
Seakan-akan hidup Kharel telah kembali berwarna, hingga meninggalkan warna gelap yang selama ini menyelimuti setiap langkahnya.
Setelah merasa lega melihat pemandangan indah itu, kedua oramg tua Fayra dan Kharel pun kembali masuk ke dalam rumah dalam keadaan senang. Mereka tidak mau mengganggu waktu kesenangan anaknya yang sedang merangkai sebuah jalan untuk menuju kebahagiaan.
...*...
...*...
Jam terus berputar, hari terus berganti hingga tak terasa waktu sudah berjalan selama 2 bulan.
Dimana keluarga Ace pun semakin berantakan, Mommy Rosa yang sudah mulai membaik meski kondisi fisiknya tak sekuat dulu. Cuman dia tetap harus kuat demi suaminya yang masih tertidur pulas, dan anaknya yang saat ini sedang berjuang untuk mengembalikan kehidupan mereka.
Perkembangan Daddy Gerry masih tetap sama seperti ketika dia baru datang pertama kali ke rumah sakit, tidak ada sedikit perubahan.
Awalnya Ace bingung, apakah dia harus melanjutkan masa pendidikannya ataukah dia harus stay di Indonesia.
Namun, sang Mommy malah menyarankan untuk Ace meneruskan kuliahnya lebih dulu. Karena, jika dia tidak menyelesaikan kuliahnya maka semua yang sudah dilakukan akan menjadi sia-sia.
Walaupun rasanya berat untuk meninggalkan Mommynya seorang diri menjaga Daddynya. Apa boleh dikata, Ace masih sangat mempercayai asisten pribadi Daddy Gerry untuk mengurus semuanya sampai dia kembali.
Beberapa cabang Perusahaan Daddy Gerry sudah banyak yang terjual, hanya demi menyelamatkan Perusahaan utama yang jauh lebih penting.
Sampai tidak terasa, Ace ingin sekali pulang ke Indonesia untuk menemani orang tuanya yang saat ini benar-benar sangat membutuhkannya. Kurang lebih 1 bulan ini Ace sudah kembali ke Amerika, dan meneruskan masa kuliahnya yang hampir 1 bulan tertinggal.
Saat ini kelas Ace baru saja selesai, dia segera pergi ke kantin dikarenakan perutnya sedikit merasa lapar. Apa lagi Freya sedang tidak masuk kuliah akibat dia ada keperluan yang sangat penting.
Sesampainya di kantin, mata Ace mengedar kepenjuru tempat hanya untuk mencari kursi yang kosong. Sayangnya kedua matanya malah melihat kearah kursi yang sudah ditempati oleh seseorang yang dia kenal.
__ADS_1
"Itu bukannya Tita, temannya Freya? Tumben dia makan sendiri, biasanya sama teman-temannya. Apa lagi pada sibuk? Aishh, ngapain gua kepo banget sih. Mau dia makan sendiri atau rame pun, itu bukan urusan lu Ace!"
Ace bergumam didalam hati kecilnya, cuman saat Ace ingin mencari kursi lain. Suatu pikiran terlintas didalam isi kepala Ace, dia pun kembalo mengurungkan niatannya untuk mencari kursi lain.
"Kaya boleh juga nih, mumpung Freya lagi enggak masuk, ditambah Tita keliatannya lagi enggak sibuk juga. Gimana kalau gua mengorek informasi dari dia? Toh gua juga kepo banget tentang kehidupan Freya dan keluarganya."
"*Lagi pula, enggak ada salahkan kalau seorang kekasih punya keinginan untuk mencari tahu tentang kekasihnya sendiri. Malah itu bukannya bagus ya, dengan begitu kalau ada apa-apa lu bisa garak cepat untuk membantunya."
"Ya, gua harap sih semoga aja Tita mau terbuka sama gua. Dari pada nanya ke Freya selalu ada aja alasannya yang buat gua semakin penasaran sama kehidupannya*."
Rasa penasaran Ace yang semakin kuat, membuat Ace tidak lagi memendam gengsi terhadap kehidupan kekasihnya. Suara hati yang terus terlontar semakin meyakinkan Ace untuk melangkah mendekati Tita yang sedang asyik memakan santapan makan siangnya.
Langkah demi langkah, Ace pijakkan perlahan mendekati meja Tita. Sedikit senyuman kecil Ace ukir di bibirnya untuk menyapa Tita, meski dia harus menurunkan sedikit sikap cueknya. Semua dia lakukan hanya demi mengetahui semuanya.
Ace hanya berharap kepada Tita, karena dialah satu-satunya teman terdekat yang tahu semua tentang masa kecil kekasihnya. Sehingga Tita pasti akan mengatakan sesuai dengan fakta kenyataannya.
"Ekhem, boleh gua gabung?" ucap Ace yang sudah berada di depan meja Tita, membuatnya sedikit terkejut.
"Makasih. Hem, dia lagi enggak masuk. Katanya sih ada urusan sama pamannya, soalnya dia diminta untuk jadi sanksi atas khasus Daddynya yang melakukan KDRT." jelas Ace, spontan tanpa ekspresi apapun.
Uhukk, uhukk ...
Tita yang mendengar perkataan Ace, membuatnya langsung tersendak akibat terkejut sama apa yang dikatakan Freya kepada kekasihnya itu. Dengan cepat Tita langsung minum untuk menetralkan tenggorokannya yang sedikit sakit.
"Lu gapapa, 'kan?" tanya Ace, sedikit mengerutkan pelipisnya.
"Uhukk, gu-gua gapapa kok. Santai, ini cuman tersedak aja." jawab Tita, berusaha menutupi kegugupannya.
__ADS_1
Ace hanya mengangguk kecil, kemudian dia segera memesan makanannya sendiri tanpa harus menunggu lama. Semua akibat perutnya yang tidak bisa lagi diajak kompromi, lantaran sudah sangat kosong dan sedikit perih.
Setelah selesai memesan menu makanan, Ace menatap Tita dengan tatapan sedikit mengerikan bagi Tita. Rasanya Tita ingin sekali pergi dari hadapan Ace, karena perasaannya sudah mulai tidak enak.
Namun, bagaimana bisa Tita menghindari Ace. Dia sendiri pun sedikit kepo kenapa Freya yang selalu mewanti-wanti dirinya agar tidak mengatakan tentang keluarganya.
"A-ada apa lu liatin gua kaya gitu? Gu-gua udah gapapa kok, se-serius deh." ujar Tita, semakin terlihat gugup dan sedikit salah tingkah.
Dengan sikap Tita yang seperti ini justru malah membuat Ace semakin menaruh curiga, jika sebenarnya ada yang sedang Tita sembunyikan darinya tentang kekasihnya.
"Memangnya salah gua liatin lu? Enggak kan, jadi kenapa haru gugup kaya gitu nada bicara lu juga beda. Enggak mungkin kan kalau lu gapapa terlihat ketakutan begini?"
"Lihat aja, pelipismu sudah mulai berkeringat, itu tandanya ada sesuatu yang lu sembunyikan dari gua. Iya kan?
"Bahkan wajah lu terlihat pucat, seperti seseorang yang sedang berusaha menyembunyikan sesuatu. Apa jangan-jangan lu tahu tentang cewek gua? Atau lu takut gua menanyakan soal Freya?"
Ace menyipitkan matanya dengan segala pemikirannya, jika sebenarnya Tita memang tahu segalanya. Karena kuncinya memang hanya pada Tita, karena Ace tidak tahu harus mencari tahu kemana lagi tentang kekasihnya itu.
"Eee, e-enggak. Gu-gua enggak tahu apa-apa tentang Freya. Bu-bukannya lu cowoknya? Seharusnya lu dong yang tahu, lagi pula gua dan Freya udah lama pisah. Jadi gua enggak tahu lagi tentang dia dan keluarganya seperti apa,"
Tanpa Tita sadari, ucapannya malah seperti memberikan sinyal bahwa dia memang sebenarnya tahu semuanya. Dan saat ini pun hatinya sedang dilanda ketakutan yang cukup menguras pikirannya.
Jantung Tita mulai berdetak sangat kencang. Bukan berarti dia jatuh hati pada Ace, melainkan dia hanya takut jika harus mengungkapkan apa yang Tita ketahui tentang Freya dan juga keluarganya.
Apa lagi Tita sempat mengatakan untuk tidak memberikan informasi apapun kepada Ace tentang kehidupannya. Cuman, Tita juga tidak berjanji kalau dia akan tetap merahasiakan semuanya, karena Tita akan hanya jujur ketika Ace sendiri yang mendekatinya untuk mencari informasi tentang kekasihnya.
Awalnya Tita dan Freya menyangka, kalau Ace tidak akan pernah kepo dengan kehidupan kekasihnya itu. Belum juga, Ace kan tipe pria yang dingin dan sangat cuek terhadap orang yang berada dekat dengannya.
__ADS_1
Jadi, mereka berpikir Ace tidak akan mungkin bertanya kepada Tita atas semua sikapnya yang memang sulit untuk di tebak. Sehingga inilah yang membuat Tita terkejut, satu sisi dia sudah mewanti semua ini dan berusaha menjauhi Ace dan Freya.
Akan tetapi, Disisi lain juga Tita tidak bisa menyangkal takdir Kalau memang kemungkinan besar hari ini dia harus menceritakan semua kisah teman kecilnya pada Ace yang sudah dianggap sebagai sahabatnya sendiri.