
Fayra merasa hutang budi kepada seorang pria yang rela mencelakai dirinya sendiri hanya demi menyelamatkan Fayra.
Padahal jika kita tarik ulur yang sebenarnya bersalah adalah pria itu. Akan tetapi, pria itu menebus kesalahannya dengan menghindari kecelaan dan membuat dirinyalah yang celaka.
Hampir kurang lebih 30 menit, akhirnya seorang dokter pun datang dengan membawa kabar mengenai pria tersebut.
"Permisi, keluarga korban kecelakaan tunggal?" panggil sang dokter, sambil menatap ke arah Fayra yang sedang duduk menggigiti jarinya.
"Ahya, Dok. Bagaimana keadaan Tuan itu?" ucap Fayra wajahnya terlihat cemas.
"Apakah Nona, adalah istri dari pasien?"
Degh!
Pertanyaan dari sang dokter berhasil membuat Fayra terdiam mematung dengan kondisi mata membola besar. Dia tidak percaya jika dokter tersebut bisa berpikir sejauh itu.
"Bu-bukan, Dok. Bukan! Aku adalah orang yang ingin dia tabrak, cuman tidak jadi karena dia menabrakan mobilnya ke sebuah pohon." sahut Fayra, gugup.
"Ma-maaf, Nona. Saya kira Nona istrinya, baiklah Nona. Jadi, begini. Kondisi Tuan sudah jauh lebih baik, tidak ada luka dalam, hanya ada luka jahitan kecil di pelipisnya dan sedikit cedera di kakinya."
"Cuman tenang aja, semua itu akan segera pulih seiring berjalannya waktu. Dan Tuan juga masih harus di rawat inap selama kurang lebih 3 sampai 7 hari kedepan, sambil saya mengecek keadaannya. Setelah semuanya membaik maka Tuan sudah diperbolehkan pulang ke rumah."
Penjelasan dokter membuat Fayra mengerti, jika orang yang ingin menabraknya tidak mengalami keadaan yang seperti ada dibayangannya. Rasanya Fayra begitu lega ketika orang itu sudah dipastikan tidak ada hal buruk yang terjadi padanya.
"Syukurlah, Dok. Lalu apakah saya sudah di perbolehkan untuk menjenguknya?" ucap Fayra.
"Belum bisa, Nona. Nanti setelah Tuan dipindahkan ke ruangannya, baru Nona bisa menjaganya selama 24 jam dengan bebas. Sekarang lebih baik Nona isi daftar pasien di bagian administrasi terlebih dahulu, agar Tuan bisa segera di pindahkan." ucap sang dokter sambil tersenyum.
"Ta-tapi, Dok. Saya kan tidak mengenalnya. Terus bagaimana saya bisa mengisi data tersebut?" ucap Fayra, bingung.
__ADS_1
"Hem, Nona tinggal isi daftar bahwa Tuan adalah pasien kecelakaan. Sehingga Nona akan mengisi data full tentang siapa yang membawanya, jika Tuan sudah sadar nanti data akan diisi kembali."
Sang dokter menasihati Fayra. Sementara Fayra mengangguk perlahan, bahwa dia sudah mengerti dengan tugasnya saat ini.
Sang dokter kembali memasuki ruangan, lalu Fayra pun pergi menuju ke administrasi untuk mengurus semua perpindahan ruangan orang tersebut.
Setelah Fayra selesai mengurus semuanya, dia langsung pergi ke ruangan yang sudah ditentukan. Bahkan Fayra sudah membayar setengah biaya rumah sakit menggunakan uang simpanannya sendiri.
"Bagaimana, Dok? Apakah saya sudah diperbolehkan melihat orang itu?" tanya Fayra, saat melihat dokter baru aja keluar dari ruangan.
"Silakan, Nona. Saya permisi dulu harus mengurus pasien yang lain. Mari!" ucap sang dokter lalu pergi meninggalkan Fayra.
Ruangan Rosella, kamar nomer 12, tepat di lantai 15.
Perlahan Fayra memberanikan diri untuk memegang pintu, lalu mendorongnya ke dalam bersamaan dengan langkah kaki yang mulai memasuki ruangan.
Dimana pria tampan sedang tertidur pulas dengan luka perban dikepalanya, dan sudah menggunakan pakaian khusus rumah sakit.
Disaat Fayra sudah berdiri tepat di samping bangkar tersebut, dia terkejut saat melihat orang yang dia kenal beberapa hari ini. Wajah syok, mata membelalak dan kedua tangan menutup mulutnya yang terbuka.
"Astaga, di-dia kan Dosen Killer, Pak Kharet?"
"Ehh, kenapa jadi Kharet sih. Ma-maksudnya Pak Khamvret. Lah, kenapa malah nyambungnya jadi Khamvret!"
"Astaga, bukan-bukan! Hem, siapa sih? Ahya, Kharel. Nah ini baru bener, Pak Kharel. Dia Dosen Killer yang sangat menyebalkan!"
"Jangannya mendengar suara atau melihat sifatnya, ketika menatap wajahnya yang tengil aja, rasanya pengen aku unyek-unyek sumpah!"
__ADS_1
"Ehh, ta-tapi tunggu deh. Kemarin-kemarin aku lihat dia rasanya kesel banget, cuman kenapa saat melihatnya seperti ini membuatku merasa kasian? Apa hatiku ini bisa dikatakan selembut kapas, sehingga aku tidak bisa melihat orang terluka? Yakk, apaan sih!"
"Udahlah, mendingan aku pulang aja. Lagian ngapain juga nungguin dia, kerajinan. Mending pulang ke Apartemen terus tidur dengan nyenyak."
Fayra bergumam kecil, menatap wajah Kharel yang terlihat polos. Fayra pun berbalik melangkah pergi meninggalkan ruangan. Saat mau menarik pintu, dia kembali menutupnya dan berbalik menatap Kharel.
"Tapi, kalau aku pulang. Siapa yang menjaga Dosen Killer itu, sedangkan aku aja enggak tahu siapa keluarganya, dan berada dimana."
"Apa aku tunggu sampai dia sadar aja ya, habis itu hubungi keluarganya. Setelah beres, aku bisa langsung pulang dengan tenang. Toh, ini juga kesalahan dia bukan kesalahku kok. Jadi ya sudahlah, nunggu aja sebentar siapa tahu dia tersadar."
Fayra kembali melangkahkn kakinya mendekati sofa panjang, kemudian dia duduk sambil menonton televisi yang ada di ruangan.
Namun, selang beberapa menit. Fayra merasa bosan dan perutnya mulai lapar, lantaran dia belum mengisi perutnya dengan makan malam.
Tanpa menahannya, Fayra pun pergi keluar kamar menuju kantin teopt di jam 10 malam. Suasana rumah sakit sedikit sunyi, membuat Fayra bergidik ngeri. Untuk pertama kalinya dia berkeliaran di rumah sakit tepat di jam-jam seperti ini.
Sayangnya, rasa takut yang ada di dalam dirinya sudah terkalahkan dengan rasa lapar yang kian menggebu-gebu. Sampai akhirnya di kantin, Fayra langsung memberi keperluan perut dan juga mulutnya.
Tanpa berlama-lama, Fayra meminta semuanya di bungkus dan akan dia makan setelah kembali ke ruangan Kharel.
Jam 11 malam, Fayra sudah kembali ke ruangan Kharel lalu bergegas menyantap makanan tanpa mau menyisakannya.
Mulut penuh membuat kedua pipi cubby Fayra terlihat begitu menggembung, menambah kesan kegemesan diwajahnya.
"Akhirnya kenyang juga perutku, huhh. Nikmat mana lagi yang kau dustakan, Fayra hihi ...."
Fayra terkekeh sendiri sambil duduk sedikit menyender kearah sofa, sesekali matanya melirik ke arah Kharel. Dimana Kharel masih belum menggerakan tubuhnya, membuat Fayra sedikit kasihan dengannya.
"Jika dilihat-lihat dia memang tampan sih, tapi sayang. Saat dia tersadar aku selalu merasakan kekesalahan ketika melihat wajahnya yang sangat tengil itu. Berbeda dengan wajah Kak Ace yang terkesan bikin candu."
__ADS_1
"Yaak, apaan sih Fayra! Stop ya, stop! Ingat, kamu harus bisa lupain semuanya dan move on dari masa lalumu itu. Apa kamu lupa gimana dia memperlakukanmu, hem? Jadi cukup, lupakan semuanya dan mulailah fokus dengan menata kehidupan yang baru!"
Fayra berbicara kecil, sambil matanya terus menatap ke arah Kharel. Tanpa terasa, mata Fayra mulai terasa mengantuk. Hingga dia pun merebahkan tubuhnya sambil menonton televisi. Lama kelamaan kedua matanya mulai terpejam, dan Fayra pun tertidur memasuki alam bawah sadarnya.