
Anak semata wayangnya yang selama ini mengalami rasa sakit ketika menjalankan perjodohan kedua orang tuanya, membuat orang tuanya merasa bersalah. Cuman hadirkan Kharel membuat mereka tersadar, jika tidak selamanya yang namanya perjodohan akan berjalan mulus dan bahagia.
Setelah selesai sarapan mereka segera bersiap-siap, lalu pergi bersama dengan 1 mobil yang di setirin oleh Kharel menuju tempat persidangan.
Di dalam mobil tanpa sengaja Appa Kharel langsung mengatakan sesuatu yang membuat Fayra sedikit terdiam dan ragu untuk sekedar menjawabnya.
"Apakah kamu sudah siap, Sayang?" tanya Appa Daniel.
"Siap apa, Appa?" tanya balik Fayra menoleh ke arah kursi belakang.
"Siap untuk bertemu dan menyaksikan mantan suamimu ity di hukum atas perbuatannya."
Degh!
Perkataan itu membuat Fayra kembali keposisi awal dan menatap ke arah depan, entah mengapa meskipun Fayra tidak lagi mencintai Ace.
Akan tetapi dia sebenarnya kasihan dengannya, cuman mau bagaimana lagi. Perbuatan Ace sudah sangat keterlaluan, dengan berniat untuk menghancurkan serta mencelakai suaminya.
Kharel sedikit menoleh ke arah istrinya yang saat ini hanya terdiam tanpa menjawab pertanyaan Appanya sendiri.
"Istriku pasti kuat, Appa tenang saja. Walaupun dia sudah tidak lagi mencintai mantan suaminya, tetapi tidak menutup kemungkinan akan ada rasa kasian di dalam hati kecilnya. Apa lagi dia harus menyaksikan orang yang pernah hadir di dalam hidupnya harus menerima semua hukuman atas kesalahannya sendiri."
"Meski istriku terlihat baik-baik saja, pasti hatinya sedang dilema. Dia bingung harus mengatakan apa dan harus menjawab apa dengan semua pertanyaan Appa."
"Dia hanya takut jika dia belum siap, pasti dia akan dianggap masih memiliki perasaan terhadap masa lalunya. Namun, ketika dia bilang siap. Maka hatinya yang ragu, kalau sebenarnya dia memiliki rasa kasihan yang besar terhadap keluarga mantan suaminya."
"Melihat Ace hanya tinggal bersama Ibunya, lalu Ibunya juga baru saja keluar dari rumah sakit. Kemudian setelah Ibunya udah pulang, Ace malah berada di jeruji besi. Jadi akan ada banyak pemikiran yang harus Fayra pikirkan. Apakah langkah yang dia ambil itua benar atau salah?"
__ADS_1
"Ya mungkin, aku baru menjadi suaminya. Cuman aku bisa mengerti apa yang ada didalam isi hatinya saat ini. Disatu posisi istriku sangat mencintai diriku, dan diposisi lain dia merasa tidak tega jika Ibunya Ace akan menjalani kehidupannya sendiri tanpa suami dan juga anaknya yang harus mendekam dipenjara beberapa tahun lamanya."
Kharel menjelaskan apa yang dia ketahui tentang isi hati istrinya sendiri, sampai-sampai Fayra terkejut dan langsung menoleh ke arah suaminya.
Dimana Kharel hanya terdiam, tersenyum sambil menatap ke arah jalan dan sesekali menatapnya dengan satu tangan mengelus kepalanya secara perlahan.
Sementara kedua orang tua Fayra, benar-benar sangat salut dan juga tidak menyangka kalau Kharel bisa bersikap sedewasa ini. Mereka kira Kharel akan marah karena Fayra terdiam cukup lama saat Appanya menanyakan hal yang sedikit sensitif.
Namun, semua di luar dugaan. Kharel seperti sangat mengerti tentang perasaan dilema yang Fayra rasakan saat ini.
Senyuman di bibir Fayra mulai merekah, tanpa di sangka-sangka Fayra langsung memeluk suaminya hingga mencium pipinya tepat di depan kedua orang tuanya tanpa rasa malu sedikitpun.
Cup!
"Terima kasih, Kak. Karena Kakak sudah sangat mengerti tentang perasaanku, jujur aku bukan tidak mau menjawab pertanyaan Appa. Tetapi, aku cuman takut kalau aku berbicara Kakak malah salah tanggep hingga membuat kita menjadi salah paham."
Kharel terdiam menyandarkan pipinya di kepala istrinya sambil mencium serta mengelus pipi istrinya.
"Tidak perlu berterima kasih, Sayang. Inilah yang dinamakan suami-istri, mereka harus bisa saling mengisi kekurangan masing-masing dan harus siap untuk memahami perasaannya. Jika tidak, maka rumah tangga tidak akan bertahan lama."
Perkataan Kharel semakin membuat Fayra sangat terharu ketika mendapatkan perlakuan yang tidak pernah dia dapatkan sebelumnya.
Dari sini Fayra sadar, bahwa dicintai oleh seseorang itu jauh lebih baik dari pada mencintai. Karena tidak semua orang yang mencintai itu selalu beruntung, akan tetapi orang yang di cintai sering kali beruntung sebab sikapnya yang manis itu bisa membuat lawan jenisnya terpana.
Amma Trysta ikut menyandar di pundak suaminya sambil melihat kemesraan anaknya berhasil membuatnya terharu.
"Appa, anak kita sekarang sudah besar ya? Dia seperti sudah menemukan kebahagiaanya, Amma seneng melihat mereka seperti ini. Semoga hubungan mereka bisa selalu langgeng dan juga segera di berikan momongan, aamin."
__ADS_1
"Aamin. Appa juga senang melihat Fayra bisa sebahagia ini, padahal Kharel ini merupakan teman masa kecilnya yang sudah puluhan tahun berpisah."
"Namun, siapq sangka. Tuhan Maha Baik, Dia malah mengirimkan jodoh untuk anak kita seperti Kharel. Pria baik dan juga tampan yang di takdirkan Tuhan, untuk mengobati semua luka yang ada di dalam hatinya akibat perbuatan kita."
Perkataan Appa Daniel membuat Amma Trysta hanya bisa menganggukan kepalanya kecil. Lalu tangan Appa Daniel langsung menggenggam tangan istrinya sambil mencium kepalanya.
Terlihat jelas jika mereka berdua melupakan kehadiran kedua orang tua Fayra, yang saat ini terus menyaksikan kemesraan mereka. Mereka berdua malah asyik tertawa bersama, bercanda bersama, sampai akhirnya tak terasa mereka sudah sampai di tempat persidangan.
Kharel memakirkan mobilnya secara perlahan, setelah mobil terparkir dengan benar dia segera mematikan mesin mobilnya. Bersamaan dengan itu, terdengarlah suara yang membuat mereka berdua terkejut dan langsung menoleh ke arah belakang.
"Ekhem, ingat ya di belakang masih ada kami. Kalian tidak hanya berdua di sini, jadi jangan menganggap kami ini adalah orang asing ya. Udah berasa dunia ini milik kalian berdua saja, sedangkan yang lainnya ngontak gitu?" ucap Amma Trysta, berpura-pura cemberut kesal.
Kharel dan Fayra yang menoleh ke arah belakang, menatap mereka dan tertawa cengengesan. Mereka berdua baru saja tersadar bahwa dibelakangnya terdapat kedua orang tua Fayra, yang juga menatap mereka dengan tatapan sedikit kesal.
Mereka sedikit malu dan wajahnya merona, karena apa yang mereka lakukan tadi semua pasti terekam di dalam pengelihatan kedua orang tua Fayra.
Sementara Appa Daniel hanya menggelengkan kepalanya. Kemudian mereka semua perlahan keluar dari mobil, dengan wajah yang sedikit tersenyum tetapi hati bersedih jika harus menyaksikan semua ini.
Fayra selalu menggandeng lengan suaminya, sedangkan Amma Trysta dan Appa Daniel saling berdampingan.
Langkah demi langkah, mereka pijakkan mulai memasuki area pengadilan. Cuman, tanpa di sangka mereka malah bertemu dengan Mommy Rosa yang saat ini keadaannya cukup memprihatinkan.
Badan yang selalu terawat, wajah yang sangat mulus, baju yang bermerek, perhiasan yang selalu melekat di teliga, leher, tangan mau juga jari. Kini, sudah tiada lagi.
Semua hanya tersisa penampilan sederhana, tanpa riasan dan juga kemewahan. Cukup dengan pakaian biasa, rambut di kuncir, dan sedikit bedak serta lipstik yang malah terlihat lebih tua dari Amma Trysta.
Mereka pun bertegur sapa saling berpelukan satu sama lain antara Mommy Rosa, Fayra dan Amma Trysta. Mereka terlihat baik-baik saja, bahkan berulah kali Mommy Rosa menyatakan kata maaf demi anaknya lepada mereka semua termasuk Kharel.
__ADS_1
Hanya saja, mereka memang sudah memaafkan atas semua kejadian yang Ace sebabkan. Bahkan Kharel pun samlngat berterima kasih pada Ace dan Ibunya, karena Ace saat ini Kharel bisa berjalan kembali meski nyawanya dan Fayra hampir saja hilang.