
"Yaak, tidak! Aku tidak mau, udah cukup itu saja. Yang ada bisa-bisa aku ma*ti muda akibat jantungan, baru mau punya anak aja ribet banget. Tahu gini, mah udahlah kali ini aja untuk yang pertama dan terakhir kamu hamil. Enggak lagi-lagi!"
"Akhh, masa iya? Yakin, nanti pas melakukannya ketagihan gimana? Terus bablas, hahah ...."
"Aaaa, Mamah!"
"Bhuaaha ...."
Semua tertawa ketika melihat wajah Kharel yang sedang ketakutan, bercampur malu akibat Mamahnya selalu saja menggodanya.
...*...
...*...
Selang beberapa hari, mereka pergi ke sebuah tempat. Dimana itu merupakan tempat-tempat hewan yang dilindungi.
Sesampainya disana, mata Fayra langsung bersinar. Dia sudah tidak sabar untuk melihat bahkan merekam apa yang akan Kharel lakukan agar bisa memandikan ikan tersebut.
Mereka berjalan perlahan, dimana Kharel terlihat cemas dan juga merasa jantungnya berdebar sangat cepat, ketika kembali mengingat apa yang akan dia lakukan nanti.
Disini Kharel berjalan sambil mendorong kursi roda Fayra menuju ke arah petugas. Kharel mencoba menjelaskan maksud dan tujuan mereka kesini, awalnya petugas itu ragu.
Namun, lama-kelamaan dia mulai mempertimbangkan apa yang Kharel minta demi calon anaknya. Kemudian petugas itu segera memberikan laporan ke atasannya, supaya meminta persetujuan bagi beberapa pihak agar mau membantu ngidam Bumil yang aneh ini.
Kurang lebih 1 jam lamanya mereka menunggu, akhirnya ngidam Fayra pun di setujui dengan catatan semua harus mengikuti prosedur yang ada.
Pertama mereka pergi ke tempat, dimana dolphin berada. Meski tempatnya agak tertutup, tetapi masih banyak orang yang mau datang mengunjunginya untuk melihat sirkus kecil yang akan di tampilkan.
__ADS_1
Baru saja mereka memasuki ruangan tersebut, kedua bola mata Fayra sangat terkejut ketika melihat ada beberapa dolphin sedang menikmati makan siangnya dan ada pula beberapa dolphin sedang asyik bermain.
Itulah dolphin, dia bisa disebut dengan hewan lumba-lumba. Hewan satu ini termasuk jenis golongan hewan mamalia laut yang sangat cerdas, selain itu sistem alamiah yang melengkapi tubuhnya pun sangat kompleks.
Sebenarnya mereka itu hidup di laut ataupun sungai di seluruh dunia. Cuman, ada beberapa orang yang sering memburunya. Sehingga hewan langka ini harus diamankan dan dijadikan penangkaran hewan yang menggemaskan sebagai hewan sirkus.
Hewan yang begitu aktif untuk berinteraksi dengan manusia selalu memberikan pertunjukan gemas, yanf membuat semua orang senang melihatnya.
Lumba-lumba juga ternyata masih kerabatan dengan sejenis ikan Paus dan juga Pesut. Jadi banyak orang yang menyebutnya dengan ikan Paus kecil.
Melihat beberapa ikan tersebut melompat riang diatas permukaan air sambil menerima makanan dari si pawang, membuat Fayra semakin antusias untuk segera melihat Kharel berinteraksi dengannya.
"Aaa, gemoy banget ikannya. Ayo Kak, Kakak cepetan ganti baju, terus berenang sama dia ya. Habis itu Kakak mandiin dia gosok-gosokin badannya, jangan lupa giginya juga biar bersih hihi ...."
Fayra berbicara layaknya seorang anak kecil yang penuh kebahagiaan, rasanya tidak tega jika Kharel harus menghapus semua itu di wajah istrinya.
Dengan segenap keberanian dan juga ketakutan yang saling bertolak belakang, berhasil membuat Kharel sedikit dilema.
"Huhh, tenang, Rel. Tenang! Anggap aja dia ikan yang lucu, baik dan juga menggemaskan. Stop berpikir dia menyeramkan, ingat ini semua kemauan anakmu bukan orang lain. Jadi, harus semangat biar anak yang ada di dalam kandungan istrimu bisa selalu bahagia." gumam batin Kharel ketika melihat cara interaksi para pawangnya.
Kharel mulai di jelaskan oleh salah satu pawang untuk bisa berinteraksi oleh hewan mamalia tersebut. Susah payah Kharel mencoba untuk menahan rasa takutnya, akhirnya kedua kakinya perlahan melangkah menuju kamar mandi.
Beberapa menit, Kharel sudah siap dengan semua pakaian renangnya yang tubuhnya terlihat begitu sispeck nan indah.
Banyak mata melirik ke arah Kharel membuat Fayra sedikit kesal, tetapi saat Kharel mencoba untuk berkenalan dengan si ikan. Kini, berhasil membuat semuanya tertawa termasuk Fayra.
"Haha, Kakak lucu sama kaya ikannya menggemaskan. Ishhh, Fayra jadi mau ikutan!" ucap Fayra membuat Kharel menoleh ke arahnya dengan tatapan mendelik.
"Yakk, jangan! Stop disitu, dan jangan mendekat ke sini. Aku tidak mau anakku kenapa-kenapa, jadi diamlah disitu. Paham!" pekik Kharel membuat Fayra sedikit bersedih, dan mengangguk.
__ADS_1
"Udah, Sayang. Dengerin perkataan suamimu ya, kamu disini aja sama Mamah. Katanya kamu mau lihat Kharel mandi dengan ikan itu, jadi lebih baik sekarang kamu mengabadikan momen langka ini aja. Dari pada kamu repot-repot pergi ke sana, yang ada malah kena omel suamimu yang lagi overthingking itu hihihi ...."
Mamah Xavia berusaha untuk menenangkan Fayra, agar dia tidak bersedih atas ucapan suaminya yang sedikit menyebalkan.
Papah Jerome saja yang dari tadi berada di sisi kolam bersama dengan Kharel, sering kali menjauh dan mendekat membuat Kharel selalu kesal.
Banyak perdebatan yang mereka lakukan ketika bertemu dengan ikan tersebut, pada akhirnya perlahan Kharel menjeburkan dirinya di kolam bersama beberapa pawang.
Sementara Papah Jerome dia tetap berada di sisi kolam hanya sekedar menemani dan melihat anaknya berjuang melawan ketakutan di dalam dirinya.
"Ayo, Rel. Semangat, kamu pasti bisa!" ucap Papah Jerome memberikan semangat.
Kharel melirik kesal kearah Papahnya hingga membuatnya sedikit ketakutan dan cuman bisa menyengir bagaikan kuda.
"Ha-hai, do-dolphin. A-apa kabar?" ucap Kharel, bibirnya sedikit bergetar saat tubuhnya sudah berada di depan ikan tersebut.
Ikan yang pintar berkomunikasi itu, langsung menjawab perkataan Kharel dengan siulan yang sangat menggemaskan.
Kharel terkejut, dan tertawa karena dia tidak menyangka ternyata hewan yang dia takutkan seperti ini merupakan hewan yang begitu pintar.
Perlahan Kharel mencoba untuk memandikan hewan tersebut, lalu tak lupa dia diajarkan bagaimana cara merawat kulit hewan tersebut yang sangat licin.
Fayra beberapa kali gemas ketika melihat interaksi Kharel dengan hewan itu, rasanya Fayra ingin sekali ikut terjun ke area tersebut. Cuman mau bagaimana lagi, Kharel selalu saja melarangnya.
Bahkan tanpa sepengetahuan Kharel, Fayra meminta mertuanya untuk membantunya mendorong kursi roda agar bisa mendekati Papah Jerome. Ingin sekali Fayra memberikan makanan pada ikan itu, supaya Fayra tidak menjadi penasaran.
Sudah kurang lebih 1 jam lamanya, mereka semua tertawa dan juga menikmati setiap pertunjukkan yang ikan gemas itu berikan.
Tak lupa Kharel yang awalnya takut malah menjadi menikmatinya, sampai dia berenang bersama layaknya seorang teman yang sudah kenal lama.
Satu permintaan telah Kharel penuhi, bahkan ada beberapa kejadian lucu yang terekam layar akibat Kharel hampir saja membuat ikan itu menelan alat sikat giginya. Sempat juga beberapa kali bokong Kharel di sundul oleh moncong ikan tersebut yang membuatnya kesal.
__ADS_1
Setelah selesai, kini Kharel segera berganti pakaian dan kembali berkumpul bersama istri beserta kedua orang tuanya. Dimana dia mendapat pelukan bahagia serta ciuman bibir dari istrinya karena bangga dengan keberaniannya tanpa rasa malu sedikit pun.
Kini, sudah saatnya mereka kembali keluar dari tempat itu menuju tempat yang terakhir. Yaitu, rumah raja hutan Simba.