
Fayra berbicara dengan sangat bijak, tanpa sedikitpun air mata yang berlinang didalam pelupuk matanya. Kali ini entah ada kekuatan apa yang hadir didalam dirinya, sehingga dia bisa berbicara panjang kali lebar tanpa dihiasi oleh isak tangis yang selama ini menjadi kelemahannya.
"Ho-honey, ma-maafkan aku. A-aku----"
"Sudahlah tidak apa-apa. Ini sudah hal biasa yang terjadi bukan? Beberapa kali kamu juga selalu membuatku berada diposisi ini, bahkan secara terang-terangan."
"Namun, kali ini aku sudah tidak bisa mentoleransi semuanya. Maaf, jika aku belum bisa menjadi yang sempurna untuk kamu, maaf jika aku belum bisa jadi wanita yang baik untukmu, dan maaf jika cintaku sudah memaksa kamu untuk selalu berada disampingku."
"Aku paham kok, mencintai seseorang itu tidak mudah dan juga tidak sulit. Hanya saja semua tergantung dengan kemuan dan juga keinginan seseorang untuk mencintai atau tidak mencintai."
"Sebesar apapun cobaan hingga ujian yang diberikan, yang namanya cinta sejati tidak akan pernah gentar untuk tetap setia bersama dengan orang yang sama."
"Kalaupun kamu benar-benar mencintaiku, maka seberapa banyak wanita yang mendekatimu, kamu akan tetap pada pilihanmu yang pertama. Yaitu, aku!"
"Jarak memanglah salah satu menjadi ujian terbesar cinta kita saat ini. Hanya saja karena jarak aku bisa tahu, jika kekuatan cintamu cuman sebatas mengagumiku bukan pyur murni mencintaiku."
"Karena yang aku tahu, sejauh apapun kita melangkah untuk mengejar impian kita masing-masing. Cinta sejati tidak akan pernah lupa, kemana dia melangkah pergi dan kapan dia harus kembali pulang pada pilihannya."
"Apakah kalian pernah dengar, ada sebuah kisah yang sangat mengharukan. Dimana sepasang seekor merpati putih hidup disebuah rumah yang sangat kecil, dan kehidupan pernikahan mereka pun tidaklah baik-baik saja lantaran suaminya selalu pergi tanpa kabar."
"Pada saat hari sang suami terkena sebuah tembakan yang mengaharuskan sayap kanannya terluka cukup parah, sehingga dia tidak bisa terbang seperti biasanya. Ada rasa senang bagi sang isyri, ada pula rasa sedih melihat suaminya kesakitan."
"Namun, dengan senang hati istrinya tetap merawat suaminya penuh kasih sayang, sampai-sampai dia rela terbang begitu jauh hanya demi mencari makan untuk suaminya, meskipun suaminya tidak pernah memberikan nafkah untuknya."
"Disaat suaminya sudah kembali pulih dan bisa terbang, bahkan lebih jauh dari istrinya. Disaat itu pula suaminya melupakan istrinya, dan meninggalkannya selama berminggu-minggu."
"Sang istri kebingungan mencari kemana perginya suaminya, lantaran tidak menemukan jejak dimanapun suaminya pergi. Sampai seketika istrinya mulai lelah, dan hampir saja putus aja."
__ADS_1
"Ternyata suaminya pulang dengan membawakan sebuah hadiah untuknya. Sebuah Bunga Edelweiss dia berikan kepada istrinya sebagai tanda terima kasih, karena istrinya sudah merawatnya begitu tulus."
"Seketika pikiran negatif yang ada didalam kepala istrinya langsung runtuh, saat melihat pengorbanan suaminya yang rela terbang jauh ke atas gunung. Berhari-hari dia menerjang badai, hanya demi mengambil bunga tersebut yang sudah lama istrinya inginkan."
"Perasaan senang menyelimuti hati istrinya sehingga dia tidak lagi meragukan cintanya. Disitulah mereka mulai menjalani kehidupan pernikahan yang sangat romantis, sampai akhirnya mereka dikaruniai anak-anak yang sangat lucu."
"Sehingga ketika suaminya pergi jauh, sang istri tidak lagi menaruh curiga. Begitu juga sang suami yang tetap menjaga kepercayaan istrinya. Walaupun diluar sana banyak wanita yang menebar pesona padanya, tetapi dia selalu ingat jika ada seseorang yang sudah menunggu kepulangannya dengan kesetiaan."
"Bagi suaminya, anak serta istri adalah harta yang paling beharga dan tidak akan pernah dia sia-siakan. Bagaikan harga mati yang tidak bisa diganggu gugat."
Mendengar kisah tersebut membuat Ace meneteskan air matanya, kali ini dia benar-benar tersentuh dengan kisah pengorbanan suaminya yang membutikan cintanya pada istrinya.
Tidak seperti dirinya yang selalu melukai hati istrinya dengan sifat kelabilan hati yang masih belum bisa menentukan pilihan. Andaikan waktu bisa diputar kembali, maka Ace tidak akan pernah menyakiti Fayra.
Sementara Freya yang mendengar kisah itu membuat dia sedikit bingung, karena menurutnya kisah itu tidak masuk kedalam kisah mereka yang terjadi saat ini.
"Sayang, ma-maafkan aku. Aku salah, aku mohon jangan seperti ini. Aku enggak mau kamu berbicara seperti itu. Aku akui aku salah, tapi jujur! Aku sama Freya tidak ada hubungan apa-apa, aku hanya---"
Rasanya hati Fayra sudah sangat hancur dan juga berantakan saat dia mengetahui bahwa kurang lebih 1 tahun ini suaminya sudah mengkhianati cintanya untuk kesekian kalinya.
"Aku sudah tidak mau mendengar semua penjelasanmu, sesuai dengan perjanjian kita sebelum kamu berangkat ke Amerika. Semua alasan apapun yang kamu rangkai itu tidak akan mempan untuk mengubah keadaan yang sudah terjadi!"
"Aku sudah terlalu baik memberikan kesempatan, kesempatan bahkan kesempatan. Tetapi, sayangnya kamu malah menyia-nyiakannya dan menganggapnya seolah-olah itu sebuah kesalahan yang tidak disengaja!"
"Apa kamu melupakan perkataanku, kalau aku pernah bilang. Ketika kejadian perselingkuhan terulang kembali, maka aku sudah tidak bisa mempertahankan semua ini!"
"Waktu itu kamu mengkhianatiku ketika kita belum saling mencintai, it's okay. Aku terima!"
__ADS_1
"Namun, kali ini tidak bisa. Kamu telah mengkhianatiku ketika kita sudah saling mencintai, meskipun aku tahu semua itu bukanlah sebuah cinta. Melainkan hanya rasa kagum yang sebentar-bentar akan berubah sesuai dengan keadaan."
"Aku sadar selingkuh adalah perbuatan yang salah. Tapi maafkan aku, aku tidak bisa memafkan kesalahanmu yang itu.”
"Begitu juga kepercayaan bagaikan sebuah kaca. Ketika dia rusak, kamu bisa memperbaikinya kembali. Namun kamu masih bisa melihat bekas retakannya."
"Rasanya menyedihkan saat aku sudah berusaha semaksimal mungkin untukmu. Tapi semua ternyata belum cukup.”
"Untuk itu, maafkan aku karena aku harus mengakhiri hubungan ini. Aku sudah tidak bisa lagi bertahan dengan semua rasa sakit yang tidak pernah ada ujungnya."
"Maka dari itu, mulai hari ini, jam ini, menit ini, dan detik ini. Aku Fayra Lavina Rodriguez ingin meminta cerai denganmu."
Duaaarr!
Seketika gemuruh petir menggelegar didalam Apartemen Ace, hingga bintang-bintang yang awalnya memancarkan cahayanya kini mulai redup menjadikan langit semakin gelap.
Sebuah batu besar mendarat menimpa tubuh Ace, hingga membuat tubuhnya terasa melemah bersamaan dengan kedua lutut Ace terjatuh mencium lantai.
Ace bersujud tepat dihadapan Fayra dengan kedua bola mata terlihat sangat kosong, disertai air mata yangterus mengalir deras.
Ace benar-benar syok mendengar bahwa istrinya telah menyerah dengan cintanya sendiri. Padahal Ace tahu jika cinta istrinya kepadanya sangatlah besar, sehingga Ace beranggapan bahwa apa yang Fayra katakan hanyalah sekedar ancaman kecil baginya.
Mungkin saat emosinya mulai mereda nanti, Ace pasti akan kembali bersama dengan Fayra. Apapun keadaannya Ace yakin bahwa Fayra tidak akan bisa hidup tanpanya.
Sementara Freya yang menyaksikan semua itu telah dibuat tak berdaya dengan keterkejutan saat mendengar bahwa mereka berdua bukanlah pasangan kekasih. Melainkan pasangan suami istri yang sudah sah, Freya merasa bersalah karena dia sudah mengatakan hal buruk kepada Fayra.
Freya tidak menyangka, jika pria yang dia cintai saat ini adalah suami orang yang tidak mengakui statusnya. Rasa tidak enak mulai menyelimuti hati Freya ketika dia melihat betapa besarnya berjuangan cinta Fayra kepada Ace.
__ADS_1
Dari sini Freya bisa belajar bahwa apa yang dia lihat baik, belum sepenuhnya baik. Dibalik sikap manis Ace yang selalu ada disaat dia membutuhkannya, ternyata dia hanya menganggap bahwa dirinya sebagai pelarian semata.
Mencinta seseorang memang hal sangatlah mudah, tetapi menempatkan cinta itu kepada orang yang benar adalah hal yang sangat sulit.