Learn to Love You

Learn to Love You
Bulu Kuduk Kharel Terbangun


__ADS_3

Dari sini terlihat bahwa keadaan seperti itu, tidak membuat cinta mereka menjadi berkurang. Malah semakin hari semakin bertambah besar.


Contohnya saat ini, Fayra tidak lagi malu untuk selalu mengungkapkan kata-kata manis dengan tujuan untuk membuat Kharel lebih percaya diri.


Tahu sendirilah, keadaan Kharel yang kaya gini pasti akan membuat dia berulang kali down dan tidak percaya diri.


Cuman kembali lagi, Fayra begitu hebat menjadi pelengkap Kharel. Dia seperti sangat tahu bagaimana caranya menghibur Kharel ataupun membuatnya selalu merasakan terbang diatas awan.


"Ckk, dasar gombal! Udah sana ganti baju aku mau lihat baju yang kamu desain itu. Apakah cocok di tubuhmu yang kecil, pendek dan mungil itu?" ucap Kharel, berusaha mengalihkan rasa malunya.


"Idihh, kau meremehkan kemampuan calon istrimu yang cantik jelita bagaikan seorang Ratu di Istana? Hem, baiklah aku akan membuktikannya. Kalau sampai kau melongo melihatku, maka aku akan meminta 1 permintaan darimu dan kau harus janji akan menurutinya. Bagaimana?"


Fayra memainkan alisnya seperti sedang menantang Kharel, sementara Kharel yang tidak percaya jika Fara bisa membuat desain yang bagus untuknya sendiri.


Apa lagi sekolah Fayra saja belum lulus, jadi bagaimana mungkin dia bisa menjadi desainer ataupun menjadi seorang model dari rancangannya sendiri.


"Baiklah, aku janji. Udah sana cepat ganti! Aku pun sekalian mau ganti, setelah itu aku akan lihat seberapa cantik gaun itu!" ucap Kharel dengan tatapan wajah yang sangat meremehkannya.


Senyuman kemenangan membuat Fayra langsung pergi begitu saja untuk segera mencoba gaun yang dia rancang.


Ya, walaupun ada juga rasa ketakutan akan ekspetasinya yang tidak seindah itu. Cuman Fayra tetap positif thingking, jika gaun yang dia rancang merupakan gaun yang nantinya bisa membuat semua orang terpikau, akan keindahannya termasuk calon suaminya sendiri.


Kharel yang sudah selesai berganti pakaian seperti semula, cuman bisa duduk di kursi rodanya sambil minum dan memainkan ponselnya.


Sementara Fayra dia masih mengganti baju, dengan segala keribetannya didalam ruangan ganti.


Tak terasa kurang lebih 20 menit, akhirnya Fayra keluar dari tempat persembunyiannya dan menunjukkan sisi cantiknya.


"Hai, Sayang. Apakah penampilanku ini kurang cantik atau sangat jelek?"


Ucapan Fayra itu berhasil membuat Kharel langsung mengalihkan matanya dari layar ponsel kearah depan.

__ADS_1


Degh!


Mata Kharel membola tanpa berkedip saat melihat pesona Ratu hatinya telah berhasil membuktikan akan kecantikan ciptaan Tuhan.


Tanpa sadar mulut Kharel terbuka lebar ketika dia sedang memandangi cantiknya Permaisuri dambaan hatinya. Seakan-akan Fayra seperti sedang menghipnotis Kharel.


Jangankan Kharel, perancang yang membuatkan gaun tersebut sesuai dengan apa yang Fayra minta pun terkejut saat gaun itu benar-benar sangat cocok melekat di tubuh mungil milik Fayra.


Malahan saat penampilan Fayra berubah seperti ini rasanya Kharel langsung ingin menariknya ke pendeta untuk segera melangsungkan pernikahan tanpa harus berlama-lama.


Saat melihat air liur Kharel mau menetes segera mungkin Fayra menepukkan tangannya sekali di hadapan Kharel guna nyadarkan kalau suaminya tersebut.


Kharel terkejut sambil menutup rapat mulutnya, sehingga air liurnya tidak jadi menetes karena Kharel langsung menelannya secara kasar.


Glek!


"Sa-sayang i-ini beneran kamu?" tanya Kharel.


Perlahan Fayra melangkahkan kedua kakinya untuk berjalan memutari Kharel, lalu memeluk Kharel dari arah belakang sambil membisikan kata-kata yang membuat bulu kuduk Kharel langsung terbangun.


"Bagaimana, Sayang. Apakah kau mengakui jika yang kau katakan tadi adalah salah? Fyiuhh ...."


Fayra meniup telinga Kharel sama persis seperti yang Kharel lakukan ketika sedang menggodanya. Melihat bulu kuduk Kharel mulai terbangun, rasanya Fayra ingin sekali tertawa terbaha-bahak saat misinya mengerjai calon suaminya berhasil.


Inilah yang selalu Fayra rasakan ketika Kharel selalu menggodanya. Sampai akhirnya Kharel membuka suara dengan bibir yang sangat bergetar, lalu dia mulai menoleh ke arah Fayra.


"A-aku akui aku salah, desainmu ini benar-benar indah. A-aku tidak bisa lagi berkata apa-apa saat melihat kecantikan calon istriku sendiri. Ja-jadi, permintaan apa yang akan kamu minta dariku?" ucap Kharel, dengan suara terbata-bata.


"Permintaanku mudah, aku hanya ingin ketika malam pertama kita nanti. Kamu ...."


Degh!

__ADS_1


Jantung Kharel seketika terhenti saat mendengar permintaan Fayra yang di bisikan ke telinganya dengan suara yang sangat lembut.


Kharel tidak menyangka jika Fayra akan meminta hal di luar dari dugaannya. Sedangkan Fayra yang melihat reaksi tubuh Kharel terdiam mematung, membuatnya terkekeh di dalam hatinya sambil menutupi mulutnya agar tidak sampai tertawa lepas di hadapan Kharel.


"Bagaimana, Sayang? Pasti malam pertama kita akan jauh lebih seru loh, apa lagi saat aku berada diatasmu, hem?" bisik Fayra, lagi-lagi berhasil membuat Kharel ma*ti kutu dibuat olehnya.


"Ta-tapi, ke-kenapa harus seperti itu?" jawab Kharel, wajahnya benar-benar sudah tidak bisa di kondisikan lagi.


Karena wajah Kharel yang terbilang cukup lucu bagaikan Baby yang baru lahir, semua karyawan di sana hanya bisa terkekeh sambil menutupi mulutnya.


"Kira-kira apa ya yang Nyonya Fayra bisikkan sama Tuan Kharel?" gumam kecil, salah satu karyawan di sana.


"Sepertinya dia membisikan hal yang lebih dalam, contohnya malam pertama. Mungkin?" jawab yang lain.


"Nah, bisa jadi tuh. Apa lagi Tuan Kharel 'kan posisinya masih seperti itu. Jadi besar kemungkinan, Nyonya Fayra akan mengambil alih permainan yang seharusnya di mulai dari Tuan Kharel."


"Cuman aku penasaran, gaya apa ya yang akan Nyonya Fayra berikan ketika malam pertama nanti?"


"Gaya kodok kejepit? Ranjang berdecit? Atau bisa jadi kura-kura ninja?"


"Huss, udah akhh jangan bergosip. Mereka itu pasangan yang sangat serasi, jadi biarkan saja mau jungkir balik, salto atau guling-guling sekalipun di saat malam pertamanya itu hak mereka, bukan kita yang menentukan."


Beberapa karyawan yang dari tadi berbisik-bisik tetangga membuat salah satu dari mereka langsung menyudahinya. Karena jika sampai kata-kata mereka terdengar di telinga Kharel, itu akan membuat pekerjaan mereka terancam. Sehingga tidak ada lagi penghasilan yang mereka terima setiap bulannya.


Mau tidak mau, Kharel menyetujuinnya semua itu karena dia sudah terikat akan janji yang dia ucapkan sebelumnya.


Setelah itu Fayra tersenyum lebar ketika dia berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan. Rasanya puas banget saat melihat wajah calon suaminya yang terlihat sangat menggemaskan.


Kemudian Fayra kembali berganti pakaian seperti semula, setidaknya dia sudah sangat nyaman dengan apa yang di rancang oleh mereka semua demi mewujudkan gaun impian Fayra. Lantaran dia akan menikah dengan pria yang akan menjadi tempat terakhirnya berlabuh.


Namun, siapa sangka saat berada di ruangan ganti tawa Fayra pecah sepecah-pecahnya ketika wajah Kharel selalu terbayang di ingatannya. Membuat mereka yang sedang membantu Fayra melepas gaunnya pun terkejut.

__ADS_1


Mereka hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Seakan-akan tawa Fayra menular kepada mereka semua yang tidak tahu apa yang lucu, tetapi malah ikut terkekeh.


__ADS_2