Learn to Love You

Learn to Love You
Hyper Cibadak


__ADS_3

Namun, akibat rasa trauma akan dunia percintaan membuat Sheila enggan kembali mencobanya. Tetapi sekarang dia paham. Jika semua kehidupan tidak bisa berjalan dengan sangat mulus.


Entah itu dunia percintaan, persahabatan, keluarga ataupun ekonomi. Karena semua itu bagaikan gelombang air yang ada di lautan. Dimana semua itu akan ada saatnya pasang-surutnya.


...*...


...*...


Di sebuah Universitas Indonesia, Hyper Cibadak. Terdapat seorang pria tampan yang sangat mempesona.


Dimana pria tersebut sedang berjalan sambil memainkan ponselnya, kemudian perlahan langkah kakinya mulai melewati sebuah lorong yang cukup sepi.


Tanpa disadari dari arah samping kiri, tiba-tiba ada seorang wanita berlari sambil membawa buku ditangannya.


"Aduh, gimana ini? Pasti aku terlambat deh. Mana udah lewat selama 10 menit lagi, bisa-bisa pas aku masuk kelas, langsung kena bac*ok dosen hihi ...." gumam batin seorang wanita cekikikan, sambil berlari.


Wanita itu terus berlari sampai akhirnya, dikagetkan oleh munculnya seorang pria. Tetapi, disaat mau mengerem secara mendadak, kaki wanita itu malah terpelesat ketika ingin mengerem.


Wanita tersebut tanpa disengaja menabrak, hingga mendorongnya sampai tubuhnya pun menimpa tubuh Pria tersebut dalam keadaan bibir sudah menempel.


Cup!


Satu ciuman berhasil mendarat tepat di bibir mereka, tanpa bergerak sedikit pun. Kedua mata mereka kian membelalak besar, bersamaan dengan bangkitnya wanita itu sambil berpura-pura membersihkan pakaiannya.


"Ma-maaf, a-aku tidak sengaja." ucapnya, masih belum menyadari jika pria yang kini sudah bangkit ternyata mengenalinya.


"Che-chelsea? Ka-kamu ku-kuliah disini juga?" tanya pria itu, sedikit terkejut.

__ADS_1


Mendengar namanya di sebut, Chelsea langsung terdiam mematung menatap lurus kearah depan. Selang beberapa detik, Chelsea segera menoleh menatap pria tersebut.


Saking mengejutkannya, Chelsea masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini, tepat dihadapannya. Dia benar-benar telah mengenali pria tersebut.


Berkat pria itulah, Chelsea berhasil membuatnya jatuh cinta untuk yang pertana kalinya, apa lagi saat ini dia sudah berhasil mengambil ciuman pertamanya.


Padahal tanpa di sadari, sebenarnya Chelsealah yang sudah mengambil ciuman pertama milik pria tersebut.


"Ti-tian? Te-ternyata kamu juga berada di Universitas ini?" ucap Chelsea, wajahnya mulai memerah.


Tian tersenyum menganggukkan kepalanya, lalu dia melihat buku Chelsea berserakan dimana-mana. Tanpa diminta, Tian segera memungutinya dan memberikannya kepada Chelsea.


"Ini bukunya, maaf ya tadi aku tidak lihat-lihat jalannya. Soalnya terlalu fokus lihat ponsel." ucap Tian, sambil menyodorkan tangannya.


Perlahan Chelsea mulai mengambil bukunya dan berkata. "Ti-tidak kok, i-ini salah a-aku. Ma-maaf a-aku ti-tidak sengaja me----"


"Tidak apa-apa. Mungkin semua ini sudah rezekiku, bisa merasakan manisnya sentuhan dari bibir seorang bidadari yang cantik sepertimu." ucap Tian, tersenyum manis.


Kedua pipi Chelsea mulai memerah, hingga tubuhnya kian melemah. Dirasa sudah tidak sanggup menahan malu dihadapan Tian, Chelsea segera bergegas pergi meninggalakannya.


Tian yang melihat itu hanya bisa terkekeh geli saat punggung Chelsea semakin menjauh. Jeda beberada detik, tanpa disengaja lidahnya menjilat bibirnya secara perlahan.


Tian kembali mengingat kejadian beberapa menit yang lalu, disaat rasa manisnya dari bibir Chelsea masih membekas di bibirnya.


Walaupun hanya sekedar menempel, tetapi bagi Tian itu merupakan suatu kejadian yang langka. Kemudian Tian kembali meneruskan langkahnya menuju kelas.


...*...

__ADS_1


...*...


Disuatu rumah yang cukup besar, terdapat seorang wanita dalam keadaan yang lumayan pucat dan juga lemas.


Uwek, uwek ...


"Alena, apa kamu masih kurang enak badan, Nak?" teriak Mamahnya Alena, sambil menggedor pintu kamar mandi didalam kamar Alena.


Tak lama, Alena membuka pintu kamar mandi dalam keadaan yang sangat pucat dan juga lemas. Bersamaan dengan terbukanya pintu, tubuh lemas Alena langsung terjatuh ke lantai.


"Alena!" teriakan Mamahnya sangat menggema di dalam kamar Alena, sambil menolong sang anak.


Saking paniknya, Mamahnya meninggalkan Alena yang masih tergeletak di kamar mandi untuk memanggil suaminya. Agar suaminya bisa membantunya membawa sang anak ke rumah sakit.


"Pah, Papah!" teriak Mamahnya berlari menuruni anakkan tangga secara tergesa-gesa.


"Astaga, ada apa sih, Mah? Kenapa teriak-teriak sih, pengeng ini kuping Papah!" sahut suaminya sangat kesal.


"Hiks, A-alena Pah, A-alena hiks ...." ucap Mamahnya Alena, yang sudah mulai menangis kejar. Wajahnya terlihat begitu panik, gelisah dan juga khawatir.


"Alena? Alena kenapa, Mah? Alena kenapa! Ada apa dengan Alena?" pekik suaminya langsung berdiri di depan istrinya, sambil memegang kedua pundaknya.


"A-alena pingsan, Pah. Alena pingsan hiks, ayo kita bawa dia ke rumah sakit, Pah. Ayo hiks ...."


Degh!


Mendengar penjelasan kondisi Alena dari sang istri, membuat suaminya langsung merasa cemas. Dia mulai memeluk istrinya untuk mencoba menenangkannya, lalu mereka bergegas pergi ke kamar Alena

__ADS_1


Melihat kondisi anaknya yang sangat menyedihkan, langsung menggendongnya secara perlahan. Kemudian mereka semua pergi menuju rumah sakit, agar kondisi anaknya bisa segera di tangani.


Udah hampir beberapa hari ini, Alena merasa tubuhnya sakit-sakitan. Sampai akhirnya dia belum bisa kembali masuk kuliah, setelah kurang lebih 2 Minggu dia baru menikmati masa-masa menjadi anak kuliahan.


__ADS_2