Learn to Love You

Learn to Love You
Teman Hidup


__ADS_3

Jika memang Louis saja bisa menghargai pasangannya yang masih berstatus sebagai kekasih, maka Ace juga bisa melakukan hal yang lebih dari itu kepada Fayra selaku istri sahnya.


"Terus kapan lu nembak si Nata?" tanya Eric.


"Pas ..."


Louis terdiam sejenak, kembali mengingat kejadian beberapa hari yang lalu. Dimana Louis tidak sengaja bertemu Nata di sebuah jalan yang cukup sepi.


...Flashback Jadian...


Louis yang merasa suntuk dirumah berinisiatif untuk pergi jalan-jalan malam, dengan tujuan menikmati udara segar di malam hari.


"Astaga, kenapa gua bisa sampai ke sini? Bukannya ini jalan ke arah rumah Nata?"


"Aishh, ada apa sama gua! Kenapa akhir-akhir ini selalu kepikiran Nata, apa jangan-jangan gua---"


"Eh, i-itu bukannya Nata ya?"


Louis menghentikan laju motornya, dan tidak sengaja menoleh kearah kanan dimana Nata sedang berjalan sambil membawa 1 kantung plastik berukuran sedang.


"Tapi, tunggu dulu. I-itu siapa? A-apa Nata punya bodyguard? Cuman kenapa kesannya 2 pria di belakangnya itu, malah bertingkah seperti ingin mencelakakan Nata?"


Louis sedikit menyipitkan matanya, agar bisa membaca gerak-gerik kedua pria yang saat ini berada dibelakang Nata sambil mengikutinya.


Berbeda halnya sama Nata, dia berjalan dalam keadaan ekspresi wajah yang begitu senang. Nata tidak menyangka bahwa jalan-jalan malam sambil membeli camilan, merupakan hal yang jarang sekali Nata lakukan.


"Huhh, kalau bukan karena camilan dirumah habis mungkin gua enggak akan malam-malam begini jalan ke Alfamart sendirian. Mana jaraknya lumayan lagi, tapi gapapa. Hitung-hitung olah raga malam hihi ...."


Nata berbicara kecil melihat kearah belanjaannya, lalu melanjutkan jalannya perlahan sambil menikmati angin sepoi-sepoi.


Namun, Nata tidak sengaja melihat ada 2 bayangan hitam yang sedang mengikutinya dibelakang. Rasa takut dan juga cemas kian melanda hati Nata, akan tetapi Nata berusaha tetap tenang agar tidak membuat orang itu merasa curiga.


Nata berbalik dalam keadaan tersenyum menatap 2 pria yang saat ini kelagegapan berpura-pura mengobrol sesekali melirik kearah Nata.


"Permisi, ada apa ya mengikuti saya?" tanya Nata, sedikit memberanikan diri.


"Itu perasaan Neng aja kali, ohya. Neng kok sendirian aja, memangnya enggak takut di culik? Mendingan Abang anterin aja yuk, kasihan wanita malam-malam begini jalan sendirian." ucap salah satu pria tersebut.


"Aduh si Neng cantik-cantik sendirian, kemana cowoknya kok enggak minta dianterin. Apa mau jadi pacar Abang aja, setiap hari Abang pasti jagain kok." sahut teman pria itu.

__ADS_1


"Dishh, malas kali. Bye!" jawab Nata langsung pergi begitu saja meninggalkan kedua pria tersebut.


Rasa gelisah, takut dan juga cemas membuat detak jantung Nata tidak terkontrol dengan baik. Bahkan saat ini langkahnya pun semakin cepat, yang pada akhirnya Nata berlari saat kedua pria tersebut masih mengikutinya.


Louis yang melihat dari jauh mulai tidak beres, segera mengikuti kemana pun Nata pergi. Sampai akhirnya salah satu pria itu berhasil mencekal tangan Nata di tempat yang sangat sepi dan juga gelap.


"Tunggu dulu, Neng. Kita kan belum kenalan." ucap salah satu pria tersebut sambil memegang pergelangan tangan Nata cukup keras.


"Awwsh, sa-sakit hiks. Le-lepasin tangan gua, gu-gua mau pulang hiks ...." Nata menangis melepaskan kantung belanjaannya, dan mencoba melepaskan tangan pria itu dari tangannya.


Namun sayang, bukannya malah terlepas Nata malah ditarik oleh mereka ke sebuah semak yang tak jauh dari jalan raya.


Louis yang sudah geram dan mulai terbawa emosi, langsung turun dari motornya lalu berlari begitu cepat ke arah semak.


Dimana satu lompatan tinggi Louis berhasil menendang salah satu pria yang hampir saja mele*cehkan Nata. Sedangkan Nata hanya bisa menangis berusaha melepaskan diri dari pria satunya.


"Lepaskan dia!" tegas Louis menatap tajam ke arah pria yang saat ini bersama Nata.


"Siapa lu, main lepas-lepas aja! Dia udah jadi milik gua, jadi jangan coba-coba lu ngedeket atau gua akan--"


"Akan apa, hah! Kalau lu berani sini lawan gua, jangan beraninya sama wanita. Pengecut!"


"Kak Louis, aw---"


Bugh!


Belum selesai Nata berbicara, tiba-tiba Louis langsung berbalik sambil menendang dalam kondisi sedikit melompat tinggi. Hingga akhirnya pria itu terkapar lemas, akibat tendangan Louis berhasil mengenai wajahnya.


"Bagaimana? Lu mau lepasin cewek gua atau nasib lu akan jauh lebih mengenaskan dari pada temen lu!" ancam Louis, yang sama sekali tidak membuat pria tersebut ketakutan.


"Eleh, bocah seperti lu bisa apa sih. Wokelah temen gua kalah karena dia enggak bisa bela diri, sedangkan gua? Haha ... Palingan juga lu akan kalah, cil bocil!"


Pria itu langsung melepaskan tangan Nata, hingga membuat Nata segera menjauhi mereka sambil bersembunyi dalam keadaan ketakutan dan menangis.


Tanpa basa-basi Louis dan pria tersebut langsung adu jontos yang cukup menguras tenaga, bahkan tanpa disangka Louis pun terkena pukulan sampai membuat sudut bibirnya sedikit memar.


Sampai akhirnya Louis berhasil membuat pria itu terkapar bersama temannya dalam keadaan babak belur.


Louis menatap mereka berdua dengan tatapan remeh. Lalu tersenyum puas, karena dia sudah berhasil memberikan pelajaran yang cukup berkesan. Mereka yang merasa kalah, bergegas pergi meninggalkan Louis.

__ADS_1


Nata yang melihat kedua pria jahat itu tidak lagi terlihat, terburu-buru keluar dari persembunyiannya. Kemudian berlari sekuat tenaga dan memeluk Louis dari belakang.


"Hiks, te-terima kasih Kak, terima kasih banyak. Aku enggak tahu lagi, kalau sampai Kakak enggak ada, mungkin aku sudah---"


"Sstt, hei. Lihat aku, lihat! Sampai kapan pun tidak akan ada hal buruk yang terjadi sama kamu, ingat! Ada aku di sini, aku akan selalu menjaga kamu sampai kapan pun itu."


Louis melepaskan pelukan Nata, lalu berbalik sambil meraup wajah Nata hingga kedua mata mereka saling menatap satu sama lain. Dimana tatapan Louis terkesan begitu serius terhadap Nata.


"A-apa ma-maksudnya Ka-kakak berbicara se-seperti itu? A-apa Ka-kakak me---"


"Ya, aku memang sudah mulai jatuh cinta sama kamu sejak aku menolongmu waktu kamu di toilet. Dari situ untuk yang pertama kalinya, aku bisa merasakan hatiku berdebar cukup kuat."


"Awalnya aku menganggap biasa saja. Tapi, lama kelamaan aku yakin jika ini benar-benar cinta pertamaku. Maka dari itu, aku mau menjadikan kamu sebagai teman hidupku untuk sekarang dan selamanya."


Perkataan Louis berhasil membuat Nata terdiam mematung, dia tidak percaya seorang Louis yang tampan dan juga dingin bisa menyatakan hal seperti ini pada wanita lemot seperti dirinya.


"Te-teman hi-hidup? Ma-maksudnya kekasih?" tanya Nata, terbata-bata.


"Tidak, aku tidak mau menjadikanmu sebagai kekasihku karena itu akan bersifat sementara. Berbeda halnya dengan teman hidup, yang akan bersifat abadi sampai ajal menjemputku."


"Aku tidak akan pernah berjanji untuk selalu ada disampingmu, tetapi aku akan berjanji setelah aku lulus sekolah. Aku akan langsung melamarmu untuk menjadi tunanganku dan setelah aku selesai kuliah. Aku akan segera menjemputmu untuk ke plaminan."


Nata yang tidak bisa berkata apa-apa lagi, hanya bisa meluapkan rasa bahagianya bisa mendapatkan seorang pangeran yang begitu berharga.


Bagi Nata, Louis adalah pangeran impiannya. Yang tidak banyak berkata romanti, tetapi selalu dilakukan dengan pembuktian.


Louis membalas pelukan yang Nata berikan untuknya sesekali mencium pucuk kepala Nata. Beberapa menit kemudian mereka melepaskan pelukannya, lalu Louis segera melepaskan jaketnya dan memasangkan ketubuh pujaan hatinya.


"Pakai jakat ini dulu, aku enggak mau tubuh mulusmu dilihat oleh pria lain selain aku, calon suamimu!"


"Dan ingat, lain kali kalau kemana-mana jangan sendiri. Apa lagi malam-malam seperti ini."


"Sekarang udah ada aku, jadi kapan pun kamu butuh. Aku akan selalu siap melakukan yang terbaik untuk gadis kecil kesayanganku ini. Paham, Sayang?"


Nasihat kecil yang Louis berikan benar-benar begitu berarti bagi Nata, baru kali ini dia diperlakukan bagaikan Ratu oleh seorang pria yang awalnya sangat menyebalkan.


Nata tersenyum saat melihat prilaku Louis yang begitu sopan memakaikan jaket ke tubuhnya, dan mengusap air matanya. Kemudian Louis menggandeng tangan Nata menuju motornya.


Cuman sebelum itu mereka kembali memunguti barang belanjaan milik Nata, lalu membawanya pulang.

__ADS_1


...Flashback Off ...


__ADS_2