
Menua itu pasti dan menjadi dewasa itu pilihan, bukan pemaksaan. Ketika memilih menjadi dewasa maka itu tandanya seseorang sudah bisa menerima dirinya sendiri dan juga kenyataan didalam hidupnya.
Sampai akhirnya orang itu paham, jalan terbaik untuk menghadapi setiap ujian yang akan datang dengan cara mendewasa diri. Supaya kelak bisa menerima setiap kenyataan yang pahit dan juga bisa mengambil keputusan dalam keadaan kepala dingin.
Ingat, yang memegang kendali atas tubuh manusia ialah manusianya, bukan pikiran atau pun perasaan! Karena kedua kata itu hanyalah sebagai pelengkap yang membedakan manusia dengan robot.
...*...
...*...
Pagi hari Di Amerika, Ace sudah terbangun lebih dulu dan menatap wajah Freya yang masih tertidur begitu pulas.
Perlahan Ace mulai bangkit dari kursinya sambil menguap dan sedikit merenggangkan tulang belulang yang terasa pegal. Apa lagi beberapa jam lalu, Ace tidur dalam keadaan duduk bukan terlentang diatas kasur empuknya.
Tak membutuhkan waktu lama, Ace bergegas pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya yang sedikit kucel.
Setelah selesai Ace melihat ponselnya, lalu menekan tombol panggil di nomor istrinya dalam posisi dia masih berada di dalam kamar mandi.
Suara nada sambung terdengar jelas ditelinga Ace membuatnya harus menunggu sebentar, sampai Fayra mau mengangkatnya.
Namun, sayangnya itu semua nihil. Beberapa kali Ace mencoba menghubunginya, tetapi tidak diangkat. Padahal jam segini biasanya semua keluarganya sedang menikmati makan malam.
Apa lagi, lerbedaan waktu antara Indonesia dan Amerika, sangatlah jauh sekitar 12 jam lebih cepat. Jadi jika di Amerika hari Minggu pukul 7 pagi, maka di Indonesia adalah hari Senin tepatnya pukul 7 malam.
...*...
...*...
Fayra yang baru saja pulang dari rumah sakit setelah menjenguk Alena, lalu mendapat kabar mengejutkan dari suaminya membuat dia sampai saat ini masih tertidur pulas.
Mommy Rosa dan Daddy Gerry sudah menunggu Fayra cukup lama di ruang makan, cuman Fayra tidak menunjukkan batang hidungnya sampai beberapa kali Mommy Rosa mencoba memanggil Fayra, tetapi tidak ada jawaban darinya.
Pada akhirnya Mommy Rosa memutuskan untuk melangkahkan kakinya menuju kamar anak dan menantunya. Sementara Daddy Gerry menunggu di ruangan makan sambil memainkan ponselnya.
Tokk, tokk ...
Mommy Rosa mengetuk pintu kamar beberapa kali, tetapi sayangnya tidak ada jawaban dari pemiliknya. Membuat Mommy Rosa perlahan mulai memegang pegangan pintu dan mencoba membukanya.
"Sayang makan dulu, yuk! Daddy sudah nunggu di ruang makan loh!" ucap Mommy Rosa memasuki langsung kamar Fayra.
__ADS_1
Untungnya saja pintu kamar tidak dikunci oleh Fayra, dan membuat Mommy Rosa bisa masuk tanpa harus menunggu Fayra membukan pintu terlebih dulu.
"Astaga, menantuku jam segini tumben banget masih tidur. Apa jadwal sekolahnya hari ini begitu padat, sehingga dia terlihat sangat kelelahan?"
"Ya, maklumi aja saat ini Fayra sudah kelas 3 SMA. Jadi mau tidak mau pasti dia akan selalu menerima tugas berat dari pihak guru untuk menambah nilainya."
"Yang kuat ya Sayang, Mommy akan selalu bersamamu kok. Kamu tidak perlu khawatir, sebentar lagi kamu dan Ace akan segera bersatu. Dimana Mommy sama Daddy bisa secepatnya menimang cucu yang sanagt lucu dari kalian hihi ...."
"Aduh, Mommy jadi enggak sabar deh nunggu cucu Mommy datang di dalam perutmu ini. Semoga saja sebentar lagi doaku akan segera terkabul, amin."
Mommy Rosa mengelus pelan perut rata menantunya sambil tersenyum lebar. Rasanya Mommy Rosa sudah tidak sabar untuk menggendong cucunya, dan ingin melihat bagaimana perbaduan antara wajah Fayra beserta Ace, terukir jelas pada wajah malaikat kecil yang akan datang nantinya.
Fayra tetap tertidur pulas, tanpa merasa terganggu sedikit pun dengan sentuhan tangan Mommy Rosa yang masih mengelus perutnya penuh harapan.
Namun, ketika tangannya sudah mulai mengusap wajah menantunya. Tiba-tiba Mommy Rosa terkejut dan langsung menarik tangannya saat mendapati jika suhu tubuh menantunya lumayan tinggi.
"Astaga, Sayang! Kenapa badanmu panas sekali, ada apa ini?" pekik Mommy Rosa terlihat sangat khawatir setelah mengetahi kondisi menantunya tidak sedang baik-baik saja.
Drrtt, drrtt ...
Ponsel Fayra bergetar membuat Mommy Rosa langsung mengambilnya, dan mengangkat panggilan tersebut setelah melihat anaknya yang meneleponnya.
[Honey, ma-maafkan aku. Seharian ini aku tidak memberikan kabar kepadamu, dan sekalinya aku mengangkat teleponmu tidak sengaja aku malah berkata kasar sama kamu.]
[Untuk itu maafkan aku, Honey. Maaf! Mungkin karena disini sedang ada masalah, ditambah lagi jadwal kuliahku begitu padat. Jadi aku tidak bisa mengontrol emosiku sendiri, sekali lagi maafkan aku Honey. Ma-maaf!]
[Aku tahu kamu kecewa sama aku, tapi---]
[Oh jadi ini, penyebab kenapa menantuku yang terlihat baik-baik, bisa seketika menjadi demam tinggi seperti ini!"]
Degh!
Bibir Ace seketika kelu dan tidak mampu berkata apapun, saat dia mengenali suara yang tidak pernah dia lupakan didalam hidupnya.
Ace benar-benar sangat terkejut dan juga bingung, ketika mendapati suara Mommynya terdengar penuh kekecewaan terhadapnya.
Namun, Ace mengabaikan semuanya. Dia malah fokus kepada perkataan Mommynya yang mengatakan jika istrinya dalam keadaan demam tinggi.
Rasa khawatir dan juga cemas kini mulai melanda hati Ace, sampai membuat detak jantungnya seperti sedang berlomba lari maraton.
__ADS_1
Rasanya Ace ingin sekali segera menghubungi Nobita untuk meminjam pintu ajaib milik Doraemon, supaya dia bisa menggunakannya untuk menemui istrinya yang sangat membutuhkan dirinya.
Beberapa kali terdengar percecokkan antara anak dan juga Mommy yang sama-sama keras. Dimana Mommy Rosa mengomeli anaknya karena sudah kembali membuat kesalahan kepada menantu kesayangannya.
Berbeda halnya sama Ace, dia terus mengalihkan pembicaraan Mommynya demi mengetahui keadaan istrinya saat ini.
[Mom, Ace mohon angkat video callnya. Ace mau melihat Fayra sebentar aja, Ace cuman mau memastikan jika Fayra dalam kondisi baik-baik aja.]
Ace memohon kepada Mommynya dengan menggunakan nada layaknya orang yang sedang mengemis belas kasihan.
[Buat kamu mau melihat keadaan istrimu, jika kamu sendiri aja selalu menyakitinya! Ingat Ace, istrimu ini manusia bukan robot!]
[Dia memiliki perasaan dan juga batas kesabaran, tetapi jika semuanya kamu ulangi terus menerus. Maka Mommy tidak bisa menolongmu, jika suatu saat nanti istrimu akan menyerah dan memutuskan untuk pergi meninggalkanmu sejauh mungkin!]
[Hingga kepergiannya akan meninggalkan luka dihatimu yang teramat mendalam, dari situ kamu akan mengerti arti sebuah penyesalan yang sudah terlambat!]
[Sementara kami sebagai orang tuamu tidak bisa berkata apa-apa lagi, karena pepatah mengatakan apa yang sudah kamu tanam, maka itulah yang akan kamu tuai dikemudian hari! Jadi pandai-pandailah dalam menanam sesuatu yang baik, agar kelak hasilnya akan berbuah manis.]
Penuturan kata yang Mommy Rosa ucapkan terkesan sangat lembut, tetapi penuh dengan penekanan serta ancaman hingga berhasil membungkam anaknya seribu bahasa.
Kalimat demi kalimat yang terlontar dari mulut Mommynya, bagaikan sambaran petir yang langsung mengenai hatinya.
Disaat Ace ingin kembali berbicara, tiba-tiba terdengar suara teriakan histeris sampai Mommy Rosa pun ikut mendengarnya.
"Jangan Ayah, jangan! Freya mohon, lepaskan Freya Ayah lepaskan!"
"Freya janji akan selalu menuruti permintaan Ayah, tapi tidak seperti ini! Freya tidak mau, Ayah. Freya tidak mau, arghhh hiks ...."
Suara Freya yang sangat keras berhasil menyita perhatian Mommy Rosa, bahkan Mommy Rosa sudah mulai mencecar Ace dengan segala pertanyaan.
[Ace, itu suara siapa? Kamu lagi sama siapa, hah! Jawab Ace, jawab!]
Mommy Rosa berbicara sangat tegas dengan nada yang begitu tinggi, sehingga Ace yang mengkhawatirkan sesuatu terjadi pada Freya langsung mematikan ponselnya secara sepihak.
Kemudian Ace langsung berlari melihat kondisi Freya kembali tidak stabil, dia mencoba menengkan Freya sambil menekan tombol untuk memanggil dokter.
Sementara di lain tempat, Mommy Rosa begitu kesal atas sikap anaknya yang seenak jidat memutuskan sambungan ponselnya tidak sopan.
Mommy Rosa yang tidak mau mengambil pusing, segera mengurus menantunya lebih dulu agar suhu tubuhnya tidak semakin meninggi.
__ADS_1
Bahkan dia juga memberitahukan kepada suaminya tentang kondisi Fayra saat ini, termasuk sikap Ace yang membuat kedua orang tuanya menaruh curiga jika sesuatu terjadi pada anaknya.