Learn to Love You

Learn to Love You
Mati Rasa


__ADS_3

Wajah bahagia mereka terpancar dari sentulan sinar cinta yang berasal dari hatinya satu sama lain. Hingga tak terasa mereka tertawa bersama sambil berpelukan satu sama lain.


Namun, disela tawa mereka. Ada satu kejadian yang membuat mereka berdua begitu terkejut, entah kejadian apa. Yang jelas itu sangat-sangat membuat mereka tidak percaya sama apa yang mereka lihat.


"Raa, ke-kenapa kakiku tidak bisa digerakkan?" tanya Kharel. Wajahnya saat ini terlihat begitu takut, kaget dan juga bingung.


Di saat mereka sedang bercanda, tanpa di sengaja Kharel ingin menggeser tubuhnya agar bisa lebih mendekati Fayra. Akan tetapi, tidak bisa. Rasanya kedua kaki Kharel begitu kaku dan juga mati rasa.


"Hahh? Seriusan kaki Kakak enggak bisa digerakin? Kakak enggak lagi bohongin aku, kan? Ini serius, apa bercanda, Kak? Katakan dengan benar!" pekiknya.


Kepanikan di dalam wajah Fayra membuat Kharel pun semakin gelisah tidak karuan. Berulah kali Kharel mencoba menggerakan kedua kakinya, tetapi nihil.


Bahkan Fayra pun membantunya untuk mengangkat kaki Kharel secara perlahan, dan mencoba melepaskannya agar Kharel bisa menahannya. Cuman sia-sia, kaki Kharel bagaikan benda mati yang tidak bisa bergerak.


Wajah Fayra semakin cemas, hingga air mata yang tadi sudah menghilang kini kembali hadir karena melihat kondisi Kharel seperti ini.


Namun, Kharel yang melihat Fayra menangis berusaha menguatkan dirinya. Meski suatu saat nanti Kharel tidak bisa berjalan, dia tetap akan bersyukur. Baginya dia lebih baik kehilangan 2 kaki, tetapi masih bisa melihat wanitanya. Dari pada dia harus kehilangan nyawan untuk selamanya.


"Hei, Sayang. Please, jangan sedih lagi, okay! Aku gapapa loh, Sayang. Aku gapapa. Coba lihat aku sini, lihat!"


"Tuh, aku gapapa kan? Aku sehat-sehat aja kok, aku bisa bangun, aku bisa ketawa dan aku juga bisa meluk kamu. Ya, walaupun tanpa kedua kakiku. Tapi, setidaknya aku kembali bukan? Dari pada aku tertidur untuk selamanya, mau?"


Senyuman kecil terukir jelas di wajah Kharel, dia tidak mau terlihat lemah di depan wanita yang dia cintai. Karena itu malah akan semakin membuat Fayra menjadi bersedih.


Dibalik senyuman manis itu, sebenarnya hati Kharel begitu hancur ketika melihat kedua kakinya tidak lagi bisa di gerakkan. Cuman mau bagaimana lagi, ini sudah garisan tangan takdir yang harus dia jalanin.

__ADS_1


Walau, bayang-bayang keburukan selalu terlintas di dalam pikiran Kharel. Cuman dia harus tetap berusaha untuk mengontrol dirinya agar tidak semakin membuat Fayra merasa bersalah.


"Pasti semua ini gara-gara aku, 'kan? Ma-maaf Kak, maaf. Aku sudah membawa petaka bagi hidup Kakak. Aku juga tidak berguna, dan aku pun tidak pantas buat Kakak! Pokoknya aku ini wanita pembawa si*al, hiks ...."


Fayra menangis ketika mengetahui bahwa kedua kaki Kharel sudah tidak bisa bergerak. Bahkan Fayra pun memukuli dirinya sendiri membuat Kharel refleks menariknya untuk jatuh ke dalam dekapan pelukan hangatnya.


"Aku wanita jahat, Kak. Aku wanita pembawa petaka bagi kehidupan Kakak, ma-maaf semua ini terjadi pasti karena aku!"


"Kakak rela mengorbankan seluruh hidup Kakak sendiri hanya demi menyelamatkan aku, sampai-sampai Kakak mengalami koma. Dan sekarang? Lihat, Kakak enggak bisa jalan juga semua itu gara-gara aku!"


"Ya, memang aku penyebabnya Kak, aku!"


Inilah yang tidak Kharel inginkan dari Fayra, karena apa yang dia pikirkan terbukti sudah. Jika Fayra akan terus menyalahkan dirinya sendiri akibat kecelakan itu, dimana Kharel berusaha untuk melindunginya.


Isak tangis Fayra terdengar begitu menyedihkan, dia memukul kecil dada bidang Kharel sesekali meraung-raung akibat Fayra tidak menerima semua takdir yang ada.


Ya, Fayra senang karena tidak ada hal buruk yang terjadi dengannya atas kejadian itu. Akan tetapi, sikap Kharel yang mencoba mengubah takdirlah yang membuat Fayra sangat kesal dan terus menyalahkan dirinya sendiri.


Hati Fayra sangat hancur ketika rasa bersalah itu terus menyelimuti dirinya. Ketika melihat kondisi Fayra yang sangat menyedihkan, tanpa sadar Kharel meneteskan air matanya sambil memeluk Fayra.


Dimana air mata itu menetes tanpa permisi, mengenai rambut dan juga kepala Fayra. Segera mungkin Kharel menghapus air matanya, lalu mencoba untuk membuat dirinya mengerti. Kalau dia itu harus kuat, agar orang-orang yang melihatnya tidak akan mengasihi atas hidupnya.


"Suut, Sayang. Sekarang lihat aku, sini!"


"Kamu itu bukan wanita pembawa si*al, petaka dan sebagainya. Akan tetapi, kamu itu wanita yang membawa sumber kebahagiaan untukku."

__ADS_1


"Hanya kamu wanita satu-satunya yang bisa membuatku bagaikan manekin hidup, dan cuman kamu yang bisa mencairkan dingin es batu ini."


"Untuk itu, aku mohon jangan nangis lagi ya. Hapus semua kesedihan yang ada, karena air mata ini malah akan membuatku semakin lemah tak berdaya. Apa kamu mau lihat aku sedih, hem?"


"Tidak, 'kan? Maka dari itu, jikalau pun aku tidak akan bisa berjalan untuk selamanya, aku tidak masalah. Yang penting bagiku, aku bisa melihatmu tersenyum bahagia setiap hari itu sudah cukup kok. Ya meskipun, bukan sama diriku."


Senyuman kecil terukir di bibir Kharel sambil meraup wajah Fayra dan menghapus sisa air matanya. Sementara Fayra yang menatap Kharel segera menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Hiks, tidak Kak, tidak! Sampai kapanpun aku akan tetap bersama Kakak, mau keadaan Kakak kaya apapun aku tetap akan selalu ada di samping Kakak. Menemani Kakak dan akan tetap mencintai Kakak sampai maut yang akan memisahkan."


"Sekarang Kakak dengerin aku ya, mau gimana pun Kakak, apapun keadaan Kakak, ya aku tidak peduli. Bagiku Kakak tetaplah pasangan hidupku, yang terpenting aku akan selalu menjadi pengganti kaki Kakak untuk terus melangkah kedepan!."


"Pokoknya aku hanya mau Kakak, Kakak dan Kakak. Tidak mau yang lain! Walaupun 1000 pria mendekati aku, tapi cuman Kakak yang akan menjadi pasangan hidupku!"


"Udah Kakak jangan berpikir aneh-aneh lagi, ingat! Aku cinta sama Kakak, dan Kakak cinta sama aku itu udah cukup! Kita akan lewati semuanya bersama, karena keadaan ini tidak akan pernah membuatku menjauh sedikitpun dari Kakak. Malah aku akan semakin dekat dan akan selalu menemani Kakak setiap Kakak melangkahkan kedua kaki!"


"Jadi, Kakak tunggu di sini. Aku akan panggil dokter supaya bisa mengecek keadaan Kakak. Ingat, jangan berpikir jelek. Apapun yang terjadi aku akan tetap bersama Kakak!"


Fayra menatap tajam mata Kharel yang hanya bisa tersenyum menatapnya, lalu Fayra meninggalkan Kharel untuk segera memanggilkan dokter agar bisa langsung mengecek kondisinya.


Selepas Fayra keluar dari kamar, tangis Kharel seketika tumpah. Dia meratapi hidupnya yang terbilang sangat miris, bayangan akan keburukan selalu terlintas di pikiran Kharel.


Sampai akhirnya terdengar suara pintu yang akan terbuka, dia langsung menghapus kembali air matanya dan berusaha terlihat baik-baik saja dalam keadaan tersenyum.


Pintu terbuka bersamaan dengan masuknya Fayra yang membawa seorang dokter yang bergegas mendekati bangkar Kharel, lalu mengecek keadaan Kharel.

__ADS_1


Tak membutuhkan waktu yang lama, sang dokter pun selesai memeriksa keadaan Kharel dengan ekspresi wajah yang tidak terlihat baik-baik saja.


Begitu juga Kharel, dia melihat wajah sang dokter pun sudah mengerti jawaban yang akan ingin dia sampaikan.


__ADS_2