Learn to Love You

Learn to Love You
Takdir Yang Kejam


__ADS_3

"A-ada apa ini? Ke-kenapa langit yang awalnya cerah, malah menjadi mendung serta gelap seperti ini? Dan, kenapa pula perasaanku mulai tidak enak?"


"Tuhan, ada apa ini? Apa Engkau marah padaku?"


"Sudah cukup, Tuhan! Aku tidak mau lagi menerima semua kejutanmu yang menyakitkan ini, please!"


"Aku mohon biarkan aku hidup tenang seperti dulu, jangan lagi Engkau kembali meregut apa yang masih menjadi milikku!"


Ace berbicara di dalam mobilnya bersamaan dengan turunya suara rintikan air hujan yang sudah mulai mengguyur mobilnya. Ace tidak mengerti apa arti dari semua ini.


Awan yang awalnya terlihat ceria seketika langsung menangis tanpa sebab, lalu langit pun yang terang menderang kini telah berubah menjadi gelap gulita. Seingga terdengar beberapa kali suara gemuruh petir yang terus menampakkan dirinya, seolah-olah dunia marah dengan apa yang Ace katakan kepada Tuhannya sendiri.


...*...


...*...


Di tengah perjalanan yang di sertai hujan sangat deras, membuat Ace harus lebih hati-hati dalam melajukan mobilnya. Sampai akhirnya dia menepikan mobilnya ketika ponselnya berbunyi, dimana itu adalah panggilan dari Mommynya.


Ace yang masih kesal karena Mommynya tidak mengangkat ponselnya saat dia membutuhkannya, dia pun tidak mau mengangkatnya.


Semua itu lantaran Ace mau Mommyanya bisa merasakan bagaimana rasanya ketika di butuhkan, tetapi tidak ditanggapi.


"Ckk, tadi aja gua butuh pada enggak ada. Sekarang, entah Mommy entah asisten bo*doh itu selalu saja berisik nelponin gua mulu!" gerutunya.


Ace cuman melihat notif di ponselnya dengan wajah kesalnya, sampai akhirnya asisten Daddynya itu mengirim 1 chat yang membuat Ace membolakan matanya akibat terkejut.


[Tuan muda, tolong angkat telpon saya. Dimana pun Tuan, sesibuk apapun Tuan. Please, angkat telpon dari saya, ini penting! Semua menyangkut tentang Tuan Gerry, dan Nyonya Rosa juga sangat membutuhkan Tuan Muda saat ini!"]


Degh!


Setelah membaca 1 pesan tersebut, jantung Ace langsung bekerja sangat cepat dan pikiran Ace sudah melambung tinggi enhgak tahu kemana.


"Da-daddy? A-ada apa dengannya? Kenapa perasaan gua jadi tidak enak? Apakah Daddy ... Yaa, tidak! Gua harus positif thingking. Siapa tahu saat ini Daddy sudah bangun, dan dia bisa kembali membangkitkan Perusahaannya, sehingga gua bisa kuliah lagi!"


Pikiran negatif mulai memenuhi pikiran Ace, dia mencoba untuk menangkis semua itu dan segera menelpon asistennya untuk mencari tahu ada apa sebenarnya tentang Daddynya.


[Hallo, Tuan. Ada apa telpon, hahh! Dari tadi kenapa gua telponin enggak diangkat, padahal gua butuh kalian di saat seperti ini. Asal Tuan tahu ya, gua ini di keluarin dari----]

__ADS_1


Wajah kesal Ace yang sangat mengerikan, seketika berganti menjadi senyuman lebar di sertai air mata yang cukup deras.


[Tuan Gerry sudah tiada, Tuan Muda. Satu jam yang lalu, dia mengalami kritis bahkan kondisinya sudah tidak bisa lagi di jelaskan.]


[Saat ini Nyonya Rosa begitu terpukul dengan kehilangan Tuan Gerry, jadi saya mohon Tuan Muda segera pulang. Siapa tahu, hadirnya Tuan Muda bisa memberikan kekuatan padanya karena saya tidak tega melihat kondisi Nyonya Rosa beberapa kali mengalami pingsan.]


[Saya takut jika kesehatan Nyoya Rosa akan kembali mengalami drop, di saat dia tidak tahu harus bagaimana menghadapi musibah ini seorang diri. Jadi saya mohon, Tuan Muda segeralah kembali ke Indonesia!]


[Saya sudah menyiapkan semuanya, nanti akan saya kirim data-datanya ke Tuan. Semoga Tuan Muda segera mungkin kembali, sebelum Tuan tidak bisa melihat Tuan Gerry untuk yang terakhir kalinya.]


Nasihan serta penjelasan yang di berikan oleh asisten Daddy Gerry, berhasil membuat Ace malah tertawa kecil dengan air mata yang terus menetes sambil menggelengkan kepalanya.


Ace tidak percaya bahwa semua ini terjadi begitu cepat, karena untuk beberapa bulan terakhir ini keadaan Daddynya stabil. Tidak ada perkembangan apapun, akan tetapi hari ini disaat Ace sudah merasakan kehilangan kekasih, masa depannya dan sekarang dia harus kehilangan Daddynya.


"Hah, D-daddy me-meninggal? Haha ... Ti-tidak, ini tidak mungkin terjadi pada keluarga gua, bukan?"


"Daddy gua adalah orang yang kuat, udah beberapa bulan Daddy bertahan, masa iya Daddy harus nyerah sih? Haha, tidak!"


"Ini bukan Daddy yang gua kenal, Daddy gua tidak selemah itu, pasti Tuan bercanda 'kan? Haha ...."


Mata Ace melotot saat asisten itu lagi-lagi mencoba untuk memberikan pengertian pada Ace, supaya dia bisa menerima kenyataan hari ini. Kalau memang Daddy Gerry sudah tiada untuk selamanya.


Ace yang sudah tidak bisa lagi mendengar perkataan asisten itu, langsung mematikan ponselnya lalu membantingnya kesegala arah.


Dia memukul keras setir mobilnya dengan perasaan marah semarah-marahnya dengan takdir, kenapa dia harus berkali-kali merasakan kehilangan orang-orang yang sangat dia sayangi.


Ace keluar dari mobilnya ditengah-tengah badai yang cukup deras dengan suara petir yang sangat menggelegar.


Jederr!


"Aarrrghhhh ...."


"Takdir bo*doh! Lagi-lagi lu mengambil apa yang bukan menjadi hak lu secara paksa dari gua. Memang dunia ini kejam, dunia ini ba*ngsat!"


"Kenapa Tuhan? Kenapa kau berulah lagi, hahh! Kenapa kau ambil Daddy gua, disaat gua dalam keadaan terpuruk seperti ini!"


"Belum cukup kau hancurkan dunia percintaan, masa depan, dan sekarang? Kau ambil juga Daddy gua dari genggaman Mommy, apa kalian enggak punya belas kasihan, hahh!"

__ADS_1


"Setiap saat Mommy selalu menjaga Daddy. Pagi, siang, malam dia rela tidak tidur hanya demi mengontrol kondisi Daddy agar dia selalu baik-baik saja."


"Semua itu Mommy lakukan karena dia


sangat mencintai Daddy, tapi kenapa kau seenaknya malah merenggut Daddy dari Mommy, Tuhan! Kenapa!"


"Jika kau membenci gua, hukum dan hancurkan gua, bukan keluarga gua! Gua tahu kok, mungkin ini karma dari apa yag pernah gua perbuat dengan menyakiti hati istri beserta keluarga gua. Cuman bukan begini caranya, Tuhan. Bukan ini yang selalu gua minta!"


"Kalau kau ingin memberikan hukuman silakan, ambil nyawa gua sepuas-puasnya! Tuker dengan nyawa Daddy, kembalikan Daddy pada Mommy dan gantikan gua sebagai penggantinya. Gua mohon, kembalikan Daddy hiks ...."


"Gua benci keadaan ini, gua benci! Arrghhh ... Takdir kau memang gila, Tuhan. Gilaa!"


"Kalau kau benci dengan gua, hukum gua bukan keluarg gua! Musuh lu adalah gua, bulan keluarga gua. Jadi hadapi gua, bukan malah kau ambil satu persatu apa yang bukan menjadi hak lu!"


Jederr!


Kilat yang sangat dahsyat seperti menggelilingi Ace yang saat ini dalam keadaan begitu marah, dia marah ketikan Tuhan telah merenggutnya.


Sampai akhirnya Ace mendengar suara klakson mobil yang sangat nyaring, dihiasi oleh lampu sorot yang begitu terang sedang melaju ke arah Ace dengan kecepatan tinggi membelah hujan yang deras ini.


"Ini 'kan yang kau mau, Tuhan? Kau mau melihat gua hancur bukan? Maka baiklah, lebih baik gua ma*ti dari pada gua kembali melihat satu persatu keluarga gua hancur, hanya karena gua!"


"Satu permintaan gua, ketika gua tiada nanti gantikan nyawa ini kepada Daddy! Biarkan gua yang tiada, asalkan Daddy dan Mommy bisa kumpul kembali serta melanjutkan hidupnya dengan bahagia!"


"Gua akan selalu ingat semua takdir ini, sampai gua tiada pun gua akan tetap ingat. Kalau kau hanya menginginkan kehancuran gua, dengan membuat keluarga gua berantakan satu persatu. Jahat bukan? Jahat dong, ya kan hahah ...."


Ace tertawa di bawah derasnya hujan mendongak ke atas berputar-putar sambil merentangkan tangannya. Disaat mobil itu semakin dekat, Ace tidak berusaha untuk menghindar.


Seakan-akan dia malah seperti menantangi takdir bahwa dia lebih baik pergi dari dunia yang kejam ini, dari pada dia harus menatap kehancuran Mommynya yang sudah ada di depan matanya.


Bagi Ace, rasa sakitnya itu jauh lebih sakit ketika dia melihat kehancuran Mommynya ketika harus kehilangan Daddynya dari pada dirinya sendiri yang sudah kehilangan segalanya.


Tiinnn ...


Tiinnn ...


Tiinnn ...

__ADS_1


__ADS_2