Learn to Love You

Learn to Love You
Keadaan Alena


__ADS_3

Cuman siapa sangka, ternyata kehidupan Alena jauh lebih miris dari pada kehidupan Fayra saat pertama kali menjadi seorang istri.


Saat ini Alena dan Andrew tinggal dirumah kediaman orang tua Andrew. Akan tetapi kedua orang tua Andrew tidak berada dirumah itu, lantaran mereka selalu pergi ke luar negeri untuk mengurus semua bisnisnya yang sedang melesat naik.


Tepat dipagi hari yang begitu sejuk, dihiasi oleh rintikkan air hujan sisa semalam membuat semua orang malas untuk bangkit dari ranjangnya. Sama halnya seperti Andrew yang masih tertidur pulas.


Saat ini usia kandungan Alena memang masih sangat muda, bahkan dia baru mulai merasakan nikmatnya menjadi seorang Ibu. Dimana Alena merasakan morninh sickness dan juga rasa ngidam berkepanjangan.


Alena juga belum bisa untuk membedakan antara rasa ngidam yang sesungguhnya dan juga keinginannya. Karena kedua kata tersebut memang tidak bisa dipisahkan ketika seorang wanita hamil sudah membuka suaranya.


Jam masih menunjukkan pukul 6 pagi, Alena sudah muntah-muntah dari satu jam yang lalu. Sedangkan Andrew, dia masih tertidur pulas dengan sebuah bantal menutupi telinganya.


Namun, untuk kesekian kalinya suara mual Alena terdengar cukup keras dan berhasil membangunkan seekor singa jantan.


"Arrghh, berisik any*ing!" teriak Andrew sambil melempar bantal kearah pintu kamar mandi.


Bugh!


Alena yang ada didalam merasa terkejut ketika pintunya ditimbuk oleh sesuatu dari luar, secepat kilat Alena membersihkan mulutnya lalu keluar kamar mandi dalam keadaan wajah pucat basi.


"Lu tuh bisa enggak sih, hahh! Tiap pagi enggak usah bikin gua kesel mulu, suara berisik lu itu udah bikin gua enggak bisa tidur dengan tenang tahu enggak!"


"Semenjak lu hadir semua kehidupan gua menjadi hancur berantakan. Dari mulai percintaan, pertemanan, keluarga, dan juga fasilitas!"


"Asal lu tahu aja ya, kehidupan gua sebelum ada lu itu jauh lebih berharga dari pada lu hadir cuman bisanya membawa kesi*alan bagi hidup gua!"


"Lagian kenapa bukan lu buang aja sih anak itu, hah! Toh dengan lu buang anak itu, lu bisa jalani kehidupan lu tanpa adanya ikatan pernikahan yang tidak pernah diinginkan seperti ini!"

__ADS_1


Degh!


Alena terdiam mematung tubuhnya seperti disambar oleh ribuan petir yang sangat menyakitkan.


Seke*jam-ke*jamnya seorang Alena, dia bahkan tidak pernah sama sekali terlintas pikiran seke*ji itu pada anaknya sendiri. Padahal anak itu tidak bersalah, dan juga tidak pernah meminta untuk dilahirkan


"Cukup, Drew. Cukup! Kali ini lu udah keterlaluan, sejahat-jahatnya gua, tetapi gua masih punya otak untuk menjaga keras anak yang ada didalam perut gua! Karena dia adalah darah daging gua sendiri, bukan anak dari orang lain!


"Gua tahu gua bukan memang bukan wanita yang baik, cuman gua mau anak ini terlahir kedunia dengan cara baik-baik. Meskipun kehadirannya diawali dengan jalan yang salah, tetapi dia juga punya hak atas hidupnya sendiri!"


Alena berkata sedikit keras dan mulai meninggi, sehingga membuat Nicho awalnya terdiam kini tidak lagi. Satu kalimat terakhir yang Alena lontarkan kali ini, berhasil menyita emosi didalam hati Andrew.


"Kenapa diam, hahh! Kalau lu enggak bisa jadi seorang Ayah yang baik buat anak lu, setidaknya lu jangan pernah menunjukkan betapa kejamnya lu di depan darah daging lu sendiri!"


"Gua enggak mau sampai anak ini tahu, bahwa Ayah kandung yang dia inginkan bukanlah seperti Ayah pada umumnya yang sangat menyayangi anaknya. Melainkan sosok Ib*lis yang menjelma menjadi seorang Ayah!"


Alena menangis memegangi perutnya sendiri, akibat emosi yang dari tadi dia keluarkan seperti membuat tekanan pada perasaan anaknya sendiri.


"Arsghh, Dre-drew to-tolong a-anak gua. Please, ba-bawa gua ke-kerumah sa-sakit sekarang juga! Gu-gua e-enggak ku-kuat lagi Drew. I-ini sakit banget arrghh, po-pokoknya gu-gua mohon Drew gua enggam mau ke-kehilangan a-anak gua arghh hiks ...."


Alena berteriak lirih penuh kesakitan saat merasakan perutnya begitu keram, sementara Andrew yang melihat itu hanya bisa tersenyum miring.


Awalnya dia ingin sekali menampar mulut manis istrinya. Cuman, semua tidak terlaksana saat dia begitu senang melihat istrinya didalam mode kesakitan seperti ini.


Andrew berjongkok dihadapan Alena, lalu tangannya mencekram kuat rahang istrinya sambil tersenyum penuh kepuasan.


"Gimana, Sayang? Sakit? Makannya lain kali enggak usah bertingkah sok kuat didepan gua! Lu itu, cuman wanita lemah yang tidak punya kekuatan untuk melawan gua!"

__ADS_1


"Semakin lu ngelawan gua, maka semakin membuat anak yang ada didalam perut lu tersiksa. Atau gua harus menyakiti lu secara halus, supaya anak yang ada didalam perut lu bisa pergi dengan tenang?"


"Gu-gua mohon Drew, please bawa gua ke-ke ru-rumah sakit, hiks ....."


"Upss, so-sorry gua banyak urusan jadi lain kali aja ya. Bye!"


Andrew berbicara sangat lembut, tetapi penuh penekanan dan juga ancaman. Sampai akhirnya dia kembali berdiri berbalik dan ingin melangkahkan kakinya.


Namun, tiba-tiba tangan Alena malah memeluk kaki kiri Andrew, hingga tanpa disengaja Andrew


mencoba melepaskan kakinya dari pelukan tangan Alena. Sayangnya, tendangan itu begitu keras tanpa disadari dahi Alena terbentur ke arah lantai begitu keras


Duak!


Alena langsung terjatuh pingsan dalam keadaan wajah begitu pucat, disertai luka memar didahinya. Andrew yang melihat itu langsung menjadi panik. Wajahnya begitu cemas penuh kekhawatiran ketika melihat keadaan istrinya sudah tak berdaya lagi untuk melawannya.


Andrew benar-benar tidak sengaja mencelakaan istrinya sendiri, akibat emosi didalam dirinya yang tidak bisa dia kendalikan telah menjadikan istrinya sebagai korban.


Tanpa berlama-lama, Andrew segera menggendong Alena untuk membawanya kerumah sakit. Entah kenapa, disaat melihat Alena tak berdaya seperti ini membuat perasaan Andrew menjadi tidak enak.


Didalam mobil Andrew selalu melirik kearah samping, yang mana Alena tertidur pulas tanpa sedikit pun berbicara padanya.


Tanpa sadar tangan Andrew mengusap pipi kiri Alena begitu lama, dia pun terus berusaha mengajaknya ngobrol dengan harapan supaya Alena bisa segera membuka matanya.


Namun, nihil. Andrew semakin mempercepat laju mobilnya dalam kondisi detak jantung yang semakin memburu. Sampai selang beberapa menit mereka telah sampai didepan rumah sakit.


Andrew langsung turun dari mobil dan membawa istrinya untuk segera ditangani oleh sang dokter. Rasa menyesal mulai terngiang-ngiang dipikirannya, membuat dia tidak bisa duduk diam didepan ruangan UGD.

__ADS_1


Sementara sang dokter besarta rekan kerjanya yang lain, sedang berusaha untuk menyelamatkan kondisi Alena karena detak nadinya sudah semakin melemah.


Rasa cemas, panik dan khawatir berhasil membuat Andrew meneteskan air matanya. Bahkan tubuhnya pun sedikit gemetar, memikirkan kondisi anak dan juga istrinya yang ada didalam.


__ADS_2