta agar Mommy dan Daddynya bisa di satukan di satu ruangan. Semua karena Ace tidak mau membuat keadaan Mommy Rosa semakin drop.
__ADS_1
Disaat Ace sudah selesai mengurus Mommynya yang baru selesai makan. Walau sedikit setidaknya perutnya sudah terisi dengan berbagai bujuk rayu Ace, bahkan obatnya pun sudah di minum.
Baru kali ini Ace merasakan betapa lelahnya menjaga kedua orang tuanya, ketika mereka sakit dalam keadaan bersamaan. Rasanya Ace ingin tertidur pulas seperti biasanya tanpa beban, tetapi itu tidak akan mungkin bisa kembali terjadi.
Berat sekali untuk Ace kembali melangkah meneruskan pendidikannya di Amerika, saat mengetahui keadaan keluarga mereka yang seperti ini.
Biaya rumah sakit pun itu ditanggung oleh asuransi kesehatan milik mereka sendiri, jadi mereka tidak akan memikirkan pengeluaran yang semakin melonjak naik.
Disaat Ace baru saja selesai membersihkan tubuhnya, dia melihat Mommynya masih setia menjaga serta menunggu suaminya untuk membuka mata. Tak lama pintu ruangan itu diketuk oleh seseorang, membuat Ace berjalan mendekatinya.
Ace mengira itu adalah sang dokter yang akan mengecek keadaan Daddynya setiap 1 jam yang akan datang, tetapi tidak. Saat pintu itu terbuka bersamaan dengan munculnya orang yang dia pikiran semalaman.
Tanpa basa-basi panjang kali lebar, Ace langsung memeluk Fayra begitu erat. Cuman sayangnya, itu bukan Fayra. Melainkan Kharel, dia langsung menarik tangan Fayra dan menggantikan tubuhnya untuk menjadi sandaran Ace saat ini.
"Astaga, Pak Kharel. Bapak gapapa, kan?" ucap Fayra memegang lengan Kharel membuatnya sedikit tersenyum.
"Saya baik-baik aja, terima kasih." ucap Kharel, yang sudah berdiri berkat bentuan Fayra.
"Ckk, apa-apaan sih! Kenapa lu meluk-meluk gua, hah? Kenapa juga lu bisa sama mereka? Jangan bilang lu sengaja mau cari muka sama mereka, kan! Hiih, dasar licik!" pekik Ace dengan segala emosi yang ada didalam dirinya.
"Stop, Ace! Apa yang dilakukan itu benar, kamu dan Fayra sudah bukan siapa-siapa lagi. Jadi jangan berharap lebih untuk itu semua. Kedatangan kami ke sini hanya ingin menjenguk kedua orang tuamu, bukan untuk menemuimu ataupun mencari keributan." tegas Appa Daniel menatap Ace dengan wajah datarnya.
Sementara Ace hanya bisa menatap tajam ke arah Kharel, dimana Kharel hanya membalasnya dengan senyuman kecil. Kemudian mereka masuk ke dalam untuk mengecek keadaan kedua orang tua Ace.
Kharel selalu berdiri tepat disamping Fayra untuk menjaga serta melindunginya dari sesuatu hal yang nanti akan terjadi kembali seperti tadi.
__ADS_1
Fayra yang melihat keadaan Mommy Rosa langsung segera memeluknya begitu erat penuh kasih sayang. Kini, pecahlah tangis seorang Mommy Rosa yang sedari tadi berusaha dia tahan.
Beberapa kali Fayra dan Amma Trysta mencoba menguatkannya dengan sebuah pelukan secara bergantian. Mereka tidak menyangka saat melihat kondisi keluarga Ace bisa seperti ini.
Beribu-ribu kali Mommy Rosa meminta maaf pada mantan menantunya itu, atas semua kesalahan suami dan juga anaknya yang sudah membuatnya hancur.
Melihat itu membuat Kharel semakin bertambah kagum dengan sifat kedewasaan seorang Fayra. Diusianya yang jauh lebih muda dari dirinya, terapi dia bisa memaafkan orang yang sudah menghancurkannya hidupnya dengan mudah.
Berbeda jika posisi itu diganti oleh Kharel, mungkin dia tidak akan terima dengan semuanya dan bahkan untuk bertemu pun Kharel pasti tidak akan mau. Itu semua membuat Kharel ingin sekali belajar memiliki hati yang baik seperti keluarga Fayra.
Appa Daniel menatap Daddy Gerry yang sudah tidak bisa apa-apa lagi, seakan-akan hidupnya tergantung dengan alat-alat medis yang terpasang ditubuhnya.
30 menit berlalu, akhirnya keluarga Fayra pun berpamitan untuk pulang. Hanya saja Ace menahan Fayra, dia meminta Fayra untuk sedikit saja memberikan waktu berbicara empat mata.
Fayra menolak semua itu, kecuali jika Kharel ikut bersamanya maka Fayra akan bersedia mengobrol dengannya. Awalnya Ace tidak setuju, lama kelamaan Fayra yang susah untuk dibujuk akhirnya Ace pun mengiyakan semuanya.
Kharel tersenyum senang, karena Fayra seperti menganggap kehadirannya sangat berarti untuknya. Sementara kedua orang tuanya Fayra pun segera pulang ke rumah menggunakan taksi.
Setidaknya orang tua Fayra bisa tenang meninggalkan anaknya, kepada bodyguard tampan yang akan selalu menjaga dan melindunginya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan lupa mampir ya guys, ini ada novel milik sesama author terbaik ❤️
__ADS_1