
Sama halnya seperti Ace saat ini, tiba-tiba saja terkunci di toilet yang awalnya dia masuk dalam keadaan terlihat begitu sepi. Tetapi, pintu malah terkunci sendiri dari luar.
Tanpa sengaja Ace malah mengingat satu nama yaitu Alena. Wanita licik yang sudah berpura-pura menjadi orang baik, demi tercapainya semua keinginannya.
...*...
...*...
Di sisi Louis dan Nata, mereka baru saja menyelesaikan masalah. Dimana pria tersebut langsung diamankan oleh security.
Namun, saat mereka berdua tersadar dari kejadian tersebut. Mereka langsung mencari keberadaan Fayra yang sama sekali tidak terlihat.
Rasa bersalah dan juga cemas kian melanda hati keduanya, mereka begitu menyesal ketika meninggalkan Fayra seorang diri.
Louis menggenggam tangan Nata, lalu berlari mencari Fayra di setiap sudut ruangan BAR. Tetapi nihil, Fayra tidak ada dimana-mana.
Nata hanya bisa menangis memeluk Louis, terlihat jelas wajah penyesalan mereka akibat lalai dalam menjaga sahabatnya. Dari sini mereka merasa curiga kalau semua ini merupakan jebakan.
Apa lagi Alena serta teman-temannya ketika bertemu oleh Louis dan Nata, hanya bisa memasang wajah panik serta langsung berpura-pura merasa cemas membantu mencari Fayra,
Berbeda halnya di ruangan tersembunyi, Fayra sudah benar-benar pasrah sama apa yang akan terjadi sebentar lagi pada masa depannya.
Di saat bibir Andrew 1 senti lagi menyentuh bibir Fayra, pintu terbuka sangat keras sampak mengejutkan Andrew. Seseorang telah mendobrak pintu, dalam keadaan penuh emosi.
Seorang pria dan wanita langsung masuk ke dalam dalam keadaan wajah marah bercampur khawatir. Saat melihat kondisi tersebut, pria itu bergegas menarik baju Andrew dan menyeretnya hingga membantingnya ke lantai.
"Bang*sat! Siapa lu, hah! Mau ngapain lu ikut campur urusan gua!" pekik Andrew, tidak terima.
Pria itu segera membuka jaketnya menatap wanita yang bersamanya sambil berkata. "Pakaian jakat ini ke tubuh Fayra!"
Pria tersebut melempar jaketnya, dan segera ditangkap oleh wanita itu. Kemudian secepat kilat segera memakaikannya ke tubuh Fayra.
Gaun yang tadinya terlihat indah di tubuh Fayra, kini telah sobek dan hampir menampakkan buah dada kesayangan suaminya.
"Ka-kak Chel-chelsea? Hiks ...."
Fayra langsung berhambur memeluk Chelsea begitu erat, di saat jaketnya sudah terpasang rapi di tubuh Fayra.
__ADS_1
"Syukurlah kamu masih selamat, Raa. Aku sama Tian udah cemas banget mencari kamu, ma-maaf jika kami hampir saja terlambat."
Chelsea membalas pelukan Fayra, dan berusaha mencoba menenangkannya. Dimana Chelsea sangat tahu, jika kejadian ini pasti akan membuat Fayra mengalami trauma yang cukup membekas di ingatannya.
"Ti-tidak, Kak, tidak! Kalian sudah tepat waktu, sekali lagi terima kasih Kak. Fa-fayra takut, jika tadi Kak Andrew sampai ...."
Fayra menghentikan ucapannya sendiri, lantaran dia sudah tidak bisa lagi meneruskan. Kejadian beberapa detik lalu, benar-benar berhasil menggoyangkan mentalnya.
Tian yang sudah di selimuti oleh kemarahan luar biasa, telah berhasil melumpuhkan Andrew sampai fia tak berdaya serta tidak bisa sedikit pun melakukan perlawanan.
"Ayo kita keluar!" titah Tian, saat melihat Andrew sudah tidak bisa berkutik memegangi perut serta rahangnya yang terasa begitu menyakitkan.
Chelsea bergegas membawa Fayra keluar sambil terus merangkulnya, Chelsea bisa merasakan bahwa tubuh Fayra masih terasa begetar gemetar.
"Kamu gapapa, kan?" tanya Tian lembut, melihat keadaan orang yang teramat dia cintai sangatlah menyedihkan.
"Ma-makasih, Kak Tian, Kak Chelsea. Kalian sudah mau menyelamatkan aku. Mungkin jika tidak ada kalian aku sudah---"
"Ssstt, jangan dibahas lagi oke. Sekarang kamu coba tenang dulu ya, pelan-pelan lupain kejadian tadi. Ingat, Fayra yang aku kenal itu adalah wanita yang kuat, wanita yang ceria."
Chelsea menasihati Fayra secara lembut sambil terus merangkulnya. Sedangkan Tian cuman bisa menatap wajah Fayra yang penuh ketakutan, kali ini Tian sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Jika sampai sedetik aja Tian terlambat, maka
sudah di pastikan masa depan Fayra sudah hancur. Kalau pun itu terjadi, yang patut di salahkan adalah Tian. Dia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri, begitu juga Chelsea yang ikut membantu Tian, menemukan Fayra.
"Ma-makasih Kak, sekali lagi ma-makasih hiks ..." ucap Fayra. Dia sudah tidak bisa berkata apa lagi, selain kata terima kasih.
Fayra sangat bersyukur, memiliki sahabat yang baik seperti mereka. Bahkan Fayra juga merasa seperti memiliki hutang nyawa kepada Tian dan juga Chelsea, berkat pertolongan mereka Fayra tidak sampai disentuh oleh Andrew, pria yang saat ini dia benci.
"Dimana yang lain, kenapa kamu sendirian. Terus Ace, kemana?" tanya Tian, mengalihkan pembicaraan.
Fayra perlahan menceritakan kejadian Nata yang mengalami pele*cehan, lalu beralih ke Ace. Dimana dia sudah hampir 1 jam kurang tidak balik dari toilet.
"Udah enggak beres! Ayo kita cari Ace, sekarang!" titah Tian, wajahnya terlihat begitu gelisah.
"E-enggak be-berees, ma-maksud Kak Tian apa? A-atau jangan-jangan, Kak Ace---"
__ADS_1
"Sudah enggk usah berpikir negatif, kita cari Ace ke toilet terlebih dahulu!"
Fayra serta Chelsea, cuman bisa mengangguk perlahan mengikuti perintah Tian.
Kemudian mereka berjalan beriringan, dengan posisi Tian di depan. Sedangkan Chelsea selalu merangkul Fayra, akibat dia tidak mau melepaskan pelukannya sedikitpun.
Tak membutuhkan waktu lama, mereka hampir saja sampai di depan toilet. Cuman ketika mereka mau melangkah masuk, tiba-tiba saja langkahnya terhenti berpapasan dengan keluarnya Ace, Louis dan juga Nata.
"Ho-honey? Ka-kamu gapapa?" tanya Ace terkejut saat melihat Fayra di dalam dekapan Chelsea.
Namun yang membuat Ace aneh serta khawatir yaitu wajah dan riasan rambutnya yang terlihat begitu berantakan. Di tambah jaket yang Fayra gunakan, berhasil menyita perhatiannya.
"Ja-jaket siapa itu, Honey? Ke-kenapa kamu malah memakainya!" ucap Ace, sedikit marah.
Tian yang melihat Fayta tidak bisa berkata-kata, serta dia melihat adanya rasa ketakutan teramat dalam dari sudut mata Fayra kepada Ace.
"Nanti gua jelasin di parkiran, sekarang mending kita keluar dulu dari sini!" ujar Tian.
"Apa yang di katakan Tian benar, Ace. Kita keluar dulu dari sini, gua takut akan ada hal buruk lagi yang menimpa kita!" sahut Louis, cemas.
Ace pun mengangguk, disaat dia mau mengambil alih Fayra. Tetapi Fayra malah semakin mengencangkan pelukannya kepada Chelsea.
"Ho-honey? Ka-kamu kenapa e-enggak mau aku sentuh?" gumam lirih Ace, matanya mulai berkaca-kaca.
"Biarkan Fayra sama Chelsea dulu, sekarang kita keluar! Nanti lu bakalan tahu jawabannya, kenapa Fayra enggak mau lu sentuh." tegas, Tian.
Ace menatap Fayra begitu dalam, melihat penampilan istrinya semakin membuat Ace penasaran apa yang sudah terjadi padanya.
Hatinya begitu sakit ketika mendapatkan sebuah penolakan dari istrinya sendiri, untuk pertama kalinya. Hati Ace terasa hancur, melihat wajah takut istrinya ketika menatap dirinya.
Mereka pun mulai berjalan beriringan keluar dari BAR menuju parkiran. Tanpa di sengaja Violet serta Lydia melihat mereka keluar langsung ketar-ketir, mencari Alena yang tiba-tiba ikut menghilang.
Sesampainya di parkiran, Ace segera mencecar pertanyaan tentang istrinya kepada Tian. Dengan berat hati, Tian langsung menceritakan kejadian beberapa menit lalu yang hampir menimpa Fayra.
Ace terkejut bukan main, mendengar kisah istrinya yang hampir di sentuh oleh pria lain membuat kobaran hatinya kian membesar.
Kedua tangan Ace mulai mengepal keras, di sertai oleh bunyi gemerutuk gigi yang saling beradu. Rahang Ace terlihat mengeras bersamaan dengan wajahnya yang kian memerah.
__ADS_1