Learn to Love You

Learn to Love You
Penyesalan Galih dan Killa


__ADS_3

Hanya berselang beberapa menit saja, tiba-tiba seseorang datang dari persembunyiannya. Ternyata bukan hanya Nicho yang bersembunyi, tetapi ada 2 orang lagi yang ada di sana sambil mendengarkan percakapan Sheila dengan mantan kekasihnya.


"She-sheila, a-apa ka-kabar?" sapa seorang wanita sambil menggendong seorang balita di dalam dekapannya.


Sheila melirik wanita tersebut dari dalam pelukan Nicho, betapa terkejutnya dia ketika matanya melihat wanita yang sangat dia sayangi hadir kembali di hadapannya.


"Ki-killa?" ucap, Sheila. Sorotan matanya terlihat begitu aneh saat dia menatapnya.


"Ya, ini gua Killa sahabat kecil lu. Sebelunya gua minta maaf atas kejadian 1 tahun lalu yang membuat lu harus kehilangan Galih untuk selamanya."


"Gua ke sini sama Galih, cuman mau meminta maaf atas semua kesalahan yang benar-benar membuat kami sangat menyesal."


"Gua tahu ini berat untuk lu. Sheil. Tapi, kami tidak ada cara lain. Kami harus menikah akibat kecerobohan yang membuat lu harus kehilangan Galih, cinta pertama lu. Gua mohon sama lu, Sheil. Tolong relakan Galih sama gua."


"Kami sudah berjanji akan saling mencintai demi anak kami yang tidak bersalah. Gua sama Galih, berniat memperbaiki hubungan kita yang sudah hancur untuk menjadi lebih baik."


"Lu enggak boleh terus menerus larut di dalam semua bayangan masa lalu, karena itu akan terus membuat lu merasakan sakit. Dan gua enggak mau sampai lu, menyakiti diri lu sendiri."


"Ingat, Sheil. Lu berhak cari pengganti Galih dan juga lu berhak untuk bahagia lebih dari kami. Maka dari itu, lupakan kejadian tersebut."


"Belajarkan menerima semuanya, agar lu bisa menjalani kehidupan bersama pria yang benar-benar mencintai lu, lebih dari Galih."


"Kedatangan kami ke sini cuman mau minta maaf sama lu. Karena gua dan Galih masih merasa belum bisa hidup tenang, akibat bayang-bayang kesalahan itu selalu muncul disetiap kami menutup mata."


Sheila melepaskan pelukan Nicho, lalu menatap wajah seorang wanita yang sangat dia kenal. Akan tetapi, yang membuat Sheila dan Nicho syok adalah seorang balita yang saat ini tertidur didalam gendongan Ibunya.


"Akibat kejadian yang tidak di sengaja itu, gua harus menikah dengan Killa disaat dia mengandung diusia 2 bulan. Gua harap, lu bisa merelakan semua yang sudah terjadi dimasa lalu."

__ADS_1


"Bahkan kita bisa kok kembali menjadi seorang teman, ataupun sahabat. Jujur, Sheil. Gua memang masih mencintai lu, cuman gua enggak bisa egois sama perasaan ini."


"Setiap hari gua melihat wajah anak gua yang begitu tenang, dari situ gua sadar. Gua harus bisa berusaha untuk mencintai anak dan juga istri gua sebaik mungkin. Kemudian kami akan menjalani kehidupan rumah tangga yang bahagia, terlepas dari semua masa lalu yang masih memberatkan langkah kami."


Galih mencoba menjelaskan, jika Sheila tidak boleh selalu berlarut didalam emosinya. Ya, memang Galih akui dia merasa sangat bersalah karena telah mengkhianati Sheila dan merenggut masa depan Killa.


Apa lagi Galih tahu, jika mereka merupakan sahabat kecil yang sangat menyayangi satu sama lain. Hanya karena kecerobohan Galih, persahabatan diantara Sheila dan Killa berubah menjadi jembatan permusuhan.


Rasa cinta yang yang dahulu ada di dalam hati Galih untuk Sheila memang belum sepenuhnya pudar, cuman Galih memiliki tekat kalau dia tidak mau seperti ini.


Galih terus berusaha semampunya, supaya kelak dia bisa belajar mencintai istrinya. Sama halnya seperti dia yang sangat mencintai Sheila, pada waktu 1 tahun yang lalu. Bahkan jauh lebih dari itu.


Killa, seakan-akan kembali mengingat masa-masa kenangan manis diantara persahabatan mereka yang terkesan begitu indah. Sampai dia pun tidak kuat menahan air matanya, yang telah menetes di dalam dekapan Galih.


Saat ini Sheila hanya menatap mereka berdua dengan sorotan mata yang sangat tajam. Wajah yang terlihat imut, kini berubah menyeramkan, dipenuhi oleh rasa kekecewaan terhadap sahabat dan juga mantan kekasihnya.


Nicho membalikan tubuh Sheila dengan cara kedua tangan Nicho memegang kedua pundak Sheila begitu lembut. Lalu, Nicho mulai menatap kedua mata Sheila yang saat ini ikut membalasnya.


"Gua tahu, mungkin gua bukan siapa-siapa diantara kalian semua. Belum lagi gua juga enggak tahu ada kisah apa sama kalian semua. Yang jelas, disini gua melihat adanya penyesalan yang amat mendalam di raut wajah mereka."


"Apa yang mereka sampaikan memang ada benarnya, Shel. Kemungkinan, kesalahan mereka benar-benar sangat fatal. Tanpa disengaja, mereka berdua udah nyakitin hati lu."


"Tapi, yang gua salut dari mereka adalah. Mereka berani datang jauh-jauh hanya demi nemui lu untuk meminta maaf. Gua tahu ini berat buat mereka dan juga lu. Jujur, Shel!"


"Jikalau pun amit-amit gua yang ada di posisi mereka. Gua enggak akan punya nyali sebesar itu cuman buat menemui orang yang udah gua sakitin, baik mental atau pun kehidupannya,"


"Ditambah lagi mereka juga dengan gentlenya telah mengakui kesalahan masing-masing, bukan? Jadi gua harap lu bisa mencoba memaafkan mereka, walaupun tidak intans, agar hati lu bisa berdamai sama semua takdir yang telah tertulis."

__ADS_1


"Berikan mereka kesempatan meraih kebahagiaan, sama halnya seperti lu. Lu juga berhak mendapatkan kebahagiaan yang jauh lebih baik dari mereka. Karena gua tahu, lu itu adalah wanita yang kuat, hebat, dan juga baik."


"Untuk itu, orang seperti lu enggak pantas menyimpan dendam sedalam itu, ingat Sheil. Semua yang terjadi adalah takdir, Tuhan dan tidak ada yang bisa merubahnya."


"Gua percaya, sangat-sangat percaya! Kalau lu bisa melewati semuanya. Tenang, Sheil. Lu enggak akan pernah sendirian, ada gua di sini. Gua rela, lu jadiin tempat sampah ataupun pelampiasan, agar lu bisa melupakan semuanya."


"Hanya saja, gua ngelakuin itu semua bukan semata-mata gua kasihan ataupun mau membuat lu merasa berhutang budi,"


"Melainkan, gua mau melihat orang yang pertama kali berhasil membuat gua sadar akan cinta yang sesungguhnya. Benar-benar bisa merasakan yang namanya bahagia. Di sini gua enggak mau memaksa lu untuk menjadi kekasih gua,"


"Tapi, gua mau lu ikut gua. Pegang tangan gua sekuat-kuatnya, kemudian kita akan melangkah pergi supaya bisa meninggalkan semua luka yang pernah ada di dalam hati lu."


"Gua janji, Shel. Gua janji! Meskipun gua bukan orang yang sempurna buat lu. Cuman akan berusaha melakukan yang terbaik, supaya bisa membawa lu mengejar kebahagiaan yang sempat tertunda."


Tangan Nicho yang memegang kedua pundak Sheila, perlahan turun untuk bisa menggenggam tanganya. Bahkan sorotan mata merek pun tidak teralihkan sama sekali.


Sheila sedikit terkejut, lantaran terdapat sebuat sengatan listrik yang berhasil membuat detak jantungnya berpacu secara cepat.


Namun, entah mengapa Sheila seperti merasakan adanya sebuah energi yang memasuki tubuhnya. Sayangnya, rasa sakit atas pengkhianatan mereka sangat-sangat membekas di hati Sheila.


Pada akhirnya Sheila menutup keras hatinya dan tidak akan pernah menerima siapa pun yang hadir mengatas namakan cinta. Sheila seperti memiliki trauma yang cukup menguras mentalnya.


Menurut Sheila cinta hanyalah omong kosong dan juga dusta, dia tidak akan pernah mau kembali percaya dengan yang namanya cinta.


Akan tetapi, didalam lubuk hatinya dia sangatlah merasa kesepian. Sheila yang melihat teman-temannya memiliki pasangan bahkan pria yang amat menjaganya, berhasil membuat Sheila sedikit merasa iri.


Dari sini Nicho sudah mulai paham, dibalik perubahan sifat Sheila yang selama ini dia ketahui. Ternyata ada penyebab yang mempengaruhi, Sheila untuk menutup rapat dirinya dari siapa pun.

__ADS_1


Terlihat jelas semua sifat dingin yang Sheila tunjukkan, itu bukanlah sifatnya yang sesungguhnya. Melainkan dia hanya menutupi hatinya yang sangat rapuh tak tersisa.


__ADS_2