
"Aku benar-benar kecewa denganmu Ace, aku tidak menyangka orang yang aku nilai baik ternyata adalah seorang peng*ecut yang sangat breng*sek!"
"Selamat, kamu sudah menghancurkan 2 kehidupan wanita sekaligus, hanya demi kepentingan hidupmu sendiri!"
Seorang wanita yang tidak lain dan tidak bukan adalah Freya. Dia mengikuti Ace mengejar Fayra, sampai akhirnya Ace gagal dan terlihat begitu frustasi setelah perginya Fayra.
Melihat kondisi Ace seperti itu membuat Freya merasa kasihan, cuman kembali lagi. Rasa kekecewaan didalam hatinya yang sudah begitu kuat, berhasil mengalahkan rasa kasihannya.
Dimana perasaan kagum dan juga cinta yang ada didalam hatinya kian memudar, setelah menyaksikan kejadian mengejutkan hari ini.
Setelah mengatakan semua kekecewaan didalam hati Freya, kini dia langsung bergegas pergi begitu saja ketika pintu lift terbuka.
Sementara Ace hanya terdiam menatap Freya yng sudah hilang ditelan lift. Hanya dengan hitungan detik lagi dan lagi Ace berteriak keras penuh penyesalan dan juga emosi, sampai membuat pengunjung Apartemen lainnya keluar menyaksikan sesuatu yang membuat mereka penasaran.
Melihat tatapan bingung dari pada pengunjung Apartemen. Tanpa basa-basi lagi, Ace malah memarahinya dan pergi ke Apartemennya lalu menutup kencang pintu tersebut.
Ace mengamuk sekeras mungkin dengan semua kejadian yang terjadi hari ini, dia tidak menyangka bahwa Fayra akan bertindak sejauh itu.
Rasanya Ace ingin sekali menghubungi kedua orang tuanya, tetapi dia enggan melakukannya karena dia takut jika mereka akan marah besar kepadanya.
...*...
...*...
Didalam Apartemen, Fayra langsung membantingkan tubuhnya ke atas ranjang dalam keadaan tengkurep. Disinilah air mata yang berusaha Fayra tahan seketika runtuh begitu deras.
Fayra memukul-mukul keras ranjang, mencekram erat bantal sekalipun berteriak di dalam dekapan bantal. Fayra ingin sekali menyerah dengan hidupnya, lantaran rasa sakit didalam hatinya begitu menyiksa.
__ADS_1
Beberapa kali Fayra sempat berpikir untuk mengakhiri hidupnya sendiri. PAkan tetapi, dia kembali mengingatkan kedua orang tuanya yang begitu berharap untuk sebuah kebahagiaan yang akan dia berikan kepada mereka.
...*...
...*...
Pagi hari, Fayra sudah memesan tiket untuk kembali ke Indonesia. Dimana saat ini Fayra sedang membereskan semua barang-barangnya, lalu pergi meninggalkan Apartemennya menuju Bandara.
Tepat pukul 8 pagi, Fayra sudah sampai di Bandara. Perlahan Fayra mulai melangkahkan kakinya menginjakkan tangga pesawat dengan kepala menoleh kearah belakang.
"Selamat tinggal, Bunny! Semoga kamu bisa bahagia tanpa aku, dan semoga kelak kamu bisa lebih menghargai seseorang yang ada didalam hidupmu."
"Terima kasih atas semua pelajaran yang udah kamu berikan padaku, dan maaf jika aku belum bisa menjadi istri yang terbaik untukmu. Sekali lagi, terima kasih atas semuanya. Aku pamit, mungkin setelah ini kita tidak akan pernah ketemu lagi!"
Fayra bergumam didalam hatinya sambil menatap kearah belakang dan kembali berjalan memasuki pesawat.
Namun, baru beberapa langkah Fayra memijakkan kakinya, tiba-tiba seseorang dari arah belakang langsung menyerobot jalan Fayra hingga membuatnya hampir saja terjatuh.
Fayra yang hampir saja terjatuh, reflek langsung memegang sandaran tangga pesawat dengan wajah sedikit terkejut dipenuhi dengan kekesalan yang cukup memancing emosi didalam hati Fayra.
Bagimana tidak kesal, hatinya saja masih tidak karuan akibat ulah suaminya yang sudah mengkhianatinya. Sekarang, malah ada yang menabraknya dengan sesuka hati tanpa permisi.
"Ma-maaf, aku tidak sengaja. Aku lagi buru-buru takut ketinggalan pesawat, kamu gapapa kan?" tanya seseorang dengan wajah bersalah saat melihat Fayra menatap tajam kearahnya.
"Ya, gapapa sih. Cuman kan aku kaget aja, orang lagi jalan tiba-tiba ada yang menyalip bagaikan Rossi tanpa motor." sahut Fayra yang mulai berusaha menenangkan perasaannya yang sedikit memanas.
"Syukur deh, ya sudah saya duluan!" ucapnya yang langsung terburu-buru menaiki anakan tangga, lalu masuk kedalam pesawat sambil mencari tempat duduk yang tertera atas tiket dengan namanya.
__ADS_1
Sementara Fayra yang melihat kelakuan aneh dari orang itu, berhasil membuatnya hanya mengelus dada dan kembali melangkahkan kedua kakinya memasuki pesawat.
Ketika Fayra sedang mencari tempat duduknya, ternyata orang yang tadi menabraknya sudah duduk tepat di kursi sebelahnya.
Awalnya Fayra tidak percaya ketika melihat orang tersebut sedang sibuk oleh ponselnya, kemudian Fayra mendekati salah satu pramugari untuk memastikan apakah itu tempat duduknya atau bukan.
Dan setelah diselidiki memang benar, Fayra duduk dikursi dekat jendela pesawat tepat disebelah orang itu yang kini telah duduk asyik menutupi jalan lewat Fayra.
"Astaga, kenapa harus sama dia sih. Perasaan hati masih kesal sama tuh orang, ini malah duduk bersebelahan. Huhh, tenang, Fayra. Tenang! Ingat, kamu itu cewek kuat jadi jangan marah-marah terus, kasian entar cantiknya ilang loh."
"Ehh, kenapa aku malah jadi gombalin diri sendiri? Yaumpan, sefrustasi itukah kamu Fayra? Yakk, dahlah apaan sih. Pokoknya ingat dan selalu ingat, jika Fayra yang sekarang bukanlah Fayra yang dulu! Lah, ngapa jadi kek judul lagu yang di nyanyiin si Tegar? Hihi ...."
Fayra berbicara didalam hatinya dengan posisi dia berdiri tepat dibelakang orang itu. Kemudian perlahan Fayra melangkahkan kakinya bersamaan dengan pramugari, tak lama orang itu menggeser kakinya supaya Fayra bisa duduk di kursinya dengan tenang.
"Loh, kamu?" ucap pria itu terkejut saat melihat Fayra baru saja duduk disampingnya.
"Kenapa? Ini tempat dudukku, jadi sesuka hatiku mau duduk dimana. Jika nomor kursi bisa ditukar maka aku akan memilih duduk sendiri dari pada bersama dengan orang yang begitu menyebalkan!"
Terlihat wajah kesal Fayra kembali muncul saat melihat wajah yang saat ini menatapnya dalam keadaan bingung. Entah mengapa, setiap kali Fayra menatap wajah orang tersebut membuat dia selalu kesal.
Bahkan jika tidak menabrak Fayra pun, pasti Fayra juga akan tetap merasa kesal. Tidak tahu ada apa dengan dirinya, kali inu dia seperti ingin sekali menumpahkan semua rasa kekecewaannya atas sikap suaminya kepada orang tersebut.
Tanpa mau menambah kesal didalam hatinya saat melihat wajah itu, Fayra segera mengalihkan pandangannya menatap kearah jendela.
Tempat duduk yang Fayra dapatkan, merupakan tempat ternyaman untuknya karena dia bisa menatap pemandangan diatas awan setelah pesawat sudah berada duatas langit.
Itu salah satu cara terbaik untuk mengalihkan ucapannya, agar Fyra bisa merasa lebih tenang ketika melihat pemandangan diatas awan nantinya.
__ADS_1
Tak lama seorang pramugari memberikan sebuah informasi kepada semua penumpang untuk segera memakai sabuk pengamannya. Dan tak lupa juga pramugari itu memberikan wejangan untuk keselamatan penumpang.
Setelah semua selesai dan dipastikan aman, pesawat pun mulai berjalan menunggunakan rodanya dengan perlahan. Lalu, hanya dengan jarak beberapa meter pesawat langsung terbang melayang kearah langit yang begitu cerah.