Learn to Love You

Learn to Love You
Menjebak Diri Sendiri


__ADS_3

Kharel seperti menemukan suasana baru, dimana dia baru kali ini bisa berjumpa dengan seorang wanita yang menurutnya beda dari wanita yang selalu mengejarnya. Sampai tanpa disangka, Kharel berpikir bahwa suatu saat nanti dia bisa menaklukan hati Fayra.


"Apa alasanmu menutupi identitasmu dari saya?" tanya Kharel menatap Fayra tanpa ekspresi sedikitpun.


"Ya, karena wajah Bapak itu sangat menyebalkan. Jadi saya berusaha untuk menjauhi Bapak, supaya setiap saya ketemu Bapak itu tidak membuat saya menjadi sangat kesal. Rasanya mau menjambak rambut Bapak, tuh. Ehh ...."


Fayra yang langsung menyadari ucapannya refleks untuk menutupi mulutnya dalam keadaan mata membelalak besar. Sementara Kharel mendengar itu hanya bisa mengukir senyuman miring. Satu sisi dia senang jika Fayra bersikap seperti itu akan mebuatnya malah semakin dekat dengannya.


Namun, disisi lain juga Kharel ngerasa sedikit tidak rela. Jika wajah tampannya yang selama ini menjadi pujian bagi semua wanita, tetapi tidak bagi Fayra. Wajah yang terlihat sangat tampan itu malah berubah menjadi yang paling buruk, sehingga membuatnya tidak mau menatapnya.


"Sebegitu buruknya 'kah, wajahku ini. Sampai-sampai setiap melihatku, kamu selalu merasa kesal?" ujar Kharel, tersenyum.


"Ehh, e-enggak begitu, Pak. Bu-bukan, ma-maksud saya itu wajah Bapak tam-tampan. Nahya tampan, jadi bawaannya pengen meluk gitu." ucap Fayra spontan.


"Yakk, ngapain aku malah ngomong begitu sih! Alamat dah, mat*i kau Fayra!"


"Pasti saat ini dia lagi seneng banget itu didalam hatinya. Arrghhh, dasar bo*doh. Bisa-bisanya memuji orang seperti dia, lagian kenapa enggak bilang iya aja sih. Kan dia memang sangat menyebalkan, ngeselin!"


"Pokoknya akhh, rasanya pengen getok kepalanya pakai linggis. Boleh enggak sih, ishh."


Fayra mengoceh didalam hatinya dengan semua rasa kesal yang telah menyelimutinya. Fayra tidak menyangka jika mulutnya bisa berbicara seperti itu padanya pria yang sama sekali tidak dia kenal. Selain seorang dosen Killer yang hanya bisa membuatnya terjebak.


"Oh, gitu!" jawab Kharel, cuek. Tanpa disadari ternyata ucapan Fayra berhasil membuat Kharel sedikit salah tingkah, wajah memerah dan jantungnya berdetak sangat kencang.


"Arrgh, kenapa rasanya senang sekali dibilang seperti itu sama dia. Jelas-jelas jika wanita lain yang mengatakannya, malah membuat saya menjadi mual. Cuman kali ini berbeda, hati rasanya sangat senang. Bagaikan seseorang yang baru saja mendapatkan sebuah hadiah tak ternilai." gumam batin Kharel.

__ADS_1


"Astaga, sabar Fayra sabar!" gumam Fayra didalam hati kecilnya sambil mengelus dadanya.


"Kenapa? Apa dadamu sakit?" tanya Kharel, cemas.


"Ya, sakit karena melihay sikap Bapak yang dingin!" sahut Fayra didalam hatinya.


"Enggak. Ohya, itu obat kenapa enggak diminum? Udah enggak butuhkah?" ucap Fayra, mengalihkan topik sambil melirik tajam.


"Bagaimana saya mau minum obat, orang saya aja belum makan dari pagi." gerutu Kharel.


"Ngapain aja belum makan dari pagi, orang kalau sakit itu makan, minum obat, terus udah sehat langsung pulang ke rumah. Ini malah betah banget di rumah sakit. Obat enggak di minum, makan enggak teratur. Maunya apa sih, jadi cowok kok nyebelin banget!"


Celoteh Fayra membuat Kharel mengangkat satu alisnya, seolah-olah Fayra memarahinya tanpa melihat kearah dirinya sendiri. Sebenarnya pemicu kenapa dia tidak makan, yaitu Fayra sendiri. Karena dialah yang sudah menghabiskan makanan Kharel yang baru saja diberikan oleh sang suster.


"Apa kamu amnesia?" tanya Kharel, menahan kesal.


"Kalau aku amnesia, kenapa aku ingat nama Bapak. Hah!" sambung Fayra, tidak terima.


"Buktinya, sekarang kamu lupa. Jika makanan yang kamu makan beberapa menit yang lalu itu, adalah makanan saya." sahut Kharel, berhasil membuat Fayra menoleh ke arah piring yang sudah kosong.


Mata Fayra menatap tidak percaya ketika dia sudah mengingatnya, betapa lahapnya dia memakan makanan tersebut tanpa rasa bersalah dan juga beban.


Maklum saja, Fayra memakannya disaat dia sedang emosi. Sehingga, apapun yang dia lakukan pasti tidak membuatnya tersadar.


Fayra kembali menatap Kharel yang wajahnya sudah sangat asam, dia hanya bisa terkekeh kecil menutupi kesalahannya. Sampai akhirnya Fayra meminta maaf dan menawarkan sebuah tawaran menarik kepada Kharel, untuk menggantikan makanan milik Kharel yang sudah berada didalam perutnya.

__ADS_1


"Ya maaf, Pak hehe. Ohya, sebagai permintaan maaf, Bapak boleh deh meminta apapun sama saya. Bapak mau makan apa saya akan turutin. Gimana?" ucap Fayra, membuat Kharel terdiam sejanak.


"Apapun, itu? Janjikah, kamu akan menuruti permintaan saya?" ucap Kharel, menyakinkan.


"Ya janjilah, memangnya tampangku ini tampang orang pembohong apa!" sahut Fayra dongkol, menatap Kharel yang saat ini menatapnya dengan tatapan penuh arti.


"Baiklah, sebentar!" jawab Kharel, langsung berpikir. Permintaan apakah yang akan dia berikan.


"Ahaa, saya tahu harus meminta apa. Terimalah hukumanmu rubah kecil, sekarang kau tidak akan pernah lepas dariku semudah itu!" gumam Kharel didalam hati kecilnya, sambil mengukir senyuman cukup mengerikan.


Fayra bergidik ngeri, ketika dia melihat wajah Kharel berubah sangat menyeramkan. Seketika Fayra berpikir jika ada yang tidak beres didalam otak Kharel, pasti saat ini Kharel sedang memanfaatkan kebaikan darinya.


"Ke-kenapa senyuman Bapak, seperti itu? Jangan bilang, kalau Bapak sedang memikirkan ide jahil untuk membalas saya. Iya, 'kan?" ujar Fayra, penuh kecurigaan.


"Sok tahu, jadi wanita itu jangan terlalu ge'er. Lagian juga saya tidak bermaksud untuk jahil. Toh, kamu sendiri yang janji, apapun yang saya minta kamu akan menurutinya, bukan? Jadi, ya sudah ikuti permintaan saya tanpa membatahnya." jawab Kharel.


"Yakk, aku kan menawarkan makanan. Jadi, apapun makanan yang Bapak mau saya akan turutin. Bukan seperti apa yang ada didalam pikiran Bapak saat ini!" pekik Fayra, benar-benar kesal terhadap Kharel.


"Ya mungkin awalnya kamu mengatakan seperti itu. Cuman tadi saya kan bilang, apapun permintaan saya kamu akan menurutinya. Berarti bukan hanya tentang makanan dong, lalu kamu pun sudah mengatakan janji. Jadi saya tidak salah bukan?" sahut Kharel, membenarkan diri.


"Aarrrghhh, dasar dosen Killer menyebalkan. Bisa-bisanya Bapak menjebak saya!" teriak Fayra, rasanya ingin sekali mencekik batang leher Kharel agar dia tiada untuk selamanya.


Sementara Kharel, dia terus mengikur senyuman yang membuat Fayra menggerutuki kesalahannya. Fayra baru menyadari kebo*dohannya, dia telah dijebak oleh sebuah pertanyaan yang dia buat sendiri. Bahkan Fayra sudah memberikan Kharel kesempatan, untuk melakukan sesuatu yang dia inginkan atas dirinya sendiri.


"Astaga, Fayra! Kenapa kamu menjebak dirimu sendiri sih, arrrghh. Apa kamu lupa, jika dosen Killer itu sebenarnya licik. Dia akan melakukan segala cara untuk membuatmu terikat dengannya. Bod*doh, bod*doh, bod*doh!" ucap Fayra didalam hatinya, penuh emosi.

__ADS_1


Melihat wajah Fayra penuh kekesalan, hasam dan juga emosi. Berhasil membuat Kharel tertawa puas didalam hatinya, senyum-senyum kecil hampir terlepas dari bibirnya. Rasanya Kharel tidak kuat lagi menahan rasa geli di perutnya, saat dia telah berhasil mengerjai mahasiswinya sendiri.


Entah itu sifat Kharel dari mana, karena seumur-umur Kharel tidak sedikitpun memiliki sifat seperti itu. Dia lebih kearah kalem, pendiam dan juga sangat dingin. Cuman setelah bertemu dengan Fayra, kehidupannya perlahan mulai berubah. Sampai Kharel belum menyadari bahwa kejahilannya merupakan satu tanda, jika dia sudah mulai menaruh hati kepada wanita yang saat ini berada dihadapannya.


__ADS_2