Learn to Love You

Learn to Love You
Mencoba Menerima Semua Masa Lalu


__ADS_3

Beberapa menit berlalu Sheila yang sudah mulai tenang, langsung menatap wajah Killa dengan tatapan yang sangat menegangkan. Perlahan Sheila mencoba mendekati Killa, membuatnya sedikit memundurkan langkahnya.


Namun, Galih yang melihat gerak-gerik Sheila bergegear berlari dan merangkul istri serta anaknya. Terlihat jelas betapa khawatirnya Galih ketika keluarga kecilnya akan menjadi sasaran kemaran seorang Sheila.


"Jangan sakiti istriku dan juga anakku! Mereka tidak bersalah, Shel. Kalau lu mau menyakiti seseorang, maka orangnya gua bukan mereka!" tegas Galih, menatap Sheila yang saat ini sedang berada di depannya.


"Shel, apa yang mau lu lakukan sama mereka?" ucap Nicho, gugup.


"Lu tenang aja, gua enggak akan nyakitin mereka. Gua cuman mau ...."


Sheila menghentikan ucapannya sambil menatap manik mata Galih dan Killa secara bergantian, lalu beralih menatap kearah anak kecil yang terlihat begitu nyaman di dalam gendongan Killa.


"Ma-mau apa?" ucap Galih wajahnya begitu cemas melihat Sheila yang langsung menarik tangan Killa dan jatuh ke dalam pelukannya.


"Gua tahu lu orang baik, Kill. Karena gua tahu lu dari kecil, akan tetapi gua enggak bisa melupakan semua kejadian itu karena itu benar-benar membekas di hati gua."


"Gua mungkin bisa memaafkan kalian, cuman untuk berteman kembali gua rasa gua enggak akan sanggup. Lebih baik kita kembali ke titik nol, dimana kita tidak saling mengenal agar luka di dalam hati gua tidak semakin sakit!"


Sheila berusaha melawan tubuhnya yang terasa ingin mencekik leher Killa, cuman kembali lagi. Sheila tidak mau membalas semua kejahatan dengan kejahatan, dia hanya bisa mencoba menahan diri sambil memeluk mantan sahabatnya untuk terakhir kalinya.


"Hiks, ma-maafkan gua Shel. Gua udah merebut semua kebahagiaan lu, di sini gua yang salah Shel, bukan lu. Gua sadar, gua bukan sahabat yang baik buat lu. Tapi---"


"Sudah, Kill. Jangan di teruskan, lu di sini sama kaya gua cuman sebagai korban. Gua berharap kalian bisa bahagia. Pesan gua cuman 1, gua enggak mau sampai anak yang saat ini ada di dalam gendongan lu kembali menjadi korban berikutnya."


"Jika sampai itu terjadi, gua orang pertama yang akan menghancurkan kalian berdua. Mengerti!"


Sheila melepaskan pelukannya, menatap wajah Killa yang saat ini hanya menganggukan kepalanya sambil sedikit tersenyum.


Galih dan Nicho pun ikut tersenyum, menyaksikan persahabatan mereka yang kian mulai membaik. Sayangnya, ada satu kejutan yang Sheila berikan kepada Galih yaitu berupa tamparan cantik di pipinya.


Plak ...


"Tamparan pertama, untuk orang yang sangat lu cintai, pada akhirnya lu telah mengkhianatinya!"


Plak ...

__ADS_1


"Tamparan kedua, untuk sahabat gua yang sudah lu renggut masa depannya!"


Plak ...


"Tamparan terakhir, untuk malaikat kecil yang tak berdosa karena dia hadir dengan cara yang salah!"


3 tamparan itu mendarat tepat di kedua pipi Galih secara bergantian. Galih hanya bisa menerima semua yang memang seharusnya dia terima, bahkan itu tidak seberapa karena dia bisa mendapatkan yang lebih dari apa yang Sheila lakukan sekarang.


Killa meneteskan air matanya, berusaha menahan Sheila dengan satu tangannya akibat tangan satunya menahan tubuh mungil yang saat ini berada di dalam pelukannya.


Setelah semua urusan selesai, Galih dan Killa berpamitan kepada Sheila. Mereka akan melanjutkan kehidupannya dan tinggal di luar negeri bersama kedua orang tua Galih, sesuai permintaan Sheila.


Meskipun Sheila berusaha merelakan semuanya, tetapi di dalam hatinya masih begitu sulit untuk menerima semua fakta yang selama ini selalu terbayang menghantuinya.


Seperginya Galih dan Killa, kini Sheila kembali menangis sambil berjalan menuju sebuah kursi taman. Nicho selalu mengikuti kemana pun Sheila pergi tanpa berani mengatakan apa pun.


Nicho masih terlihat syok dan wajahnya sedikit pucat akibat melihat reaksi tamparan Sheila kepada Galih, cukup membuat kedua pipi Galih memerah.


Sheila melirik ke arah sampingnya, dimana Nicho hanya bisa melirik sedikit menundukkan kepalanya. "Ngapain lu masih di sini, mending pergi sana! Jangan ikutin gua, udah cukup lu mengetahui semua kehidupan gua."


"Gua mohon jangan ceritain semua masalah ini kepada mereka, cukup lu aja yang tahu! Gua enggak mau sampai sahabat gua merasa kasihan, jadi lu bisa jaga rahasia ini, kan?"


Sheila segera memotong perkataan Nicho, karena dia sangat takut jika kejadian menyedihkan ini sampai di ketahui sahabatnya. Maka, mereka semua akan mengasihi Sheila atas kejadian di masa lalunya.


"Lu tenang aja, gua enggak akan mengatakan semua ini kepada mereka. Gua juga akan melupakan semua kejadian ini, seolah-olah gua enggak pernah tahu tentang masa lalu lu."


"Gua paham semua ini sangat berat buat lu untuk merelakan serta melepaskan orang yang sangat lu cintai. Tapi ingat, Shel. Masih ada gua, orang yang sangat mencintai lu walaupun gua banyak kekurangan."


"Berkat lu, gua paham makna cinta yang sesungguhnya. Ya, mungkin lu kenal gua. Lu tahu semua kejelekan tentang gua seperti apa. Gua pun enggak peduli, mau semua orang bilang gua playboy, munafik, atau pakar segala sakit hati terserah!"


"Bagi gua saat ini, yang penting gua mau berubah demi lu. Gua akan berusaha jadi yang terbaik buat lu, tapi apa lu mau memberikan gua kesempatan buat bisa dekat sama lu?"


Perkataan Nicho membuat Sheila terdiam membeku, dia merasa bingung harus menjawab seperti apa semua ucapan Nicho.


Sampai akhirnya, Sheila malah mengalihkannya dan memilih untuk mengajak Nicho pulang. Apa lagi cuacanya sudah mulai mendung, bahkan rintikan air hujan mulai turun secara berelang-seling.

__ADS_1


"Ki-kita pulang aja ya, udah mau hujan juga. Gua mau pesan gojek dulu, sebentar!" ucap Sheila sambil mengeluarkan ponselnya.


"Enggak perlu, gua anter pulang aja. Kalau nunggu gojek yang ada hujan keburu turun, mending ikut sama gua." ucap Nicho.


"Memangnya kalau gua ikut sama lu hujan enggak akan turun? Terus kita enggak akan kehujanan?" tanya Sheila, bingung.


"Ya tetep sih kehujanan, kan gua pakai motor hehe ... Seenggaknya kalau sama gua kita bisa neduh dulu sambil ngobrol-ngobrol. Siapa tahu dengan begitu, benih-benih cinta bisa hadir di hati lu buat gua." goda Nicho mengedipkan sebelah matanya.


"Dishh, bahasa lu benih-benih cinta. Enggak sekalian aja benih lele lu tanam, biar bisa jadi pemancingan!" sahut Sheila, kesal menutupi kegugupannya.


"Bagaimana jika benih-benih anak gua yang di tanam di rahim lu, hem?" Nicho terus menggoda Sheila sampai wajahnya kian merona.


"Yak, lu kata rahim gua itu tempat ternak anak kali!" pekik Sheila.


"Bukan ternak sih, lebih tepatnya pabrik anak. Dimana gua setiap hari akan memproduksi benih-benih cinta kita, terus lu yang akan menghasilkan hasil yang sempurna. Bagaimana, haha ...."


Nicho tertawa terbahak-bahak ketika matanya menatap wajah Sheila yang semakin memerah, layaknya udang rebus.


Sheila sudah benar-benar kesal, langsung menendang senjata milik Nicho hingga membuatnya memekik keras akibat rasa ngiku yang di hasilkan oleh lutut Sheila.


Aarrghh ...


"Haha ... Syukurin! Siapa suruh lu ngeledek gua, akhirnya senjata makan Tuan." tawa Sheila pecah saat melihat Nicho berusaha memegangi senjatanya.


"Si*alan! Awas lu, gua bikin hamil tahu rasa!" pekik Nicho, yang kini berusaha berjalan sambil sedikit jegang akibat rasa ngilu di bagian senjatanya masih terasa menyakitkan.


Sheila hanya bisa tertawa dan tertawa sepuas-puasnya, tetapi bagi Nicho rasa sakit yang dia rasakan tidak sebanding ketika dia bisa melihat kembali wajah Sheila bersinar.


Nicho tersenyum sekilas, dan meneruskan berpura-pura kesal. Lalu mereka pun berjalan ke arah parkiran. Perlahan Nicho menaiki motornya menahan segala rasa sakit di senjata miliknya.


Namun, Sheila dia merasa hatinya sedikit lega setelah melihat ekspresi wajah Nicho yang berhasil mengundang canda tawanya.


Sheila sedikit terhibur dan merasa bersalah. Dengan segala kelembutan hatinya, Sheila meminta maaf kepada Nicho tepat di sela perjalanan mereka kembali ke rumah.


Nicho tak masalah, jika dia harus mengalami rasa sakit setiap hatinya. Asalkan dia bisa melihat senyuman selebar itu di wajah Sheila untuk selamanya.

__ADS_1


__ADS_2