
Setidaknya rasa sakitnya tidak akan sesakit ketika pertama kali gawangnya di jebol oleh mantan suaminya, cuman rasa sakitnya itu hanya berbeda sedikit saja tidak banyak.
Namun, kembali lagi milik lokal dan luar negeri memang memiliki ciri khas masing-masing. Jadi, mau tidak mau malam ini Fayra harus merasakan milik suaminya sambil merem-melek.
Semua itu karena Fayra sedang menahan sesuatu yang ada dibawah sana, akibat junior milik Kharel berusaha untuk menerobos gawang miliknya.
"Sstt ... Sa-sakit, Kak. Pelan-pelan masukinnya!" ucap Fayra dengan mata yang sudah berkaca-kaca, menggigit bibir bawahnya dan kedua tangannya mencekram spray ranjang.
"Sa-sakitkah? I-ini se-serius atau bercanda? Ja-jangan bilang kamu lagi ngeprank aku!" ucap Kharel, bingung.
"Yakk, dasar suami menyebalkan! I-ini tuh serius, ya bukan bercanda ataupun berbohong. Kakaknya aja yang enggak ngerasain!" pekik Fayra, kesal.
"Meskipun aku tidak pernah merasakan perbedaan antara gadis dengan single, tetapi yang aku tahu ketika seorang gadis pecah kepera*wan itu rasa sakitnya luar biasa. Cuman, kalau single sakitnya melebihi gadis, itu jatuh lebay!" sahut Kharel, tak percaya.
"Astaga, dasar suami lucknut! Bisa-bisanya Kakak mengatakan seperti itu, Kakak kira aku ini cewek yang kaya di luar sana, sakit sedikit menjerit. Kalau tidak sakit pun, aku tidak akan menje-- arrrghhh, si*alan!"
Fayra menjerit merasakan sakit dan juga perih ketika dia sedang asyik mengomelin suaminya, Kharel yang sudah terbiasa mendengar kebawelan istrinya malah tidak menggubrisnya sama sekali.
"Arrghh, dasar Kak Kharel pekok! Bisa-bisanya dia main sodok aja, di kata aku ini buah mangga kali. Tinggal sodok langsunb dapat, awsshh!"
Saat ini Kharel hanya akan fokus pada tujuannya, yaitu merasakan apa yang tidak pernah dia rasakan seumur hidupnya.
Tanpa berlama-lama lagi, Kharel berhasil membobol gawang milik istrinya. Meskipun berkali-kali dia harus mendapatkan pukulan serta cacian yang selalu keluar dari mulut istrinya.
Sementara Fayra dia merasa sedikit kesal, melihat tingkah suaminya yang tidak permisi untuk mengacak-ngacak gawangnya.
__ADS_1
Sampai akhirnya goyangan demi goyangan Kharel berikan, membuat amarah dan juga kekesalan di wajah istrinya kian berubah.
Fayra mulai menikmati sentuhan, goyangan serta pijitan yang Kharel berikan. Hingga ranjang pun ikut bergoyang mengikuti pergerakan mereka berdua, serta di hiasi oleh suara-suara indah yang saling bersahutan.
"Arrghh, hempt ... E-enak, Kak. Lebih ce-cepat lagi!" titah Fayra, dimana suara indahnya pun mulai berirama.
"Lah, aneh! Tadi aja marah-marah di sodok, bagian udah digoyangin bilangnya enak. Dasar wanita!" gumam Kharel sambil menikmati goyangannya.
"Arrghh, bo-bodo yang penting aku suka hahh, huhh. Hempt ...." sahut Fayra, merem melek.
"Ckk, dasar wanita. Disodok dikit udah ngeluh sana-sini, sakitlah apa lah, ini lah itu lah. Bagian ngerasin digen*jot bilangnya enak, langsung ketagihan minta di boor!"
"Bodo, suka-suka akulah, yang penting sama-sama enak. Aku en-- arghh, nakhh huhh, lagi! Ayo, Faster Daddy, come on!"
"Dad-daddy? Kamu kira aku ini pemuasmu apa!" jawab Kharel kesal sambil menghentikan goyangannya.
"Asyiap, Mommy. Wait, Daddy is coming!"
Kharel mempercepat gerakannya sampai beberapa kali, tak lupa mengganti posisi dengan mengangkat kaki Fayra, ataupun membalikan tubuhnya tanpa melepaskan penyatuan mereka.
Tidak ada lagi celoteh kekesalan Fayra pada Kharel, yang ada hanyalah suara rin*tihan mereka berdua yang di penuhi oleh keringat.
Berbagai posisi Kharel lakukan saat pertama kali merasakan nikmatnya malam pertama, sampai akhirnya mereka telah berhasil mencapai puncak yang ke-15 kalinya.
Fayra dan Kharel langsung tertidur terlentang, tepat diatas ranjang dalam keadaan dada saling naik turun ketika napas mereka saling memburu.
__ADS_1
Kharel dan Fayra tiduran terlentang menatap ke arah langit, dimana semua keringat sudah membasahi tubuh mereka layaknya mandi.
"Huhhh, te-ternyata malam pertama tuh enak ya Sayang. Besok kita main lagi, mau?" ucap Kharel, lalu menoleh kearah istrinya.
"Tidak, aku tidak mau. Kakak terlalu kasar, dan aku tidak suka. Heump!" Fayra malah berbalik badan memunggungi suaminya.
"Ohh, jadi tidak enak nih, yakinkah manis?" tanya Kharel, matanya langsung kembali menyala melihat tubuh mulus serta bokong yang kenyang kembali membuat hasratnya hadir.
"Ya-ya yakinlah, orang Kakak kasar jadi apa en ... aknyahh, arrghhh ... Hempt!"
Tanpa ambil pusing, sifat kejahilan Kharel mulai kembali menguasainya. Dimana dia langsung memasukan miliknya kembali ke dalam goa tersebut, hanya dengan cara menyilangkan kaki mereka sudah berhasil membuat Fayra merem melek. Tak lupa tangan Kharel memijit benda kembar tersebut.
"Gimana, Mom? Masih tidak enakkah? Atau--"
Fayra menahan suara cantiknya sambil menggelengkan kepalanya secepat mungkin. Dia berusaha menahan sengatan listrik di tubuhnya agar tidak membuat Kharel besar kepala.
"Rupanya dia pintar sekali menyembunyikan rasa enak ini, biar seolah-olah aku tidak bisa memuaskannya Baiklah, kucing comel. Aku akan buktikan bahwa pemula bisa jauh menggigit dari pemain!" gumam batin Kharel.
Tak butuh waktu banyak akhirnya suara indah itu kembali terdengar lebih indah dan lembut di telinga Kharel.
Segala cara Fayra lakukan untuk menahan sesuatu di tubuhnya, tetapi sayangnya dia kalah. Kharel memang sangat pintar mencari titik kelemahan pada tubuhnya.
Meski dia baru pemula, cuman entah kenapa tubuhnya ketika menyatu dengannya terasa begitu nyaman dan sangat mengigit. Berbeda ketika Fayra melakukannya bersama pada mantan suaminya dahulu, yang hanya merasakan enak sesaat tanpa bisa menggigitnya seperti saat ini.
Tak terasa di pelepasan ke-20, tanpa sadar mereka tertidur dalam posisi miring. Dimana Kharel memeluk Fayra dari belakang, sementara miliknya masih menyancap di dalam gawang istrinya.
__ADS_1
Mungkin semua terjadi akibat kelelahan saa mereka melakukan permainan malam pertamanya tanpa kira-kira, hingga membuat tubuhnya tak mampu lagi untuk bergerak.
Posisi ini sangat membuat keduanya terlihat nyaman, mereka tertidur tanpa satu helai kain pun dan hanya menggunakan selimut tebal yang menutupi tubuh merek. Bahkan tangan Kharel pun tak lepas dari kedua benda kenyal tersebut.