
Freya menoleh menatap punggung Ace yang semakin menjauh dan berkata. "Pria itu memang berbeda dari yang lain, sikapnya terlalu dingin membuat aku menjadi penasaran!"
"Astaga, Freya! Apa-apaan sih, sudahlah fokus makan aja. Pria kaya dia pasti banyak ceweknya, jadi jangan aneh-aneh nanti disakitin nangis lagi!"
Freya bergumam kecil, menggelengkan kepalanya. Lalu kembali melahap makanannya sampai habis tidak tersisa.
Tak lama bel selesai istirahat pun berbunyi, sehingga semua mahasiswa/i berlomba untuk segera kembali ke kelasnya masing-masing.
...*...
...*...
Di jam pelajaran terakhir, Ace sedang fokus memperhatikan sang dosen sambil mencatat semua yang menurutnya penting.
Berbeda halnya sama Freya, dia terlihat gelisah ketika tinta pulpen yang ada ditangannya sudah mulai habis.
Namun, tanpa di sengaja. Ace sedikit melirik kearah Freya sekilas, ketika mendengar celotehannya yang sedikit mengganggu telinganya.
"Astaga, ini gimana aku mau nulis. Tinta pulpenku aja sudah habis, belum lagi aku lupa bawa cadangan pulpen lainnya. Huhh, nasib-nasib!" gumam lirih Freya.
Ace melihat itu hanya bisa terdiam penuh kecuekan, lalu kembali fokus pada pelajarannya. Cuman tiba-tiba saja seorang dosen, menyuruh semua mahasiswa/i untuk segera menyiapkan alat tulis.
Freya mendengar suara tersebut, langsung dibuay kelabakan mencari pinjaman di samping kanannya ataunpun depannya. Tetapi nihil, semua tidak bisa meminjamkannya karena disekeliling Freya hanya ada mahasiswi.
Mungkin, jika mahasiswa maka Freya dengan mudahnya mendapatkan apa yang dia butuhkan saat ini tanpa mengemis. Di saat Freya ingin mengangkat tangannya ke atas, ada suatu hal yang membuatnya terkejut.
__ADS_1
1 pulpen terbang ke arahnya, dan jatuh tepat diatas mejanya. Freya terkejut bukan main, lalu dia menoleh ke kanan-kiri, kemudian terhenti saat menatap ke arah Ace yang fokus menatap ke depan.
"A-apakah i-ini pulpenmu, Ace?" tanya Freya, sedikit gugup.
"Hem." jawab Ace hanya dengan suara mendehem.
"Te-terima kasih, na-nanti aku gantikan dengan yang baru. Soalnya aku---"
"Enggak usah berisik, kuping gua bu*dek dengernya! Mending lu diam deh, perhatiin tuh dosen ngomong!" sambung Ace, dengan kesal.
Freya hanya bisa tersenyum kikuk sambil menganggukan kepalanya perlahan, dan kembali fokus pada pelajarannya.
...*...
...*...
"Raa, gimana kabar su- eh, ma-maksudnya cowok lu di Amrik?" tanya Arsyi, hampir saja keceplosan.
"Dia baik kok, bahkan dia semakin ke sini semakin romantis. Cuman sayangnya jauh, coba kalau deket. Pasti bisa meluk tiap hari hehe ...." jawab Fayra, terkekeh.
"Kalem, nanti juga lu bisa nyusul ke sana." sahut Sheila sambil mengaduk minumannya.
"Ohya, guys. Minggu depan lu pada dateng ya ke rumah gua, soalnya gua sama Koko ada acara pertunangan gitu. Sesuai dengan janji yang dia ucapin." ucap Nata, tersenyum.
"Wis, gila. Bentar lagi kayanya ada yang mau nyaingi Fayra dan Ace nih. Terus lu kapan, Sheil? Masa iya mau gitu-gitu terus sama Nicho, kek enggak ada kejelasan." jawab Arsyi, menatap Sheila.
__ADS_1
"Entahlah, gua masih bingung. Gua cuman enggak mau terjebak di lubang yang sama. Kejadian di masa lalu membuat gua susah untuk percaya dengan yang namanya cinta." tegas Sheila, kembali memakan camilan diatas meja.
"Emangnya lu enggak bisa buka hati buat Nicho? Kasihan ege, dia itu berharap banget sama lu. Apa lagi dia rela berubah, masa iya lu enggak bisa pertimbangi semuanya?" ucap Fayra.
"Ya bener itu, sama halnya kaya Fayra. Walaupun dia enggak punya ikatan pacaran atau pasangan kekasih, tetapi hubungannya sama Eric bisa sampai di titik serius kok. Apa lu enggak mau coba kaya mereka?" sahut Nata.
"Ya memang gua mau seperti kalian punya pasangan, walaupun tanpa ikatan tetapi memiliki sebuah komitmen yang kuat. Cuman masalahnya, gua takut trauma itu muncul."
"Lu kan udah tahu kisah gua gimana, ditambah Nicho itu mantan seorang playboy. Jadi gua takut, dia bisa lebih parah ngehancurin hati guanya."
Sheila berkata dalam keadaan terus menunduk sambil mengaduk-adukkan minumannya, menggunakan sedotan.
"Gua tahu itu berat buat lu, tapi lu harus bisa bangkit, Sheil. Kalau lu kaya gini terus. Lu akan susah buat ngejalani kehidupan seperti yang lainnya." sahut Fayra, merasa kasihan melihat temannya masih terjebak oleh masa lalunya.
"Gua setuju sama lu, Raa. Ya walaupun gua sama Eric enggak ada ikatan kaya kalian berdua, tapi Eric selalu memberikan perhatian lebih yang buat gua nyaman. Walaupun kadang menyebalkan sih."
"Coba deh, lu juga ikutin cara gua. Siapa tahu kan, dari situ lu bisa terima Nicho setelah lu paham betul dia seperti apa."
"Masalah jodoh atau enggaknya, biarkan saja itu urusan Tuhan yang mengatur semuanya. Tugas lu cuman berusaha buat kehidupan lu yang sepi, bisa kembali rame."
Penjelasan Arsyi, Fayra dan juga Nata perlahan membuat Sheila mulai terbuka. Dia paham jika Nicho selama ini selalu berusaha keras untuk menunjukkan perubahannha serta mendapatkan cintanya.
Namun, akibat rasa trauma akan dunia percintaan membuat Sheila enggan kembali mencobanya. Tetapi sekarang dia paham. Jika semua kehidupan tidak bisa berjalan dengan sangat mulus.
Entah itu dunia percintaan, persahabatan, keluarga ataupun ekonomi. Karena semua itu bagaikan gelombang air yang ada di lautan. Dimana semua itu akan ada saatnya pasang-surutnya.
__ADS_1