
Benar saja, sang dokter menjelaskan kepada Ace jika Freya memiliki trauma yang cukup berat akan kejadian dimasa lalunya. Sayangnya, sang dokter belum tahu alasan jelas yang akan memicu traumanya kembali.
Saat dokter masih berusaha menjelaskan kepada Ace, tiba-tiba terdengar suara samar dari arah dalam membuat asisten sang dokter langsung turun tangan untuk menyelesaikan masalah didalam.
...*...
...*...
Fayra yang mendapatkan perkataan kasar dari suaminya tersebut, seketika tubuhnya mulai melemah dan langsung duduk tepat dipinggir ranjangnya.
Kali ini Fayra benar-benar sangat syok mendengar suaminya kembali berkata kasar seperti semula, padahal selama Ace pergi meninggalkan Fayra hubungan mereka baik-baik aja. Cuman entah mengapa semakin kesini sifat Ace semakin susah untuk ditebak.
"A-ada a-apaa de-dengan ka-kamu, Bunny? Ke-kenapa u-ucapanmu kembali kasar? A-apa kamu lagi ada masalah besar, atau mata kuliahmu lagi penuh?Sehingga pikiran dan ucapanmu tanpa sadar telah melukai hatiku!"
Fayra bergumam lirih sambil duduk dipinggir ranjang dalam keadaan kedua tangan mencekram ranjang. Posisi tubuh sedikit Fayra dicondongkan kedepan, terlihat seperti seseorang yang sedang menahan sebuah kekecewaan didalam hatinya.
Beum lagi sorotan mata Fayra menatap tajam kearah depan, tetapi sangatlah kosong. Dimana air mata yang sudah tidak pernah menetes, kini kembali terjatuh seiring debaran hatinya yang kian mulai melemah.
Fayra tidak mengerti apa alasan suaminya sampai memarahinya seperti itu. Bukan seharusnya semua itu Fayra yang lakukan terhadap suaminya, lantaran dia seharian tidak memberikan kabar padanya.
Namun, kenapa saat ini malah berbanding terbalik? Dimana Acelah yang memarahi istrinya dengan kata-kata yang sangat menyakiti hatinya.
Ya walaupun tidak sengaja, tetapi perkataan itu berhasil membuat air mata Fayra menetes setelah sekian lama dia menahannya.
Sampai tak terasa Fayra membawa air matanya itu masuk kedalam mimpinya hingga dia tertidur begitu lelap, karena saking lelahnya dia bertahan demi sebuah kabar yang pada akhirnya tidak sesuai dengan ekspetasinya.
...*...
...*...
...Amerika ...
__ADS_1
Saat ini Ace terlihat begiru mengkhawatirkan tentang kondisi Freya, lantaran beberapa jam yang lalu Freya kembali mengamuk hingga berteriak histeris akibat teringat kembali akan traumanya.
Sekarang Freya sudah dipindahkan di ruangan inap setelah kondisi mentalnya mulai membaik. Besok setelah keadaan Freya sudsh jauh lebih enakan, maka akan ada kunjungan psikiater dari rumah sakit.
Psikiater tersebut disediakan oleh pihak rumah sakit untuk membantu Freya agar bisa melewati semuanya dalam keadaan tenang. Meski bayangan menyakitkan akan terus menghantuinya.
"Sebenarnya ada trauma apa sih, Raa?" gumam lirih Ace yang sudsh duduk di kursi samping bangkar, menatap kearah wajah Freya yang sedikit membengkak.
Tak henti-hentinya Ace berbicara sendiri disaat Freya tertidur sangat lelap, sampai seketika Ace teringat akan sesuatu hal yang seharusnya sudah dia lakukan jauh dari sebelum kejadian peristiwa ini.
"Astaga, gua lupa. Tadi kan ada yang nelpon gua, tapi siapa?"
"Terus juga kenapa tiba-tiba orang itu langsung marah-marah enggak jelas, cuman karena gua enggak ngasih dia kabar?"
Ace bergumam kecil, sangat kecil. Bahkan suaranya terdengar bagaikan orang yang sedang berbisik-bisik. Kemudian tangan Ace perlahan merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya.
Tak butuh waktu lama, Ace membuka pola ponselnya sambil mengecek whatsappnya. Betapa terkejutnya Ace ketika melihat puluhan chat masuk kedalam ponselnya dari istri tercinta. Ditambah pula ada ratusan panggilan telepon yang tidak pernah dia angkat.
Dikarenakan awalnya Ace memang sibuk dengan mata kuliahannya, lalu dia mengerjakan sebagian tugasnya di Perpustakan untuk mencati ketenangan.
Namun siapa sangka, Freya malah mengganggu waktu tenangnya hingga membuat Ace lupa untuk kembali mengaktifkan dering suara di ponselnya ketika sudah keluar dari Perpustakaan Kampus.
Bahkan ketika baterai ponselnya habis pun Ace sempat mengecashnya dan kembali menyalahkannya, cuman dia masih melupakan akan dering diponselnya yang masih terdapat logo mode senyap atau bisa dibilang silent.
Tahu sendiri bagaimana suasana Perpustakaan yang tidak boleh sedikitpun terdengar suara bising, karena suara itu akan memecah keheningan serta konsentrasi para pengunjung lainnya.
Setelah membaca pesan panjang yang hampir mencapai 100 chat, berhasil membuat detak jantung Ace kian mempompa dadanya begitu cepat. Sampai menimbulkan kesesakan yang diakibatkan oleh kepanikannya sendiri.
Ace benar-benar bod*doh karena dia sempat mengangkat telepon dari istrinya sampai tidak sengaja terucap kata-kata kasar dalam keadaan mendesak seperti itu.
"Aarrghhh, si*al! Gua bod*doh banget sih, kenapa juga gua lupa kalau nada dering ponselnya belum gua aktifin! Ditambah to*lolnya gua, malah mengangkat panggilan Fayra tanpa melihat notif terlebih dahulu!"
__ADS_1
"Arrrghhh bang*sat. Kenapa lu bisa seceroboh itu sih Ace! Apa lu lupa, lu itu udah punya istri jadi jangan sampai lu ngelupain dia cuman demi wanita yang bulan siapa-siapa lu!"
"Ingat Ace, ingat! Dia cuman teman kuliah lu, bukan orang penting yang ada dikehidupan lu. Seharusnya lu itu kasih perhatian lebih ya istri lu sendiri, bukan ke wanita lain kaya ini! Lu lupakah, kalau Fayra rela menunggu lu di setiap menitnya cuman demi mendapatkan sebuah kabar dari lu. Tapi, apa sekarang? Lu malah buat dia kecewa, any*ing!"
"Ya gua tahu Freya memang mirip dengan Fayra, gua paham! Cuman kembali lagi dengan tanggung jawab lu, dimana lu harus membahagiakan istri lu bukan malah mengecewakannya seperti ini!"
"Sadarlah Ace, sadar! Come on Ace, come on! Lu bisa lawan semua rasa yang ada dihati lu, yakini hati lu kalau Freya dan Fayra bukanlah orang yang sama!"
"It's oke, mungkin sifatnya sama. Yang harus lu pahami saat ini status lu bukan lagi pria lajang seeprti yang lainnya, melainkan lu sudah menjadi seorang suami. Jadi, gua mohon Ace cepat sadar, sebelum lu kehilangan semuanya!"
Ace bergumam didalam hatinya dalam keadaan yang sangat gelisah. Peperangan antara hati dan juga pikiran telah dimulai, membuat Ace benar-benar tidak bisa berpikir panjang.
Satu sisi pikirannya selalu mengarah untuk tetap berada disamping Freya setelah mengetahui jika dia nemiliki trauma. Disisi hatinya menginginkan Ace untuk segera menjauhi Freya demi menjaga perasaan istrinya.
Entah kenapa ini adalah hal yang paling berat bagi Ace sendiri, dia seperti merasakan cinta segitiga yang tidak bisa dia hindarkan.
Mungkin bukan tidak bisa, lebih tepatnya dilema cinta yang membuat Ace tidak bisa mengambil keputusan dengan tegas diusia yang masih sangat muda ini.
Ya memang usia kurang lebih 20 tahun, adalah usia yang cukup matang bagi anak remaja untuk berpikir dewasa.
Hanya saja kedewasaan seseorang tidak bisa di nilai dari segi umurnya, sebab semakin bertambahnya umur belum bisa menjamin seseorang memiliki pola pikir yang panjang.
Orang yang dewasa adalah orang yang dapat mengaktualisasikan dirinya yakni dengan mengenali potensi di dalam dirinya dan telah menerima dirinya sendiri.
Berbicara mengenai kedewasaan itu adalah hal yang sifatnya tidak konstan dan akan memerlukan proses yang cukup lama.
Selama hidup, manusia pasti mengalami permasalahan, seiring adanya masalah itulah adanya proses pendewasaan diri. Dewasa tidak hanya perihal fisik, melainkan dewasa secara emosi dan juga sosial.
Menua itu pasti dan menjadi dewasa itu pilihan, bukan pemaksaan. Ketika memilih menjadi dewasa maka itu tandanya seseorang sudah bisa menerima dirinya sendiri dan juga kenyataan didalam hidupnya.
Sampai akhirnya orang itu paham, jalan terbaik untuk menghadapi setiap ujian yang akan datang dengan cara mendewasa diri. Supaya kelak bisa menerima setiap kenyataan yang pahit dan juga bisa mengambil keputusan dalam keadaan kepala dingin.
__ADS_1
Ingat, yang memegang kendali atas tubuh manusia ialah manusianya, bukan pikiran atau pun perasaan! Karena kedua kata itu hanyalah sebagai pelengkap yang membedakan manusia dengan robot.