
Fayra yang melihat itu hanya terdiam, meneruskan makannya dengan semua drama kecilnya. Sehingga membuat Amma Trysta curiga terhadap Kharel, karena dia sudah menodai pikiran anaknya yang terbilang masih sangat polos.
"Rel, apa yang kamu katakan pada anakku? Kenapa dia bisa berkata seperti itu? Jangan bilang kamu sudah memperlihatkan milikmu pada anakku? Huaa, dasar calon menantu tidak ada akhlak!"
Amma Trysta memukuli Kharel tanpa henti membuat Kharel sedikit kesakitan dan meminta ampun, sementara Fayra tetap menikmati makanannya sampai dia hampir menghabiskan semua sosis yang sudah dimasak oleh Ammanya.
...Flashback Kharel Off...
Fayra sedikit merasa malu akibat mulutnya yang tidak bisa di rem mendadak. Keceplosannya berhasil membuat Kharel terdiam dengan segala pemikirannya. Bahkan tanpa sengaja Fayra melihat kearah bawah, dimana Kharel sedang memegangi miliknya membuat Fayra terkekeh.
"Hihi, pasti dia sekarang sedang mengingat kejadian waktu itu. Hem, gimana kalau aku kerjain? Seru kali ya." ucap batin Fayra dengan rasa jahilnya.
"Ekhem, Kak Kalel Fayla boyeh liat sosisnya? Fayla kangen nih udah lama ndak pegang-pegang sosis Kak Kalel lagi. Pasti cekalang sosis Kak Kalel udah besal ya, wahh ... Fayla jadi pangen nih, hihi ...."
Suara-suara itu kembali membuat Kharel terngiang-ngiang akhirnya dia refleksmenoleh ke arah Fayra, yang sudah memasang wajah dalam mode manja. Sama persis seperti Fayra memintanya ketika waktu kecil.
"Huaaa, tidak. Jauh-jauh sana! Asal kamu tahu aja ya ini itu bukan sosis. Tapi, ini tuh burung!" tegas Kharel tanpa sadar.
__ADS_1
"Waw, burung? Aku suka sekali burung. Hem, tapi burung apa tuh yang Kak Kharel punya? Burung dara atau burung cucak rowo? Bhahaha ...." Fayra tertawa sangat puas saat dia berhasil menjahili Kharel.
Sementara Kharel yang baru saja tersadar jika telah dijahili, wajahnya berubah menjadi datar dengan ekspresi tubuh yang sudah tidak seperti tadi.
Tangannya pun tak lagi memegangi aset kesayangannya, ketika matanya menatap gadis kecilnya sedang tertawa begitu bahagia saat berhasil mengerjainya.
"Fayra Lavina Philibert!" ucap Kharel. Suara bariton, seketika muncul menghapus semua tawa Fayra yang pecah. Lalu, secepat kilat tergantikan oleh ekspresi mimik wajah yang diam penuh ketakutan.
Namun, Fayra mencoba kembali mengingat panggilan namanya yang Kharel ucapkan barusan. "Sepertinya ada yang salah dengan namaku? Apa ya?" Fayra berpikir didalam hatinya, saat kembali mengingat dia langsung menoleh menatap tajam kearah Kharel.
"Namaku bukan Fayra Lavina Philibert, tapi Fayra Lavina Richadzon! Enak aja main ganti-ganti nama orang!" Fayra terlihat sangat kesal, ketika nama keluarganya diganti oleh nama keluarga Kharel seenak jidatnya.
"Yakk, apaan sih! Kalau nama itu ada dibelakang namaku itu artinya kita---"
"Ya, sebentar lagi kita akan menikah. Tunggu saja tanggal mainnya, aku akan membuatmu kembali merasakan jatuh cinta berulang-ulang kali kepada satu nama. Dan itu hanyalah Kak Kalelmu yang tampan nan rupawan ini," Alis Kharel naik turun seperti menggoda Fayra.
Dimana Fayra hanya bisa terdiam karena mulai merasakan detak jantungnya yang terus berdetak sangat cepat, sama seperti ketika dia mulai menyadari rasa cinta di hatinya untuk mantan suaminya.
__ADS_1
Haya saja kali ini benar-benar berbeda, bahkan detak jantungnya berkali-kali lipat berdetak seiring dengan debaran hati yang mulai menyala.
"A-apa a-aku kembali merasakan cinta yang telah mati? Jika memang benar, apakah aku siap untuk menjalani semuanya dari titik awal? Apa aku sanggup kembali membuka hati ini untuk dia? Pria yang selama aku kecil dengan sigap menjagaku, melindungiku dan juga selalu ada disaat aku membutuhkannya."
"Apa ini yang dinamakan jodoh? Bahkan ketika aku berusaha mencintai seseorang setulus hatiku, dan menganggapnya sebagai jodohku. Ternyata salah, dia hanya sekedar tamu yang cuman singgah untuk sementara. Sedangkan Kak Kharel?"
"Dia seorang pria yang begitu baik, dia juga rela menungguku sampai detik ini kami dipertemukan kembali. Padahal aku selalu menganggapnya sebagai Kakakku sendiri, bahkan siapa sangka. Jika Kak Kharel ini merupakan pria yang persis seperti Appa. Pria lembut penuh ketegasan, cuek terhadap yang bukan miliknya dan melimpahkan semua kasih sayangnya untuk orang terpilih."
"Huaaa, kenapa aku jadi dilema begini sih! Apa aku harus membuka hati untuk dia, atau aku tetap pada pendirianku untuk tidak lagi mengenal cinta? Tapi, aku sayang sama dia, a-aku ci-cinta sama dia. Cuman aku takut, kalau dia kembali mematahkan sayapku yang baru saja sembuh."
Pikiran serta hati Fayra seketika saling tolak belakang. Perdebatan demi perdebatan terus terlontar didalam batinnya sampai akhirnya Kharel yang menyaksikan diamnya Fayra membuatnya mengerti, jika kemungkinan ucapannya membuat Fayra kembali mengingat masa lalunya.
Cuman, jangan salah. Kharel tidak pernah mundur ketika melihat Fayra seperti ini, dia malah terus membuktikannya pada gadis kecil pujaan hatinya ini. Dimana kata-kata Kharel berhasil membuat Fayra menoleh tak menyangka, kalau dia bisa menebak semua isi hatinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan lupa mampir ya guys, ini ada novel milik sesama author terbaik ❤️
__ADS_1